Pada
zaman dahulu, ketika kerajaan-kerajaan masih berdiri megah dan raja-raja
bersemayam di istana yang dihiasi emas serta permata, tersebutlah sebuah negeri
bernama Bangkayokng. Negeri itu dikenal sebagai tanah yang subur dan makmur.
Sawah terbentang luas, lumbung-lumbung padi selalu penuh, sungai mengalir
jernih, dan hutan menyediakan berbagai hasil yang dapat menghidupi rakyat. Di
negeri itu tinggallah seorang saudagar yang kekayaannya tidak ada bandingannya.
Namanya Tuan Kaya Gunung.
Tidak
seorang pun mengetahui dengan pasti dari mana asal mula kekayaan Tuan Kaya
Gunung. Rumahnya berdiri besar di tengah permukiman, dengan tiang-tiang kayu
yang kokoh dan halaman luas. Ia memiliki begitu banyak kerbau sehingga
orang-orang yang melewati kandangnya harus berjalan cukup jauh untuk menghitung
semuanya. Padi tersimpan di lumbung dalam jumlah yang seolah tidak pernah
berkurang, sementara emas dan permata memenuhi peti-peti kayu di dalam
rumahnya.
Setiap
kali Tuan Kaya Gunung pergi ke pasar, orang-orang akan menundukkan kepala
dengan penuh hormat.
“Itulah
Tuan Kaya Gunung,” bisik mereka.
“Tidak
ada orang sekaya dia di seluruh Bangkayokng.”
“Konon,
emas di rumahnya lebih banyak daripada batu di sungai.”
Mendengar
perkataan demikian, Tuan Kaya Gunung hanya tersenyum. Ia memang terkenal kaya,
tetapi kekayaannya telah membuat namanya menjadi buah bibir di seluruh negeri.
Akan
tetapi, kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari batas waktu. Pada suatu
hari, Tuan Kaya Gunung jatuh sakit. Mula-mula tubuhnya hanya terasa lemah.
Namun, hari demi hari keadaannya semakin memburuk. Para tabib telah dipanggil,
berbagai ramuan telah diberikan, tetapi tidak ada satu pun yang mampu
mengembalikan kesehatannya.
Pada
malam terakhir, ketika seluruh rumah sunyi, Tuan Kaya Gunung memandangi harta
benda yang selama hidupnya ia kumpulkan. Di hadapannya tersusun peti-peti
berisi emas, kain-kain mahal, dan permata.
“Begitu
banyak yang telah kukumpulkan,” gumamnya lirih. “Namun, tidak satu pun dapat
kubawa ketika aku pergi.”
Keesokan
harinya, Tuan Kaya Gunung mengembuskan napas terakhir.
Kematian
orang yang sangat kaya itu membuat seluruh negeri berduka. Jenazahnya kemudian
dibawa ke sebuah bukit yang tinggi dan berhawa sejuk, yang dikenal oleh
masyarakat sebagai Bukitn Bawokng. Di puncak bukit itulah ia dimakamkan.
Beberapa
waktu setelah pemakaman, terdengar kabar aneh dari orang-orang yang sering
melewati kaki bukit. Mereka mengaku melihat cahaya berwarna kekuningan muncul
di puncak Bukitn Bawokng pada malam-malam tertentu. Ada pula yang mendengar
bunyi seperti dentingan benda logam dari arah makam.
“Apakah
kalian juga mendengarnya?” tanya seorang warga pada suatu malam.
“Mendengar
apa?”
“Seperti
suara emas dijatuhkan ke tanah.”
Temannya
terdiam. Mereka memandang ke arah puncak bukit yang diselimuti kabut.
Sejak
saat itu, mulai beredar cerita bahwa arwah Tuan Kaya Gunung belum meninggalkan
dunia. Konon, rohnya menjelma menjadi Antu Bukitn Bawokng, makhluk gaib yang
bersemayam di sekitar makamnya dan dapat memberikan kekayaan kepada orang yang
berani memohon kepadanya.
Cerita
itu mula-mula hanya dibisikkan dari satu rumah ke rumah yang lain. Namun,
semakin lama semakin banyak orang yang mempercayainya. Mereka mengatakan bahwa
seseorang yang ingin mendapatkan kekayaan dari Antu Bukitn Bawokng harus datang
ke bukit pada malam hari. Ia harus membawa sesajen berupa bunga tujuh warna,
membakar kemenyan dan dupa harum, kemudian menyebut nama Tuan Kaya Gunung dalam
hati dengan penuh penghormatan.
Pada
awalnya, tidak ada yang berani mencoba. Namun, kemiskinan dan keinginan untuk
hidup serba berkecukupan membuat sebagian orang mulai mengabaikan rasa takut.
Salah
seorang yang pertama kali mencoba adalah seorang pedagang kecil bernama Janta.
Selama bertahun-tahun ia berjualan hasil kebun di pasar, tetapi penghasilannya
hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Suatu
malam, ia mendengar cerita tentang Antu Bukitn Bawokng dari seorang kawannya.
“Kalau
benar, mengapa tidak kau coba?” tanya kawannya.
Janta
menatapnya ragu.
“Bukankah
itu berbahaya?”
“Orang-orang
bilang tidak. Asalkan kau memenuhi semua syaratnya.”
Janta
terdiam lama. Dalam pikirannya terbayang rumah yang lebih besar, sawah yang
luas, dan kehidupan keluarganya yang tidak lagi kekurangan.
Akhirnya,
pada malam berikutnya, ia pergi ke Bukitn Bawokng.
Malam
itu bulan hampir tertutup awan. Janta mendaki bukit sambil membawa bunga tujuh
warna, kemenyan, dan dupa. Sesampainya di dekat makam Tuan Kaya Gunung, ia
menyalakan dupa. Asap putih perlahan naik ke udara dan bercampur dengan kabut.
Janta
menundukkan kepala.
“Tuan
Kaya Gunung,” katanya dengan suara gemetar, “jika benar engkau masih bersemayam
di tempat ini, aku datang memohon pertolongan. Berilah aku rezeki agar
keluargaku dapat hidup berkecukupan.”
Tidak
lama kemudian, angin berembus dari arah makam.
Api
dupa tiba-tiba menyala lebih tinggi.
Janta
terkejut ketika mendengar suara berat dari balik kabut.
“Apakah
engkau menginginkan kekayaan?”
Janta
hampir melarikan diri. Namun, ia menguatkan diri.
“Ya,”
jawabnya.
“Apakah
engkau sanggup memenuhi kewajibanmu?”
“Apa
pun itu.”
Suara
tersebut kembali terdengar.
“Jangan
pernah melupakanku. Setiap malam, ingatlah roh Tuan Kaya Gunung. Jika engkau
lalai, apa yang telah diberikan kepadamu akan kembali menjadi petaka.”
Janta
menganggukkan kepala meskipun tubuhnya gemetar.
“Aku
berjanji.”
Setelah
itu, suara tersebut menghilang. Ketika Janta membuka mata, ia melihat beberapa
benda berkilauan di tanah di hadapannya. Ada kepingan emas dan benda-benda
berharga yang belum pernah dilihatnya.
Sejak
malam itu, kehidupan Janta berubah.
Dagangan
yang sebelumnya sepi tiba-tiba laris. Setiap usaha yang dilakukannya
menghasilkan keuntungan besar. Tidak lama kemudian, ia memiliki rumah baru,
sawah yang luas, serta banyak ternak.
Orang-orang
pun mulai bertanya-tanya.
“Dari
mana kekayaan Janta sebanyak itu?”
Tidak
seorang pun mendapat jawaban yang jelas.
Namun,
rahasia itu akhirnya terbongkar ketika Janta bercerita kepada beberapa orang
terdekatnya tentang Antu Bukitn Bawokng. Kabar tersebut segera menyebar. Dalam
waktu singkat, semakin banyak orang mendaki bukit pada malam hari.
Ada
yang datang membawa bunga tujuh warna. Ada yang membawa kemenyan dan dupa. Ada
yang datang dengan pakaian terbaik karena menganggap mereka sedang menemui
seorang pemberi kekayaan.
Sebagian
dari mereka benar-benar menjadi kaya.
Seorang
petani tiba-tiba memiliki banyak sawah. Seorang pedagang memperoleh keuntungan
besar. Bahkan beberapa bangsawan yang dekat dengan istana diam-diam datang ke
Bukitn Bawokng.
Kekayaan
yang mereka dapatkan membuat istana pun heran. Beberapa orang yang dahulu hidup
sederhana tiba-tiba mampu mempersembahkan emas dan permata dalam jumlah besar
kepada raja.
Pada
suatu hari, raja memandangi sebuah peti berisi emas yang baru saja
dipersembahkan seorang bangsawan.
“Dari
mana asal harta ini?” tanya baginda.
Bangsawan
itu menundukkan kepala.
“Dari
hasil perdagangan, Baginda.”
Raja
menatapnya tajam.
“Benarkah?”
Bangsawan
itu terdiam.
Akhirnya,
setelah didesak, ia mengakui rahasia yang selama ini disembunyikan.
“Paduka,
harta itu diperoleh melalui Antu Bukitn Bawokng.”
Wajah
raja berubah muram.
“Apakah
benar banyak rakyatku meminta kekayaan kepada roh orang yang telah meninggal?”
“Benar,
Baginda.”
Raja
menarik napas panjang. Ia bukan semata-mata khawatir karena rakyatnya mengejar
kekayaan, tetapi karena mereka mulai menggantungkan kehidupan kepada kekuatan
gaib dan meninggalkan keyakinan serta usaha yang benar.
Malam
itu, baginda tidak dapat tidur dengan tenang. Setelah lama memikirkan keadaan
negerinya, akhirnya ia tertidur.
Dalam
tidurnya, raja bermimpi berada di sebuah tempat yang sunyi. Kabut putih
memenuhi tanah, dan dari balik kabut muncul seorang tua berjubah putih.
Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya membuat raja merasa gentar.
“Hai,
raja yang adil,” ujar orang tua itu, “jangan biarkan rakyatmu menukar keyakinan
dengan kekayaan.”
Raja
menundukkan kepala.
“Siapakah
engkau?”
“Tidak
penting siapa aku. Yang penting adalah pesan yang harus kau ingat.”
Orang
tua itu menunjuk ke arah bukit yang jauh.
“Harta
dunia tidak akan tinggal selamanya. Barang siapa meninggalkan ibadah dan
menggantungkan hidup kepada antu demi kekayaan, sesungguhnya ia sedang menukar
ketenangan dengan petaka.”
“Lalu,
apa yang harus kulakukan?” tanya raja.
“Beritahukan
kepada rakyatmu. Rezeki yang baik diperoleh melalui usaha yang halal, bukan
dengan menyembah roh dan meninggalkan Tuhan.”
Setelah
berkata demikian, orang tua itu menghilang bersama kabut.
Raja
terbangun dengan napas tersengal. Malam masih gelap. Namun, pesan dalam
mimpinya begitu jelas sehingga ia tidak dapat menganggapnya sebagai mimpi
biasa.
Keesokan
harinya, baginda memanggil seluruh pembesar dan alim ulama ke istana. Setelah
bermusyawarah, ia memerintahkan agar kabar tentang bahaya Antu Bukitn Bawokng
disampaikan ke seluruh negeri.
Beberapa
hari kemudian, rakyat berkumpul di halaman istana.
Raja
berdiri di hadapan mereka.
“Hai
rakyat Bangkayokng,” sabdanya, “aku mendengar bahwa banyak di antara kalian
mencari kekayaan melalui Antu Bukitn Bawokng.”
Rakyat
saling berpandangan.
“Janganlah
kalian tertipu oleh harta yang datang dengan cara demikian. Kekayaan yang
diperoleh dengan meninggalkan ibadah dan menggantungkan diri kepada roh tidak
membawa ketenteraman.”
Seorang
warga memberanikan diri bertanya.
“Baginda,
bagaimana jika kekayaan itu benar-benar membuat kami hidup berkecukupan?”
Raja
menjawab dengan tenang.
“Apakah
kalian rela menukar ketenteraman hidup dengan rasa takut setiap malam? Apakah
kalian rela seluruh harta hilang hanya karena satu hari lupa mengingat roh itu?
Kekayaan yang baik adalah kekayaan yang diperoleh melalui usaha, kejujuran, dan
jalan yang diridai Tuhan.”
Suasana
menjadi hening.
“Carilah
rezeki dengan tangan kalian sendiri,” lanjut baginda. “Bertani, berdagang,
beternak, bekerja, dan saling membantu. Jangan jadikan harta sebagai alasan
untuk melupakan Tuhan.”
Sebagian
rakyat mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka meninggalkan kebiasaan
mendatangi Bukitn Bawokng dan kembali bekerja seperti sebelumnya.
Namun,
tidak semua orang mau mendengarkan.
Janta,
yang telah merasakan nikmatnya kekayaan, justru menjadi semakin takut
kehilangan hartanya.
“Aku
sudah berjanji kepada Tuan Kaya Gunung,” katanya kepada istrinya. “Aku tidak
boleh berhenti.”
“Bukankah
raja telah memperingatkan kita?” tanya istrinya.
“Aku
tidak dapat mengembalikan semuanya begitu saja.”
Malam
berikutnya, Janta kembali mendaki Bukitn Bawokng.
Namun,
kali ini suasananya berbeda.
Kabut
turun lebih tebal. Angin bertiup dingin. Tidak ada suara burung malam. Ketika
Janta tiba di makam, ia menyalakan dupa dengan tangan gemetar.
“Tuan
Kaya Gunung,” panggilnya.
Tidak
ada jawaban.
Ia
memanggil lagi.
“Tuan
Kaya Gunung!”
Tiba-tiba
terdengar suara dari belakangnya.
“Engkau
datang karena takut kehilangan hartamu?”
Janta
membeku.
“Aku...
aku datang untuk memenuhi janjiku.”
Suara
itu terdengar semakin dekat.
“Bukankah
sudah kukatakan? Jangan pernah melupakanku.”
Janta
menutup mata.
“Aku
tidak melupakanmu.”
“Benarkah?”
Angin
tiba-tiba berembus keras. Api dupa padam. Janta mendengar suara dentingan
seperti ribuan keping emas jatuh berserakan di sekelilingnya.
Ketika
ia membuka mata, tidak ada siapa-siapa.
Namun,
sejak malam itu, kekayaan Janta mulai lenyap satu demi satu. Ternaknya mati,
sawahnya rusak, dan rumahnya terbakar. Dalam waktu singkat, harta yang
dikumpulkannya selama bertahun-tahun hilang tanpa bekas.
Orang-orang
berkata bahwa kejadian serupa menimpa mereka yang tetap memohon kepada Antu
Bukitn Bawokng. Ada yang jatuh sakit tanpa diketahui sebabnya. Ada yang
kehilangan seluruh harta dalam satu malam. Bahkan beberapa orang dikabarkan
tidak pernah kembali setelah mendaki bukit.
Sejak
saat itu, masyarakat Bangkayokng semakin jarang mendatangi Bukitn Bawokng. Nama
Antu Bukitn Bawokng tetap hidup dalam cerita yang disampaikan dari satu
generasi ke generasi berikutnya, tetapi bukan sebagai tempat mencari kekayaan.
Ia menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh membiarkan keserakahan menguasai
hati.
Konon,
pada malam-malam tertentu, ketika kabut turun menutupi puncak Bukitn Bawokng,
orang-orang yang melewati kaki bukit masih dapat mendengar suara aneh dari
kejauhan. Kadang terdengar dentingan seperti emas yang dijatuhkan ke tanah.
Kadang terdengar bisikan memanggil nama seseorang.
Karena
itu, orang-orang tua selalu berpesan kepada anak cucunya, “Jangan pernah naik
ke bukit hanya karena tergoda oleh harta. Kekayaan yang datang terlalu mudah
belum tentu membawa kebahagiaan.”
Mereka
juga mengajarkan bahwa harta benda hanyalah titipan. Manusia boleh bekerja
keras untuk menjadi berkecukupan, tetapi jangan sampai kekayaan membuatnya
melupakan Tuhan, keluarga, sesama, dan jalan kehidupan yang benar.
Bukitn
Bawokng pun tetap berdiri dalam kesunyian. Pepohonannya tumbuh rapat, kabut
sering menyelimuti puncaknya, dan makam Tuan Kaya Gunung menjadi bagian dari
kisah yang terus dikenang masyarakat.
Adapun
pesan yang diwariskan dari kisah Antu Bukitn Bawokng adalah bahwa kesenangan
yang diperoleh melalui jalan yang salah dapat berubah menjadi penderitaan.
Kekayaan yang tidak disertai ketenteraman tidak akan membuat hidup menjadi
lebih baik. Sebaliknya, rezeki yang diperoleh melalui kerja keras, kejujuran,
dan usaha yang halal akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih tenang.
Sebab,
sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, semuanya akan ditinggalkan
ketika ajal tiba. Yang tinggal bukanlah emas, permata, rumah besar, atau sawah
yang luas, melainkan kebaikan yang pernah dilakukan dan jalan hidup yang
dipilihnya.
Demikianlah
kisah Antu Bukitn Bawokng, yang turun-temurun dituturkan sebagai pengingat bagi
siapa pun yang mendengarnya: jangan biarkan keserakahan menutup mata, jangan
menukar keyakinan dengan harta, dan jangan mencari jalan singkat untuk
memperoleh sesuatu yang seharusnya diraih dengan usaha.
Tamat.