Rabu, 23 September 2026

Hikayat Ngariboa Karumah

Maka tersebutlah pula suatu riwayat pada zaman dahulu kala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diselimuti kabut purba dan hukum para karuhun dijunjung tinggi bagaikan mahkota di atas kepala. Di sebuah negeri yang makmur di tepi Sungai Sekayam, berdiri suatu Rumah Panjang yang dihuni oleh puluhan keluarga. Mereka hidup rukun dan damai di bawah naungan adat yang teguh, dipimpin oleh seorang Kepala Adat yang arif lagi bijaksana, Petinggi Jaya namanya.

Bahwasanya di negeri itu, segala tingkah laku manusia diatur oleh tata tertib yang amat ketat demi menjaga kesucian kampung dan keharmonisan alam kosmos. Di antara sekalian hukum pidana adat yang paling ditakuti dan dipantangkan oleh rakyat, tersebutlah satu aturan yang amat berat sanksinya, dinamai Ngariboa atau Kariboa.

Syahdan, menurut kitab adat para leluhur, Ngariboa itu adalah perbuatan cabul yang terlarang keras. Terbagi ia atas beberapa bagian: Ngariboa Karumah, yaitu perbuatan noda yang dilakukan di dalam rumah; dan Ngariboa Katanah, yaitu perbuatan sumbang yang dilakukan di luar rumah, seperti di kebun, di hutan, atau di atas tanah yang terbuka. Pada zaman dahulu sebelum datangnya para penjajah, barang siapa yang tertangkap basah melakukan perbuatan zina di dalam rumah (Ngariboa Karumah), niscaya dihukum pancung di hadapan khalayak ramai demi membersihkan noda kosmos yang tercemar.

Alkisah, di antara penduduk Rumah Panjang itu, hiduplah seorang pemuda bernama Badang. Ada pun Badang itu seorang lelaki yang elok parasnya, gagah perawakannya, tetapi amat rapuh iman di dadanya dan sering kali dihinggapi hawa nafsu yang menyesatkan. Alkisah, Badang telah menaruh hati kepada seorang perempuan bernama Mayang, yang tiada lain adalah isteri kepada sahabatnya sendiri, Kamang.

Syahdan, pada suatu hari tatkala musim berburu tiba, Kamang bersama beberapa lelaki kampung pergi masuk ke dalam hutan lebat untuk mencari binatang buruan. Mereka diperkirakan bakal menginap selama tiga hari tiga malam di dalam belantara. Mengetahui Kamang tiada di rumah, timbullah niat yang amat jahat dan licik di dalam dada Badang. Senyuman culas terukir di bibirnya tatkala ia melihat pelita di bilik Mayang mulai dinyalakan.

Maka tatkala malam makin larut dan sekelian penghuni Rumah Panjang telah lelap tertidur nyenyak, Badang pun menyelinap masuk ke dalam bilik Mayang secara diam-diam. Dengan kata-kata manis yang memikat lagi menyesatkan, Badang membujuk Mayang hingga perempuan itu terpedaya dan hilang akal budinya. Maka terjadilah perbuatan sumbang di dalam rumah itu, menodai kesucian tempat kediaman bersama.

Akan tetapi, tiada ada noda yang dapat disembunyikan di bawah langit. Tanpa mereka ketahui, seorang tetua kampung bernama Pak Katung, yang hendak pergi ke muara pada tengah malam itu, melihat kelibat Badang menyelinap keluar dari bilik Mayang dengan tergesa-gesa. Merasa ada hal yang tidak patut, Pak Katung bersama beberapa warga segera menerpanya. Maka terbuktalah perbuatan noda itu, dan Badang serta Mayang tertangkap basah di tempat kejadian.

Gemparlah sekelian isi Rumah Panjang pada malam yang naas itu. Suara jeritan dan cercaan bergema membelah kesunyian malam. Berita pelanggaran Ngariboa Karumah itu menyebar cepat bagaikan api menyambar semak yang kering. Sekelian warga merasa ngeri dan takut, sebab menurut kepercayaan mereka, perbuatan sumbang di dalam rumah bakal mendatangkan bencana besar—ternak bakal mati, tanaman di ladang bakal diserang hama, dan penyakit bakal melanda seluruh rakyat.

Hatta pada keesokan harinya, tatkala sang surya baru saja terbit di ufuk timur, Petinggi Jaya memerintahkan orang memukul gong adat berulang-ulang kali. Suaranya yang nyaring lagi gembira serta-merta berubah menjadi derap keprihatinan yang amat dalam. Sekelian warga berhimpun di balai adat, sementara Badang dan Mayang didudukkan di tengah-tengah balai dengan kepala menunduk menanggung malu yang tiada terperi.

Petinggi Jaya berdiri di atas mimbar kayu belian dengan wajah yang amat merah murka. Tongkat adat di tangannya dihentakkan ke lantai balai hingga bergetar sekelian tiang.

"Wahai Badang dan Mayang!" seru Petinggi Jaya dengan suara bergema seperti guntur membelah langit. "Sungguh celaka perbuatanmu! Engkau telah melakukan perbuatan cabul tertangkap basah di dalam rumah, suatu pelanggaran Ngariboa Karumah yang amat dina! Tidakkah engkau tahu bahwasanya perbuatanmu ini mengundang murka para karuhun dan merusak ketenteraman alam kosmos kita?"

Badang menggigil ketakutan seraya menyembah, "Ampun beribu ampun, Tuanku Petinggi Adat! Hamba khilaf dirasuki syaitan. Kasihanilah hamba, janganlah hamba dibunuh!"

Petinggi Jaya lalu mengelus janggutnya yang putih seraya menatap sekelian tetua adat yang hadir.

"Bahwasanya pada zaman purbakala sebelum zaman ini," tutur Petinggi Jaya memperingatkan sekelian khalayak, "menurut hukum asal para leluhur, orang yang tertangkap basah melakukan Ngariboa Karumah ini wajib dijatuhi hukuman pancung di muka umum. Keduanya disuruh menggali lubang tanah secukup badan hingga paras leher. Setelah keduanya masuk ke dalam lubang itu, mandau yang tajam diayunkan untuk menceraikan kepala daripada tubuh, dan darahnya dicurahkan ke tempat perbuatan noda itu demi membersihkan kosmos daripada bencana!"

Mendengar riwayat hukuman purba itu, sekelian warga yang hadir bergidik ngeri, sedang Mayang menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.

"Namun demikian," lanjut Petinggi Jaya dengan nada yang lebih tenang tetapi tetap tegas, "seiring berjalannya zaman, tindakan hukum pemancungan itu tiada lagi berlaku di negeri kita sebagai pengganti hukuman mati. Akan tetapi, adat tiada pernah mengampuni noda tanpa penebusan yang setimpal!"

Petinggi Jaya kemudian membacakan putusan hukum adat yang berlaku bagi pelanggaran Ngariboa Karumah tertangkap basah:

"Atas perbuatan cela ini, maka Badang dan keluarga penanggungnya diwajibkan membayar denda adat yang amat berat! Engkau diwajibkan menyerahkan dua tahil tangah, dua siam, tiga ekor babi (terdiri atas seekor babi parankn, seekor babi kanaikatan, dan seekor babi pengulur), satu siam, satu paha babi, satu lagor, serta satu rahang babi!"

Tercenganglah sekelian yang hadir mendengar denda adat yang sedemikian banyak dan beratnya. Harta benda Badang dan keluarganya habis terkeruk demi membayar denda tersebut. Tiada hanya itu, Badang dan Mayang jua ditolak oleh masyarakat dan ditimpa malu sepanjang hayat mereka.

Syahdan, beberapa tahun setelah peristiwa Ngariboa Karumah itu, tersebut pula kisah mengenai bagian kedua daripada hukum ini, yaitu Ngariboa Katanah. Bahwasanya Ngariboa Katanah adalah perbuatan sumbang atau cabul yang dilakukan di luar rumah—apakah ia di dalam hutan, di tepi sungai, atau di tengah ladang.

Alkisah, tersebutlah seorang pemuda lain bernama Derma yang bertunangan dengan seorang gadis bernama Sinta. Lantaran terburu nafsu dan tiada sabar menunggu hari perkawinan yang telah ditentukan oleh orang tua-tua, Derma sering kali membujuk Sinta untuk bertemu di tempat-tempat yang terpencil di luar kampung.

Pada suatu petang, tatkala angin berhembus sepoi-sepoi di tepi ladang ubi, Derma dan Sinta kedapatan oleh para peronda kampung sedang berdua-duaan melakukan perbuatan yang melanggar batas kesopanan di atas tanah terbuka. Meskipun perbuatan mereka tiada sampai tertangkap basah pada saat itu juga, namun rahasia itu akhirnya terkuak di kemudian hari tatkala tanda-tanda kehamilan mulai nyata pada diri Sinta.

Maka dipanggillah Derma ke hadapan balai adat oleh Petinggi Jaya. Kerana perbuatan sumbang itu dilakukan di tanah terbuka (Ngariboa Katanah), maka Petinggi Jaya pun menjatuhkan denda adat sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh para leluhur:

"Bahwasanya engkau, Derma, telah melakukan pelanggaran Ngariboa Katanah. Maka adat menuntutmu membayar denda sebanyak tiga tahil tengah, satu siam, seekor babi patapas, satu paha babi, dan satu lagor!"

Derma dengan rasa penuh penyesalan menundukkan kepala dan menerima putusan itu. Ia bekerja keras siang dan malam di ladang demi mengumpulkan sekelian denda adat tersebut dan menikahi Sinta secara sah mengikut aturan adat dan tradisi.

Maka sejak dari peristiwa-peristiwa itu, sekelian pemuda dan pemudi di negeri tepi Sungai Sekayam itu pun menjadi amat takut dan berhati-hati dalam menjaga diri. Tiada lagi lelaki maupun wanita yang berani melanggar batas-batas kesopanan, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Mereka sadar bahwasanya setiap perbuatan sumbang tiada hanya merusak nama baik diri dan keluarga, melainkan jua menodai keharmonisan alam kosmos yang dijaga oleh para karuhun.

Demikianlah hikayat kuno mengenai hukum adat NGARIBOA dan Kariboa ini diturunkan dari satu generasi ke satu generasi. Diceritakan ia oleh para orang tua di balai-balai rumah panjang tatkala malam tiba, agar menjadi iktibar, petunjuk, dan cermin kehidupan bagi sekalian anak cucu di kemudian hari, supaya sentiasa memelihara kehormatan diri, menjaga kesucian kampung, serta menjunjung tinggi hukum adat negeri.

Hikayat Jalang yang Culas

Maka tersebutlah pula suatu kisah pada zaman dahulu kala, tatkala bulan dan bintang menjadi pelita malam dan petuah para karuhun menjadi benteng kehidupan masyarakat di hulu Sungai Sekayam. Di bawah naungan adat yang agung, setiap gerak-gerik dan tingkah laku manusia diikat oleh benang-benang kesopanan demi memelihara ketenteraman kosmos dan kesucian kampung.

Syahdan, selain aturan Liur Bari yang amat ditakuti oleh pemuda-pemuda yang congkak, ada pula satu hukum adat yang tak kalah beratnya, dinamai Sumbang Mata. Bahwasanya Sumbang Mata itu adalah suatu pelanggaran yang ceroboh lagi disengajakan, tatkala seorang lelaki melakukan perbuatan yang menyolok mata serta melanggar batas kesopanan umum, seperti mengajak wanita bercerita perkara cabul atau menggendong dan menggandeng wanita yang bukan isterinya. Barang siapa yang melakukan perbuatan cela sedemikian, niscaya dituntut adat dengan membayar denda satu tahil tengah.

Alkisah, di desa tersebut hiduplah seorang lelaki yang telah beristeri bernama Jalang. Ada pun Jalang itu seorang yang mampu lagi berkecukupan hartanya, tetapi matanya amat liar dan hatinya senantiasa dihinggapi hawa nafsu yang tidak terpadamkan. Walaupun ia telah beristeri seorang wanita yang setia dan berbudi, Jalang kerap kali memandang rendah hukum adat dan menganggap harta kekayaannya mampu membalikkan segala perkara.

Maka pada suatu hari, tatkala musim menuai padi telah usai, orang-orang kampung mengadakan keramaian di tepi ladang. Sekelian penduduk berkumpul dengan sukacita, baik yang tua maupun yang muda. Di antara khalayak ramai itu, kelihatanlah seorang perawan bernama Malia, anak gadis seorang janda miskin yang sangat dipelihara kehormatannya oleh orang-orang tua kampung.

Melihat Malia yang berjalan seorang diri membawa bakul, timbullah niat jahat di dalam dada Jalang. Senyuman yang culas terukir di bibirnya. Dengan tiada memiliki rasa malu dan segan, Jalang sengaja mendekati Malia di hadapan mata orang banyak. Ia lalu membisikkan kata-kata yang kotor lagi cabul, menceritakan perkara-perkara rahasia persetubuhan yang tidak patut didengar oleh seorang perawan suci.

Mendengar kata-kata yang sedemikian licik dan kotor, Malia pun terkejut lalu memalingkan mukanya dengan rasa jijik. Namun, Jalang yang telah dirasuki hawa nafsu bukannya surut, malah makin berani. Dengan sengaja dan ceroboh di hadapan khalayak ramai, Jalang menangkap jemari Malia lalu menggandeng dan memegang lengannya dengan erat, seolah-olah wanita itu adalah isterinya sendiri.

Malia menjerit ketakutan seraya menghentakkan tangannya hingga terlepas. "Dua kali cela bagimu, wahai Jalang! Tidakkah engkau malu kepada isterimu dan tidakkah engkau takut kepada hukum adat negeri ini?" jerit Malia dengan air mata yang bercucuran.

Sekelian warga yang melihat kejadian itu menjadi gempar. Suasana keramaian yang tadinya penuh sukacita serta-merta berubah menjadi panas dan muram. Pandangan mata orang-orang kampung tertuju kepada Jalang dengan penuh kebencian dan kemarahan. Kelakuan Jalang yang sengaja dan menyolok itu telah menodai kesucian pergaulan di kampung tersebut.

Hatta, berita perbuatan cela itu sampai jua ke telinga Petinggi Jaya. Maka sang Kepala Adat pun segera memerintahkan para pembesar adat untuk memanggil Jalang dan menghimpunkan sekelian orang tua-tua di balai negeri. Gong adat pun dipukul berdentang-dentang, menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.

Malam itu, balai adat diterangi oleh obor-obor minyak tanah. Petinggi Jaya duduk bersila di atas tikar pandan yang halus, diapit oleh para karuhun dan tetua adat. Jalang dibawa berdiri di tengah-tengah balai, sementara Malia bersama ibunya duduk menunduk di sudut ruangan.

"Wahai Jalang," buka Petinggi Jaya, suaranya yang berat memecah kesunyian malam. "Sungguh berat tuduhan yang disandarkan ke atas bahumu. Adakah benar engkau telah mendekati Malia, membisikkan kata-kata cabul, serta menggandeng tangannya di hadapan mata khalayak ramai, padahal engkau adalah lelaki yang telah beristeri?"

Jalang mendongakkan kepalanya dengan angkuh. "Ampun Tuanku Petinggi Jaya, hamba bersumpah tiada berniat jahat. Hamba sekadar ingin bersenda gurau dan memegang tangannya sebentar untuk menuntunnya di jalanan. Apakah salah seorang lelaki kaya seperti hamba menegur seorang gadis kampung?"

Mendengar jawapan Jalang yang tiada bersesalan itu, berkerutlah dahi Petinggi Jaya. Para tetua adat menggeleng-gelengkan kepala mereka seraya berbisik-bisik.

"Dengarlah olehmu wahai Jalang yang buta hati!" pebik Petinggi Jaya dengan nada murka. "Engkau menganggap perbuatan itu sekadar gurauan, tetapi adat memandangnya sebagai suatu pencerobohan yang amat ceroboh dan disengajakan! Mata sekelian orang banyak telah tercemar oleh tingkah lakumu yang tidak bermoral, dan kehormatan seorang perawan telah engkau pijak-pijak!"

Petinggi Jaya kemudian berdiri seraya mengangkat tongkat kayu belian miliknya, memperingatkan sekelian yang hadir akan kesucian hukum para leluhur:

"Bahwasanya perbuatanmu membisikkan perkataan cabul serta menggandeng wanita yang bukan isterimu di hadapan orang ramai adalah pelanggaran yang amat terang bagi hukum adat Sumbang Mata! Hukum ini diciptakan oleh karuhun kita agar setiap lelaki memelihara pandangan dan tangannya, serta tidak mengganggu wanita mana jua dengan perbuatan yang menyolok mata!"

Maka Petinggi Jaya pun membacakan putusan adat dengan suara yang tiada dapat dibantah:

"Atas perbuatan cela Sumbang Mata yang telah engkau lakukan dengan sengaja, maka hukum adat menjatuhkan denda ke atasmu. Engkau diwajibkan membayar adat sebanyak satu tahil tengah! Selain daripada itu, engkau wajib memohon maaf secara terbuka di hadapan balai ini kepada Malia dan keluarganya, serta kepada sekalian warga yang telah engkau cemarkan pandangan matanya!"

Terdiamlah Jalang seketika. Kesombongannya sirna seketika itu jua. Denda satu tahil tengah bukanlah jumlah yang sedikit, melainkan suatu nilai adat yang amat tinggi, yang menandakan betapa besarnya celaan masyarakat terhadap pelanggaran moral sedemikian. Dengan muka yang merah padam menanggung malu yang tiada terperi, Jalang terpaksa menundukkan kepalanya, menyerahkan denda adat tersebut, serta memohon ampun di hadapan sekelian orang tua-tua.

Sejak peristiwa yang menggemparkan itu, tiada lagi lelaki di desa tepi Sungai Sekayam yang berani berlaku ceroboh atau memandang remeh kesopanan pergaulan. Mereka senantiasa menjaga tutur kata dan perbuatan, takut akan hukum Sumbang Mata yang bakal menimpa.

Demikianlah hikayat kuno ini diturunkan dari satu generasi ke satu generasi. Hikayat ini menjadi pengajaran yang amat berguna bagi sekalian anak cucu, bahwasanya kehormatan kaum wanita wajib dijaga, dan mata serta tangan haruslah dipelihara daripada melakukan perbuatan yang melanggar kesopanan dan hukum adat negeri.

Hikayat Teguran di Pondok Bambu: Dosa Liur Bari dan Ketenangan Sekayam

Alkisah, pada zaman purbakala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diliputi kabut tebal dan bisikan para karuhun bergema di antara dedaunan pohon belian, berdiri suatu desa adat yang tenteram di tepi Sungai Sekayam. Tersebutlah perkampungan itu dipimpin oleh seorang Kepala Adat yang maha bijaksana, Petinggi Jaya namanya. Maka sekalian rakyat di sana hidup aman sentosa berdampingan dengan alam, memegang teguh adat dan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang demi memelihara keseimbangan kosmos.

Di antara sekalian hukum yang dijunjung tinggi oleh para tetua, ada satu aturan yang amat dipantangkan, dinamai Liur Bari. Bahwasanya hukum tersebut menggariskan tata krama dan kesopanan pergaulan, terkhusus perlakuan kaum laki-laki terhadap kaum wanita. Barang siapa yang bersengaja menyinggung perasaan wanita dengan bersiul, berdeham, atau melempar godaan kala mereka lalu-lalang, niscaya dianggap telah menodai kesopanan umum serta wajib menanggung sanksi adat.

Syahdan, di desa tersebut hiduplah seorang pemuda bernama Bungai. Ada pun Bungai itu molek parasnya, gagah perawakannya, lagi mahir berburu di dalam hutan. Syahdan, di balik ketampanannya itu, tersembunyi sifat yang angkuh serta suka memandang remeh petuah orang-orang tua. Sehari-hari pekerjaan Bungai hanyalah berkumpul bersama kawan-kawannya di sebuah pondok bambu di tepi jalan desa, bersenda gurau hingga jauh malam.

Hatta pada suatu petang, tatkala sang surya mulai gelincir ke barat dan memancarkan warna keemasan di dada langit, beberapa wanita desa berjalan melintasi pondok tempat Bungai dan kawan-kawannya bersemayam. Para wanita itu baru saja kembali dari ladang sambil menjunjung bakul berisi hasil panen. Di antara mereka, berjalanlah seorang perawan bernama Kumang, anak gadis yang amat halus budi pekertinya lagi elok parasnya.

Melihat rombongan wanita itu lalu, kawan-kawan Bungai pun segera menundukkan pandangan tanda hormat. Akan tetapi, Bungai yang hendak menunjuk-nunjukkan kehebatannya di hadapan kawan-kawannya justru berdiri tegap di hadapan pondok. Dengan senyum yang culas, Bungai bersiul nyaring serta berpura-pura batuk yang disengajakan demi memancing perhatian Kumang.

Maka gema siulan dan batuk buatan itu memecah kesunyian jalan setapak. Langkah Kumang dan kawan-kawannya pun terhenti seketika. Muka Kumang menjadi merah padam—bukan lantaran malu yang membawa sukacita, melainkan karena rasa tersinggung dan duka yang amat sangat di hadapan khalayak ramai. Tanpa terucap sepatah kata pun, Kumang mempercepat langkahnya menuju kediaman Kepala Adat dengan air mata yang bertakung di pelupuk mata.

Maka pada malam harinya, perihal kelakuan Bungai itu pun sampailah ke telinga Petinggi Jaya. Sang Kepala Adat segera menghimpunkan para tetua kampung lalu memukul gong adat sebagai pertanda adanya pelanggaran norma. Suara gong bergema tiga kali membelah malam, menandakan persidangan adat bakal digelar di rumah panjang tatkala fajar menyingsing.

Keesokan harinya, sekelian warga desa berhimpun di balai adat. Bungai berdiri di tengah-tengah balai dengan sikap yang dibuat-buat tenang, jua matanya tidak dapat menyembunyikan gundah di dalam dada. Petinggi Jaya duduk di tampuk pimpinan, dilingkungi oleh para tetua yang bermuka serius.

"Wahai Bungai," ujar Petinggi Jaya dengan suara bergema memecah kesunyian balai. "Engkau dipanggil ke balai ini atas tuduhan melanggar kesopanan adat terhadap kaum wanita. Adakah benar engkau dengan sengaja bersiul dan menggoda Kumang serta kawan-kawannya tatkala mereka melintas di hadapan pondokmu?"

Maka Bungai pun menjawab dengan nada mempermudah, "Ampun Tuanku Petinggi Adat, hamba sekadar bersenda gurau dan bersiul kecil. Tiada niat hamba hendak melukai atau merampas hak siapa pun. Haruskah perkara sepele seperti siulan dipersoalkan sedemikian rupa?"

Mendengar sembah Bungai yang demikian, Petinggi Jaya pun mengelus janggut putihnya seraya menggelengkan kepala.

"Dengarlah olehmu wahai pemuda," kata Petinggi Jaya dengan penuh kearifan. "Lidahmu boleh menganggap siulan itu perkara yang kerdil, tetapi angin yang membawanya telah merusak ketenangan hati seorang wanita. Hukum adat kita tiada hanya menjaga harta dan nyawa, melainkan jua memelihara kehormatan dan martabat setiap jiwa di tanah ini. Bahwasanya apa yang kau lakukan itu adalah pelanggaran Liur Bari."

Lalu Petinggi Jaya membacakan putusan adat mengikut tradisi para karuhun:

"Atas pelanggaran Liur Bari yang kau perbuat, engkau diwajibkan membayar denda adat kepada masyarakat dan pihak yang tersinggung. Adat menuntutmu menyerahkan sebuah tempayan, sebuah lagor, dan sebuah pinggan kasar."

Tercenganglah Bungai mendengar putusan tersebut. Tempayan dan lagor merupakan harta adat yang amat bernilai dan sukar didapati. Namun, oleh sebab keputusan adat itu sifatnya mutlak, maka keluarga Bungai pun bekerja keras menyerahkan sekalian denda adat tersebut ke balai desa demi memulihkan keharmonisan yang telah tercedera.

Sejak hari itu, insaflah Bungai bahwasanya setiap tutur kata dan perbuatan, sekecil apa pun ia, membawa akibat yang nyata bagi sesama. Ia pun belajar menjaga lidah dan prasangkanya, serta senantiasa memuliakan setiap wanita di desa itu.

Maka kisah perbuatan Bungai dan denda Liur Bari itu terus dituturkan dari zaman ke zaman oleh para tetua. Hikayat ini menjadi iktibar bagi sekalian anak cucu agar sentiasa memelihara batas-batas kesopanan, menghargai martabat wanita, serta memelihara tata hidup bermasyarakat.

HIKAYAT RIYA SINIR DAN DARA HITAM

Syahdan, maka tersebutlah kisah di tanah Kerajaan Landak pada zaman dahulu kala. Alkisah, pada kira-kira tahun seribu tiga ratus tujuh puluh Masehi, tersebutlah cerita berkenaan Kaleder dan Anteber di bumi Pontianak. Syahdan, beroleh anaklah Riya Jambi seorang putra bernama Riya Sinir, yang juga digelari orang Bujang Nyangko. Adapun Riya Sinir itu seorang pemuda yang gagah perkasa, tangkas bermain gasing, lagi amat disayangi oleh ayahandanya.

Maka pada suatu hari, bertitahlah ibunda Riya Sinir meminta anaknya mencari kulit salai burung enggang guna dijadikan penawar dan perhiasan. Maka Riya Sinir pun masuklah ke dalam rimba belantara dengan membawa sumpitnya. Hatta, terpandanglah ia akan seekor burung enggang yang sedang bertengger di dahan pohon. Diberikannya tiupan sumpit dengan cermat, maka kena lah burung itu. Namun burung enggang itu terbang melayang dan jatuh tepat di dada seorang anak gadis di Tembawang Selipat.

Maka Riya Sinir pun mendapatkan gadis itu hendak mengambil kembali burung hasil buruannya. Namun, gadis kecil nan elok parasnya itu merawat burung yang terluka dengan penuh kasih. Bermulalah perbantahan antara keduanya, tetapi Riya Sinir akhirnya luluh oleh kelembutan dan tutur kata manis sang gadis. Tatkala Riya Sinir berterus terang akan maksud ibundanya, maka dengan ridha dan ikhlas hati, gadis itu menyerahkan burung enggang peliharaan tersebut.

Maka terharulah hati Riya Sinir melihat kerelaan sang gadis. Terbitlah rasa cinta dan kasih yang teramat dalam di dalam sanubari sang pemuda. Diberanikannyalah dirinya untuk mengikat janji sehidup semati. Maka gadis kecil itu pun tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

Hatta, menurut adat istiadat setempat, gadis itu mengeluarkan sebuah cincin rotan lalu dicobakannya ke jari manis Riya Sinir. Seraya memegang tangan Riya Sinir dengan lembut, berkata lah gadis itu:

 "Jikalau kiranya cincinku ini cocok pada jari manismu, tentu engkaulah yang sudah dijodohkan Dewata bagiku."

Ajaibnya, cincin rotan itu terpasang dengan amat pas di jari manis Riya Sinir. Maka sah dan resmilah ikatan kasih di antara keduanya. Bertanyakan Riya Sinir akan nama sang kekasih, maka sahutnya dialah Dara Hitam.

Maka Riya Sinir pun bermohon diri pulang ke rumahnya dengan hati yang penuh riang gembira, membawa burung enggang beserta cincin pengikat janji. Manakala Dara Hitam tetap bersemayam di Tembawang Selipat, di tepi Sungai Tenganap, dengan setia menanti saat dan ketetapan masa untuk dipersunting oleh Riya Sinir.


HIKAYAT DARA HITAM DAN RAJA PULANG PALIH

Syahdan, maka tersebutlah kisah pada zaman dahulu kala di tanah Kalimantan Barat, sebuah cerita berkenaan seorang putri nan rupawan bernama Dara Hitam. Adapun Dara Hitam itu anak tunggal kepada Patih Gumantar, seorang raja kecil yang amat masyhur lagi gagah perkasa. Maka pada masa itu, berlaku perkelahian dan perang kayau-mengayau antara segala kerajaan. Alkisah, datanglah angkatan perang dari Kerajaan Miaju melanggar takhta Patih Gumantar. Maka tumpaslah kerajaan itu, dan terkayaulah jemala Patih Gumantar lalu dibawa lari oleh musuh serta disimpan di dalam tajo Tarus milik Raja Biayu. Adapun bagi suku Daya, kepala itu menjadi tangkal keberkahan dan azimat keturunan.

Maka tatkala Dara Hitam menjelang dewasa, jadilah ia seorang balian. Balian itu yakni seorang tabib wanita yang amat disayangi oleh sekalian rakyat. Ia pandai mengolah ramuan akar dan kayu-kayuan dari dalam rimba guna menyembuhkan segala penyakit. Syahdan, pada suatu hari, diundangkan oranglah Dara Hitam berdukun ke kampung tetangga di tepi Sungai Tenganap. Hatta, tatkala ia menyiram diri dan bersuci di tepi sungai, maka gugurlah sehelai rambutnya. Adapun rambut itu teramat panjang lagi indah. Hanyutlah ia di dalam sebuah bokor kuningan melintasi tempat hulubalang Raja Pulang Palih beradu.

Maka tatkala hulubalang melihat bokor tersebut, ditariknyalah rambut itu dengan heran, karena tiada berputusan panjangnya. Maka dipersembahkanlah hal itu kepada Raja Pulang Palih, keturunan raja Jawa dari tanah Banten. Maka terbitlah berahi dan cita-cita sang raja hendak memiliki empunya rambut itu. Lalu bertitahlah raja menyusuri hulu sungai hingga sampailah mereka ke sebuah rumah yang sedang menyelenggarakan adat berdukun.

Maka beradalah Raja Pulang Palih dalam tipu muslihat. Diberitahukannya bahwa baginda sedang beradu sakit payah di atas sampan dan memohon pertolongan sang balian. Balian Dara Hitam yang tulus lagi pengasih tiada menaruh syak wasangka. Namun tatkala kaki Dara Hitam melangkah naik ke atas sampan, maka diletak dan diputuskanlah tali tambatan oleh hulubalang raja. Maka meluncurlah sampan itu bagaikan anak panah terlepas dari busurnya. Terperangkaplah Dara Hitam lalu dibawa dilarikan ke negeri Tembawang Ambator.

Hatta, tatkala sampai di pangkalan Sungai Sepatat, disambutlah ketibaan mereka dengan gemuruh pesta. Raja Pulang Palih pun membujuk Dara Hitam dengan kata-kata manis hendak menjadikannya permaisuri. Namun di dalam sanubari Dara Hitam, tiada pernah padam rindu dendamnya kepada Riya Sinir, kekasih pertamanya. Maka berniatlah Dara Hitam menolak permohonan raja secara halus. Berkata ia:

> "Jikalau Tuanku benar-benar hendak memperistri hamba, dapatkanlah dahulu jemala ayahanda Patih Gumantar yang terkayau itu sebagai syarat sah perkawinan kita."

Maka tertegunlah Raja Pulang Palih mendengar syarat nan maha berat itu. Namun demi cintanya, dikumpulkan baginda sekalian rakyat dan menteri untuk bermusyawarah. Maka diputuskanlah hendak membuat sebuah jong besar guna mendatangi musuh. Dijelajahilah rimba untuk mencari kayu merbau yang paling tegar. Tatkala dijumpai pokok kayu itu di tepi Sungai Sepatat, bertitahlah raja untuk menebangnya.

Alkisah pada zaman itu, manusia hanya memiliki kapak dari batu yang diikat dengan tali rotan. Maka bergotong-royonglah sekalian rakyat menebang pokok merbau itu. Dari pagi hingga petang hari, hanya separuh batang kayu yang dapat dipotong. Tatkala malam menjelang dan kegelapan membungkus bumi, berhentilah mereka lalu pulang beristirahat.

Ajaibnya, tatkala fajar menyingsing dan mereka kembali ke dalam hutan, didapati pokok merbau itu telah bertaut dan utuh kembali bagaikan tiada pernah tersentuh kapak. Maka heranlah sekalian orang. Dicuba pula oleh mereka menebangnya pada hari kedua, namun tatkala malam tiba dan ditinggalkan, besok paginya pokok itu bertaut lagi seperti sedia kala. Maka berduka cita dan kecewalah sekalian rakyat beserta raja atas kesaktian pokok kayu tersebut.



PULANG PALIH DAN DARA HITAM

Dara Hitam seorang anak tunggal Patih Gumantar. Patih Gumantar, seorang yang sangat berpengaruh di zamannya. Ia dianggap sebagai seorang raja kecil. Ia hidup mewah dan jaya. Karena jayanya banyak kerajaan kecil tetangga ingin merebutnya. Zaman itu masih perang kayau-mengayau. Kerajaan MIAJU nekat menyerangnya. Datanglah ia dengan kekuatan yang lebih besar, yang benar-benar telah mengalahkan kerajaan Patih Gumantar. Tengkorak kepala Patih Gumantar, telah terkayau oleh Miaju dan dibawa serta kekerajaannya. Tengkorak hasil kayauan adalah satu kasiat penting dalam hidup bertani dan lain-lain bagi suku Daya. Tengkorak itu harus disimpan dengan penjagaan ketat. Jika hilang maka hilanglah segala kasiat dan kemujuran hidup seluruh sukunya. Tengkorak Patih Gumantar telah disimpan dalam tajo Tarus raja Biayu. Dijaga ketat, jangan sampai hilang.

Dara Hitam makin besar dan telah menjadi seorang "BALIAN". Seorang dukun yang disenangi rakyatnya. Ramuan kayu-kayuan dan akar-akar kayu hutanlah yang menjadi obatnya. Hingga sekarang ini campuran kimianya masih berlaku untuk suku Daya sekampungnya.

Dara Hitam sering diundang orang berdukun berkeliling kampung. Ia terundang ke kampung tetangganya di dekat sungai Tenganap, daerah Tembawang Selipat kampungnya. Pendukunannya sering berlangsung berminggu-minggu, menurut adat. Masa pendukunannya, selalu ia pergi turun mandi ke sungai Tenganap yang mengalir meliwati perumahan raja Pulang Palih. Sedang Dara Hitam mandi, tercabutlah sehelai rambut panjang, panjang sekali sehingga memenuhi sebuah bokor kuningan ringan hanyut. Benar-benar telah hanyut terbawa air meliwati pengawal raja Pulang Palih yang sedang mandi pula. Bokor ini telah menarik perhatiannya dan dicapainya. Mereka melihat rambut penuh dalamnya. Mereka coba menariknya hemat. Seorang menariknya heran. Rambut ini tak pernah habisnya. Sangat panjang. Hal ini dikabarkan pada raja. Rajapun menjadi heran tercengang dan ingin mencari orang yang memilikinya. Mereka berunding. Jalan apakah dan dimanakah pemilik rambut ini berada. Mereka berkesimpulan, tentu sipemilik rambut sepanjang ini berada di hulu sungai. Baiklah sungai ini kita susuri. Mudah-mudahan bertemu dengan orangnya. Berangkatlah mereka menumpang sampan bersama raja. Berkayuh sambil membayangkan seorang gadis cantik yang memilikinya. Jauh sudah mereka berkayuh, terpandanglah sebuah rumah berhias rapih, tanda sedang berdukun menurut adat suku Daya. Anak buah raja coba bertanya, kalau-kalau ada seorang yang berambut panjang di dalam kampung ini. Kebetulan ada seorang anak datang menimba air, Ia telah menyampaikan keterangan yang jelas. Disini ada seorang yang memilikinya. Sayang ia sedang berdukun. Info ini telah dimanfaatkan oleh raja Pulang Palih. Ia berpura-pura sakit dalam sampan. Minta pertolongan segera dalam sampan saja. Anak buahnya pergi mengundang Dara Hitam untuk merenggut Dara Hitam. Sifat Dara Hitam yang rela menolong, tanpa pikir telah mengiakan permintaan yang nampak serius itu. Ia pergi dengan segala ramuannya. Sedang ia melangkah masuk sampan, anak buah raja Pulang Palih memutuskan tali sampan dan berkayuh sekuat tenaga. Sampan bagaikan peluru ditembakkan, menyebabkan Dara Hitam menyerah kepada kemauan raja Pulang Palih.

Dara Hitam telah masuk perangkap Raja Pulang Palih. Dara Hitam terbenamlah ke alam khayal. Meninggalkan daerah Tembawang Selipat, menuju daerah Tembawang Ambator. Sekali Dara Hitam sadar, ia telah berada dalam perangkap penipuan Pulang Palih, Raja Pulang Palih adalah keturunan raja Jawa di Banten. Perahu meluncur kencang, tak tertahan oleh seorang juapun. Sebentar saja telah tiba ke pangkalan sungai Sepatat, daerah Tembawang Ambator Anggarat. Dara Hitam disambut meriah oleh seluruh isteri raja Pulang Palih.

Raja Pulang Palih mulai merayu Dara Hitam. Segala latar belakang hidup Dara Hitam ditanyakan manis. Kemudian raja melahirkan maksud, untuk mengawininya. Dengan perasaan halus tersembunyi dalam kalbu, Dara Hitam tidak mau menolaknya secara kasar. Dara Hitam memberikan tantangan. "Kalau kiranya raja sanggup mengembalikan tengkorak kepala bapak saya, bolehlah raja mengawini saya". Hanya satu alasan menolak maksud raja, karena benaknya selalu membayangkan Riya Sinir the first lovenya. Riya Sinir yang selalu menjadi kenangan setiap masa.

Raja mengajak dan memaksanya kawin. Paksaan yang sukar ditolak. Dara Hitam selalu mengajukan, sebagai bukti syahnya perkawinan, harus tengkorak kepala bapak saya musti diambil. Suatu tantangan berat bagi raja. Karena selalu dituntut Dara Hitam, terpaksa raja berusaha, berikhtiar mendapatkannya. Raja mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk meminta pendapat. Mereka berunding dengan kesimpulan harus membuatkan satu jong yang dapat bermuatkan kelengkapan perang. Mereka telah mengetahui, bahwa kepala ini tentu disimpan dan dijaga ketat. Untuk mendapatkannya harus mengadakan perlawanan yang sengit, Raja memerintahkan mencari kayu yang paling baik untuk jong. Rakyat memilih kayu merbau. Kayu ini oleh orang lain menyebutkan kayu Melabo. Pergilah mereka mencarinya dan telah diketemukan di tepi sungai Sepatat. (Tunggul kayu bekasnya masih sempat saya saksikan).

Zaman batu masih menguasai mereka. Segala alat terbuat dari batu. Mereka mengambil kampak batu, menuju pokok kayu merbau. Dengan susah payah mereka menebangnya, tak berhasil. Cara menggunakannya masih sukar sekali. Mereka mengikatkan kampak batu dengan tali rotan kesebilah kayu gagangnya. Kayu ditebang, hampir setengah selesai terpotong, malampun mendungi bumi, menghalangi mereka mendatang lagi untuk meneruskan menebangnya. Dari kejauhan, nampak jelas kayu itu telah bertaut kembali. Tapi mereka tak berputus asa untuk menebangnya kembali, walaupun mereka telah merasa heran dengan kejadian itu.

Kayu ditebang lagi. Setelah sore hari, ternyata kayu itu tertebang hanya setengah bagian seperti kemarin. Mereka meninggalkannya. Besoknya mereka kembali dan melihat, suatu keadaan yang sama seperti kemarin. Mereka menjadi kecewa.

Senin, 21 September 2026

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah lagi subur di bumi Kalimantan. Di dalam komunitas petempatan tersebut, hiduplah insan-insan yang dikaruniai hikmat serta keterampilan jemari nan mahatinggi. Mereka tiada hanya menggenggam alatan besi atau bertarung di alam gaib, melainkan menenun jaluran serat alam menjadi alatan nan menopang seluruh napas kehidupan warga.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Mak Seniah, seorang perempuan tua yang dikenal oleh segenap penduduk bantang sebagai Tukang Barayopm—yakni seorang pandai yang khusus menciptakan pelbagai alatan menganyam, alatan pertanian, penangkap ikan, hingga kelengkapan rumah tangga dari serat-serat rimba. Dari tangan hamba yang keriput namun lincah ini, terlahir alatan pertanian seperti teneng, antoro, uko’, konse’, dan bangkat; alatan penangkap ikan di sungai seperti bubu dan antikng; serta perabot rumah panggung seperti nyiru, sapu banar, daku’, baku, jaeje (rago’), dan lubu’ nan dianyam anggun dari daun sake’ (sejenis pandan hutan).

Sebermula, alkisah pada suatu pagi tatkala embun fajar masih bergayutan di ujung daun dan kabut tipis merayap pelan di selasar bantang, datanglah seorang gadis muda bernama Lenggang menyambangi pondok hamba. Wajahnya membayangkan kecemasan nan amat sangat seraya matanya menatap bertumpuk-tumpuk helai daun sake’ yang telah dikeringkan di sudut serambi hamba.

"Ampunkan hamba, wahai Mak Barayopm nan bijaksana," kata Lenggang seraya membongkokkan badannya dengan rasa takzim nan dalam. "Musim mengetam dan menjemur padi (ngirik) kian menghampiri. Namun, tikar gagadokng di rumah panggung hamba telah hancur dimakan usia, dan alat penangkap ikan bubu milik ayah hamba jua telah patah dilanda arus sungai. Hamba mohon dengan amat sangat, ajarkan dan bimbinglah hamba menganyam serat-serat rimba ini menjadi alatan nan kukuh!"

Hamba menghentikan gerakan tangan yang sedang meraut bilah-bilah rotan, lalu menatap Lenggang dengan senyuman yang hangat.

"Wahai anakku," bersabda hamba dengan suara yang lembut lagi merdu. "Ketahuilah olehmu, bahwasanya ilmu barayopm ini bukanlah sekadar menyilangkan sehelai serat di atas serat yang lain. Di dalam setiap belahan daun sake’ selebar tiga sentimeter yang kita pilah, dan dalam setiap pilinan rotan simpe yang kita ikat, tersirat doa keselamatan dan ketahanan raga warga Salako tatkala berhadapan dengan ganasnya alam. Mari kita mulakan karya ini sebelum fajar menepi."

Maka duduklah Lenggang di sisi hamba di atas serambi rumah panggung. Hamba mengambil belahan-belahan daun sake’ keemasan yang telah dijemur halus. Jemari tua hamba mulai menyilangkan helaian demi helaian dengan ritme nan teratur lagi cepat, membentuk pola anyaman tikar gagadokng nan tebal lagi halus. Tikar ini menjadi alas agung tempat warga duduk bermusyawarah, tempat beradu tatkala malam mencekam, hingga menjadi hamparan sakral tatkala Tukang Babore menggelar ritual pengobatan baiotn.

"Tengoklah dengan cermat, Lenggang," petunjuk hamba seraya mengarahkan jemari gadis itu. "Setiap helai daun pandan sake’ ini harus saling mengunci dengan saksama. Satu anyaman yang longgar akan membuat tikar gampang terurai tatkala dipakai mengirik padi di lapangan."

Setelah tikar gagadokng selesai dianyam dengan eloknya, hamba bimbing pula Lenggang meraut bilah-bilah bambu tua untuk merangkai bubu dan antikng—alatan penangkap ikan yang tangguh. Tatkala kerangka bambu telah dibentuk, hamba memanggil seorang lelaki pandai yang mahir dalam ilmu simpe (yakni ikatan rotan) untuk mengikatkan rautan bambu itu dengan serat rotan nan amat kuat. Serat rotan diikatkan melingkari mulut kerangka dengan simpul-simpul khusus agar tiada pecah maupun renggang tatkala dihantam derasnya arus sungai.

Maka tatkala sang suria telah mencondong ke barat, siaplah tumpukan alatan nan mahaindah di atas serambi hamba: tikar gagadokng nan tebal, nyiru tempat menampi beras, buku dan rago’ wadah hasil ladang, serta bubu dan antikng nan siap diterjunkan ke dasar sungai. Lenggang menatap sekalian karya itu dengan air mata keharuan dan rasa takjub nan tak terhingga.

"Tengoklah wahai anakku," bersabda hamba seraya mengusap jemari Lenggang nan lembut. "Di bumi Bantang Salako ini, para pandai besi Tampotn menempa parang untuk merintis rimba, para pangarabanan menyambut nyawa baru, dan para pamabore menyembuhkan penyakit raga. Namun kitalah, Sang Tukang Barayopm, nan menyulap helai-helai daun pandan sake’ dan rotan hutan menjadi alatan nan menampung rezeki, melapangi tempat beradu, serta menyatukan kehidupan sehari-hari seluruh warga bantang."

Lenggang memeluk hamba dengan takzim. "Terima kasih, Mak Barayopm. Tanpa keterampilan tanganmu, tiadalah mungkin rezeki dan kehangatan di rumah panggung kami dapat tercipta dengan sempurna."

Syahdan, pada hari-hari berikutnya, sungai dan ladang di Bantang Salako dipenuhi keriangan. Ayah Lenggang mendapat tangkapan ikan nan melimpah dari bubu anyaman tersebut, dan keluarga mereka menjemur serta mengirik padi di atas tikar gagadokng dengan penuh rasa syukur.

Hamba duduk bersila di tingkap rumah panggung, menyaksikan kebahagiaan warga dari kejauhan seraya menganyam selembar daun sake’ nan baru. Selagi jemari para wanita dan lelaki Salako masih terampil meraut rotan dan menyilangkan pandan, keindahan dan kearifan karya barayopm di bumi Salako tiada akan pernah pupus ditelan zaman.

Maka tamatlah hikayat Tukang Barayopm ini dengan segala selamat, elok, dan sempurnanya.

Hikayat Sang Pamabore dan Penglihatan Cermin Keramat

Syahdan maka tersebutlah penceritaan kuno dari bumi Bantang Salako, sebuah negeri yang dilindungi rimba belantara nan pekat lagi diliputi kabut tebal pada malam hari. Di dalam komunitas petempatan tersebut, hiduplah hamba-hamba pilihan yang dikaruniai hikmat serta pandangan melintasi tirai gaib, yang digelar orang sebagai Pamabore. Adapun dalam kalangan para pamabore itu, terdapatlah sebuah keahlian magis nan amat tinggi lagi langka, yakni ilmu putiko—sebuah kemampuan sakral untuk meramal, menyingkap pekatnya tabir rahasia, serta menatap peristiwa jauh melalui ritual mandang.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Aki Pandang, seorang Pamabore yang telah mengabadikan usianya untuk menjadi mata gaib bagi warga bantang. Hamba tiada hanya mengobati sakit raga dan menawari bisa racun, melainkan dikaruniai penglihatan putiko guna menuntun jiwa-jiwa yang tersesat di dalam kegelapan.

Sebermula maka pada suatu senja tatkala sang suria mulai tenggelam di balik perbukitan dan burung-burung malam mulai memperdengarkan kepakan sayapnya, datanglah berlarat-larat seorang peladang muda dengan wajah nan pucat pasi bagaikan kain kafan. Lelaki itu bertekut di hadapan hamba seraya menggenggam jemari hamba dengan erat.

"Ampunkan hamba, wahai Aki Pamabore!" ratap peladang itu dengan suara gemetar. "Saudara kandung hamba telah lenyap di dalam rimba sejak tiga hari yang lalu tatkala berburu. Tiada jejak yang tertinggal melainkan parangnya yang berdarah. Bukan itu sahaja, harta benda berupa simpanan emas dan azimat pusaka di rumah kami jua raib digondol maling pada malam yang sama! Hamba mohon dengan amat sangat, gunakanlah ilmu putiko milik Aki untuk menyingkap rahasia kelam ini!"

Melihatkan penderitaan peladang itu, maka hamba pun menarik napas panjang. Hamba mengangguk perlahan seraya bersabda, "Ketahuilah olehmu, wahai anak muda, bahwasanya ilmu putiko dan mandang bukanlah perkara permainan atau ilusi mata fana. Ia adalah anugerah gaib yang menembus batas waktu dan ruang. Hanya mereka yang dirahmati kemampuan ini yang sanggup melihat apa yang tersembunyi di balik cermin gaib."

Maka hamba pun mulai menyiapkan peralatan ritual mandang. Hamba mengambil sebuah piring putih bersih yang diisi dengan air jernih daripada mata air pegunungan, lalu meletakkan sebuah cermin tua berbingkai kayu hitam tepat di bawah naungan cahaya pelita minyak jarak. Hamba menyalakan bara’an—mangkuk berisi bara api merah menyala—lalu menaburkan irisan kemenyan putih ke atasnya. Uap asap putih nan tebal membumbung tinggi, menyebarkan bau harum sakral nan menusuk kalbu.

Hamba mulai memanterakan asap bara’an itu, melafalkan doa-doa rahasia ilmu putiko yang diwariskan oleh leluhur. Asap kemenyan yang mengepul tebal diputar mengelilingi piring dan cermin tua tersebut. Seketika itu jua, udara di dalam ruangan terasa mendadak dingin bagaikan es, dan bayang-bayang di dinding seolah-olah bergoyang-goyang menari mengelilingi kami.

Hamba mendudukkan diri dengan tegak, lalu menundukkan pandangan, menatap lurus-lurus ke permukaan cermin gaib yang diletakkan di atas air putih tersebut. Hamba memusatkan seluruh daya kesadaran gaib (intrance). Maka pada saat itulah, hal yang mahadahsyat pun terjadi.

Permukaan cermin tua itu mendadak bergoyang bagaikan riak air, lalu berubah pekat menjadi sehitam jelaga. Bayangan fana di sekeliling hamba lenyap seketika. Di dalam pantulan cermin gaib itu, muncul uap kebiruan nan berkilau, lalu pelan-pelan membentuk sebuah gambaran peristiwa yang amat jelas—sebuah penglihatan yang hanya sanggup disaksikan oleh mata hamba selaku tukang pandang!

"Mata gaib hamba telah terbuka..." bisik hamba dengan suara bertukar menjadi berat lagi bergaung.

Di dalam cermin itu, hamba melihat kegelapan hutan rimba di hujung bantang. Hamba menatap sesosok lelaki—yakni saudara peladang yang hilang—terbaring lemas di dasar jurang akibat diterkam oleh binatang buas, namun jiwanya masih bertahan. Di sebelah gambaran itu, cermin gaib bertukar memperlihatkan rahasia kedua: hamba menatap wajah sang pencuri harta benda! Rupa wajah sang maling tampak jelas di dalam cermin—seorang lelaki asing dari luar bantang yang menyembunyikan emas dan pusaka di balik beronggok batu besar di tepi sungai bawah!

Peladang muda yang duduk di samping hamba mencoba memicingkan matanya, memandang ke arah cermin tersebut. Namun baginya, cermin itu hanyalah kepingan kaca biasa yang memantulkan kegelapan malam, kerana wujud dan wajah di dalamnya hanya diperuntukkan bagi hamba selaku tukang pandang!

"Wahai anak muda," bersabda hamba seraya mengangkat pandangan dari cermin gaib. "Dengarkanlah petunjuk daripada ilmu putiko ini. Saudaramu masih bernapas di dalam jurang dekat pohon ulin kembar di barat bantang. Segeralah bawa obor dan tali untuk menyelamatkannya! Adapun harta pusakamu yang digondol maling, ia disembunyikan di bawah celah batu sungai oleh seorang lelaki berparut di pipinya. Pergilah ke sana sebelum sang malam berganti fajar!"

Mendengarkan ramalan dan petunjuk putiko yang amat terperinci itu, peladang muda itu pun sujud menyembah dengan rasa takjub lagi gemetar. Ia segera memanggil beberapa warga bantang untuk bergerak menuju lokasi yang ditunjukkan oleh penglihatan cermin gaib hamba.

Maka tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, bersorak-sorailah warga di hujung bantang. Saudara peladang itu berhasil diselamatkan dari dasar jurang dalam keadaan bernyawa, dan seluruh harta pusaka yang raib berhasil ditemukan kembali tepat di lokasi batu sungai sebagaimana yang tampak di dalam cermin pandang hamba.

Demikianlah keagungan ilmu putiko dan kemampuan mandang milik Sang Pamabore di bumi Dayak Salako. Ia bukanlah sekadar ramalan biasa, melainkan cahaya penuntun gaib di tengah pekatnya rahasia kehidupan manusia. Selagi asap kemenyan masih membumbung di atas bara'an dan air tawar masih mengalir, mata gaib Sang Pamabore akan senantiasa menjaga kebenaran di negeri Bantang Salako.

Maka tamatlah hikayat ini dengan segala kesempurnaan dan kegaibannya.

Hikayat Bisikan Roh dan Bara Kemenyan

Syahdan, maka tersebutlah sebuah penceritaan kuno dari bumi Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi rimba raya nan kelam lagi legam. Tatkala malam menaburkan tirai hitamnya dan kabut dingin merayap dari perbukitan, alam fana dan alam gaib seolah-olah melebur menjadi satu. Di bawah naungan bayang-bayang pepohonan ulin nan menjulang tinggi, hiduplah insan-insan yang memegang kearifan kuno—mereka yang berhadapan langsung dengan intrik roh-roh halus dan penyakit gaib.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini adalah seorang Pamabore Besar—seorang Tukang Babore yang dikaruniai penglihatan melintasi batas kasat mata. Orang-orang di bantang menyapa hamba dengan gelaran Sang Pamaiotn. Hamba tidak hanya mengobati sakit raga yang biasa, melainkan bertarung nyawa mengusir pengaruh jahat, mengembalikan jiwa yang tersesat, serta memanggil keberadaan para Jubato dan roh pahiangan tatkala kegelapan malam mencekam jiwa.

Sebermula, alkisah pada suatu malam selasa yang kelam, tidak ada hembusan angin, dan lolongan anjing hutan menyayat hati dari kejauhan. Di dalam serambi rumah panggung hamba, suasana amat hening hingga detak jantung pun bergaung nyaring. Tiba-tiba, dari kegelapan lorong bantang, terdengar derap langkah kaki yang terburu-buru. Pintu rumah hamba diketuk dengan keras tiga kali.

Tatkala pintu dibuka, berdirilah seorang utusan keluarga nan pucat lesu wajahnya—seorang yang digelar pangoop (yakni utusan penjemput). Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menyerahkan mangkuk adat penjemputan (diaap).

"Ampunkan hamba, wahai Sang Pamabore Besar!" teriak pangoop itu dengan napas yang tersekat-sekat. "Anak gadis tetua kampung kami telah dirasuki oleh kekuatan hitam yang mahadahsyat! Matanya membalik putih, badannya kaku bagaikan kayu ulin, dan dari kerongkongannya keluar suara raungan binatang yang tidak kami kenali. Hamba mohon dengan amat sangat, sudilah kiranya Sang Pamabore melangkah ke rumah kami!"

Hamba menatap mata pangoop itu dengan dalam, lalu memeriksa kelengkapan adat di dalam mangkuk tersebut. Ketahuilah olehmu, bahwasanya seorang dukun atau pamaiotn tiada akan pernah menginjakkan kaki ke rumah pesakit tatkala adat penjemputannya salah atau kurang walau secelak. Setelah dipastikan segalanya benar, hamba menyandarkan azimat, lalu mengangguk pelan.

"Malam ini adalah dunianya para Jubato patokng dan Jubato maam," ujar hamba dengan suara berat bergema. "Siapkan alat musik dau, tiga buah gong, suben, serta tumo’! Kita akan menggelar upacara ritual baiotn sebelum malam mencapai puncaknya!"

Maka melangkah pulalah hamba membelah kegelapan malam. Bayang-bayang hitam berkelebat di antara pepohonan rimba, seolah-olah mata-mata gaib sedang memperhatikan setiap jejak langkah hamba. Tatkala hamba menaiki tangga rumah panggung pesakit, bau kemenyan yang pekat membumbung tinggi, membaur dengan bau amis yang menusuk hidung.

Di serambi rumah yang luas, terbaringlah gadis itu di atas tikar gagadokng. Pergelangan tangannya diikat dengan tali rotan kerana ia terus mengamuk. Matanya mendelik ke atas, tidak ada bagian hitam yang terlihat, dan urat-urat lehernya menonjol kebiruan. Tatkala hamba mendekat, gadis itu tertawa menyeringai dengan suara melengking yang sanggup membekukan darah siapa saja yang mendengarnya.

"Siapkan peralatan ritual!" perintah hamba tegas kepada para penabuh gema.

Seketika itu jua, tabuhan instrumen pengiring dimulakan. Dau diketuk berirama rapat, tiga gong dengan suara beda nada menggelegar membelah dinding malam, diikuti dentuman suben yang berat dan pukulan tumo’ yang konstan. Suara musik sakral itu bergema bagaikan guruh yang memecahkan angkasa, menggetarkan papan-papan lantai rumah panggung.

Hamba mulai menari, menggerakkan tubuh mengelilingi gadis itu sesuai irama baiotn. Hamba memegang bara’an—semangkuk bara api yang merah menyala—lalu menaburkan irisan kemenyan putih ke atasnya. Uap asap putih yang tebal memancar membumbung tinggi, menyebarkan aroma harum magis nan pekat. Hamba membaca mantera kuno bahasa-ibu Dayak Salako, memanggil kehadiran roh leluhur (pahiangan) untuk menjadi mentor dan pelindung dalam pertarungan ini.

Asap kemenyan itu hamba sau’-kan—yakni dilingkarkan mengelilingi raga gadis yang sakit itu sebanyak tiga putaran penuh. Seketika itu jua, tatkala asap tebal menyelimuti tubuhnya, jeritan gadis itu semakin melengking dahsyat! Udara di sekeliling kami terasa mendadak dingin bagaikan es, dan cahaya lampu pelita meredup menjadi kemerahan.

Dari balik asap kemenyan yang membumbung, hamba melihat penampakan sesosok bayangan hitam mahabesar dengan mata merah menyala, bergelayut di atas dada gadis itu. Itulah makhluk halus penghuni rawa kelam yang telah mengisap sumangat (jiwa) sang gadis.

"Wahai roh jahat!" teriak hamba seraya menghentakkan kaki ke lantai papan. "Engkau berhadapan dengan kekuatan Jubato dan naungan pahiangan!"

Hamba mengulurkan tangan, lalu melakukan ritual barase’ atau intrance—yakni memasukkan kesadaran hamba ke dalam batas alam gaib. Pandangan hamba berubah menjadi merah pekat. Di alam roh itu, pertarungan tak kasat mata terjadi dengan amat sengit. Hamba melafalkan doa-doa penawar racun dan mantra pengusir, mengibaskan asap kemenyan bagaikan pedang cahaya yang menebas bayangan kelam tersebut.

Jeritan dan gerungan mahluk itu menggema di dalam telinga hamba. Tubuh gadis itu terangkat sedikit dari atas lantai, lalu terhempas kembali dengan keras. Namun hamba tidak gentar walau sekelumit pun. Irama dau dan dentuman suben dipercepat, menambah kekuatan getaran magis di dalam ruangan. Hamba mengambil segelas air putih, lalu memanterakannya hingga menjadi air tawar yang sakral.

Dengan memohon bantuan Jubato, hamba memercikkan air tawar itu ke ubun-ubun sang gadis sebanyak tiga kali, lalu memasukkan beberapa titik air ke dalam mulutnya. Seketika itu jua, makhluk hitam gaib itu melengking teramat sangat, lalu terlempar keluar dari raga sang gadis dan melesat lenyap membelah kegelapan malam!

Gadis itu mendengus napas panjang, lalu matanya kembali normal. Ia terkulai lemas, memuntahkan cairan hitam pekat ke atas kain, menandakan racun dan ilmu jahat telah tawar dari tubuhnya.

Pertarungan gaib itu berlangsung berjam-jam, memakan waktu hingga tiga malam berturut-turut. Malam memang lah dunianya para roh dan Jubato. Namun tatkala waktu telah meniti menuju pukul empat pagi, suasana alam mulai berubah. Dari jauh, suara ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan di sudut-sudut bantang.

"Tataplah ke luar," bisik hamba kepada penabuh musik. "Fajar akan terbit. Para Jubato, pahiangan, dan roh-roh petang harus segera kembali ke persemayaman mereka."

Hamba segera mengakhiri ritual badukun dan baiotn tersebut. Hamba mengambil batang taman—yakni sebatang pisang Jeranang yang belum berbuah yang telah disediakan sebagai wadah menampung sisa-sisa roh yang hadir dalam upacara. Dengan dipandu oleh utusan keluarga, batang taman itu dibawa dan dibuang jauh-jauh ke dalam hutan rimba dan semak belukar di ujung kampung (bantang). Pembuangan ini menjadi penanda bahwa sekalian roh telah dikembalikan ke alamnya, dan ikatan gaib telah diputuskan.

Maka tatkala sang suria mulai memancarkan sinar pertamanya di ufuk timur, hamba memerintahkan keluarga pesakit untuk melaksanakan ritual boo’ (nyepi) keluarga selama tiga hari berturut-turut. Selama masa nyepi ini, tiada seorang pun boleh keluar atau masuk ke rumah tersebut, guna memulihkan ketenteraman raga dan jiwa yang baru sahaja lepas dari cengkeraman mahluk halus. Setelah masa tiga hari itu genap, barulah diadakan upacara ritual basaru’ sumangat—yakni kenduri selamatan untuk memanggil kembali seluruh jiwa yang sempat terbang agar melekat kukuh pada raga sang gadis.

Maka selesailah tugas hamba sebagai seorang Pamabore Besar. Hamba melangkah pulang ke rumah panggung hamba dengan tubuh yang lelah, namun jiwa yang tenang. Di sepanjang jalan, hamba melihat beberapa warga biasa—para pamabore kecil—sedang membantu tetangga mereka yang terkena penyakit ringan atau keracunan buah jengkol (kejangingan), mengobatinya dengan serbuk kunyit, coretan kapur (baconteng), atau semburan sirih (basambur). Ada pula perempuan terampil yang lahir terbalik (sunsokng) sedang berjalan ke tepi ladang padi guna mengusir hama ampango (walang sengit) dengan mengibaskan ranting pohon ansamat dan mengasapi ladang dengan serai Belanda (parabun).

Maka ketahuilah olehmu wahai pembaca, bahwasanya di dalam kehidupan suku Dayak Salako, batas antara alam nyata dan alam gaib adalah setipis benang merah. Dan hamba, Sang Pamabore, akan senantiasa berdiri sebagai penjaga gerbang di antara kedua dunia itu, memegang bara api kemenyan dan mantra leluhur demi keselamatan anak cucu Bantang Salako.

Maka tamatlah hikayat Pamabore ini dengan segala kerahasiaan dan keagungannya.

Hikayat Mak Sumi dan Parang Patahi

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan di dalam sebuah negeri nan makmur lagi subur, dinamai orang Negeri Bantang Salako. Adapun di negeri itu, terhampar belantara nan mahaluas lagi senantiasa dilitupi kabut tebal pada malam hari, tempat bermukim anak cucu manusia yang hidup beralaskan adat dan bersandarkan petunjuk para leluhur. Maka di dalam struktur kehiupan sosial komunitas tersebut, terdapatlah hamba-hamba Allah yang dikaruniai hikmat serta keahlian khusus nan tiada dimiliki oleh khalayak ramai, yang digelar orang tukang atau orang pandai.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Mak Sumi, seorang perempuan tua yang telah berkali-kali menyaksikan pergantian bulan dan musim. Dalam kalangan penduduk bantang, hamba digelar Tukang Pangarabanan—yakni bidan kampung yang memegang amanah memimpin persalinan (bapero’), menyambut titisan nyawa yang baru terbit dari alam gaib ke alam fana ini. Kemampuan yang ada pada dada hamba ini bukannya diperoleh dengan kemudahan, melainkan diwarisi daripada jalur keturunan dan panggilan gaib yang dipandu oleh roh pahiangan—yakni roh baik nan senantiasa mendampingi dan memberi petunjuk tatkala hamba menjalin tugas-tugas nan sarat marabahaya.

Sebermula maka pada suatu malam jumaat yang hening, angin pegunungan bertiup teramat dingin menembus celah-celah dinding buluh rumah panggung hamba. Tatkala sang suria telah lama beradu di balik perbukitan dan malam telah meniti ke puncaknya, datanglah seorang lelaki dewasa berlarat-larat dengan napas yang memburu. Ia mengetuk pintu rumah hamba dengan tergesa-gesa. Lelaki itu bernama Bada, seorang peladang dari hujung bantang.

"Ampunkan hamba, Mak Pangarabanan!" jerit Bada dengan suara yang parau lagi gemetar. "Sudilah kiranya Mak Segera melangkah ke rumah hamba. Istri hamba sedang bertarung nyawa untuk melahirkan anak kami yang pertama. Sakitnya telah merambat sejak senja tadi, namun sang bayi belum jua menampakkan tanda-tanda hendak keluar!"

Melihatkan keadaan Bada yang teramat cemas itu, maka hamba pun tidak melengahkan waktu lagi. Hamba mengambil sebuah botol kecil sebesar ibu jari yang berisi minyak sakral dan azimat-azimat rahasia—sebuah benda bertuah yang dinamai conekng, nan menjadi wadah dan sumber kekuatan superinsani hamba. Hamba sisipkan conekng itu ke dalam kemboja kain hamba, lalu melangkah membelah kegelapan malam yang pekat.

Maka tatkala sampai di halaman rumah Bada, hamba menyuruh Bada menyiapkan segala alatan kelengkapan adat untuk menangkal gangguan makhluk halus. Ketahuilah olehmu, bahwasanya tatkala seorang perempuan hendak melahirkan, bau darah amis yang merebak ke udara akan memanggil-manggil kehadiran iblis dan roh-roh jahat—terutamanya antu bantianak (hantu kuntilanak) nan amat dahaga akan darah ibu dan bayi.

Maka dengan sigap, Bada mengambil sebuah parang tua yang telah patah putingnya. Parang tua itu dipantakkannya tegak lurus ke dalam tanah tepat di sebelah pintu utama rumah panggungnya, lalu permukaannya diconteng-conteng dengan kapur sirih. Syahdan, pancangan parang patah dan garis kapur itu menjadi pagar gaib nan kukuh, sehingga roh-roh jahat tidak akan berani melintasi ambang pintu untuk mengganggu proses persalinan.

Hamba pun naik ke atas rumah. Di dalam kamar nan samar-samar dilintasi cahaya pelita minyak jarak, terbaringlah istri Bada yang bernama Kumang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan wajahnya pucat bagaikan kain kafan. Di samping pembaringan telah tersedia sebuah pantarotn—yakni piring sakral berisi beras kuning, selembar antek (sirih yang dioles kapur, pinang, dan gambir), sebatang rokok nipah, serta beberapa keping uang seadanya sebagai simbol paribaso atau etiket adat kepada roh-roh pembantu. Terletak pula di atas piring itu dua buah manik-manik batu nan dinamai samoopm.

Maka hamba pun duduk bersila di sisi Kumang. Hamba ambil conekng dari kemboja kain, lalu diletakkan dengan takzim di atas pantarotn. Setelah itu, hamba mengambil samoopm—dua manik batu bertuah—lalu mengikatkannya pada pergelangan tangan kiri hamba sebagai benteng diri. Hamba mengambil sejemput beras daripada pantarotn, lalu hamba berdiri menghadap ke arah timur, ke tempat terbitnya sang suria yang memancarkan kehidupan.

Hamba komat-kamit melafalkan mantera-doa kuno, memanggil-manggil kehadiran roh pahiangan agar sudi hadir menjadi mentor dan melapangkan jalan bagi sang bayi. Syahdan, selesai sahaja mantera dibaca, hamba pun melontarkan beras sejemput itu ke udara, melayang ke arah timur. Seketika itu jua, udara di dalam kamar terasa mendadak hangat, dan keheningan malam seolah-olah dipenuhi oleh naungan gaib nan menenteramkan jiwa.

"Dengar wahai Kumang," bisik hamba ke telinga perempuan muda itu seraya mengelus perutnya dengan minyak daripada conekng. "Pusatkan ingatanmu pada Sang Creator. Jangan engkau gentar, kerana roh pahiangan sedang berdiri melingkungi kita."

Hamba mulai memijat dan membidani (ngarabanan) perut Kumang dengan lembut namun mantap, mengarahkan posisi sang bayi agar sejajar dengan pintu kelahiran. Keriuhan kecil terjadi tatkala rasa sakit kembali menyerang Kumang. Ia menggemertakkan giginya seraya menggenggam erat tangan suaminya. Di luar rumah, berhembus angin kencang yang memukul-mukul dedaunan pisang; sayup-sayup terdengar derit kepakan sayap dari kegelapan hutan—tanda bahwasanya antu bantianak sedang memutari rumah, namun tidak sanggup menembus wibawa parang patah dan garis kapur di balik pintu.

Maka dengan petunjuk daripada roh pahiangan, hamba bimbing napas Kumang dengan sabar. "Hela napasmu, anakku... Teranlah tatkala gelombang sakit itu datang!"

Kumang mengumpul seluruh sisa tenaganya, merintih dan meneran dengan penuh kepasrahan. Maka pada saat yang maha penting itu, dengan izin Allah dan bantuan pahiangan, pecahlah tangisan nyaring seorang bayi laki-laki nan elok rupanya, membelah kesunyian malam di Bantang Salako. Tangisan itu bergema dengan nyaringnya, mengusir sekalian bayang-bayang kelam yang bergentayangan di luar rumah.

Hamba dengan sigap menyambut sang bayi, memotong tali pusatnya, menyucikannya dengan air hangat, lalu meletakkannya di atas dada sang ibu. Bada meneteskan air mata kebahagiaan seraya sujud bersyukur di sudut kamar.

Selesai sahaja tugas pembidanan itu, hamba tidak meminta upah berupa emas, perak, atau mata uang, kerana di dalam hukum adat kami, tugas seorang pangarabanan tidaklah dinilai dengan tarif atau harga. Hamba hanya mengambil isi daripada pantarotn—yakni beras, sirih, rokok nipah, dan sekeping uang seadanya—sebagai bentuk balas jasa yang sah menurut adat leluhur.

Maka beberapa bulan kemudian, tatkala sang bayi telah genap berusia tiga bulan, Bada dan keluarganya menggelar upacara ritual matuho atau batooh (basaru’ sumangat). Hamba kembali diundang dengan penuh hormat untuk menghadiri majelis kenduri tersebut. Di hadapan para tetua adat dan warga bantang, nama sang bayi diresmikan dan jiwa sang anak dipanggil (basaru’ sumangat) agar melekat kukuh pada raganya, diakui secara sah sebagai anggota keluarga dan komunitas suku Dayak Salako.

Atas jasa pembidanan itu, keluarga Bada memberikan epet—sebuah bungkusan sakral yang berisi daging ayam sebelah (barokng manok), sebungkus tumpi’, dan dua batang poe’ (pulut dalam bambu)—sebagai tanda penghormatan tertinggi kepada sang bidan kampung. Bahkan tatkala upacara ngabayotn dan sembahyang besar booh nyawo diselenggarakan oleh kampung, hamba sebagai pangarabanan senantiasa mendapat bagian babuk bersama-sama dengan para pengurus adat lainnya.

Demikianlah kisah perjalanan hidup hamba, Mak Sumi Sang Tukang Pangarabanan. Di balik rimba yang sunyi dan malam yang dingin, jemari tua hamba menjadi saksi atas benih-benih kehidupan baru yang mekar di bumi Salako. Selagi matahari masih terbit dari ufuk timur dan parang patah masih terpancang di tepi pintu, hamba akan senantiasa berdiri menuntun nyawa-nyawa baru melangkah ke alam fana ini dengan selamat.

Maka tamatlah hikayat Tukang Pangarabanan ini dengan segala selamat dan sempurnanya.

Hikayat Sang Penempa Besi dan Derap Takdir Rimba

Maka tersebutlah kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang mahaluas lagi lindap oleh pohon-pohon ulin nan menjulang ke angkasa. Adapun negeri itu bernama Bantang Salako, sebuah petempatan tempat anak cucu leluhur bermukim, berladang, dan mengagungkan adat tradisi yang diwariskan turun-temurun. Alkisah, di luar lingkaran para tetua organisasi dan pengurus adat yang duduk di balai, terdapatlah hamba-hamba yang memegang keahlian khusus yang dinamai tukang.

Hamba yang empunya cerita ini bernama Utan, seorang yang dikaruniai bakat oleh Dewara untuk menjadi Tukang Tampo—atau yang kerap pula disapa oleh warga bantang sebagai tukang pantotn, yakni seorang pandai besi. Hamba bukanlah seorang pamane atau pamaiotn yang sanggup memanggil roh pahiangan tatkala malam mencekam, bukan pula seorang pangarabanan yang mampu menyambut bayi yang baru terbit ke dunia. Hamba hanyalah seorang peladang biasa yang tangannya berteman dengan bara api, landasan besi, serta dentang tempaan kuali. Namun demikian, tanpa tempaan dari jemari hamba, tiada satu pun parang, beliung, maupun kapak yang dapat menembus keperawanan hutan untuk dijadikan ladang padi.

Maka tatkala musim berladang kian menghampiri, gubuk penempaan hamba yang terletak di hujung kampung tidak pernah sepi dari keriuhan. Asap hitam membubung tinggi ke udara, membaur dengan wangi daun-daun kering yang terbakar. Orang-orang dari segenap pelosok bantang datang berduyun-duyun membawa perkakas besi milik mereka yang telah tumpul, retak, atau patah putingnya. Mereka datang memohon bantuan hamba untuk natari’—yakni membetulkan dan merawat kembali bilah-bilah besi yang menjadi urat nadi kehidupan di rimba.

Maka pada suatu hari, tatkala matahari baru sahaja merambat setinggi pohon pinang, datanglah seorang peladang muda bernama Beli membawa sebuah parang tua yang amat tumpul dan karatnya telah memakan mata besi.

"Wahai Paman Utan, Tukang Tampo yang arif," kata Beli seraya menyerahkan parang itu dengan kedua belah tangannya. "Musim baketo sudah di ambang pintu. Hamba mohon sudilah Paman membaiki parang pusaka ini, kerana tanpa parang ini, tiadalah sanggup hamba menebas semak dan membuka ladang untuk anak bini hamba."

Hamba mengambil parang itu, menimangnya sejenak, lalu menatap mata Beli. "Wahai anak muda," ujar hamba dengan suara berat berselimut debu arang. "Ketahuilah olehmu, pekerjaan natari’ ini bukanlah sekadar menghembus ubupan dan memukul besi panas. Ada takdir yang tertulis di atas landasan besi ini. Sebelum ritual baketo diselenggarakan oleh kampung, perkakasmu ini pasti akan siap. Namun ingatlah, besi yang kutempa ini harus engkau suci dan diurapi (di-caek) kelak dalam upacara baketo, supaya ia tidak memakan tuannya sendiri sewaktu engkau bekerja di ladang."

Maka Beli pun membongkokkan badan, mengucapkan terima kasih lalu beredar dari tempat penempaan hamba. Tinggallah hamba seorang diri di hadapan tungku api yang membara. Maka hamba mulai menjepit parang tua itu dengan penyepit besi, membenamkannya ke dalam bara arang yang merah menyala. Hamba tarik dan dorong tangkai ubupan, menghembuskan angin ke jantung api hingga nyalanya menjulang berwarna kebiruan.

Tatkala besi itu telah menjadi merah membara bagaikan lidah naga, hamba mengangkatnya cepat-cepat dan meletakkannya di atas landasan ulin yang dilapisi plat tembaga. Tuk! Tak! Dentang! Dentang!

Suara pukulan palu hamba bergema membelah kesunyian Bantang Salako. Setiap kali palu berat itu menghantam besi yang membara, percikan api memercik ke udara bagaikan bintang-bintang jatuh di siang hari. Bagi hamba, setiap dentang pukulan adalah sebuah doa pendek. Hamba menempa tidak hanya dengan otot, melainkan dengan jiwa. Hamba membentuk kembali siku-siku besi yang tumpul, meratakan matanya yang sumbing, dan menyatukan kembali retak-retak kecil yang tersembunyi.

Di tengah-tengah hamba sibuk menempa, datanglah melintas seorang perempuan tua yang amat dihormati di kampung kami, yakni Mak Sumi, seorang Tukang Pangarabanan atau bidan kampung. Beliau sedang berjalan terburu-buru menuju ke rumah seorang warga yang istrinya hendak melahirkan (bapero’). Mak Sumi berhenti sejenak di hadapan pondok penempaan hamba, menatap parang tua yang sedang hamba tempa.

"Wahai Tukang Tampo," kata Mak Sumi seraya tersenyum tipis. "Bagus benar tempaanmu hari ini. Jangan lupa, jika ada parang yang patah putingnya, sisakan satu untukku. Hamba memerlukannya untuk dipantakkan ke tanah di samping pintu rumah orang yang melahirkan, lengkap dengan coretan kapur sirih, agar hantu bantianak tidak berani datang mengganggu persalinan."

Hamba tertawa pelan seraya menyapu peluh di dahi dengan belakang lengan yang berjelaga. "Tenanglah, Mak Pangarabanan. Besi patah dan tua ada beronggok di sudut pondok ini. Ambillah mana yang engkau hajati demi keselamatan ibu dan bayi di bantang kita ini."

Maka Mak Sumi pun berlalu dengan tergesa-gesa. Hamba kembali menyepuh parang milik Beli. Hamba celupkan bilah yang membara itu ke dalam gentong air dingin yang telah dicampur dengan racikan daun-daun kuno. Suara desss! bergema nyaring, diiringi kepulan uap putih yang membumbung tinggi. Besi itu kini telah keras, tajam, dan siap untuk mengabdi pada tanah.

Hari berganti hari, dan malam pun menjelang. Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara dentuman dau, tiga buah gong, suben, dan tumo’ bergema dari rumah seorang warga. Itu adalah pertanda bahwa Sang Pamaiotn sedang melangsungkan ritual baiotn untuk mengobati orang sakit, atau mungkin seorang dukun sedang mengadakan ritual badukun dengan mantra Bisimbilah yang memanggil para Jubato.

Hamba menyandarkan palu berat hamba di tepi landasan. Hamba duduk di tingkap pondok, memandangi kegelapan malam yang dibalut lolongan angin rimba. Hamba merenungi betapa indahnya susunan takdir di dalam komunitas suku Dayak Salako ini. Di belantara yang mahaluas ini, setiap jiwa memiliki peranannya masing-masing yang telah ditata oleh Jubato di kayangan.

Para pamane dan pamaiotn menjaga hubungan manusia dengan alam roh dan para Jubato. Para pangarabanan menyambut nyawa baru yang terbit ke bumi. Para pamabore menyembuhkan raga yang lemah dan sakit. Para wanita menganyam tikar gagadokng dan menyusuk atap rumbia (nu’ur). Adapun hamba, Sang Tukang Tampo, berdiri tegak di persimpangan antara besi dingin dan api membara. Hamba bertugas memastikan bahwa alatan yang digenggam oleh jemari para peladang tidak akan mengecewakan mereka tatkala berhadapan dengan ganasnya rimba.

Syahdan, tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, upacara baketo pun dilangsungkan di tengah-tengah kampung. Seluruh peladang berkumpul membawa perkakas besi milik mereka yang telah selesai hamba natari’. Parang, beliung, dan kapak dibariskan dengan rapi di atas tikar anyaman. Minyak sakral diurapkan (di-caek) pada setiap bilah besi yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Doa-doa keselamatan dipanjatkan agar iron-iron perkakas itu tidak mencelakai kaki dan tangan para peladang sewaktu mereka menoreh tanah dan menebang kayu.

Beli, peladang muda itu, menghampiri hamba dengan wajah yang berseri-seri. Ia menggenggam parang pusakanya yang kini telah berkilat tajam bagaikan cermin.

"Paman Utan," kata Beli dengan penuh takzim. "Tengoklah parang ini. Ia bukan lagi besi tua yang mati, melainkan telah bernyawa kembali di tangan Paman. Hari ini hamba siap melangkah ke ladang tanpa rasa waswas."

Hamba menepuk bahu pemuda itu seraya tersenyum bangga. "Pergilah, Beli. Kerjakan ladangmu dengan tekun. Biarlah parang itu menjadi saksi bisu atas keringat dan perjuanganmu menafkahi keluarga. Ingatlah, selama api di pondok penempaan hamba masih menyala, besi-besi di Bantang Salako tidak akan pernah tumpul oleh zaman."

Maka Beli pun melangkah pergi menuju hutan bersama para peladang lainnya, membawa perkakas yang telah disepuh oleh jiwa dan peluh hamba. Hamba kembali melangkah ke pondok penempaan, menggenggam palu kesayangan, dan menarik ubupan. Suara dentang tempaan besi hamba kembali membahana, menyatu dengan desir angin rimba dan nyanyian burung-burung hutan—sebuah hikayat abadi tentang Sang Tukang Tampo yang menjaga nafas kehidupan suku Dayak Salako di bumi Borneo.

Demikianlah hikayat ini tamat diringkaskan.

Cerpen: Janji di Tepi Sungai Mempawah

Di tengah pekatnya kabut ketakutan yang menyelimuti pedalaman Kalimantan Barat pada Oktober 1967, cinta tumbuh di tempat yang paling tidak terduga.

Gusti adalah seorang pemuda Dayak dari hilir Sungai Mempawah. Ia memiliki tegap tubuh seorang pemburu dan ketajaman mata seorang prajurit rimba. Namun, di balik seragam kain merah yang terikat di kepalanya dan mandau yang terikat di pinggangnya, hatinya tidak dipenuhi oleh dendam atau haus darah. Ketika api perlawanan membakar kampung-kampung di sekitar Bengkayang dan Menjalin, Gusti bertugas menyisir lorong-lorong hutan bersama barisan pemuda kampung untuk menjaga wilayah mereka dari penyusupan gerombolan komunis PGRS/PARAKU.

Sementara itu, Mei Ling adalah putri seorang pedagang kelontong di kawasan Toho. Wajahnya lembut seperti bulan purnama, dengan mata yang menyimpan ketenangan pedalaman. Namun, ketenangan itu hancur tatkala gelombang penyerangan menjalar hingga ke kampungnya. Dalam kepanikan eksodus massal, Mei Ling terpisah dari rombongan keluarganya yang berlari menuju jalan besar arah Singkawang.

Sore itu, hujan deras mengguyur rimba. Mei Ling bersembunyi di balik perahu kayu yang terbalik di tepi Sungai Mempawah, tubuhnya menggigil kedinginan dan ketakutan. Dari balik semak-semak, langkah kaki berat mendekat. Mei Ling memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi takdir paling buruk.

Ketika semak-semak tersingkap, bukannya bilah mandau yang menyapa lehernya, melainkan sepasang mata hangat milik Gusti.

Gusti tertegun melihat gadis Tionghoa yang gemetar di hadapannya. Di mata Gusti, Mei Ling bukanlah ancaman atau bagian dari gerombolan bersenjata yang diburu di dalam hutan; ia hanyalah seorang gadis malang yang ketakutan dan tak berdaya. Tanpa ragu, Gusti menyarungkan mandau-nya dan melepaskan kain pelindung bahunya untuk diselimutkan ke tubuh Mei Ling yang kedinginan.

"Jangan takut," bisik Gusti dengan bahasa Melayu lokal yang lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."

Sejak sore itu, di sebuah gubuk peladang tersembunyi yang tak tersentuh kecamuk perang, Gusti menyembunyikan dan merawat Mei Ling. Di tengah riuhnya desing tembakan di jauh sana dan kepulan asap dari bangunan yang terbakar, dua insan dari latar belakang yang berdeda itu saling mengenal satu sama lain.

Malam demi malam diisi dengan bisikan cerita. Mei Ling bercerita tentang impian sederhananya untuk kembali merajut benang dan membantu ibunya di dapur. Gusti bercerita tentang keindahan rimba saat musim buah tiba dan lagu-lagu burung malam yang menentramkan. Dalam kesunyian gubuk pelandangan itu, sekat-sekat prasangka runtuh. Rasa simpati perlahan berubah menjadi benih-benih asmara yang sangat dalam.

"Mengapa engkau menolongku, Gusti?" tanya Mei Ling suatu malam, menatap lekat mata pemuda itu di bawah remang api pelita. "Orang-orang di luar sana saling membenci..."

Gusti menggenggam erat tangan Mei Ling yang hangat. "Sebab matamu tidak menyimpan kebencian, Mei Ling. Hutan ini mengajarkanku bahwa semua pohon membutuhkan air yang sama untuk tumbuh. Cinta tak pernah memilih di mana ia harus bersemi."

Namun, masa-masa manis itu dibayangi oleh waktu yang terus berjalan. Gelombang pengungsian kian masif, dan aparat semakin gencar menertibkan wilayah pedalaman. Gusti tahu, ia tidak bisa selamanya menyembunyikan Mei Ling di gubuk itu. Tempat paling aman bagi Mei Ling adalah bergabung dengan puluhan ribu pengungsi lain di kota Singkawang yang dijaga oleh Palang Merah dan pemerintah.

Dua minggu kemudian, di bawah naungan kabut fajar, Gusti menuntun Mei Ling menuju pinggir jalan raya tempat truk-truk penampungan mengangkut para pengungsi. Air mata Mei Ling menetes tak terbendung. Perpisahan ini terasa lebih menyakitkan daripada dentuman perang di luar sana.

Sebelum Mei Ling menaiki truk, Gusti melepaskan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk bunga melati yang dibuatnya sendiri selama malam-malam penantian dan menyerahkannya ke telapak tangan Mei Ling.

"Bawalah ini," ujar Gusti, suaranya parau menahan gejolak di dada. "Ke mana pun angin membawa kapal pengungsianmu, ingatlah bahwa ada hati yang tertinggal di tepi Sungai Mempawah ini."

Mei Ling menggenggam ukiran kayu itu erat-erat di dadanya, lalu mengecup pipi Gusti dengan penuh kerinduan dan kepasrahan. "Aku akan menyimpan janji ini, Gusti. Jika rimba ini kembali damai, aku akan mencari jalan untuk kembali padamu."

Truk berjalan perlahan, membelah debu jalanan menuju kota Singkawang, membawa Mei Ling menjauh dari pedalaman yang bergejolak. Gusti berdiri tegap di tepi jalan, memandangi bayangan truk yang kian menghilang di balik bukit.

Perang dan konflik mungkin bisa menghancurkan rumah-rumah dan memisahkan ribuan manusia, tetapi rasa cinta yang telah bertaut di antara Gusti dan Mei Ling menjadi bukti abadi bahwa di tengah kelamnya tragedi kemanian, kemanusiaan dan kasih sayang tidak akan pernah sanggup dipadamkan.

Cerpen: Rintik Hujan di Jalan Singkawang

Nama aku Ah Kow. Keluarga kami sudah tiga generasi bermukim di sebuah kampung kecil di daerah pedalaman dekat Bengkayang. Ayahku mengelola kedai kelontong sederhana di tepi jalan kayu, sementara ibu bertanam sayur di pekarangan belakang. Selama bertahun-tahun, kehidupan kami menyatu dengan ritme pedalaman. Kami bertegur sapa hangat dengan tetangga-tetangga suku Dayak yang sering mampir membeli garam atau menukarkan hasil buruan dengan barang kebutuhan sehari-hari. Kami menganggap tanah ini sebagai rumah kami satu-satunya.

Namun, menjelang akhir tahun 1967, udara di pedalaman berubah menjadi dingin dan mencekam.

Di hutan-hutan sekitar kampung kami, berkeliaran kelompok-kelompok bersenjata yang menyebut diri mereka PGRS dan PARAKU. Mereka bersembunyi di balik lebatnya rimba, merampas pasokan makanan, dan mengklaim berjuang atas nama ideology komunis. Padahal, aku dan keluargaku hanyalah warga biasa yang sama sekali tidak paham urusan politik politik atau gerakan subversif itu. Kami hanya rakyat kecil yang ingin hidup tenang dan mencari makan dengan jujur.

Tetapi, kemalangan tak dapat ditolak. Di mata orang-orang pedalaman yang tersulut amarah, warna kulit dan bentuk mata kami menjadikan kami disamakan dengan para gerombolan bersenjata di dalam hutan.

Puncaknya terjadi pada suatu siang di pertengahan Oktober 1967.

Suara teriakan yang menggelegar dan kepulan asap hitam mendadak membumbung tinggi dari arah Kampung Taum dan lereng Gunung Merebuk. Teriakan perang bersahut-sahutan, disusul dentuman senapan lantak dan bau hangus kayu terbakar. Dari jendela rumah, aku melihat gelombang penyerangan datang bagaikan air bah yang membendung. Ratusan massa membawa mandau, tombak, dan sumpitan, mengepung rumah-rumah warga Tionghoa.

"Ah Kow! Lari! Cepat keluar dari rumah!" teriak Ayah hysteris seraya menarik lenganku dan Ibu.

Kami tidak sempat menyelamatkan harta benda sama sekali. Hanya baju yang melekat di badan dan sedikit perhiasan simpanan Ibu yang berhasil digenggam. Saat kami berlari menembus pintu belakang menuju semak-semak rimba, aku menoleh ke belakang dengan dada sesak. Kedai sederhana yang didirikan Ayah dengan keringat puluhan tahun terbakar hebat dilalap si jago merah. Dari kejauhan, jeritan histeris warga yang tak sempat melarikan diri terdengar memecah keheningan. Jeritan itu bercampur dengan kepanikan dan ratapan duka yang tak tertahankan.

Dalam sekejap, kami menjadi buronan di tanah yang kami anggap sebagai kampung halaman sendiri.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak, menghindari jalan raya karena takut berpapasan dengan aksi penyerangan yang terus menyebar ke Serimbu, Menjalin, Toho, hingga ke Mandor. Kaki Ibu melepuh dan berdarah, sementara Ayah berjalan dengan tubuh gemetar dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat. Ketakutan dan kepanikan meliputi ribuan warga Tionghoa pedalaman lainnya yang bernasib sama dengan kami.

Di sepanjang jalan menuju kota, aku menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Ribuan orang—orang tua yang renta, wanita yang menggendong bayi, hingga anak-anak kecil—berjalan berbondong-bondong dalam barisan panjang yang seolah tak ada ujungnya. Mereka membawa bungkusan kain berisi sisa-sisa harta yang sempat diselamatkan. Wajah-wajah mereka pucat pasi, matanya hampa dan kehilangan harapan.

"Ke mana kita akan pergi, Ayah?" bisikku pelan di tengah gerimis malam yang dingin.

"Ke Singkawang atau Pontianak, Nak... Asal kita bisa selamat di bawah penjagaan tentara," jawab Ayah parau, matanya menatap lurus ke kegelapan jalan.

Setibanya di jalan raya antara Singkawang dan Pontianak, tampak truk-truk ABRI lalang memuat pengungsi yang kelelahan. Kami berhasil menaiki salah satu kendaraan penampungan. Lebih dari lima puluh ribu jiwa terkumpul di tempat-tempat pengungsian darurat yang didirikan oleh Palang Merah Indonesia dan pemerintah daerah. Di dalam tenda-tenda pengungsian yang sempit dan kumuh, ratapan kehilangan terdengar di setiap sudut. Banyak keluarga yang terpisah dari kerabatnya, dan tak sedikit yang kehilangan anggota keluarga tercinta selama eksodus mengerikan itu.

Beberapa minggu kemudian, kabar sampai ke telinga kami bahwa pertempuran di pedalaman telah mereda setelah terbentuknya Laskar Pangsuma dan dilakukannya tindakan pengamanan oleh aparat. Gerombolan komunis PGRS/PARAKU yang bersembunyi di hutan telah hancur dan terputus jalur pasokannya.

Namun bagi kami, kemenangan itu dibayar dengan kehilangan yang amat dalam.

Aku berdiri di tepi pantai kota Singkawang, memandang ombak laut yang bergulung hampa. Rumah kami di pedalaman telah menjadi abu, kebun dan toko kami telah lenyap, dan kehidupan yang kami bangun dengan penuh kedamaian kini tinggal kenangan yang menyakitkan. Kami selamat dari maut, tetapi kami kehilangan akar tempat kami tumbuh. Tragedi itu meninggalkan luka yang teramat dalam di dalam dada—sebuah jejak kelam tentang bagaimana rakyat kecil selalu menjadi korban dari kecurigaan dan konflik kekuasaan yang tak pernah kami inginkan.

Cerpen: Bunga Merah di Balik Mandau

Kamu berdiri di ambang pintu rumah panggung, membetulkan ikatan kain merah di kepalamu dengan jemari yang gemetar halus. Di halaman, suara dentum genderang perang dan riuk teriakan para pemuda Dayak memecah keheningan rimba Bengkayang. Tanggal 14 Oktober 1967 itu, tanah tempatmu berpijak bergejolak hebat. Mangkok merah telah beredar hingga ke kampungmu, menandakan bahwa rimba tempat lahirmu sedang terancam oleh serbuan gerombolan komunis PGRS/PARAKU. Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan oleh napas hutan, kamu tahu betul bahwa tugas heroik memanggilmu untuk berdiri di garis depan demi melindungi negerimu.

Namun, sebelum kamu memegang gagang mandau milik ayahmu, sebuah jemari halus menyentuh lenganmu.

Kamu membalikkan badan dan menatap mata Anik, gadis bertubuh ramping yang selama ini menjadi muara bagi segala gelisahmu. Dalam matanya yang bening, kamu melihat gumpalan ketakutan dan rindu yang saling bertautan. Anik melingkarkan manik-manik merah di pergelangan tanganmu—sebuah jimat perlindungan dan janji asmara yang dianyamnya sendiri.

"Kembalilah, Jalung," bisik Anik, suaranya parau menahan tangis. "Jangan biarkan rimba ini mengambilmu dari sisiku."

Kamu tersenyum tipis, menggenggam erat jemarinya, lalu mengecup keningnya di bawah naungan atap kayu ulin. "Hutanku sedang terluka, Dinda. Aku harus pergi menumpas mereka yang merusak kedamaian kita. Tapi percayalah, selagi manik-manik ini ada di tanganku, langkahku akan selalu menemukan jalan pulang padamu."

Dengan janji romantik yang terpatri di dada, kamu melangkah mantap bergabung dalam barisan. Kamu bukan lagi pemuda pendiam yang menggembala di ladang, melainkan seorang pahlawan rimba yang siap menerjang bahaya. Bersama puluhan pemuda kampung bersenjatakan senapan lantak, mandau, dan sumpitan, kamu memimpin pergerakan menembus lebatnya hutan menuju basis-basis musuh.

Aksi heroikmu dimulai dari lereng Gunung Merebuk hingga menembus garis pertahanan musuh di pedalaman. Di tengah desing peluru dan kepulan asap dari bangunan yang terbakar, kamu bergerak lincah bak macan dahan. Ketika musuh mencoba bertahan, kamu melompat menerjang dengan keberanian luar biasa, melayangkan mandau-mu untuk melumpuhkan mereka yang bersembunyi di balik kegelapan. Keberanianmu membakar semangat kawan-kawan seperjuanganmu di sepanjang Serimbu, Menjalin, hingga ke Toho. Kamu bertarung mati-matian, memutus jalur pasokan gerombolan, dan menyempitkan ruang gerak mereka yang selama ini menyebarkan teror di pedalaman.

Satu bulan penuh dalam 15 gelombang penumpasan yang dahsyat, kamu berada di baris terdepan pertempuran. Setiap kali keletihan melanda dan aroma mesiu menusuk hidungmu, kamu menyentuh manik-manik merah di gelangmu. Bayangan senyum Anik dan ingatan akan kehangatan pelukannya menjadi perisai jiwa yang membuatmu tak tergoyahkan oleh rasa takut sedikit pun.

Hingga akhirnya, gelombang aksi penumpasan itu mulai mereda tatkala Laskar Pangsuma dibentuk untuk mengendalikan situasi dan memastikan kemenangan berada di tangan yang tepat. Gerombolan komunis telah hancur dan kian terdesak di ceruk-ceruk hutan paling dalam. Rimba pedalaman perlahan kembali menemukan ketenangannya.

Sore itu, ketika kabut tipis mulai turun membalut bukit, kamu melangkah kembali menyusuri jalan setapak menuju kampungmu. Langkahmu tegap, tubuhmu penuh dengan jelaga pertempuran, tetapi matamu bersinar terang. Di ujung jembatan kayu, sosok Anik telah berdiri menunggumu dengan air mata kebahagiaan.

Kamu membuktikan keberanianmu sebagai pahlawan yang menumpas ancaman di tanah airmu, sekaligus menjaga kesetiaanmu sebagai kekasih yang menepati janji untuk pulang. Di bawah naungan senja pedalaman, kamu merengkuh Anik dalam pelukan hangat—menyatu dalam kemenangan dan cinta yang abadi.

Cerpen: Darah, Mandau, dan Jeritan Rimba

Nama aku Jalung. Aku dilahirkan di sebuah betang tua yang teduh, jauh di pedalaman bumi Kalimantan Barat. Bagi kami, orang-orang Dayak, hutan adalah ibu yang menyusui dan rimba adalah bapa yang melindungi. Bertahun-tahun hidup kami dipenuhi ketenangan; bertanam padi di ladang, berburu di pekatnya rimba, serta mendengarkan riak air sungai yang bening. Namun, ketenangan itu mendadak sirnah ketika kabut hitam menyelimuti bumi kami.

Di pedalaman, sekonyong-konyong muncul sekelompok orang bermata sipit yang menyebut diri mereka gerombolan PGRS dan PARAKU. Mereka menyusup ke desa-desa kami, mendirikan basis-basis pasokan, serta merampas hasil ladang. Pada awalnya, kami tak tahu-menahu apa itu ajaran komunis. Yang kami paham, ketenteraman hidup kami terganggu. Lebih gawat lagi, kehadiran mereka membuat kami terjepit di antara dua mata pisau; prajurit pemerintah memburu gerombolan itu, sementara gerombolan itu bersembunyi di balik kampung-kampung warga Tionghoa yang tersebar di pedalaman.

Puncaknya terjadi pada suatu hari yang tak akan pernah kulupakan—14 Oktober 1967.

Rabu pagi itu, kabar duka melayang bersama angin dari arah Gunung Merebuk dan Kampung Taum di Kecamatan Seluas. Pertempuran hebat pecah. Namun yang membuat darah kami mendidih bukanlah sekadar desing peluru, melainkan rasa terancam yang teramat sangat. Kesabaran para tetua adat akhirnya habis. Mangkok merah—simbol panggilan perang suci—telah beredar dari satu kampung ke kampung lain. Itu adalah pertanda bahwa tanah warisan leluhur sedang dalam bahaya besar dan seluruh pria harus bangkit membela diri.

Aku mengikatkan kain merah di kepala, menggenggam erat gagang mandau kayu ulin milik mendiang ayahku, serta menyandang sumpitan dan senapan lantak. Di sampingku, ratusan pemuda Dayak dari berbagai pelosok telah berkumpul. Wajah-wajah mereka membeku, matanya memancarkan api kemarahan.

"Hari ini, kita bersihkan tanah kita dari gerombolan yang merusak kedamaian!" seru seorang pemuka adat kami dengan suara menggelegar.

Maka, meletuslah gelombang penyerangan pertama. Dari Gunung Merebuk, aksi kami menjalar seperti api menyambar semak kering. Kami bergerak serentak melintasi lembah dan sungai. Suara sumpitan berdesis di udara, disusul dentuman senapan lantak dan kilatan mandau yang terhunus. Rumah-rumah yang disinyalir menjadi basis pelindungan dan pasokan gerombolan diserbu dan dibakar. Dalam kekacauan yang maha dahsyat itu, riuh teriakan perang bersahut-sahutan dengan jeritan histeris.

Harus kuakui dengan jujur, dalam gelombang amarah yang meluap-luap itu, kami sulit membedakan mana anggota gerombolan PGRS/PARAKU yang bersenjata dan mana warga Tionghoa biasa yang tak berdosa. Kabut dendam dan amarah telah menutup mata rantai nurani. Siapa pun yang bersembunyi di dalam kampung-kampung itu tak luput dari kepungan kami. Puluhan orang roboh bersimbah darah di tanah yang mereka pijak.

Darah berceceran di dedaunan kering. Dalam kepungan aura magis dan kemarahan yang memuncak, beberapa orang di antara kami meminum darah dan memakan hati musuh—sebuah ritual purba yang mengerikan untuk menegaskan kemenangan atas lawan. Amarah itu bukan sekadar benci, melainkan luapan histeria dari suku yang merasa terdesak di tanah kelahirannya sendiri.

Dari hari ke hari, aksi kami tak membendung lagi. Dari Bengkayang, gerakan kami merembet cepat menuju Serimbu, Sungai Betung, Mempawah Hulu, hingga ke Menjalin, Toho, Mandor, dan Sanggau. Tak kurang dari lima belas gelombang penyerangan berkobar selama satu bulan penuh. Di daerah-daerah yang tidak dijaga oleh pos tentara ABRI, aksi kami berlangsung tanpa ada yang sanggup menghentikan.

Hingga suatu hari, rombongan kami tiba di kawasan Senakin.

Di sana, pasukan tentara bersama anggota Hanra melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghadang barisan kami. Suara tembakan itu sempat membuat langkah kami terhenti. Namun, takdir berkata lain. Tiga peluru nyasar mengenai tiga kawan kami. Dua orang luka parah, dan satu orang tewas seketika di tempat.

Melihat kawan kami tergeletak tak bernyawa, amarah barisan pemuda Dayak pecah tak terkendali. Tembakan tentara tak lagi kami takuti. Penyerangan di hari kedua berlipat ganda lebih dahsyat dan berdarah. Senakin bergolak dalam gelombang amuk massa yang menakutkan.

Akibat dari kecamuk perang ini, ribuan warga Tionghoa dipenuhi rasa panik dan ketakutan yang mencekam. Mereka menyadari bahwa pedalaman tak lagi aman. Laki-laki, perempuan, tua, dan muda berbondong-bondong meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Jalan darat dari Singkawang hingga Pontianak dipenuhi lautan manusia yang berjalan kaki atau naik truk tentara untuk mengungsi. Lebih dari lima puluh ribu orang terusir dari rumah mereka dalam sekejap, mencari perlindungan di kota-kota besar bawah naungan Palang Merah dan pemerintah.

Melihat skala kehancuran dan eksodus yang begitu besar, para pemuka suku Dayak kami berhimpun di Pontianak. Mereka sadar, amarah spontan rakyat tidak boleh terus-menerus memakan korban jiwa orang-orang yang tak bersalah atau ditunggangi oleh kepentingan politik lain. Maka pada akhir Oktober 1967, dibentuklah Laskar Pangsuma.

Melalui Laskar Pangsuma dan dialog intensif dengan pemerintah, aksi penyerangan bertahap mulai bisa dikendalikan dan dihentikan. Langkah kami diarahkan kembali pada tujuan utamanya: memburu gerombolan komunis yang bersembunyi di rimba, bukan membantai sesama warga pedalaman.

Suatu malam di awal November, aku berdiri di atas bukit di daerah pedalaman Bengkayang. Di bawah sana, kampung-kampung yang dulunya ramai kini sunyi seperti kota mati. Tidak ada lagi gelak tawa warga Tionghoa yang biasa berdagang di kedai-kedai kayu. Yang tersisa hanyalah puing-puing hitam bekas terbakar dan keheningan rimba yang mencekam.

Perang ini memang berhasil menumpas basis pasokan PGRS/PARAKU. Hubungan antar-gerombolan musuh terputus total, dan ruang gerak mereka terdesak hingga ke sudut-sudut hutan yang paling kelam. Namun, ketika aku menyarungkan kembali mandau-ku yang telah berkerak darah, hatiku terasa hampa.

Aku memandang telapak tanganku yang gemetar. Kami telah mempertahankan tanah kami, tetapi harga yang harus dibayar sungguh teramat mahal. Rimba Kalimantan Barat telah menyaksikan betapa tipisnya batas antara keberanian mempertahankan diri dan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka menganga bagi sejarah negeri ini.

Cerpen: Darah dan Purnama di Kota Lama

Di balik dinding-dinding kayu istana Kota Lama, cinta Raden Sulaiman dan Mas Ayu Bungsu tumbuh bagaikan bungsu cempaka yang mekar di tengah riaknya Sungai Sambas. Pernikahan mereka bukan sekadar persatuan dua putra-putri bangsawan besar, melainkan pengikat dua takdir: Raden Sulaiman, putra Raja Tengah dari Berunai, dan Mas Ayu Bungsu, putri manis kesayangan almarhum Ratu Sepudak. Dalam tatapan mata mereka, ada kehangatan ikhlas yang menenangkan jiwa, tempat keduanya saling bersandar di tengah hiruk-pikuk kekuasaan istana.

Namun, di istana yang tampak tenang itu, asmara mereka senantiasa dibayangi oleh jelaga dengki. Pangeran Aria Mangkurat, saudara dari Raja Ratu Anom Kesuma Yuda, menatap Raden Sulaiman dengan tatapan penuh kebencian. Hatinya terbakar setiap kali menyaksikan betapa rakyat jelata dan para menteri begitu mengagumi Raden Sulaiman. Bagi Aria Mangkurat, senyum Raden Sulaiman adalah ancaman, dan kebahagiaan pemuda itu bersama Mas Ayu Bungsu adalah duri di dalam dagingnya.

Tragedi mulai merayap tatkala Ratu Anom Kesuma Yuda berlayar menuju Negeri Johor untuk mengantar upeti. Sepeninggal sang raja, Aria Mangkurat menyebarkan desas-desus beracun di sudut-sudut istana. Ia menuduh Raden Sulaiman tengah merencanakan kudeta berdarah untuk merebut takhta.

"Kanda, benarkah rumor jahat itu sengaja ditiupkan oleh Pangeran Aria Mangkurat?" bisik Mas Ayu Bungsu pada suatu malam, merapatkan tubuhnya di dada Raden Sulaiman sembari menggenggam jemari suaminya.

Raden Sulaiman mengelus lembut rambut istrinya, menatap redup lilin yang bergetar ditiup angin malam. "Biarlah fitnah itu terbang bersama angin, Dinda. Hati Kanda murni, hanya ada kedamaian untuk negeri ini dan kasih sayang untukmu."

Puncaknya terjadi tatkala se pucuk surat bertorehkan meterai kerajaan tiba dari lautan. Ratu Anom mengabarkan bahwa ia akan berlabuh di Kuala Muara Sungai Sambas Besar tepat pada saat bulan purnama raya. Ia memerintahkan penyambutan agung disiapkan.

Dengan penuh keikhlasan, Raden Sulaiman bekerja siang dan malam bersama sahabat setianya, Kiyai Setia Bakti, menghias perahu dan menyiapkan pesta penyambutan. Namun, Pangeran Aria Mangkurat hanya berdiri di kejauhan dengan wajah dingin melipat tangan, enggan menyentuh persiapan itu sedikit pun.

Malam purnama raya pun tiba. Cahaya perak memantul di permukaan air tatkala ratusan layar putih milik armada Ratu Anom membentang megah di muara. Sorak-sorai gembira dan dentum genderang bergema di udara saat Raden Sulaiman memimpin penyambutan. Pesta di istana berlangsung gilang-gemilang, tetapi kegembiraan itu berumur pendek.

Melihat betapa diagungkannya Raden Sulaiman dalam pesta itu, amarah dan dengki Aria Mangkurat tak lagi tertahan. Di tengah riuhnya musik, ia mencabut kerisnya dan menghujamkannya ke dada Kiyai Setia Bakti. Orang kepercayaan Raden Sulaiman itu roboh bersimbah darah di pelataran istana.

Suasana pesta seketika berubah menjadi jeritan horor. Mas Ayu Bungsu menggenggam erat lengan suaminya, merinding menyaksikan kekejaman saudaranya sendiri. Namun, tragedi sesungguhnya membakar hati Raden Sulaiman tatkala Ratu Anom Kesuma Yuda justru enggan menghukum Aria Mangkurat. Keadilan telah mati di Kota Lama.

"Kita harus pergi, Dinda," bisik Raden Sulaiman malam itu, menatap mata Mas Ayu Bungsu yang berlinang air mata. "Istana ini bukan lagi rumah bagi cinta kita, melainkan sarang api yang siap membakar rakyatnya sendiri dalam perang saudara."

Demi menyelamatkan asmara mereka dan menghindarkan rakyat dari tumpahan darah, Raden Sulaiman dan Mas Ayu Bungsu memilih melangkah keluar dari Kota Lama. Berdua, mereka melintasi belantara pekat menuju daerah Bandir untuk membangun kehidupan baru di Kota Bangun. Di sana, di antara duka kehilangan tanah kelahiran dan luka oleh kejahatan saudara, cinta mereka tetap bertahan—menjadi pilar bagi harapan yang kelak melahirkan zaman baru.

Hikayat Ngariboa Karumah

Maka tersebutlah pula suatu riwayat pada zaman dahulu kala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diselimuti kabut purba dan hukum para k...