Rabu, 30 September 2026

Antu Bukitn Bawokng

 

Pada zaman dahulu, ketika kerajaan-kerajaan masih berdiri megah dan raja-raja bersemayam di istana yang dihiasi emas serta permata, tersebutlah sebuah negeri bernama Bangkayokng. Negeri itu dikenal sebagai tanah yang subur dan makmur. Sawah terbentang luas, lumbung-lumbung padi selalu penuh, sungai mengalir jernih, dan hutan menyediakan berbagai hasil yang dapat menghidupi rakyat. Di negeri itu tinggallah seorang saudagar yang kekayaannya tidak ada bandingannya. Namanya Tuan Kaya Gunung.

Tidak seorang pun mengetahui dengan pasti dari mana asal mula kekayaan Tuan Kaya Gunung. Rumahnya berdiri besar di tengah permukiman, dengan tiang-tiang kayu yang kokoh dan halaman luas. Ia memiliki begitu banyak kerbau sehingga orang-orang yang melewati kandangnya harus berjalan cukup jauh untuk menghitung semuanya. Padi tersimpan di lumbung dalam jumlah yang seolah tidak pernah berkurang, sementara emas dan permata memenuhi peti-peti kayu di dalam rumahnya.

Setiap kali Tuan Kaya Gunung pergi ke pasar, orang-orang akan menundukkan kepala dengan penuh hormat.

“Itulah Tuan Kaya Gunung,” bisik mereka.

“Tidak ada orang sekaya dia di seluruh Bangkayokng.”

“Konon, emas di rumahnya lebih banyak daripada batu di sungai.”

Mendengar perkataan demikian, Tuan Kaya Gunung hanya tersenyum. Ia memang terkenal kaya, tetapi kekayaannya telah membuat namanya menjadi buah bibir di seluruh negeri.

Akan tetapi, kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari batas waktu. Pada suatu hari, Tuan Kaya Gunung jatuh sakit. Mula-mula tubuhnya hanya terasa lemah. Namun, hari demi hari keadaannya semakin memburuk. Para tabib telah dipanggil, berbagai ramuan telah diberikan, tetapi tidak ada satu pun yang mampu mengembalikan kesehatannya.

Pada malam terakhir, ketika seluruh rumah sunyi, Tuan Kaya Gunung memandangi harta benda yang selama hidupnya ia kumpulkan. Di hadapannya tersusun peti-peti berisi emas, kain-kain mahal, dan permata.

“Begitu banyak yang telah kukumpulkan,” gumamnya lirih. “Namun, tidak satu pun dapat kubawa ketika aku pergi.”

Keesokan harinya, Tuan Kaya Gunung mengembuskan napas terakhir.

Kematian orang yang sangat kaya itu membuat seluruh negeri berduka. Jenazahnya kemudian dibawa ke sebuah bukit yang tinggi dan berhawa sejuk, yang dikenal oleh masyarakat sebagai Bukitn Bawokng. Di puncak bukit itulah ia dimakamkan.

Beberapa waktu setelah pemakaman, terdengar kabar aneh dari orang-orang yang sering melewati kaki bukit. Mereka mengaku melihat cahaya berwarna kekuningan muncul di puncak Bukitn Bawokng pada malam-malam tertentu. Ada pula yang mendengar bunyi seperti dentingan benda logam dari arah makam.

“Apakah kalian juga mendengarnya?” tanya seorang warga pada suatu malam.

“Mendengar apa?”

“Seperti suara emas dijatuhkan ke tanah.”

Temannya terdiam. Mereka memandang ke arah puncak bukit yang diselimuti kabut.

Sejak saat itu, mulai beredar cerita bahwa arwah Tuan Kaya Gunung belum meninggalkan dunia. Konon, rohnya menjelma menjadi Antu Bukitn Bawokng, makhluk gaib yang bersemayam di sekitar makamnya dan dapat memberikan kekayaan kepada orang yang berani memohon kepadanya.

Cerita itu mula-mula hanya dibisikkan dari satu rumah ke rumah yang lain. Namun, semakin lama semakin banyak orang yang mempercayainya. Mereka mengatakan bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kekayaan dari Antu Bukitn Bawokng harus datang ke bukit pada malam hari. Ia harus membawa sesajen berupa bunga tujuh warna, membakar kemenyan dan dupa harum, kemudian menyebut nama Tuan Kaya Gunung dalam hati dengan penuh penghormatan.

Pada awalnya, tidak ada yang berani mencoba. Namun, kemiskinan dan keinginan untuk hidup serba berkecukupan membuat sebagian orang mulai mengabaikan rasa takut.

Salah seorang yang pertama kali mencoba adalah seorang pedagang kecil bernama Janta. Selama bertahun-tahun ia berjualan hasil kebun di pasar, tetapi penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Suatu malam, ia mendengar cerita tentang Antu Bukitn Bawokng dari seorang kawannya.

“Kalau benar, mengapa tidak kau coba?” tanya kawannya.

Janta menatapnya ragu.

“Bukankah itu berbahaya?”

“Orang-orang bilang tidak. Asalkan kau memenuhi semua syaratnya.”

Janta terdiam lama. Dalam pikirannya terbayang rumah yang lebih besar, sawah yang luas, dan kehidupan keluarganya yang tidak lagi kekurangan.

Akhirnya, pada malam berikutnya, ia pergi ke Bukitn Bawokng.

Malam itu bulan hampir tertutup awan. Janta mendaki bukit sambil membawa bunga tujuh warna, kemenyan, dan dupa. Sesampainya di dekat makam Tuan Kaya Gunung, ia menyalakan dupa. Asap putih perlahan naik ke udara dan bercampur dengan kabut.

Janta menundukkan kepala.

“Tuan Kaya Gunung,” katanya dengan suara gemetar, “jika benar engkau masih bersemayam di tempat ini, aku datang memohon pertolongan. Berilah aku rezeki agar keluargaku dapat hidup berkecukupan.”

Tidak lama kemudian, angin berembus dari arah makam.

Api dupa tiba-tiba menyala lebih tinggi.

Janta terkejut ketika mendengar suara berat dari balik kabut.

“Apakah engkau menginginkan kekayaan?”

Janta hampir melarikan diri. Namun, ia menguatkan diri.

“Ya,” jawabnya.

“Apakah engkau sanggup memenuhi kewajibanmu?”

“Apa pun itu.”

Suara tersebut kembali terdengar.

“Jangan pernah melupakanku. Setiap malam, ingatlah roh Tuan Kaya Gunung. Jika engkau lalai, apa yang telah diberikan kepadamu akan kembali menjadi petaka.”

Janta menganggukkan kepala meskipun tubuhnya gemetar.

“Aku berjanji.”

Setelah itu, suara tersebut menghilang. Ketika Janta membuka mata, ia melihat beberapa benda berkilauan di tanah di hadapannya. Ada kepingan emas dan benda-benda berharga yang belum pernah dilihatnya.

Sejak malam itu, kehidupan Janta berubah.

Dagangan yang sebelumnya sepi tiba-tiba laris. Setiap usaha yang dilakukannya menghasilkan keuntungan besar. Tidak lama kemudian, ia memiliki rumah baru, sawah yang luas, serta banyak ternak.

Orang-orang pun mulai bertanya-tanya.

“Dari mana kekayaan Janta sebanyak itu?”

Tidak seorang pun mendapat jawaban yang jelas.

Namun, rahasia itu akhirnya terbongkar ketika Janta bercerita kepada beberapa orang terdekatnya tentang Antu Bukitn Bawokng. Kabar tersebut segera menyebar. Dalam waktu singkat, semakin banyak orang mendaki bukit pada malam hari.

Ada yang datang membawa bunga tujuh warna. Ada yang membawa kemenyan dan dupa. Ada yang datang dengan pakaian terbaik karena menganggap mereka sedang menemui seorang pemberi kekayaan.

Sebagian dari mereka benar-benar menjadi kaya.

Seorang petani tiba-tiba memiliki banyak sawah. Seorang pedagang memperoleh keuntungan besar. Bahkan beberapa bangsawan yang dekat dengan istana diam-diam datang ke Bukitn Bawokng.

Kekayaan yang mereka dapatkan membuat istana pun heran. Beberapa orang yang dahulu hidup sederhana tiba-tiba mampu mempersembahkan emas dan permata dalam jumlah besar kepada raja.

Pada suatu hari, raja memandangi sebuah peti berisi emas yang baru saja dipersembahkan seorang bangsawan.

“Dari mana asal harta ini?” tanya baginda.

Bangsawan itu menundukkan kepala.

“Dari hasil perdagangan, Baginda.”

Raja menatapnya tajam.

“Benarkah?”

Bangsawan itu terdiam.

Akhirnya, setelah didesak, ia mengakui rahasia yang selama ini disembunyikan.

“Paduka, harta itu diperoleh melalui Antu Bukitn Bawokng.”

Wajah raja berubah muram.

“Apakah benar banyak rakyatku meminta kekayaan kepada roh orang yang telah meninggal?”

“Benar, Baginda.”

Raja menarik napas panjang. Ia bukan semata-mata khawatir karena rakyatnya mengejar kekayaan, tetapi karena mereka mulai menggantungkan kehidupan kepada kekuatan gaib dan meninggalkan keyakinan serta usaha yang benar.

Malam itu, baginda tidak dapat tidur dengan tenang. Setelah lama memikirkan keadaan negerinya, akhirnya ia tertidur.

Dalam tidurnya, raja bermimpi berada di sebuah tempat yang sunyi. Kabut putih memenuhi tanah, dan dari balik kabut muncul seorang tua berjubah putih. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya membuat raja merasa gentar.

“Hai, raja yang adil,” ujar orang tua itu, “jangan biarkan rakyatmu menukar keyakinan dengan kekayaan.”

Raja menundukkan kepala.

“Siapakah engkau?”

“Tidak penting siapa aku. Yang penting adalah pesan yang harus kau ingat.”

Orang tua itu menunjuk ke arah bukit yang jauh.

“Harta dunia tidak akan tinggal selamanya. Barang siapa meninggalkan ibadah dan menggantungkan hidup kepada antu demi kekayaan, sesungguhnya ia sedang menukar ketenangan dengan petaka.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya raja.

“Beritahukan kepada rakyatmu. Rezeki yang baik diperoleh melalui usaha yang halal, bukan dengan menyembah roh dan meninggalkan Tuhan.”

Setelah berkata demikian, orang tua itu menghilang bersama kabut.

Raja terbangun dengan napas tersengal. Malam masih gelap. Namun, pesan dalam mimpinya begitu jelas sehingga ia tidak dapat menganggapnya sebagai mimpi biasa.

Keesokan harinya, baginda memanggil seluruh pembesar dan alim ulama ke istana. Setelah bermusyawarah, ia memerintahkan agar kabar tentang bahaya Antu Bukitn Bawokng disampaikan ke seluruh negeri.

Beberapa hari kemudian, rakyat berkumpul di halaman istana.

Raja berdiri di hadapan mereka.

“Hai rakyat Bangkayokng,” sabdanya, “aku mendengar bahwa banyak di antara kalian mencari kekayaan melalui Antu Bukitn Bawokng.”

Rakyat saling berpandangan.

“Janganlah kalian tertipu oleh harta yang datang dengan cara demikian. Kekayaan yang diperoleh dengan meninggalkan ibadah dan menggantungkan diri kepada roh tidak membawa ketenteraman.”

Seorang warga memberanikan diri bertanya.

“Baginda, bagaimana jika kekayaan itu benar-benar membuat kami hidup berkecukupan?”

Raja menjawab dengan tenang.

“Apakah kalian rela menukar ketenteraman hidup dengan rasa takut setiap malam? Apakah kalian rela seluruh harta hilang hanya karena satu hari lupa mengingat roh itu? Kekayaan yang baik adalah kekayaan yang diperoleh melalui usaha, kejujuran, dan jalan yang diridai Tuhan.”

Suasana menjadi hening.

“Carilah rezeki dengan tangan kalian sendiri,” lanjut baginda. “Bertani, berdagang, beternak, bekerja, dan saling membantu. Jangan jadikan harta sebagai alasan untuk melupakan Tuhan.”

Sebagian rakyat mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka meninggalkan kebiasaan mendatangi Bukitn Bawokng dan kembali bekerja seperti sebelumnya.

Namun, tidak semua orang mau mendengarkan.

Janta, yang telah merasakan nikmatnya kekayaan, justru menjadi semakin takut kehilangan hartanya.

“Aku sudah berjanji kepada Tuan Kaya Gunung,” katanya kepada istrinya. “Aku tidak boleh berhenti.”

“Bukankah raja telah memperingatkan kita?” tanya istrinya.

“Aku tidak dapat mengembalikan semuanya begitu saja.”

Malam berikutnya, Janta kembali mendaki Bukitn Bawokng.

Namun, kali ini suasananya berbeda.

Kabut turun lebih tebal. Angin bertiup dingin. Tidak ada suara burung malam. Ketika Janta tiba di makam, ia menyalakan dupa dengan tangan gemetar.

“Tuan Kaya Gunung,” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia memanggil lagi.

“Tuan Kaya Gunung!”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.

“Engkau datang karena takut kehilangan hartamu?”

Janta membeku.

“Aku... aku datang untuk memenuhi janjiku.”

Suara itu terdengar semakin dekat.

“Bukankah sudah kukatakan? Jangan pernah melupakanku.”

Janta menutup mata.

“Aku tidak melupakanmu.”

“Benarkah?”

Angin tiba-tiba berembus keras. Api dupa padam. Janta mendengar suara dentingan seperti ribuan keping emas jatuh berserakan di sekelilingnya.

Ketika ia membuka mata, tidak ada siapa-siapa.

Namun, sejak malam itu, kekayaan Janta mulai lenyap satu demi satu. Ternaknya mati, sawahnya rusak, dan rumahnya terbakar. Dalam waktu singkat, harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun hilang tanpa bekas.

Orang-orang berkata bahwa kejadian serupa menimpa mereka yang tetap memohon kepada Antu Bukitn Bawokng. Ada yang jatuh sakit tanpa diketahui sebabnya. Ada yang kehilangan seluruh harta dalam satu malam. Bahkan beberapa orang dikabarkan tidak pernah kembali setelah mendaki bukit.

Sejak saat itu, masyarakat Bangkayokng semakin jarang mendatangi Bukitn Bawokng. Nama Antu Bukitn Bawokng tetap hidup dalam cerita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi bukan sebagai tempat mencari kekayaan. Ia menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh membiarkan keserakahan menguasai hati.

Konon, pada malam-malam tertentu, ketika kabut turun menutupi puncak Bukitn Bawokng, orang-orang yang melewati kaki bukit masih dapat mendengar suara aneh dari kejauhan. Kadang terdengar dentingan seperti emas yang dijatuhkan ke tanah. Kadang terdengar bisikan memanggil nama seseorang.

Karena itu, orang-orang tua selalu berpesan kepada anak cucunya, “Jangan pernah naik ke bukit hanya karena tergoda oleh harta. Kekayaan yang datang terlalu mudah belum tentu membawa kebahagiaan.”

Mereka juga mengajarkan bahwa harta benda hanyalah titipan. Manusia boleh bekerja keras untuk menjadi berkecukupan, tetapi jangan sampai kekayaan membuatnya melupakan Tuhan, keluarga, sesama, dan jalan kehidupan yang benar.

Bukitn Bawokng pun tetap berdiri dalam kesunyian. Pepohonannya tumbuh rapat, kabut sering menyelimuti puncaknya, dan makam Tuan Kaya Gunung menjadi bagian dari kisah yang terus dikenang masyarakat.

Adapun pesan yang diwariskan dari kisah Antu Bukitn Bawokng adalah bahwa kesenangan yang diperoleh melalui jalan yang salah dapat berubah menjadi penderitaan. Kekayaan yang tidak disertai ketenteraman tidak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Sebaliknya, rezeki yang diperoleh melalui kerja keras, kejujuran, dan usaha yang halal akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih tenang.

Sebab, sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, semuanya akan ditinggalkan ketika ajal tiba. Yang tinggal bukanlah emas, permata, rumah besar, atau sawah yang luas, melainkan kebaikan yang pernah dilakukan dan jalan hidup yang dipilihnya.

Demikianlah kisah Antu Bukitn Bawokng, yang turun-temurun dituturkan sebagai pengingat bagi siapa pun yang mendengarnya: jangan biarkan keserakahan menutup mata, jangan menukar keyakinan dengan harta, dan jangan mencari jalan singkat untuk memperoleh sesuatu yang seharusnya diraih dengan usaha.

Tamat.

 

CERITA RAKYAT: MANTRA JUBATA DAN ANAK MUDA SALAKO

 

Alkisah, di tanah Kalimantan Barat, di sebuah kampung Dayak Salako yang dikelilingi hutan rimba, hidup seorang pemuda bernama Ramba. Ia anak muda yang rajin, tetapi selalu merasa dirinya tak seberapa dibanding para tetua kampung. Ramba sering mendengar cerita tentang mantra-mantra lama yang diwariskan oleh para leluhur, namun ia tidak pandai menghafalkannya.

Pada suatu malam bulan purnama, kampung Ramba hendak mengadakan upacara adat kayau, yaitu penghormatan kepada roh penjaga dan arwah leluhur. Segala sesaji telah disiapkan: beras kuning, ayam putih, sirih, dan seikat daun-daunan hutan. Para penari mulai bergerak mengelilingi apar, yakni kepala kayau yang menjadi lambang pengingat kejayaan masa lalu.

Tetua adat, Apai Panggau, memanggil Ramba ke depan. “Hai anak muda, engkau yang akan menyampaikan doa malam ini,” katanya.

Ramba gemetar. “Ampun, Apai. Aku tiada pandai membaca mantra, tiada pandai bernyanyi mambang seperti orang-orang tua dahulu.”

Tetapi Apai tersenyum, lalu berkata, “Justru karena engkau generasi baru, engkau harus belajar memohon restu Jubata dengan hatimu sendiri. Bukan kata-kata indah yang penting, melainkan niat yang suci.”

Maka dengan suara lirih, Ramba mencoba mengucapkan doa yang ia dengar dari para tetua:

“Auk nyian ka Jubato, wahai Engkau Jubata. Kami bapadoh ka awo pamo tahoh aik, kami memohon ijin kepada para arwah dan leluhur tanah air.
Saparati Kito’ panunggu wap pamo rumoh tangok, seperti Engkau penguasa yang ada di dalam kehidupan rumah tangga.
Saparati cacak, kaimpawok, dangan antok dan karimebee, seperti cicak, laba-laba, dan kluing, orang-orang akan berdatangan.
Kami anok mudo’, tiada pandai membaca, tiada tahu bernyanyi mambang lama. Engkau sajalah, Jubata, yang bacakan nyanyian itu bagi kami.”

Maka seketika suasana berubah hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin malam. Ketika Ramba menaburkan beras kuning ke arah apar bersama para penari, tampak seekor cicak turun dari balai, laba-laba meniti benang di langit-langit, dan seekor kluing melintas di tanah. Para tetua terperanjat, sebab itu pertanda arwah leluhur berkenan hadir.

Apai Panggau lalu berseru, “Lihatlah, Jubata mendengar doa kita melalui suara anak muda ini! Meski ia tiada pandai seperti kita dahulu, hatinya tulus, maka roh leluhur datang memberi tanda.”

Sejak malam itu, Ramba dihormati sebagai pemuda yang membawa pesan bahwa generasi baru tiada perlu malu bila tak hafal nyanyian lama, asalkan tetap menjaga adat, hormat pada leluhur, dan memelihara alam sekitar.

Hatta, kampung itu pun makmur kembali. Ladang menjadi subur, sungai dipenuhi ikan, dan hutan memberi hasil berlimpah. Mantra itu kemudian diwariskan turun-temurun, sebagai pengingat bahwa Jubata bukan hanya milik orang tua, melainkan juga menyertai anak-anak muda yang mau tulus memohon.

Maka demikianlah cerita rakyat Dayak Salako, tentang Ramba sang anak muda, tentang doa sederhana, dan tentang restu Jubata yang kekal bagi generasi di tanah Kalimantan Barat.

Antu Bukitn Bawokng

  Pada zaman dahulu, ketika kerajaan-kerajaan masih berdiri megah dan raja-raja bersemayam di istana yang dihiasi emas serta permata, te...