Jual Beli Daging Sapi di Pasar Turi Singkawang
Pasar Turi Singkawang selalu ramai pada pagi hari, terutama di bagian penjualan daging. Seorang pembeli bernama Ibu Rani datang ke lapak daging milik Pak Hasan untuk membeli daging sapi keperluan acara keluarga. Meskipun tujuan keduanya sama-sama ingin bertransaksi, terdapat perbedaan kepentingan antara penjual dan pembeli terkait harga.
Ibu Rani:
“Selamat pagi, Pak. Saya ingin membeli daging sapi. Berapa harga per kilogram
hari ini?”
Pak Hasan:
“Selamat pagi, Bu. Harga daging sapi hari ini seratus empat puluh ribu rupiah
per kilogram karena pasokan sedang terbatas.”
Mendengar harga tersebut, Ibu Rani merasa harga itu sedikit di atas anggaran yang telah ia siapkan.
Ibu Rani:
“Saya memahami kondisi pasar, Pak. Namun, saya perlu membeli cukup banyak untuk
acara keluarga. Apakah masih bisa dinegosiasikan?”
Pak Hasan:
“Saya bisa mempertimbangkan, Bu. Ibu ingin membeli berapa kilogram?”
Ibu Rani:
“Saya berencana membeli lima kilogram. Jika memungkinkan, saya berharap
harganya bisa lebih ringan.”
Proses tawar-menawar pun dimulai. Pak Hasan mempertimbangkan jumlah pembelian yang cukup besar tersebut.
Pak Hasan:
“Biasanya harga segitu sudah pas, Bu. Namun, karena Ibu membeli lima kilogram,
saya bisa menurunkannya menjadi seratus tiga puluh lima ribu rupiah per
kilogram.”
Ibu Rani:
“Terima kasih, Pak. Kalau boleh, bagaimana jika seratus tiga puluh ribu rupiah
per kilogram? Saya pelanggan tetap di pasar ini.”
Pak Hasan kembali mempertimbangkan penawaran tersebut. Ia ingin tetap mendapatkan keuntungan, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan pelanggan.
Pak Hasan:
“Baiklah, Bu. Demi menjaga langganan dan karena pembelian cukup banyak, saya
setuju di harga seratus tiga puluh ribu rupiah per kilogram.”
Ibu Rani:
“Terima kasih, Pak Hasan. Saya sangat menghargai kebijaksanaan Bapak.”
Pak Hasan:
“Sama-sama, Bu. Semoga acaranya berjalan lancar.”
Akhirnya, kesepakatan tercapai. Ibu Rani membeli lima kilogram daging sapi dengan harga seratus tiga puluh ribu rupiah per kilogram. Kesepakatan tersebut menguntungkan kedua belah pihak. Pembeli mendapatkan harga sesuai kemampuan, sementara penjual tetap memperoleh keuntungan dan mempertahankan pelanggan.
Negosiasi yang dilakukan dengan bahasa santun dan saling menghargai ini menunjukkan bahwa perbedaan kepentingan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan sikap terbuka.