Sabtu, 03 Oktober 2026

Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Riya Sinir dan Dara Hitam

          Pada zaman dahulu kala, ketika hutan Kalimantan masih membentang luas tanpa terputus, hiduplah seorang pemuda bernama Riya Sinir. Ia dikenal sebagai Bujang Nyangko, seorang pemuda yang gagah, tangkas, dan pandai menggunakan sumpit. Ia tinggal di wilayah Kerajaan Landak bersama keluarganya.

Pada masa itu, hutan bukan sekadar tempat untuk berburu atau mengambil hasil bumi. Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan bagian penting dari kehidupan. Di dalamnya terdapat sungai, pohon-pohon tua, berbagai jenis hewan, tumbuhan obat, serta tempat-tempat yang dipercaya memiliki penjaga gaib.

Para tetua selalu mengajarkan satu pesan kepada anak-anak mereka.

"Jika engkau memasuki hutan, jangan hanya membawa senjata. Bawalah pula adab."

Mereka dilarang berkata sombong, mencela, mengotori tempat yang dianggap keramat, mengambil sesuatu secara berlebihan, atau mengucapkan perkataan kotor dan cabul. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat, hutan memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.

Riya Sinir memahami nasihat tersebut. Namun, sebagai pemuda yang gagah dan terbiasa menjelajah hutan, terkadang keberaniannya membuatnya lupa bahwa hutan bukanlah milik manusia seorang.

Pada suatu pagi, ibunya meminta Riya Sinir pergi ke hutan untuk mencari burung enggang.

"Anakku," kata ibunya, "carilah kulit salai burung enggang. Namun, ingat pesan orang-orang tua. Jangan merusak hutan. Ambillah seperlunya dan pulanglah sebelum hari gelap."

Riya Sinir mengangguk.

"Baik, Ibu."

Ia mengambil sumpit dan berangkat menuju rimba.

Hutan pagi itu tampak indah. Kabut tipis bergantung di antara batang-batang pohon. Suara burung terdengar dari kejauhan. Sungai mengalir di antara akar-akar besar, sementara cahaya matahari menembus celah dedaunan.

Semakin jauh Riya Sinir berjalan, semakin sunyi keadaan di sekelilingnya.

Tidak ada lagi suara manusia.

Hanya suara daun yang bergesekan dan suara burung yang sesekali terdengar.

Setelah berjalan cukup lama, Riya Sinir melihat seekor burung enggang bertengger di atas pohon tua. Ia segera mengambil sumpit.

Namun, sebelum meniup sumpit, ia mendengar suara seperti bisikan.

"Jangan..."

Riya Sinir menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menganggap suara itu hanya suara angin.

Kemudian, ia meniup sumpitnya.

Burung enggang terkena dan terbang menjauh. Riya Sinir mengejarnya sampai ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.

Di sana berdiri sebuah pohon besar yang batangnya begitu lebar. Akar-akarnya menjalar seperti ular raksasa. Di bawah pohon terdapat batu-batu tua yang tersusun menyerupai tempat persembahan.

Riya Sinir berhenti.

Ia teringat pesan para tetua.

Jangan mengganggu tempat yang tidak dikenal.

Namun, rasa ingin tahunya mengalahkan kehati-hatian.

"Ah, hanya batu tua," gumamnya.

Ia tertawa kecil.

"Mana mungkin ada yang menjaga tempat seperti ini?"

Tiba-tiba angin berhenti.

Hutan menjadi sunyi.

Burung-burung yang sejak tadi berkicau mendadak diam.

Riya Sinir merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ia hendak pergi ketika terdengar suara perempuan dari balik pohon.

"Jangan berkata takabur di dalam hutan."

Riya Sinir membeku.

"Siapa di sana?"

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara langkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Langkah itu semakin dekat.

Riya Sinir menggenggam sumpitnya erat-erat.

Dari balik pohon muncullah seorang gadis.

Wajahnya sangat pucat. Rambutnya panjang dan hitam hingga menyentuh tanah. Pakaiannya menyerupai pakaian perempuan dari masa lampau.

Riya Sinir terkejut.

"Dara Hitam?"

Gadis itu memandangnya.

Benar. Gadis itu adalah Dara Hitam, perempuan yang pernah ditemuinya di Tembawang Selipat.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Wajah Dara Hitam tampak muram.

"Riya Sinir," katanya perlahan, "mengapa engkau datang ke tempat ini?"

"Aku mengejar burung enggang."

Dara Hitam memandang burung yang terluka.

"Ambillah jika memang diperlukan. Tetapi jangan lebih dari yang engkau perlukan."

Riya Sinir mengangguk.

Dara Hitam kemudian menunjuk batu-batu tua di bawah pohon.

"Tempat ini jangan diganggu. Ini adalah tempat yang dihormati oleh orang-orang terdahulu."

Riya Sinir kembali mengangguk.

Namun, di belakang Dara Hitam, ia melihat beberapa benda tua yang tampak berkilauan.

Rasa ingin tahunya muncul.

"Apa itu?"

"Jangan disentuh."

"Kenapa?"

"Karena bukan milikmu."

Riya Sinir diam.

Dara Hitam kemudian berkata,

"Dan satu lagi. Jangan berkata kotor di tempat ini. Jangan mencela, jangan menghina, dan jangan menantang apa yang tidak engkau pahami."

Riya Sinir mulai merasa tidak nyaman.

"Aku mengerti."

Dara Hitam menatapnya cukup lama.

"Benarkah?"

Sebelum Riya Sinir menjawab, tiba-tiba terdengar suara burung yang sangat keras dari atas pohon.

"KRAAAK!"

Riya Sinir terkejut dan mundur.

Ketika kembali menatap ke depan, Dara Hitam sudah menghilang.

Hanya kabut yang tersisa.

Riya Sinir bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Namun, ketika ia berjalan, ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya.

Krek...

Krek...

Suara ranting patah terdengar dari belakang.

Ia menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia mempercepat langkah.

Krek...

Krek...

Suara itu kembali terdengar.

Kali ini lebih dekat.

Riya Sinir mulai berlari.

Sampai akhirnya ia keluar dari kawasan hutan tua tersebut.

Ia menarik napas panjang.

"Syukurlah..."

Namun, sejak hari itu, kehidupan Riya Sinir berubah.

Setiap malam ia mendengar suara burung enggang dari kejauhan.

"KRAAAK..."

"KRAAAK..."

Padahal, rumahnya jauh dari hutan.

Kadang-kadang ia juga mendengar suara perempuan memanggil namanya.

"Riya Sinir..."

"Riya Sinir..."

Ketika ia membuka pintu, tidak ada siapa-siapa.

Kejadian itu berlangsung selama beberapa malam.

Kemudian, Riya Sinir kembali pergi ke hutan bersama beberapa pemuda.

Ia menceritakan kejadian yang dialaminya. Namun, beberapa pemuda justru menertawakannya.

"Jangan takut kepada cerita orang tua," kata salah seorang dari mereka.

"Benar!" sahut yang lain. "Kita adalah manusia. Hutan tidak akan melakukan apa-apa."

Mereka kemudian tertawa.

Salah seorang dari mereka bahkan mengucapkan perkataan kasar dan cabul untuk mengejek kepercayaan masyarakat.

Riya Sinir merasa tidak nyaman.

"Sudahlah. Jangan bicara seperti itu."

Namun, teman-temannya tidak menghiraukannya.

Mereka terus berjalan semakin jauh.

Tanpa disadari, mereka telah memasuki kawasan hutan tua yang dahulu didatangi Riya Sinir.

Begitu memasuki tempat itu, suasana berubah.

Angin berhenti.

Daun-daun diam.

Suara binatang menghilang.

Salah seorang pemuda tertawa.

"Di mana penjaganya? Kalau memang ada, keluarlah!"

Sesaat tidak terjadi apa-apa.

Kemudian terdengar suara dari dalam hutan.

"Kembalilah..."

Semua pemuda terdiam.

Suara itu terdengar lagi.

"Kembalilah..."

Namun, salah seorang pemuda malah menantang.

Ia berkata dengan sombong bahwa dirinya tidak takut kepada apa pun.

Tiba-tiba pohon-pohon di sekeliling mereka berguncang keras.

Bukan karena angin.

Seolah-olah seluruh hutan sedang bergerak.

Mereka panik dan berusaha mencari jalan pulang.

Tetapi, jalan yang tadi mereka lalui sudah tidak terlihat.

Mereka berjalan ke kiri.

Kembali ke tempat yang sama.

Berjalan ke kanan.

Kembali ke tempat yang sama.

Hari mulai gelap.

Ketakutan semakin menjadi-jadi.

Lalu terdengar suara tangisan perempuan dari kejauhan.

"Riya Sinir..."

Riya Sinir mengenali suara itu.

"Dara Hitam!"

Ia berlari menuju sumber suara.

Di antara pepohonan, ia melihat Dara Hitam berdiri di dekat sungai.

Namun, wajahnya sangat sedih.

"Riya Sinir," katanya, "aku sudah memperingatkanmu."

"Apa yang terjadi?"

"Kalian telah memasuki tempat yang harus dihormati. Kalian membawa kesombongan ke dalam hutan. Kalian berkata kasar dan cabul. Kalian menertawakan adat yang diwariskan leluhur."

Riya Sinir menundukkan kepala.

"Apa yang harus kami lakukan?"

"Jangan melawan hutan. Jangan menantangnya. Pulanglah dengan rendah hati."

Riya Sinir mengajak teman-temannya mengikuti Dara Hitam.

Mereka berjalan dalam diam.

Tidak seorang pun berani berkata-kata.

Akhirnya, mereka menemukan jalan keluar.

Namun, tragedi telah terjadi.

Salah seorang pemuda tidak pernah berhasil keluar dari hutan.

Ia ditemukan beberapa hari kemudian di dekat sebuah pohon tua. Tidak ada luka pada tubuhnya, tetapi wajahnya menunjukkan ketakutan yang mendalam.

Sejak kejadian itu, masyarakat semakin memperhatikan nasihat para tetua.

Mereka tidak lagi memasuki kawasan hutan tua tanpa alasan.

Mereka mengajarkan kepada anak-anak bahwa hutan bukan tempat untuk berbuat sesuka hati.

Hutan harus dijaga.

Pohon tidak boleh ditebang sembarangan.

Sungai tidak boleh dikotori.

Hewan tidak boleh diburu secara berlebihan.

Tempat-tempat yang dihormati oleh leluhur harus dijaga.

Dan yang paling penting, siapa pun yang masuk ke hutan harus menjaga perkataan dan perilakunya.

Riya Sinir sendiri tidak pernah melupakan kejadian tersebut.

Ia menyadari bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan manusia tentang alam juga memiliki batas. Karena itu, manusia harus belajar menghormati sesuatu yang belum dipahaminya.

Konon, setelah kejadian itu, Riya Sinir dan Dara Hitam semakin jarang bertemu. Namun, setiap kali Riya Sinir berada di tepi hutan, ia selalu teringat kepada Dara Hitam.

Pada suatu senja, ketika kabut mulai turun, ia mendengar suara burung enggang dari dalam rimba.

"KRAAAK..."

Riya Sinir berdiri dan memandang ke arah hutan.

Di antara pepohonan, ia melihat sosok Dara Hitam untuk terakhir kalinya.

Perempuan itu tersenyum tipis.

Kemudian, tubuhnya perlahan menghilang bersama kabut.

Sejak saat itu, Riya Sinir tidak pernah lagi melihatnya.

Masyarakat kemudian mewariskan kisah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mereka percaya bahwa kisah Riya Sinir dan Dara Hitam bukan sekadar cerita tentang hantu atau kejadian gaib. Di balik kengerian dan tragedi itu terdapat peringatan agar manusia tidak merasa menjadi penguasa mutlak atas alam.

Hutan memberikan kehidupan kepada manusia, tetapi manusia juga memiliki kewajiban untuk menjaganya.

Jangan menebang pohon tanpa alasan.

Jangan membuang sampah ke sungai.

Jangan memburu satwa secara berlebihan.

Jangan merusak tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Jangan meremehkan adat dan nasihat orang-orang tua.

Dan ketika berada di hutan, jagalah ucapan.

Tidak semua tempat pantas dijadikan tempat bercanda. Tidak semua hal boleh diucapkan dengan sembarangan. Perkataan yang takabur dapat membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari alam. Perkataan cabul dan kasar juga tidak pantas dilontarkan di sembarang tempat, terlebih di kawasan yang dihormati oleh masyarakat.

Sebab, hutan memiliki kehidupan yang harus dihargai.

Generasi muda hendaknya memahami bahwa menjaga hutan bukan hanya berarti menjaga pohon. Menjaga hutan berarti menjaga sungai, tanah, satwa, tumbuhan, budaya, adat, dan pengetahuan leluhur yang hidup bersamanya.

Begitulah kisah Riya Sinir dan Dara Hitam yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Benar atau tidaknya segala kejadian gaib dalam kisah tersebut, pesan yang diwariskannya tetap penting:

Jika memasuki hutan, datanglah dengan rendah hati. Jika mengambil sesuatu, ambillah seperlunya. Jika berbicara, jagalah kata-kata. Jika hidup bersama alam, jangan merusaknya. Dan jika adat mengajarkan penghormatan terhadap alam, janganlah menganggapnya sebagai sesuatu yang patut ditertawakan.

Sebab, ketika hutan telah rusak, bukan hanya pohon yang hilang. Sungai dapat mengering, satwa kehilangan tempat tinggal, adat perlahan terlupakan, dan generasi yang akan datang kehilangan warisan yang seharusnya mereka terima.

Dan mungkin, seperti pesan terakhir Dara Hitam kepada Riya Sinir, manusia baru akan memahami pentingnya menjaga hutan setelah sesuatu yang berharga telah pergi untuk selama-lamanya.

 

Cerita Rakyat Singkawang: Antu Pugohok Tungkatn Nek Nongan, Karya Hendrasius, S.Pd. Gr.

 

Cerita ini berasal dari Kampung Pakunam, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat. Cerita ini telah diikutsertakan pada lomba menulis bahan bacaan tingkat SMA se-Kalimantan Barat tahun 2019

Alkisah ada seorang nenek bernama Nek Nongan. Ia tergolong Awo Pammo (Makhluk Halus) yang tinggal di bulan, namun sesekali waktu berkeliaran ke alam manusia. Kala itu, taino (manusia) dan hantu hidup babaikotn (bersahabat). Mereka hidup saling tolong menolong, meski memiliki alam yang berbeda.

Nek Nongan memiliki kaki yang panjang, bongkok, rambutnya putih, jari tangannya berjumlah sebelas dengan kuku-kuku yang tajam. Ia gemar nyirih dan nginang, yaitu mengunyah daun sirih yang dicampur dengan pinang, kapur dan gambir layaknya nenek-nenek tua di alam manusia.

Ia mempunyai sebuah tungkatn (tongkat) yang selalu dibawa pada saat bulan purnama ataupun gerhana bulan. Ia turun ke bumi dengan tongkat itu, untuk mencari benda-benda yang bercahaya.

Suatu hari di Bantang Pakunam tersiar kabar, jika malam bulan purnama akan tiba. Purnama yang jatuh pada bulan keempat dalam sistem penanggalan subsuku Dayak Salako Garantukng Sakawokng,[1] atau bulan lima pada penanggalan Masehi. Waktu tersebut merupakaan saat bagi Nek Nongan untuk turun dan berkeliling ke Taino (Alam manusia).

Kabar kedatangan Nek Nongan ke dunia manusia, tersiar ke seluruh kampung. Hal ini membuat warga bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya dengan ritual. Ritual dilakukan sehari sebelum datangnya bulan purnama. Ritual dilakukan agar Nek Nongan tidak mengganggu warga yang ada di bantang (rumah).

Ucap warga bernama Nek Tarukupm, "Ando gek kitok nangar barito, kadek Nek Nongan mok atokngok?" (Apakah kalian ada mendengar kabar, jika Nek Nongan akan datang?)

Jawab Nek Gonde, "Auk gek. Aku i-nok nahuik kè. Kadek jako, ampagi jeklah dirik basiapm-siapm book. Babo dangan ampus ka Padagi." (Iyakah, Kok saya tidak tahu. Kalau benar begitu, ayo besok pagi kita mempersiapkan ritual besam-sam[2]. Ajak orang-orang pergi ke tempat pemujaan.)

Ujar Nek Tarukupm,"Oh auklah, ame kaupootn kitok matakik nang laine bouh." (Oh iyalah, jangan lupa mengabari yang lainnya.)

Mendengar kabar tersebut, warga bergegas menyiapkan berbagai bahan ritual booķ. Mereka bersama-sama mempersiapkan bahan sesajian yang akan dibawa ke Padagi. Padagi merupakan tempat pemujaan yang berada di atas gunung. Gunung dipilih sebagai tempat pemujaan, karena jaraknya dekat dengan langit. Di atas langit ada Matahari dan Bulan. Di sana juga ada Jubato yang akan melihat, mendengar, dan berbicara kepada manusia.

Berkatalah Nek Ayok, "Kitok arus ngomo'an sagale parabutn boh. Parabutn-parabutn anyian kitok gagouk ka dopm utotn." (Kalian harus mengumpulkan segala bahan keperluan ritual. Semua keperluan itu harus dicari di dalam hutan.)

Sahut Nek Jamang, "Dameo ajok parabutn nang mok kami siapotnok kowo?" (Apa saja bahan keperluan yang harus kami persiapkan?)

Kata Nek Ayouk, "Dangar bouh, anyian parabutn nang arus kitok siapotn: ui dodokng, daukng tumiang, daukng i-nyarupm, tabo-òkng, daukng inyuokng, daukng jarikng, paku, saputn putih. Abu gak e kitok siapotn, i-paamas ka dopm pingotn ato gek kadutn. Gonenganik sagale parabutn kowo ka gapakng pintu. Ame kaupootn aik panawar nang i-ngicok dai padagi kowo sak nawarik nyo oo. Akok angko siapotn gak ee paantarotn kadopm pingotn nang isik e karakek, pinang, gamer, kapur, timako i golong ngan daukng nipoh, paku, baras diisinsik ka pingotn ko tai. Sagale timako nang i-golong kowo i-tohanik ka atas baras kowo ba paku. Ame kaupootn ngamuat tumpik, poek ngan bontouk."

(Dengarlah baik-baik, inilah bahan keperluan ritual yang harus kalian siapkan: rotan hutan, daun bambu tamiang, daun i-nyarupm, tabo-òkng, daun injuang, daun jengkol, paku, kain putih. Kalian juga harus menyediakan abu yang dimasukkan ke dalam piring atau bungkusan kain  kecil, gantung semua bahan tersebut di palang pintu. Jangan lupa air penawar yang telah diambil dari tempat penyembahan sebagai air penawar. Selain itu siapkan juga sesajian yang berisi sirih, pinang, gambir, kapur, tembakau yang digulung dengan daun nipah, paku, beras disi didalam piring tersebut. Semua tembakau yang telah digulung bersama daun nipah ditaruh di atas beras bersama paku. Jangan lupa membuat kue cucur, lemang tradisional, dan kue nasi lepet.)

Setelah mendengar arahan yang disampaikan, merekapun bergegas menyiapkan segala kebutuhan. Mereka bergotong-royong pergi ke  hutan, mencari tanaman dan beberapa kebutuhan ritual. Ada pula yang berada di rumah membuat makanan adat dan masakan yang akan di sajikan selama ritual berlangsung. Semua kegiatan dilakukan dengan semangat.

Saat yang ditunggupun tiba; Warga memagari rumah masing-masing dengan ui dodokng (rotan hutan), dan menggantung beberapa alat peraga adat di depan rumah. Mereka melarang anak-anaknya untuk keluar dari rumah, baik siang ataupun malam. Selain itu, anak-anak juga diingatkan agar tidak membuat kegaduhan di dalam rumah, selama tiga hari dua malam. Mereka mengunci rapat pintu rumah, agar tidak ada yang masuk ataupun keluar.

Selama ritual booķ dilaksanakan, Nek Nongan berkeliling di sekitar rumah. Ia akan mengambil benda-benda yang bercahaya ataupun mereka yang berada di luar rumah. Namun, jika ia melihat tanda yang digantung di depan rumah, maka ia akan melewati rumah tersebut. Ia mengira rumah itu sepi, gelap dan tak berpenghuni.

Seorang Ibu berkata pada anaknya, "Namaam buotn tarokng, kitok ame mamain ka uwas. Tēk-tēk Nek Nongan tabanan kitok ka buotn." (Nanti malam bulan bersinar terang, kalian jangan bermain di luar. Kalau-kalau Nek Nongan bawa kalian ke bulan.)

Sahut anaknya,"Auk gek mak? Aku gaik oo kadek jako. Pulak aku gaik ka antu." (Ya kah bu? Aku takut kalau begitu. Karena aku takut dengan hantu.)

Ujar Sang Ayah "Batol sidi ko, jare mamak. Nek Nongan koo pane tarabokng, kamae kitok dariok kadek se gelah boh." (Benar sekali apa yang ibumu katakan.)

Nek Nongan senang kepada benda yang bercahaya. Karena kesenangannya, tak heran jika ia selalu menangkap kunang-kunang yang berterbangan di langit. Selain itu, ia akan mengejar benda-benda yang bercahaya apalagi benda tersebut dapat mengeluarkan sinar kemilauan.

Nek Nongan berjalan mengitari kampung, sambil berkata, “Akú maók ngaguók agík jukutn nang ando baoé. Hihiihiihihi.” (Aku akan mencari lagi sesuatu yang ada cahayanya. Hihiihiihihi.)

Nek Nongan memang makhluk halus yang sakti. Dengan sekejap mata, ia telah berada di tengah perkampungan.

Tak jauh dari situ, ada satu keluarga. Nek Tanggurakng itulah kepala keluarganya. Ia memiliki seorang anak gadis yang masih perawan. Rumahnya terlihat gelap dan sepi. Nek Nongan hanya melihat tali rotan yang terikat di depan rumah. Iapun tidak masuk ke dalam, hanya berkeliling di sekitarnya saja.

Hal aneh terjadi pada anak gadis itu. Ia merasakan perutnya sakit. Lalu berkata pada ibunya, “Adék ooo mak, parutku nyian sakit sidì.” (Aduh bu, perutku sakit sekali.)

Jawab ibunya, "Dameo nak? Parutngu sakit gek? Cobo gih nyocokng aik garopm ka dapur." (Ada apa nak? Perutmu sakit? Cobalah minum air garam ke dapur.)

Ia berkata lagi, "Aku dah i-nok tahan mak a. Aku mok barihook." (Aku sudah tidak tahan bu. Aku ingin buang air besar.)

Ujar sang ibu, “Kadek jako, kau ampus ajok ka dopm utotn naun gih, barihok dohok.”(Kalau begitu, kamu pergi saja ke hutan, buang air besar dulu.)

Karena merasa sudah tidak mampu menahan, iapun buru-buru mengambil obor dan pergi menuju hutan. Di sana, ia mencari tempat yang tepat untuk buang air besar. Dengan tangan memegang obor, Iapun duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun.

Ujar gadis itu, “Adenek, puhutn kayu nyian tang kayouk sidi, ando gek auk barampuk o-sio? Maap bouh nek kadek aku ngotorik tampat kitok anyian, barang jok aku dah i-nok tahan sidi.” (Aduh, pohon ini besar sekali, adakah penunggunya di sini? maafkan aku jika telah membuat kotor tempat ini, karna aku sudah tidak mampu menahan rasa sakit perutku.)

Tiba-tiba Nek Nongan melihat seberkas cahaya dari kejauhan. Iapun berkata, “Hi, hi, hi.... Kodéh ando ba báo búotn.” (Hihhiihii.... Itu ada cahaya bulan.)

Iapun mendatangi sumber cahaya yang tak lain adalah obor sang gadis.

Tanpa disadari oleh sang gadis, Nek Nongan sambil memegang tongkat sudah berada tidak jauh dari hadapannya. Melihat cahaya yang terang benderang, Nek Nongan tertawa keras sambil mengetuk-ngetukkan tongkotnya ke tanah sambil tertawa, “Hihihihi.... Kodeh bao buotn, sidi nang anyian bao buotn. Aku maok nangkapok iyo.” (Hihihiihihiihi.... Itu cahaya bulan, benar-benar ini cahaya bulan. Aku mau menangkapnya.)

Terdengar bunyi tongkat Nek Nongan, “Tunk hak, tunk hak, tunk hak.” (tung hak tung hak, tung hak.)

Bunyi tersebut, membuat bulu kuduk Sang Gadis merinding. Ujar gadis itu sambil ketakutan, “Adanok, munyi ameo kowo. Adek adah, angkowokan munyí antu.”

(Aduh, suara apa itu. Ya ampun, itukan suara hantu.)

Tiba-tiba Nek Nongan mengarahkan tongkatnya ke arah obor, dan mengenai obor itu. Dia sangat terkejut, saat melihat seorang nenek tua berada di depannya. Iapun berteriak, “Antuuuu.” (Hantuuuu).

Ujar Sang Gadis, “O Nek, Dameo kitok nyojo colopku nyian? Ameo salohku ka kitok? tang kitok jako magaiik aku.” (Hai nenek, Mengapa nenek menusuk oborku? Apa salahku kepadamu? kenapa nenek menakutiku.)

Lalu Nek Nongan pun berkata kepada gadis itu, “Aku Nek Nongan. Aku agik bagagouk jukutn nang ba bao.” (Saya Nek Nongan. Saya mencari benda yang bercahaya.)

Diapun langsung menunjuk ke arah obor yang ada di tangan Sang Gadis. Seketika itu, Sang Gadis meniup obornya, lalu berseru, “Antu Pugohok, antu Pugohok kodeh nangkapok aku.” (Hantu Pugohok, ada hantu Pugohok ingin menangkapku.)

Gadis itu lari ketakutan untuk menyelamatkan diri sambil memegang sebuah obor yang telah padam. Nek Nongan dengan tongkatnya berusaha mengejar, namun gagal. Akhirnya gadis itu selamat hingga sampai ke rumah.

Sejak kejadian yang dialami oleh sang gadis, penduduk dikampung itu tidak lagi mengijinkan anak perempuannya untuk keluar pada malam hari, terutama pada saat bulan purnama. Mereka takut jika mereka kelauar maka akan ditangkap oleh Nek Nongan.

Selain itu, mereka juga tidak lagi membuang hajat di sembarangan tempat karena telah bisa membuat johotn (kakus) di dekat bantang-bantang mereka. Hal ini dimaksudkan, agar tidak terjadi hal buruk terhadap anggota keluarga mereka, terutama pada saat akan membuang hajat pada malam hari.

Tamat

 



[1]) Subsuku  Dayak berbahasa Badameo di wilayah Singkawang.

[2]) Ritual pada subsuku Dayak Salako Garantukng Sakawokng.

Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Riya Sinir dan Dara Hitam

          P ada zaman dahulu kala, ketika hutan Kalimantan masih membentang luas tanpa terputus, hiduplah seorang pemuda bernama Riya Sinir...