Rabu, 07 Oktober 2026

Cerpen Tisu di Persimpangan Jalan

Pagi itu, suasana kamar Victorinus Andi masih diselimuti hening. Jarum jam dinding kamarnya terus berputar tanpa kompromi, sementara ia masih bergelut dengan rasa malas di atas kasur. Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, Andi terperanjat melihat waktu yang tertera di ponselnya. Sial, ia terlambat bangun! Akibatnya, jadwal mandinya pun menjadi sangat mepet.

Bagi Andi, tidak mandi sebelum ke sekolah bukanlah pilihan. Jika ia nekat berangkat tanpa membasuh diri, badannya pasti akan terasa lengket dan tidak nyaman sepanjang hari selama mengikuti pelajaran Bahasa Singkawang bersama Pak Hendra. Dengan gerakan kilat, ia menyambar handuk dan menyelesaikan ritual mandinya dalam waktu singkat. Usai mandi, ia bergegas mengenakan seragam putih abu-abu kebanggaannya sebagai siswa kelas XI B, lalu memasukkan beberapa buku pelajaran yang sesuai dengan jadwal hari Selasa itu ke dalam tas.

"Andi berangkat dulu, Mak!" serunya berpamitan seraya mencium tangan ibunya di dapur.

Andi segera menuju halaman rumah, mengeluarkan sepeda motor bebeknya, dan memanaskan mesinnya sejenak. Tugas pertamanya pagi ini adalah menjadi sopir pribadi bagi sang adik. Ia memacu motornya membelah jalanan Singkawang yang mulai ramai, menuju ke SD 56 Singkawang untuk mengantarkan adiknya tepat waktu. Setelah memastikan sang adik masuk ke gerbang sekolah dengan aman, Andi mengembuskan napas lega. Namun, perjuangannya belum selesai. Ia masih harus menjemput sahabat karibnya, Yakobus.

Sesampainya di depan rumah Yakobus, Andi mengernyitkan dahi. Suasana rumah itu sepi. Benar saja, saat Andi mengetuk pintu dan masuk, ia mendapati Yakobus baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah kuyup.

"Astaga, Yakobus! Jam berapa ini? Bisa-bisa kita dihukum Pak Hendra!" gerutu Andi kesal.

Yakobus hanya menyeringai bersalah. Sembari Andi menunggu dengan cemas di ruang tamu, Yakobus bergerak dengan gerakan yang super lambat. Dengan santai ia mengemas barang-barangnya—memasukkan buku, pulpen, hingga memakai kemeja seragamnya. Setelah semua siap, mereka berdua sempat terdiam sejenak di teras rumah untuk mengatur napas. Andi melirik jam tangan kirinya. Angka digital menunjukkan pukul 07.15 WIB. Mereka sudah resmi terlambat. Tanpa membuang waktu lagi, Yakobus segera naik ke jok belakang motor Andi, dan mereka pun melesat pergi.

Saat motor mereka tiba di persimpangan jalan menuju sekolah, tiba-tiba Yakobus menepuk pundak Andi dengan keras. "Ndi, berhenti dulu di warung itu sebentar! Aku butuh tisu!" setengah berteriak menembus angin.

Andi langsung menarik tuas rem dan menepikan motornya di depan sebuah warung kelontong kecil. Sebenarnya ia ingin memprotes, namun melihat wajah Yakobus yang pucat dengan hidung yang memerah, Andi mengurungkan niatnya. Sejak semalam, cuaca Singkawang memang kurang bersahabat, membuat tubuh mereka berdua terasa kurang sehat dan terserang flu berat. Jangankan Yakobus, Andi sendiri pun sudah tidak tahan ingin bersin sejak tadi. Mengapa mereka membeli tisu? Jawabannya jelas, karena mereka sedang sakit dan tidak ingin hidung mereka meler di dalam kelas nanti.

Setelah membeli sebungkus tisu dan bergantian membersihkan hidung, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Lima menit kemudian, motor Andi akhirnya memasuki gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat. Pak Satpam yang berjaga di depan langsung menghadang mereka dengan wajah ketat.

"Dari mana saja kalian? Sudah jam berapa ini?" tanya Pak Satpam tegas.

Dengan langkah gontai, Andi dan Yakobus menuntun motor mereka menuju parkiran, lalu berjalan menghadap ke ruang guru piket. Beruntung bagi mereka, Pak Hendra, guru mata pelajaran pertama mereka, sedang berada di sana. Melihat kedua muridnya datang dengan wajah pucat dan memegang tisu di tangan, kemarahan di wajah Pak Hendra perlahan melunak.

"Kalian terlambat karena bangun kesiangan atau karena sakit?" tanya Pak Hendra seraya memperhatikan lembar kertas alasan keterlambatan yang buru-buru ditulis oleh Andi.

"Dua-duanya, Pak," jawab Andi jujur sambil menunduk. "Saya terlambat mandi karena kesiangan, harus mengantar adik ke SD 56 dulu, lalu menjemput Yakobus yang juga terlambat. Ditambah lagi, di persimpangan jalan tadi kami harus singgah membeli tisu karena kondisi kami sedang sakit flu, Pak."

Pak Hendra menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Beliau mengambil kertas laporan keterlambatan yang ditulis Andi, lalu menandatanganinya. "Baiklah, kejujuran kalian saya hargai. Kali ini saya izinkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran Bahasa Singkawang. Tapi ingat, lain kali jika sakit, lebih baik minta izin istirahat di rumah, atau pasang alarm lebih awal agar tidak terburu-buru di jalan. Masuklah ke kelas!"

Andi dan Yakobus langsung membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Pak!" ucap mereka serempak.

Sambil berjalan menuju ruang kelas XI B, Andi menyenggol lengan Yakobus dengan sisa tawanya. Meskipun pagi itu diawali dengan kekacauan dan keterlambatan yang dramatis, setidaknya sebungkus tisu di persimpangan jalan tadi telah menyelamatkan hidung mereka—dan juga nasib mereka dari hukuman berdiri di lapangan upacara.

------------------------------


Hikayat Indera Pengasuh dan Pohon Cermin Jiwa

Alkisah pada zaman purbakala, ada sebuah kerajaan yang amat besar lagi makmur bernama Negeri Pasir Luhur. Adapun negeri itu diperintah oleh seorang raja yang amat masyhur adil dan bijaksana, Sultan budiman namanya. Maka baginda pun teramat dikasihi oleh sekalian rakyat bala tentara, sebab baginda sentiasa memelihara adat dan menyebarkan ilmu kebajikan ke seluruh pelosok benua. Hatta, tatkala negeri di bawah naungan baginda itu aman sentosa, baginda telah dikaruniai dua orang putra mahkota. Yang tua bernama Syahran, telah genap umurnya masuk masa baligh, sedangkan yang muda bernama Malik, masih teramat kecil lagi jenaka usianya.

Maka pada suatu hari, tatkala baginda Sultan sedang bersemayam di atas takhta kebesaran di balairung istana, datanglah perdana menteri bersama kedua putra baginda itu menghadap duli. Maka sekonyong-konnyong kedua putra itu kelihatan sedang berselisih paham hingga menimbulkan riuh di hadapan baginda. Melihatkan tingkah laku yang tiada beradat itu, maka Sultan budiman pun tidaklah melontarkan kata-kata murka yang keras, melainkan baginda segera mengubah air muka baginda menjadi amat masam, laksana awan gelap mendung yang melindungi cahaya matahari. Baginda pun berdiam diri seraya memandang kedua putranya dengan pandangan yang penuh ketidaksetujuan.

Maka tatkala Syahran, putra yang tua yang telah memiliki pola pikir yang baik dan sudah baligh itu, menyadari akan perubahan wajah ayahandanya, maka dengan seketika itu juga gemetarlah sekujur tubuhnya. Ia tahu sejati bahwa wajah masam dari orang tua adalah sebuah hukuman yang teramat berat bagi hatinya. Maka dengan sendirinya, timbullah rasa insaf di dalam dada Syahran. Ia pun segera berlutut, menundukkan kepala seraya menyembah dengan khidmatnya untuk mengoreksi diri dari kesalahan yang tiada disukai oleh baginda raja.

Namun, lain pula halnya dengan Malik, putra yang masih sangat kecil itu. Apabila ia melihat wajah masam ayahandanya, ia tiada mengerti akan pertanda itu. Ia malah menyangka ayahandanya sedang sakit atau bermain-main dengannya, lalu ia pun kembali berlari-lari dan tertawa-tawa di dalam balairung tanpa rasa bersalah sedikit pun. Maka melihat keadaan yang demikian, segeralah Sultan budiman meredakan wajah masamnya lalu memanggil kedua-duanya duduk rapat ke paha baginda.

Maka titah baginda dengan suara yang amat lemah lembut, “Wahai anakku Syahran dan Malik, dengarkanlah olehmu akan hikmat pengajaran ini. Adapun apabila seorang anak melakukan suatu kesalahan, maka menjadi kewajiban bagi orang tua atau guru untuk menunjukkan sikap ketidaksetujuan. Setidaknya, perlihatkanlah wajah yang masam sebagai pertanda bahwa kita sangat tidak menyukai tindakan yang salah itu. Bagi anak yang telah berakal, wajah yang masam itu seumpama hukuman yang batin, yang akan menggerakkan hatinya untuk memperbaiki diri.”

Baginda Sultan berhenti seketika, lalu mengusap rambut Malik yang masih kecil itu seraya menyambung titahnya, “Namun demikian, wahai menteri dan sekalian bijak pandai, ketahuilah olehmu bahwa jenis hukuman memperlihatkan wajah masam atau mendiamkan anak ini, barangkali hanya efektif diterapkan kepada anak yang sudah baligh dan baik pola pikirnya laksana Syahran. Adapun untuk anak-anak yang usianya masih sangat kecil, semisal si Malik ini, hukuman semacam itu belum tentu efektif, bahkan boleh jadi mereka salah mengira akan maksud kita.”

Maka perdana menteri pun tampil ke hadapan lalu menyembah dengan hormatnya, “Daulat Tuanku, Syah Alam di rimba. Teramatlah tinggi hikmat yang tuanku sampaikan. Namun, bagaimanakah gerangan cara kami sebagai pendidik hendak menerapkan hukuman yang benar kepada anak-anak di dalam negeri ini?”

Maka tersenyum lah baginda Sultan lalu bertitah, “Wahai menteri, sebelum engkau menerapkan jenis hukuman apa pun, pelajari dan pahamilah dahulu situasi atau keadaan si anak itu. Dengan memahami keadaan dan peringkat usia mereka, niscaya engkau akan memiliki pandangan yang jernih, apakah hukuman semacam itu tepat digunakan atau tidak. Janganlah sekali-kali menghukum tanpa ilmu, sebab hukuman itu musti bersifat edukatif, yaitu mendidik dan membawa kebaikan, bukannya mendatangkan dendam.”

Maka baginda Sultan pun menghadiahkan sebuah kitab yang berisi panduan tata cara mendidik anak kepada sekalian guru dan orang tua di seluruh Negeri Pasir Luhur. Hatta, setelah mendengar dan mengamalkan titah nasihat baginda yang teramat mulia itu, maka sekalian rakyat pun menjadi semakin bijaksana dalam mengasuh anak-anak mereka. Tiada lagi kedengaran anak-anak yang tersalah duga akan maksud baik orang tuanya. Maka kedua putra baginda pun tumbuh menjadi insan yang teramat mulia budi pekertinya, dan kerajaan Pasir Luhur pun kekal aman, makmur, dan sentosa turun-temurun atas berkat ilmu pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan kearifan. Tamatlah alkisah hikayat.

------------------------------



Hikayat Sang Murba dan Pohon Mustika Lambang Budi

Alkisah pada zaman purbakala, sebermula ada sebuah kerajaan yang amat besar lagi makmur bernama Indera khayali. Adapun negeri itu diperintah oleh seorang raja yang adil lagi bijaksana, Syah Alam namanya. Maka baginda pun teramat dikasihi oleh sekalian rakyat bala tentara, sebab baginda sentiasa memelihara syariat adat dan menjauhkan diri daripada perbuatan aniaya. Hatta, tatkala negeri di bawah naungan baginda itu aman sentosa, tiadalah kedengaran suatu pun kabar huru-hara melainkan kedamaian jua yang merata ke seluruh pelosok benua.

Maka pada suatu hari, baginda baginda Syah Alam pun menitahkan perdana menteri menghimpunkan segala orang-orang besar dan alim ulama ke balairung istana. Apabila sekaliannya telah hadir menjunjung duli, maka titah baginda dengan suara yang amat merdu, “Wahai segala tuan-tuan sekalian, ketahuilah olehmu bahwa beta ini kian hari kian uzur, sedangkan seorang anak yang akan menyambung takhta kerajaan belum jugalah dikaruniakan Allah subhanahu wa taala. Maka beta bermaksud hendak mencari seorang pemuda dari dalam negeri ini yang paling mulia budi pekertinya untuk dijadikan anak angkat, sekali gus bakal pengganti beta kelak.”

Mendengar titah baginda yang demikian itu, maka sekalian orang-orang besar dan menteri pun terdiamlah seketika, masing-masing berpikir akan hikmat titah raja itu. Tiada lama kemudian, bangunlah perdana menteri lalu menyembah dengan hormatnya, “Daulat Tuanku, Syah Alam di rimba. Adapun niat tuanku itu teramatlah mulia. Namun bagaimanakah gerangan cara kita hendak menguji hati manusia, sedang rupa boleh dilihat, tetapi hati tiada siapa yang tahu?” Maka tersenyum lah baginda lalu bertitah, “Janganlah menteri sekalian masygul. Beta akan mengadakan sebuah sayembara.”

Maka dicanangkanlah ke seluruh pelosok negeri, dari kota membawa ke desa, barang siapa yang dapat membawa sebuah persembahan yang paling berharga dan bermakna bagi kehidupan manusia, niscaya dialah yang akan diangkat menjadi putra mahkota. Hatta, setelah mendengar berita yang demikian itu, maka berbondong-bondonglah sekalian anak-anak muda, baik yang kaya maupun yang miskin, bersiap-siap membawa persembahan masing-masing menuju istana raja. Ada yang membawa intan permata yang gilang-gemilang, ada yang membawa kain sutra bertatahkan emas dari negeri asing, dan ada pula yang membawa senjata-senjata tajam yang ampuh.

Adapun di sebuah kampung yang amat terpencil di pinggir hutan, tinggallah seorang pemuda yatim piatu bernama Sang Murba. Ia seorang yang miskin harta namun kaya dengan budi perkerti. Sehari-hari pekerjaannya hanyalah mencari kayu api di hutan lalu dijualnya ke pasar dengan harga yang murah, sekadar membelikan secupak beras untuk menyambung hidupnya. Apabila Sang Murba mendengar kabar sayembara itu, maka ia pun terduduklah termenung di pondoknya yang tiris. Pikirnya dalam hati, “Apalah daya aku yang miskin ini? Tiada aku memiliki emas maupun perak, jangankan intan permata, kain yang sehelai ini pun penuh dengan tampalan.”

Maka Sang Murba pun pergilah ke dalam hutan dengan hati yang gundah-gulana. Sedang ia berjalan mencari kayu, tiba-tiba didengarnya suara erangan yang amat daif di balik semak samun. Maka dengan segera Sang Murba menghampiri tempat itu. Dilihatnya seorang tua bangka yang amat daif sedang terlentang, kakinya luka terpotong duri bertiang-tiang, dan mukanya pucat lesi laksana mayat. Maka tiadalah berpikir panjang lagi Sang Murba; segera diletakkannya kapaknya lalu dipangkunya orang tua itu. Diambilnya air dari dalam bambu lalu diminumkannya, dan dibalutnya luka pada kaki orang tua itu dengan kain sarungnya yang sudah koyak-koyak.

Setelah orang tua itu siuman, maka ia pun memandang wajah Sang Murba dengan pandangan yang amat redup. Katanya dengan suara yang terputus-putus, “Wahai anakku yang berbudi, siapakah namamu dan mengapa engkau bersusah payah menolong orang tua yang tiada berguna ini?” Maka sahut Sang Murba dengan santun, “Hamba ini Sang Murba, kekasih tuan. Sudah menjadi kewajiban sesama makhluk Allah untuk tolong-menolong dalam kesusahan.” Maka orang tua itu pun tersenyum lalu mengeluarkan sebiji benih pohon yang amat kecil dan hitam warnanya dari dalam saku bajunya.

“Ambillah benih ini, wahai Sang Murba,” kata orang tua itu. “Ini bukanlah benih sembarangan, melainkan Benih Pohon Mustika Lambang Budi. Bawa dan persembahkanlah kepada Syah Alam di istana. Pohon ini tidak akan tumbuh oleh emas dan perak, melainkan ia hanya akan subur jika disiram dengan air mata keikhlasan dan ketulusan hati.” Setelah berkata demikian, maka dengan sekonyong-konyong orang tua itu pun hilanglah dari pandangan mata, lenyap laksana asap ditiup angin. Maka tercenganglah Sang Murba seketika, tahu lah ia bahwa orang tua itu bukanlah manusia biasa melainkan khidir atau wali yang menyamar.

Maka pada hari yang telah ditetapkan, berhimpunlah ratusan pemuda di hadapan balairung istana Raja Indera Khayali. Maka baginda Syah Alam pun bersemayam di atas takhta kerajaan dengan segala kebesaran. Satu per satu pemuda maju mempersembahkan hadiah mereka. Ada yang membawa mahkota emas bertatahkan ratna mutu manikam, ada yang membawa gading gajah yang diukir indah, dan ada pula yang membawa mangkok sakti yang kononnya tiada pernah kering airnya. Baginda raja hanya melihat sekalian persembahan itu dengan wajah yang hambar, tiada sedikit pun baginda kelihatan takjub.

Maka tibalah giliran Sang Murba maju ke hadapan duli baginda. Apabila orang melihat pakaian Sang Murba yang compang-camping dan hanya membawa sebiji benih hitam di dalam tempurung kelapa, maka sekalian orang di dalam istana itu pun tertawa terbahak-bahak, riuh-rendah bunyinya. Ada yang berkata, “Hai orang miskin, tiadakah engkau tahu malu membawa benda yang buruk itu ke hadapan raja yang mulia?” Namun Sang Murba tetap tenang, lalu ia berlutut dan menyembah dengan khidmatnya.

“Daulat Tuanku,” sembah Sang Murba. “Adapun hamba yang daif ini tiada memiliki harta duniawi untuk dipersembahkan. Hamba hanya membawa sebiji benih hitam ini, yang dinamakan Benih Pohon Mustika Lambang Budi. Jikalau tuanku izinkan, hamba hendak menanamnya di halaman istana ini.” Maka baginda raja pun tertarik hatinya melihat ketenangan dan kesopanan pemuda itu, lalu titah baginda, “Baiklah, wahai muda yang bijak. Tanamlah benihmu itu, dan biarlah kita sekalian melihat apakah keajaiban yang ada padanya.”

Maka Sang Murba pun menggali tanah di tengah halaman istana lalu menanam benih itu. Setelah selesai, ia pun berlutut di hadapan tanaman itu seraya berdoa dengan hati yang teramat tulus demi kesejahteraan raja dan seluruh rakyat. Demi terkenang akan nasib dirinya yang yatim piatu serta penderitaan orang-orang miskin di luar sana, maka menitislah air mata Sang Murba jatuh ke atas tanah tempat benih itu ditanam.

Hatta, dengan takdir Allah yang Mahakuasa, maka berlaku lah suatu mukjizat yang amat besar. Dari dalam tanah itu tumbuhlah tunas yang hijau, lalu membesar dengan amat cepatnya laksana kilat. Dalam beberapa ketika sahaja, ia telah menjadi sebuah pohon yang amat rindang, daunnya hijau laksana zamrud, dan bunganya mengeluarkan bau yang teramat harum hingga semerbak ke seluruh negeri. Yang paling menakjubkan, buah pohon itu berbentuk laksana lampu yang mengeluarkan cahaya yang terang-benderang, menerangi seluruh halaman istana yang tadinya agak redup.

Maka sekalian orang yang hadir di situ pun ternganga keheranan, tiada dapat berkata-kata lagi, dan segala tawa ejekan yang tadi kedengaran terus lenyap seketika itu juga. Maka baginda Syah Alam pun turun dari takhtanya lalu menghampiri pohon tersebut dengan rasa takjub yang amat sangat. Titah baginda, “Wahai sekalian rakyatku! Ketahuilah olehmu sekalian bahwa harta kekayaan yang dibawa oleh pemuda-pemuda lain itu adalah harta yang boleh susut dan hilang, serta boleh mendatangkan sifat tamak dan ria. Namun, apa yang dibawa oleh pemuda miskin ini adalah lambang kesuburan budi perkerti dan keikhlasan hati yang tiada tolok bandingnya.”

Maka baginda raja pun memegang tangan Sang Murba lalu mengangkatnya berdiri. “Maka pada hari ini, dengan disaksikan oleh segala menteri dan rakyat sekalian, beta mengumumkan bahwa Sang Murba inilah yang menjadi putra mahkota dan waris tunggal kerajaan Indera Khayali,” titah baginda dengan megahnya. Maka sekalian orang pun bersoraklah mendengarkan keputusan raja itu, “Daulat Tuanku! Selamatlah Putra Mahkota!”

Maka sejak hari itu, Sang Murba pun tinggallah di dalam istana belajar ilmu pemerintahan dan agama daripada sekalian ulama dan bijak pandai. Walau sudah menjadi orang besar, tiada pernah ia melupakan asal-usulnya yang miskin. Ia sentiasa mengasihi fakir miskin dan menolong orang dalam kesusahan. Apabila Syah Alam mangkat beberapa tahun kemudian, maka Sang Murba pun naiklah takhta menggantikan baginda dengan gelar Sultan Murba Syah. Kerajaan Indera Khayali pun kekal makmur, aman, dan sentosa, terlindung daripada segala marabahaya atas berkat keadilan dan keluhuran budi rajanya yang amat bijaksana. Tamatlah alkisah hikayat.

------------------------------


Senin, 05 Oktober 2026

Pesan dalam Hikayat Berdasarkan Penokohan dan Plot

Pesan dalam teks hikayat sering kali disiratkan melalui karakter dan perilaku tokoh. Pesan juga disajikan berdasarkan alur cerita. Teks hikayat dikenal dengan penokohan yang tidak serupa dengan cerita-cerita saat ini karena berlatar dunia kerajaan atau masyarakat di masa lampau. Berikut akan dijelaskan tentang karakterisasi, plot, dan nilai yang terdapat dalam teks hikayat.

1. Karakterisasi

Karakterisasi berkaitan dengan tokoh dan penokohan dalam sebuah cerita. Tokoh biasanya berwujud manusia, tetapi dalam beberapa karya sastra atau cerita, tokoh dapat berwujud hewan, benda, atau makhluk fantasi yang diberikan sifat dan perilaku layaknya manusia. Setiap tokoh memiliki peranan dan watak yang berbeda-beda. Selain itu, tokoh dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi dan peran, serta dimensi wataknya.

a. Tokoh Berdasarkan Fungsinya

Berdasarkan fungsinya, tokoh dibagi menjadi tiga jenis sebagai berikut.

 1) Tokoh utama: Tokoh utama berperan penting dalam suatu cerita. Tokoh utama dapat terdiri dari satu orang atau lebih. Banyaknya tokoh utama dalam suatu cerita dapat memunculkan tokoh sentral. Sebaliknya, tokoh sentral tidak akan muncul jika hanya terdapat satu tokoh utama.

2). Tokoh pembantu: Tokoh yang melengkapi dan mendukung tokoh utama. Tokoh pembantu dapat memengaruhi arah jalannya cerita. Perubahan karakter pada tokoh utama dipengaruhi oleh peran tokoh pembantu.

 3). Tokoh tambahan: Tokoh yang kontribusinya kurang menonjol atau berpengaruh terhadap perkembangan alur cerita. Tokoh tambahan berperan sebagai pelengkap dalam cerita yang biasanya hanya muncul sesekali saja. Tokoh tambahan dibutuhkan untuk membangun suasana cerita yang lebih nyata.

b. Tokoh Berdasarkan Perannya

Selain diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, tokoh juga dikelompokkan berdasarkan perannya masing-masing. Penokohan ini dibagi menjadi tiga jenis sebagai berikut:

 1) Tokoh protagonis: Tokoh yang memiliki tujuan agar tercapainya suatu cerita sesuai dengan tema atau amanat pengarang. Tokoh ini umumnya memiliki karakter yang baik sehingga disenangi pembaca.

 2) Tokoh antagonis: Tokoh yang menentang tokoh protagonis. Hal ini dilakukan agar tujuan dari tokoh protagonis tidak tercapai. Tokoh ini umumnya identik dengan sifatnya yang bertolak belakang dengan tokoh protagonis.

 3) Tokoh tritagonis: Tokoh yang menjadi pendukung atau penengah antara tokoh protagonis dan antagonis.

c. Tokoh Berdasarkan Dimensi Watak

Setiap tokoh memiliki karakter atau watak, seperti baik atau buruk. Watak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku budi pekerti, serta tabiat. Watak atau karakter tokoh dapat dilihat melalui tiga dimensi sebagai berikut:

 1) Dimensi fisik: Ciri tokoh yang berkaitan dengan jenis kelamin, usia, bentuk tubuh, raut wajah, ras, dan bagian fisik lainnya.

 2) Dimensi sosial: Ciri tokoh dari hubungan sosial antartokoh, seperti pekerjaan, jabatan, kelas sosial, suku bangsa, agama, ideologi, dan unsur sosial lainnya.

 3) Dimensi psikis: Ciri tokoh dari aspek psikisnya, seperti kesukaan, kegemaran, emosional, ambisi, moral, dan sebagainya.

2. Plot

Plot merupakan rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan kausalitas (sebab-akibat) sehingga menjadi cerita yang utuh. Plot dalam teks hikayat terdiri dari lima tahap (secara umum digambarkan dalam bagan alir). Setiap tahapnya memiliki fungsi tertentu dalam membangun dinamika cerita. Perhatikan bagan alir berikut:

  a. Abstrak: Inti atau rangkaian cerita yang dikembangkan.

  b. Orientasi: Latar, tokoh, dan awal mula cerita.

  c. Komplikasi: Masalah mulai muncul.

  d. Evaluasi: Tahap penyelesaian konflik.

  e. Resolusi: Penyelesaian konflik dengan solusi atas permasalahan yang telah terjadi.

  f. Koda: Simpulan, pesan, atau amanat yang ingin disampaikan pengarang.

3. Nilai-Nilai dalam Hikayat

Hikayat tidak hanya bertujuan memberikan hiburan bagi pembaca, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai yang dapat direalisasikan di kehidupan pembaca. Beberapa nilai yang umum terdapat dalam hikayat adalah sebagai berikut:

 a. Nilai budaya: Adat istiadat yang ada di masyarakat.

 b. Nilai moral: Kebenaran, kejujuran, dan ajaran kebaikan lainnya.

 c. Nilai agama: Hubungan antarmanusia dan ketuhanan.

 d. Nilai pendidikan: Suatu ajaran yang bernilai luhur dan dapat dijadikan pedoman hidup.

 e. Nilai sosial: Norma yang ada di masyarakat.


Latihan Soal & Pembahasan

Soal 1 (Pilihan Ganda)

Raja Indra Buana adalah seorang pemimpin bijaksana yang dihormati oleh rakyatnya. Ia memiliki paras tampan, gagah, serta berumur 40 tahun. Berdasarkan kutipan tersebut, deskripsi fisik dan usia Raja Indra Buana tergolong dalam penokohan dimensi...

a. Dimensi Sosial

b. Dimensi Psikis

c. Dimensi Fisik

d. Dimensi Moral

e. Dimensi Koda

 Kunci Jawaban: C. Dimensi Fisik

 Pembahasan: Dimensi fisik berkaitan dengan ciri-ciri tubuh, raut wajah, jenis kelamin, dan usia tokoh.

Soal 2 (Esai Singkat)

Sebutkan dan jelaskan tahapan alur (plot) pada hikayat yang berisi inti/kesimpulan pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca!

 Kunci Jawaban:

Koda. Koda adalah tahap alur terakhir yang memuat simpulan, pesan, atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.

Materi Pelajaran Bahasa Indonesia "Hikayat" kelas X

Pengertian Hikayat

Hikayat berasal dari bahasa Arab, yaitu haka yang artinya cerita atau kisah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hikayat merupakan karya sastra lama Melayu yang berbentuk prosa berisi cerita, undang-undang, dan silsilah, yang bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografi, atau gabungan, yang dapat dibaca sebagai pelipur lara, pembangkit semangat, atau sekadar meramaikan pesta. Cerita dalam hikayat berkenaan dengan para dewa, pangeran atau putri, dan terdapat unsur kekuatan yang imajinatif. Sekarang, bacalah dengan saksama teks hikayat berikut.

1. Karakteristik Teks Hikayat

Teks hikayat memiliki tujuh karakteristik sebagai berikut:

 a. Kemustahilan: Isi cerita dalam hikayat tidak dapat diterima oleh nalar.

 b. Kesaktian: Cerita dalam hikayat terdapat unsur kekuatan, baik fisik atau magis, yang masih dapat diterima pembaca.

 c. Anonim: Tidak diketahui jelas siapa pencipta atau pengarangnya.

 d. Istana sentris: Teks hikayat banyak mengangkat tema, latar belakang, serta tokoh dan penokohan kerajaan.

 e. Bahasa: Teks hikayat menggunakan bahasa Melayu Klasik.

 f. Arkais: Teks hikayat menggunakan kosakata kuno yang sudah jarang dipakai.

 g. Didaktis: Teks hikayat ditujukan untuk memberikan pelajaran moral kepada pembacanya.

2. Jenis Teks Hikayat

Hikayat dapat dikelompokkan berdasarkan pengaruh budaya asing dan isi ceritanya.

a. Teks Hikayat Berdasarkan Pengaruh Asing

Terdapat empat jenis hikayat yang dipengaruhi oleh suatu bangsa atau budaya asing:

 1). Bangsa Melayu: Secara umum, pengaruh budaya Melayu membuat hikayat kental dengan unsur agama Islam.

 2). Bangsa India: Bangsa India memengaruhi banyak hikayat dengan menyiratkan unsur-unsur agama Hindu di dalamnya.

 3). Bangsa Jawa: Bangsa Jawa mengikuti jejak India dan Arab, yang menjadikan hikayat sebagai media penyebaran ajaran agama dan dibuktikan dengan kemiripan sifat, tokoh, dan alur dalam hikayat.

 4). Bangsa Arab-Persia: Dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam, bangsa Arab-Persia menjadikan hikayat sebagai media untuk menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam.

b. Teks Hikayat Berdasarkan Isi

Berdasarkan isinya, hikayat dapat diklasifikasikan ke dalam lima jenis sebagai berikut:

 1). Sejarah: Hikayat berkisah tentang tokoh atau kejadian bersejarah. Hikayat merupakan cerita yang bersifat fiksi, tetapi kisah sejarah di dalamnya dapat dikaitkan pada suatu masa tertentu.

 2). Biografi: Hikayat yang berkisah tentang seorang tokoh. Tokoh dalam hikayat biografi ini dapat diambil dari tokoh nyata atau fiksi.

 3). Agama: Hikayat yang berkisah tentang tokoh agama, peristiwa dalam agama, dan nilai-nilai ajaran dalam suatu agama.

 4).  Peristiwa: Hikayat yang berkisah tentang peristiwa besar dan pernah terjadi, tetapi ceritanya didramatisasi dengan keajaiban dan mukjizat.

 5). Cerita: Hikayat yang berkisah tentang tema yang diangkat, terutama tentang romansa.


Latihan Soal & Pembahasan

Soal 1 (Pilihan Ganda)

Perhatikan kutipan teks berikut!

 "Maka Syah Peri pun berjalanlah mencari saudaranya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seekor garuda raksasa yang sedang memangku gunung. Syah Peri lalu mencabut pedangnya dan memotong gunung tersebut menjadi dua."

Karakteristik hikayat yang dominan dalam kutipan teks di atas adalah...

a. Istanasentris

b. Anonim

c. Kemustahilan dan Kesaktian

d. Didaktis

e. Pengaruh Bangsa Jawa

 Kunci Jawaban: C. Kemustahilan dan Kesaktian

  Pembahasan: Adegan memangku gunung dan memotong gunung menjadi dua menggunakan pedang merupakan hal yang tidak masuk akal (kemustahilan) dan menunjukkan kekuatan super/magis tokoh (kesaktian).

Soal 2 (Esai Singkat)

Sebutkan dan jelaskan 4 pembagian jenis hikayat berdasarkan pengaruh budaya asing!

  Kunci Jawaban:

   1. Melayu: Kental dengan unsur agama Islam.

   2. India: Menyiratkan unsur-unsur agama Hindu.

   3. Jawa: Dipengaruhi budaya Jawa, India, dan Arab sebagai media penyebaran ajaran agama melalui kemiripan alur dan tokoh.

   4. Arab-Persia: Berasal dari bangsa

 Arab-Persia untuk menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Riya Sinir dan Dara Hitam

          Pada zaman dahulu kala, ketika hutan Kalimantan masih membentang luas tanpa terputus, hiduplah seorang pemuda bernama Riya Sinir. Ia dikenal sebagai Bujang Nyangko, seorang pemuda yang gagah, tangkas, dan pandai menggunakan sumpit. Ia tinggal di wilayah Kerajaan Landak bersama keluarganya.

Pada masa itu, hutan bukan sekadar tempat untuk berburu atau mengambil hasil bumi. Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan bagian penting dari kehidupan. Di dalamnya terdapat sungai, pohon-pohon tua, berbagai jenis hewan, tumbuhan obat, serta tempat-tempat yang dipercaya memiliki penjaga gaib.

Para tetua selalu mengajarkan satu pesan kepada anak-anak mereka.

"Jika engkau memasuki hutan, jangan hanya membawa senjata. Bawalah pula adab."

Mereka dilarang berkata sombong, mencela, mengotori tempat yang dianggap keramat, mengambil sesuatu secara berlebihan, atau mengucapkan perkataan kotor dan cabul. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat, hutan memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.

Riya Sinir memahami nasihat tersebut. Namun, sebagai pemuda yang gagah dan terbiasa menjelajah hutan, terkadang keberaniannya membuatnya lupa bahwa hutan bukanlah milik manusia seorang.

Pada suatu pagi, ibunya meminta Riya Sinir pergi ke hutan untuk mencari burung enggang.

"Anakku," kata ibunya, "carilah kulit salai burung enggang. Namun, ingat pesan orang-orang tua. Jangan merusak hutan. Ambillah seperlunya dan pulanglah sebelum hari gelap."

Riya Sinir mengangguk.

"Baik, Ibu."

Ia mengambil sumpit dan berangkat menuju rimba.

Hutan pagi itu tampak indah. Kabut tipis bergantung di antara batang-batang pohon. Suara burung terdengar dari kejauhan. Sungai mengalir di antara akar-akar besar, sementara cahaya matahari menembus celah dedaunan.

Semakin jauh Riya Sinir berjalan, semakin sunyi keadaan di sekelilingnya.

Tidak ada lagi suara manusia.

Hanya suara daun yang bergesekan dan suara burung yang sesekali terdengar.

Setelah berjalan cukup lama, Riya Sinir melihat seekor burung enggang bertengger di atas pohon tua. Ia segera mengambil sumpit.

Namun, sebelum meniup sumpit, ia mendengar suara seperti bisikan.

"Jangan..."

Riya Sinir menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menganggap suara itu hanya suara angin.

Kemudian, ia meniup sumpitnya.

Burung enggang terkena dan terbang menjauh. Riya Sinir mengejarnya sampai ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.

Di sana berdiri sebuah pohon besar yang batangnya begitu lebar. Akar-akarnya menjalar seperti ular raksasa. Di bawah pohon terdapat batu-batu tua yang tersusun menyerupai tempat persembahan.

Riya Sinir berhenti.

Ia teringat pesan para tetua.

Jangan mengganggu tempat yang tidak dikenal.

Namun, rasa ingin tahunya mengalahkan kehati-hatian.

"Ah, hanya batu tua," gumamnya.

Ia tertawa kecil.

"Mana mungkin ada yang menjaga tempat seperti ini?"

Tiba-tiba angin berhenti.

Hutan menjadi sunyi.

Burung-burung yang sejak tadi berkicau mendadak diam.

Riya Sinir merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ia hendak pergi ketika terdengar suara perempuan dari balik pohon.

"Jangan berkata takabur di dalam hutan."

Riya Sinir membeku.

"Siapa di sana?"

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara langkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Langkah itu semakin dekat.

Riya Sinir menggenggam sumpitnya erat-erat.

Dari balik pohon muncullah seorang gadis.

Wajahnya sangat pucat. Rambutnya panjang dan hitam hingga menyentuh tanah. Pakaiannya menyerupai pakaian perempuan dari masa lampau.

Riya Sinir terkejut.

"Dara Hitam?"

Gadis itu memandangnya.

Benar. Gadis itu adalah Dara Hitam, perempuan yang pernah ditemuinya di Tembawang Selipat.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Wajah Dara Hitam tampak muram.

"Riya Sinir," katanya perlahan, "mengapa engkau datang ke tempat ini?"

"Aku mengejar burung enggang."

Dara Hitam memandang burung yang terluka.

"Ambillah jika memang diperlukan. Tetapi jangan lebih dari yang engkau perlukan."

Riya Sinir mengangguk.

Dara Hitam kemudian menunjuk batu-batu tua di bawah pohon.

"Tempat ini jangan diganggu. Ini adalah tempat yang dihormati oleh orang-orang terdahulu."

Riya Sinir kembali mengangguk.

Namun, di belakang Dara Hitam, ia melihat beberapa benda tua yang tampak berkilauan.

Rasa ingin tahunya muncul.

"Apa itu?"

"Jangan disentuh."

"Kenapa?"

"Karena bukan milikmu."

Riya Sinir diam.

Dara Hitam kemudian berkata,

"Dan satu lagi. Jangan berkata kotor di tempat ini. Jangan mencela, jangan menghina, dan jangan menantang apa yang tidak engkau pahami."

Riya Sinir mulai merasa tidak nyaman.

"Aku mengerti."

Dara Hitam menatapnya cukup lama.

"Benarkah?"

Sebelum Riya Sinir menjawab, tiba-tiba terdengar suara burung yang sangat keras dari atas pohon.

"KRAAAK!"

Riya Sinir terkejut dan mundur.

Ketika kembali menatap ke depan, Dara Hitam sudah menghilang.

Hanya kabut yang tersisa.

Riya Sinir bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Namun, ketika ia berjalan, ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya.

Krek...

Krek...

Suara ranting patah terdengar dari belakang.

Ia menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia mempercepat langkah.

Krek...

Krek...

Suara itu kembali terdengar.

Kali ini lebih dekat.

Riya Sinir mulai berlari.

Sampai akhirnya ia keluar dari kawasan hutan tua tersebut.

Ia menarik napas panjang.

"Syukurlah..."

Namun, sejak hari itu, kehidupan Riya Sinir berubah.

Setiap malam ia mendengar suara burung enggang dari kejauhan.

"KRAAAK..."

"KRAAAK..."

Padahal, rumahnya jauh dari hutan.

Kadang-kadang ia juga mendengar suara perempuan memanggil namanya.

"Riya Sinir..."

"Riya Sinir..."

Ketika ia membuka pintu, tidak ada siapa-siapa.

Kejadian itu berlangsung selama beberapa malam.

Kemudian, Riya Sinir kembali pergi ke hutan bersama beberapa pemuda.

Ia menceritakan kejadian yang dialaminya. Namun, beberapa pemuda justru menertawakannya.

"Jangan takut kepada cerita orang tua," kata salah seorang dari mereka.

"Benar!" sahut yang lain. "Kita adalah manusia. Hutan tidak akan melakukan apa-apa."

Mereka kemudian tertawa.

Salah seorang dari mereka bahkan mengucapkan perkataan kasar dan cabul untuk mengejek kepercayaan masyarakat.

Riya Sinir merasa tidak nyaman.

"Sudahlah. Jangan bicara seperti itu."

Namun, teman-temannya tidak menghiraukannya.

Mereka terus berjalan semakin jauh.

Tanpa disadari, mereka telah memasuki kawasan hutan tua yang dahulu didatangi Riya Sinir.

Begitu memasuki tempat itu, suasana berubah.

Angin berhenti.

Daun-daun diam.

Suara binatang menghilang.

Salah seorang pemuda tertawa.

"Di mana penjaganya? Kalau memang ada, keluarlah!"

Sesaat tidak terjadi apa-apa.

Kemudian terdengar suara dari dalam hutan.

"Kembalilah..."

Semua pemuda terdiam.

Suara itu terdengar lagi.

"Kembalilah..."

Namun, salah seorang pemuda malah menantang.

Ia berkata dengan sombong bahwa dirinya tidak takut kepada apa pun.

Tiba-tiba pohon-pohon di sekeliling mereka berguncang keras.

Bukan karena angin.

Seolah-olah seluruh hutan sedang bergerak.

Mereka panik dan berusaha mencari jalan pulang.

Tetapi, jalan yang tadi mereka lalui sudah tidak terlihat.

Mereka berjalan ke kiri.

Kembali ke tempat yang sama.

Berjalan ke kanan.

Kembali ke tempat yang sama.

Hari mulai gelap.

Ketakutan semakin menjadi-jadi.

Lalu terdengar suara tangisan perempuan dari kejauhan.

"Riya Sinir..."

Riya Sinir mengenali suara itu.

"Dara Hitam!"

Ia berlari menuju sumber suara.

Di antara pepohonan, ia melihat Dara Hitam berdiri di dekat sungai.

Namun, wajahnya sangat sedih.

"Riya Sinir," katanya, "aku sudah memperingatkanmu."

"Apa yang terjadi?"

"Kalian telah memasuki tempat yang harus dihormati. Kalian membawa kesombongan ke dalam hutan. Kalian berkata kasar dan cabul. Kalian menertawakan adat yang diwariskan leluhur."

Riya Sinir menundukkan kepala.

"Apa yang harus kami lakukan?"

"Jangan melawan hutan. Jangan menantangnya. Pulanglah dengan rendah hati."

Riya Sinir mengajak teman-temannya mengikuti Dara Hitam.

Mereka berjalan dalam diam.

Tidak seorang pun berani berkata-kata.

Akhirnya, mereka menemukan jalan keluar.

Namun, tragedi telah terjadi.

Salah seorang pemuda tidak pernah berhasil keluar dari hutan.

Ia ditemukan beberapa hari kemudian di dekat sebuah pohon tua. Tidak ada luka pada tubuhnya, tetapi wajahnya menunjukkan ketakutan yang mendalam.

Sejak kejadian itu, masyarakat semakin memperhatikan nasihat para tetua.

Mereka tidak lagi memasuki kawasan hutan tua tanpa alasan.

Mereka mengajarkan kepada anak-anak bahwa hutan bukan tempat untuk berbuat sesuka hati.

Hutan harus dijaga.

Pohon tidak boleh ditebang sembarangan.

Sungai tidak boleh dikotori.

Hewan tidak boleh diburu secara berlebihan.

Tempat-tempat yang dihormati oleh leluhur harus dijaga.

Dan yang paling penting, siapa pun yang masuk ke hutan harus menjaga perkataan dan perilakunya.

Riya Sinir sendiri tidak pernah melupakan kejadian tersebut.

Ia menyadari bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan manusia tentang alam juga memiliki batas. Karena itu, manusia harus belajar menghormati sesuatu yang belum dipahaminya.

Konon, setelah kejadian itu, Riya Sinir dan Dara Hitam semakin jarang bertemu. Namun, setiap kali Riya Sinir berada di tepi hutan, ia selalu teringat kepada Dara Hitam.

Pada suatu senja, ketika kabut mulai turun, ia mendengar suara burung enggang dari dalam rimba.

"KRAAAK..."

Riya Sinir berdiri dan memandang ke arah hutan.

Di antara pepohonan, ia melihat sosok Dara Hitam untuk terakhir kalinya.

Perempuan itu tersenyum tipis.

Kemudian, tubuhnya perlahan menghilang bersama kabut.

Sejak saat itu, Riya Sinir tidak pernah lagi melihatnya.

Masyarakat kemudian mewariskan kisah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mereka percaya bahwa kisah Riya Sinir dan Dara Hitam bukan sekadar cerita tentang hantu atau kejadian gaib. Di balik kengerian dan tragedi itu terdapat peringatan agar manusia tidak merasa menjadi penguasa mutlak atas alam.

Hutan memberikan kehidupan kepada manusia, tetapi manusia juga memiliki kewajiban untuk menjaganya.

Jangan menebang pohon tanpa alasan.

Jangan membuang sampah ke sungai.

Jangan memburu satwa secara berlebihan.

Jangan merusak tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Jangan meremehkan adat dan nasihat orang-orang tua.

Dan ketika berada di hutan, jagalah ucapan.

Tidak semua tempat pantas dijadikan tempat bercanda. Tidak semua hal boleh diucapkan dengan sembarangan. Perkataan yang takabur dapat membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari alam. Perkataan cabul dan kasar juga tidak pantas dilontarkan di sembarang tempat, terlebih di kawasan yang dihormati oleh masyarakat.

Sebab, hutan memiliki kehidupan yang harus dihargai.

Generasi muda hendaknya memahami bahwa menjaga hutan bukan hanya berarti menjaga pohon. Menjaga hutan berarti menjaga sungai, tanah, satwa, tumbuhan, budaya, adat, dan pengetahuan leluhur yang hidup bersamanya.

Begitulah kisah Riya Sinir dan Dara Hitam yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Benar atau tidaknya segala kejadian gaib dalam kisah tersebut, pesan yang diwariskannya tetap penting:

Jika memasuki hutan, datanglah dengan rendah hati. Jika mengambil sesuatu, ambillah seperlunya. Jika berbicara, jagalah kata-kata. Jika hidup bersama alam, jangan merusaknya. Dan jika adat mengajarkan penghormatan terhadap alam, janganlah menganggapnya sebagai sesuatu yang patut ditertawakan.

Sebab, ketika hutan telah rusak, bukan hanya pohon yang hilang. Sungai dapat mengering, satwa kehilangan tempat tinggal, adat perlahan terlupakan, dan generasi yang akan datang kehilangan warisan yang seharusnya mereka terima.

Dan mungkin, seperti pesan terakhir Dara Hitam kepada Riya Sinir, manusia baru akan memahami pentingnya menjaga hutan setelah sesuatu yang berharga telah pergi untuk selama-lamanya.

 

Cerita Rakyat Singkawang: Antu Pugohok Tungkatn Nek Nongan, Karya Hendrasius, S.Pd. Gr.

 

Cerita ini berasal dari Kampung Pakunam, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat. Cerita ini telah diikutsertakan pada lomba menulis bahan bacaan tingkat SMA se-Kalimantan Barat tahun 2019

Alkisah ada seorang nenek bernama Nek Nongan. Ia tergolong Awo Pammo (Makhluk Halus) yang tinggal di bulan, namun sesekali waktu berkeliaran ke alam manusia. Kala itu, taino (manusia) dan hantu hidup babaikotn (bersahabat). Mereka hidup saling tolong menolong, meski memiliki alam yang berbeda.

Nek Nongan memiliki kaki yang panjang, bongkok, rambutnya putih, jari tangannya berjumlah sebelas dengan kuku-kuku yang tajam. Ia gemar nyirih dan nginang, yaitu mengunyah daun sirih yang dicampur dengan pinang, kapur dan gambir layaknya nenek-nenek tua di alam manusia.

Ia mempunyai sebuah tungkatn (tongkat) yang selalu dibawa pada saat bulan purnama ataupun gerhana bulan. Ia turun ke bumi dengan tongkat itu, untuk mencari benda-benda yang bercahaya.

Suatu hari di Bantang Pakunam tersiar kabar, jika malam bulan purnama akan tiba. Purnama yang jatuh pada bulan keempat dalam sistem penanggalan subsuku Dayak Salako Garantukng Sakawokng,[1] atau bulan lima pada penanggalan Masehi. Waktu tersebut merupakaan saat bagi Nek Nongan untuk turun dan berkeliling ke Taino (Alam manusia).

Kabar kedatangan Nek Nongan ke dunia manusia, tersiar ke seluruh kampung. Hal ini membuat warga bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya dengan ritual. Ritual dilakukan sehari sebelum datangnya bulan purnama. Ritual dilakukan agar Nek Nongan tidak mengganggu warga yang ada di bantang (rumah).

Ucap warga bernama Nek Tarukupm, "Ando gek kitok nangar barito, kadek Nek Nongan mok atokngok?" (Apakah kalian ada mendengar kabar, jika Nek Nongan akan datang?)

Jawab Nek Gonde, "Auk gek. Aku i-nok nahuik kè. Kadek jako, ampagi jeklah dirik basiapm-siapm book. Babo dangan ampus ka Padagi." (Iyakah, Kok saya tidak tahu. Kalau benar begitu, ayo besok pagi kita mempersiapkan ritual besam-sam[2]. Ajak orang-orang pergi ke tempat pemujaan.)

Ujar Nek Tarukupm,"Oh auklah, ame kaupootn kitok matakik nang laine bouh." (Oh iyalah, jangan lupa mengabari yang lainnya.)

Mendengar kabar tersebut, warga bergegas menyiapkan berbagai bahan ritual booķ. Mereka bersama-sama mempersiapkan bahan sesajian yang akan dibawa ke Padagi. Padagi merupakan tempat pemujaan yang berada di atas gunung. Gunung dipilih sebagai tempat pemujaan, karena jaraknya dekat dengan langit. Di atas langit ada Matahari dan Bulan. Di sana juga ada Jubato yang akan melihat, mendengar, dan berbicara kepada manusia.

Berkatalah Nek Ayok, "Kitok arus ngomo'an sagale parabutn boh. Parabutn-parabutn anyian kitok gagouk ka dopm utotn." (Kalian harus mengumpulkan segala bahan keperluan ritual. Semua keperluan itu harus dicari di dalam hutan.)

Sahut Nek Jamang, "Dameo ajok parabutn nang mok kami siapotnok kowo?" (Apa saja bahan keperluan yang harus kami persiapkan?)

Kata Nek Ayouk, "Dangar bouh, anyian parabutn nang arus kitok siapotn: ui dodokng, daukng tumiang, daukng i-nyarupm, tabo-òkng, daukng inyuokng, daukng jarikng, paku, saputn putih. Abu gak e kitok siapotn, i-paamas ka dopm pingotn ato gek kadutn. Gonenganik sagale parabutn kowo ka gapakng pintu. Ame kaupootn aik panawar nang i-ngicok dai padagi kowo sak nawarik nyo oo. Akok angko siapotn gak ee paantarotn kadopm pingotn nang isik e karakek, pinang, gamer, kapur, timako i golong ngan daukng nipoh, paku, baras diisinsik ka pingotn ko tai. Sagale timako nang i-golong kowo i-tohanik ka atas baras kowo ba paku. Ame kaupootn ngamuat tumpik, poek ngan bontouk."

(Dengarlah baik-baik, inilah bahan keperluan ritual yang harus kalian siapkan: rotan hutan, daun bambu tamiang, daun i-nyarupm, tabo-òkng, daun injuang, daun jengkol, paku, kain putih. Kalian juga harus menyediakan abu yang dimasukkan ke dalam piring atau bungkusan kain  kecil, gantung semua bahan tersebut di palang pintu. Jangan lupa air penawar yang telah diambil dari tempat penyembahan sebagai air penawar. Selain itu siapkan juga sesajian yang berisi sirih, pinang, gambir, kapur, tembakau yang digulung dengan daun nipah, paku, beras disi didalam piring tersebut. Semua tembakau yang telah digulung bersama daun nipah ditaruh di atas beras bersama paku. Jangan lupa membuat kue cucur, lemang tradisional, dan kue nasi lepet.)

Setelah mendengar arahan yang disampaikan, merekapun bergegas menyiapkan segala kebutuhan. Mereka bergotong-royong pergi ke  hutan, mencari tanaman dan beberapa kebutuhan ritual. Ada pula yang berada di rumah membuat makanan adat dan masakan yang akan di sajikan selama ritual berlangsung. Semua kegiatan dilakukan dengan semangat.

Saat yang ditunggupun tiba; Warga memagari rumah masing-masing dengan ui dodokng (rotan hutan), dan menggantung beberapa alat peraga adat di depan rumah. Mereka melarang anak-anaknya untuk keluar dari rumah, baik siang ataupun malam. Selain itu, anak-anak juga diingatkan agar tidak membuat kegaduhan di dalam rumah, selama tiga hari dua malam. Mereka mengunci rapat pintu rumah, agar tidak ada yang masuk ataupun keluar.

Selama ritual booķ dilaksanakan, Nek Nongan berkeliling di sekitar rumah. Ia akan mengambil benda-benda yang bercahaya ataupun mereka yang berada di luar rumah. Namun, jika ia melihat tanda yang digantung di depan rumah, maka ia akan melewati rumah tersebut. Ia mengira rumah itu sepi, gelap dan tak berpenghuni.

Seorang Ibu berkata pada anaknya, "Namaam buotn tarokng, kitok ame mamain ka uwas. Tēk-tēk Nek Nongan tabanan kitok ka buotn." (Nanti malam bulan bersinar terang, kalian jangan bermain di luar. Kalau-kalau Nek Nongan bawa kalian ke bulan.)

Sahut anaknya,"Auk gek mak? Aku gaik oo kadek jako. Pulak aku gaik ka antu." (Ya kah bu? Aku takut kalau begitu. Karena aku takut dengan hantu.)

Ujar Sang Ayah "Batol sidi ko, jare mamak. Nek Nongan koo pane tarabokng, kamae kitok dariok kadek se gelah boh." (Benar sekali apa yang ibumu katakan.)

Nek Nongan senang kepada benda yang bercahaya. Karena kesenangannya, tak heran jika ia selalu menangkap kunang-kunang yang berterbangan di langit. Selain itu, ia akan mengejar benda-benda yang bercahaya apalagi benda tersebut dapat mengeluarkan sinar kemilauan.

Nek Nongan berjalan mengitari kampung, sambil berkata, “Akú maók ngaguók agík jukutn nang ando baoé. Hihiihiihihi.” (Aku akan mencari lagi sesuatu yang ada cahayanya. Hihiihiihihi.)

Nek Nongan memang makhluk halus yang sakti. Dengan sekejap mata, ia telah berada di tengah perkampungan.

Tak jauh dari situ, ada satu keluarga. Nek Tanggurakng itulah kepala keluarganya. Ia memiliki seorang anak gadis yang masih perawan. Rumahnya terlihat gelap dan sepi. Nek Nongan hanya melihat tali rotan yang terikat di depan rumah. Iapun tidak masuk ke dalam, hanya berkeliling di sekitarnya saja.

Hal aneh terjadi pada anak gadis itu. Ia merasakan perutnya sakit. Lalu berkata pada ibunya, “Adék ooo mak, parutku nyian sakit sidì.” (Aduh bu, perutku sakit sekali.)

Jawab ibunya, "Dameo nak? Parutngu sakit gek? Cobo gih nyocokng aik garopm ka dapur." (Ada apa nak? Perutmu sakit? Cobalah minum air garam ke dapur.)

Ia berkata lagi, "Aku dah i-nok tahan mak a. Aku mok barihook." (Aku sudah tidak tahan bu. Aku ingin buang air besar.)

Ujar sang ibu, “Kadek jako, kau ampus ajok ka dopm utotn naun gih, barihok dohok.”(Kalau begitu, kamu pergi saja ke hutan, buang air besar dulu.)

Karena merasa sudah tidak mampu menahan, iapun buru-buru mengambil obor dan pergi menuju hutan. Di sana, ia mencari tempat yang tepat untuk buang air besar. Dengan tangan memegang obor, Iapun duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun.

Ujar gadis itu, “Adenek, puhutn kayu nyian tang kayouk sidi, ando gek auk barampuk o-sio? Maap bouh nek kadek aku ngotorik tampat kitok anyian, barang jok aku dah i-nok tahan sidi.” (Aduh, pohon ini besar sekali, adakah penunggunya di sini? maafkan aku jika telah membuat kotor tempat ini, karna aku sudah tidak mampu menahan rasa sakit perutku.)

Tiba-tiba Nek Nongan melihat seberkas cahaya dari kejauhan. Iapun berkata, “Hi, hi, hi.... Kodéh ando ba báo búotn.” (Hihhiihii.... Itu ada cahaya bulan.)

Iapun mendatangi sumber cahaya yang tak lain adalah obor sang gadis.

Tanpa disadari oleh sang gadis, Nek Nongan sambil memegang tongkat sudah berada tidak jauh dari hadapannya. Melihat cahaya yang terang benderang, Nek Nongan tertawa keras sambil mengetuk-ngetukkan tongkotnya ke tanah sambil tertawa, “Hihihihi.... Kodeh bao buotn, sidi nang anyian bao buotn. Aku maok nangkapok iyo.” (Hihihiihihiihi.... Itu cahaya bulan, benar-benar ini cahaya bulan. Aku mau menangkapnya.)

Terdengar bunyi tongkat Nek Nongan, “Tunk hak, tunk hak, tunk hak.” (tung hak tung hak, tung hak.)

Bunyi tersebut, membuat bulu kuduk Sang Gadis merinding. Ujar gadis itu sambil ketakutan, “Adanok, munyi ameo kowo. Adek adah, angkowokan munyí antu.”

(Aduh, suara apa itu. Ya ampun, itukan suara hantu.)

Tiba-tiba Nek Nongan mengarahkan tongkatnya ke arah obor, dan mengenai obor itu. Dia sangat terkejut, saat melihat seorang nenek tua berada di depannya. Iapun berteriak, “Antuuuu.” (Hantuuuu).

Ujar Sang Gadis, “O Nek, Dameo kitok nyojo colopku nyian? Ameo salohku ka kitok? tang kitok jako magaiik aku.” (Hai nenek, Mengapa nenek menusuk oborku? Apa salahku kepadamu? kenapa nenek menakutiku.)

Lalu Nek Nongan pun berkata kepada gadis itu, “Aku Nek Nongan. Aku agik bagagouk jukutn nang ba bao.” (Saya Nek Nongan. Saya mencari benda yang bercahaya.)

Diapun langsung menunjuk ke arah obor yang ada di tangan Sang Gadis. Seketika itu, Sang Gadis meniup obornya, lalu berseru, “Antu Pugohok, antu Pugohok kodeh nangkapok aku.” (Hantu Pugohok, ada hantu Pugohok ingin menangkapku.)

Gadis itu lari ketakutan untuk menyelamatkan diri sambil memegang sebuah obor yang telah padam. Nek Nongan dengan tongkatnya berusaha mengejar, namun gagal. Akhirnya gadis itu selamat hingga sampai ke rumah.

Sejak kejadian yang dialami oleh sang gadis, penduduk dikampung itu tidak lagi mengijinkan anak perempuannya untuk keluar pada malam hari, terutama pada saat bulan purnama. Mereka takut jika mereka kelauar maka akan ditangkap oleh Nek Nongan.

Selain itu, mereka juga tidak lagi membuang hajat di sembarangan tempat karena telah bisa membuat johotn (kakus) di dekat bantang-bantang mereka. Hal ini dimaksudkan, agar tidak terjadi hal buruk terhadap anggota keluarga mereka, terutama pada saat akan membuang hajat pada malam hari.

Tamat

 



[1]) Subsuku  Dayak berbahasa Badameo di wilayah Singkawang.

[2]) Ritual pada subsuku Dayak Salako Garantukng Sakawokng.

Cerpen Tisu di Persimpangan Jalan

Pagi itu, suasana kamar Victorinus Andi masih diselimuti hening. Jarum jam dinding kamarnya terus berputar tanpa kompromi, sementara ia masi...