PERANG KENCENG
Di tanah Kalimantan Barat,
ketika dunia mulai berguncang,
Perang Dunia Pertama berkobar,
dan sejarah membuka lembaran panjang.
Tahun demi tahun menjadi saksi,
di tanah Sambas dan Mempawah,
gerakan Sam Tiam bangkit berdiri,
membawa pergolakan yang mengguncang daerah.
Tiga mata, tiga kode, tiga cara,
Sam Tiam menjadi nama gerakan,
di tengah ketegangan dan ancaman,
lahirlah sebuah pemberontakan.
Di Montrado pasukan bergerak,
di Mandor perlawanan berkobar,
bekas keluarga Republik Monterado,
dan Lan-Fong menjadi bagian sejarah yang besar.
Melayu dan Dayak turut terseret,
di antara tekanan dan paksaan,
tanah yang dahulu tenang dan teduh,
berubah menjadi medan pertarungan.
Dari Singkawang Belanda bergerak,
membawa pasukan menghadapi perlawanan,
Montrado menjadi sasaran pertama,
Mandor pun tak luput dari peperangan.
Dari Mandor menuju Sangking,
Menjalin, Anjungan, dan kembali ke Mandor,
jejak perang terukir di bumi,
meninggalkan luka yang sulit terhapus.
Mempawah menjadi saksi bisu,
Controleur Lever Man meninggalkan kota,
gudang garam, penjara, dan kantor pemerintahan,
hangus terbakar dalam bara.
Api menjulang di tengah malam,
asap menutupi langit kelam,
rumah dan bangunan menjadi kenangan,
sementara rakyat menanggung kepedihan.
Hingga tiba tahun seribu sembilan ratus enam belas,
Sam Tiam akhirnya berakhir,
namun kisahnya tak pernah benar-benar lenyap,
sejarah terus menyimpan dan mengukir.
Di Mandor sebuah tugu berdiri,
mengenang prajurit yang gugur dalam peperangan,
dua masa menjadi satu kenangan:
1854 hingga 1856,
1914 hingga 1916,
terpatri dalam perjalanan zaman.
Wahai tanah Kalimantan Barat,
engkau menyimpan kisah yang dalam,
tentang perang, luka, dan pengorbanan,
tentang manusia yang pernah berjuang.
Dan bagi rakyat Sambas,
nama itu tetap hidup dalam ingatan,
Sam Tiam dikenang sebagai Perang Kenceng,
sebuah kisah yang diwariskan
dari masa lalu kepada generasi mendatang.
Bukan untuk mengagungkan peperangan,
bukan pula untuk membuka kembali luka,
tetapi agar generasi hari ini mengerti,
bahwa damai adalah anugerah
yang harus dijaga sepanjang masa.