Senin, 20 April 2026

Puisi

 

Puisi "Tapi"

 

Puisi "Cinta"

 

Puisi Karet

Puisi bentuk Kupu-kupu

 

Puisi "Sepi Seperti Pisau"

 

Sepi Seperti Pisau

Sepi ini
tidak datang sebagai tamu,
ia tumbuh diam-diam
di antara kata yang tak jadi diucapkan.

Ia tajam—
menyayat tanpa suara,
membelah pikiran
yang terlalu lama dipendam.

Di sudut malam
aku duduk bersamanya,
menghitung luka
yang bahkan tak berdarah.

Orang-orang lewat
dengan wajah penuh ramai,
tapi aku tahu
tidak semua kebisingan mengusir sepi.

Dan pisau itu—
adalah pikiranku sendiri,
yang terlalu dalam
menyimpan apa yang tak pernah selesai.

Puisi "Burung Merak"

 

Burung Merak

Di tepi pagi yang masih basah oleh embun,
seekor merak membuka rahasia warnanya—
biru yang dalam seperti langit yang belum selesai,
hijau yang berkilau seperti harapan yang tak pernah padam.

Ia tidak sekadar berjalan,
ia merayakan langkahnya sendiri,
setiap helai bulu adalah cerita
tentang keberanian menjadi indah di dunia yang bising.

Namun manusia sering lupa,
keindahan bukan untuk dipenjara,
bukan untuk dipetik lalu dipamerkan,
melainkan untuk dihormati—diam-diam, dari jauh.

Burung merak itu pun tahu,
bahwa keanggunan sejati
tidak lahir dari sorot mata yang kagum,
tetapi dari kebebasan yang utuh.

Dan ketika ia menutup sayapnya,
dunia tetap berwarna—
karena sekali saja kita melihatnya,
kita belajar: indah tak harus dimiliki.

Puisi