Dahulu kala, di sebuah kampung ada seorang gadis bernama Dayang Lumau. Oleh kedua orang tuanya, ia tidak diperbolehkan bergaul dengan masyarakat dan dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang terkunci rapat. Setelah merasa pantas bersuami, orang tuanya mengadakan sayembara: barang siapa yang mampu membuka pintu kamar Dayang Lumau, dialah yang berhak menjadi suaminya.
Berita sayembara itu terdengar oleh Lemambang Lenggai, suami Dayang Anta. Ia ingin mengikuti sayembara itu, tetapi dilarang Dayang Anta yang belum lama melahirkan seorang anak. Namun, suaminya pergi juga.
Ketika Lemambang Lenggai pulang dan berteriak-teriak kesenangan karena berhasil mengikuti sayembara, Dayang Anta mencincang plasenta anaknya dan dimasukkannya ke dalam sayur. Lemambang Lenggai, karena laparnya, langsung saja makan nasi dan sayur itu. Lama-kelamaan, tubuh Lemambang Lenggai bersisik seperti ular dan akhirnya benar-benar menjadi ular, Ular Nabau.
Ular itu pergi ke permandian Dayang Lumau. Ia melintangkan badannya sehingga tampak seperti batang kayu terapung. Ketika Dayang Lumau mandi dan berdiri di atas ular itu, perlahan-lahan Lemambang Lenggai membawanya ke Lubuk Renyuk. Di sana mereka hidup sebagai suami istri.
Walau hidup bersama, Lemambang Lenggai tak pernah menggauli Dayang Lumau. Suatu hari Ular Nabau hendak pergi. Ia berpesan agar istrinya tidak menceritakan ihwal rumah tangga mereka kepada tetangga. Akan tetapi, amanah itu dilanggar oleh Dayang Lumau. Akhirnya, Dayang Lumau sakit.
Ketika Ular Nabau kembali, Dayang Lumau menceritakan keinginannya. Ia ingin Ular Nabau memperlakukannya sebagaimana layaknya seorang istri. Ular Nabau keberatan karena ia seekor ular, sedangkan istrinya adalah manusia. Namun, Dayang Lumau bertekad hidup dalam dunia suaminya. Akhirnya, Ular Nabau itu melilit istrinya sehingga tubuh istrinya putus dan kepala Dayang Lumau dilemparkan dan jatuh di beranda rumah orang tua Dayang Lumau. Mulai saat itu, Dayang Lumau berubah menjadi ular.
Adapun Dayang Anta bersedih karena telah ditinggal suami tercinta. Ia menyesali perbuatannya. Sambil menggendong anaknya, ia menyusuri jejak sang ular. Di Nanga Merekak, ia mandi. Ketika sedang mandi, seekor belalang hinggap di payudaranya. Dipukulnya belalang itu sambil berkata, "Tak ada orang lain yang boleh menjamahnya kecuali Lemambang Lenggai, suamiku." Bersamaan dengan itu, guntur menggelegar, angin berembus kencang dan Dayang Anta berubah menjadi batu, Batu Dayang Anta. (CRDKB3).