Rabu, 14 Oktober 2026

Cerita Rakyat: Dayang Lumau

Dahulu kala, di sebuah kampung ada seorang gadis bernama Dayang Lumau. Oleh kedua orang tuanya, ia tidak diperbolehkan bergaul dengan masyarakat dan dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang terkunci rapat. Setelah merasa pantas bersuami, orang tuanya mengadakan sayembara: barang siapa yang mampu membuka pintu kamar Dayang Lumau, dialah yang berhak menjadi suaminya.

Berita sayembara itu terdengar oleh Lemambang Lenggai, suami Dayang Anta. Ia ingin mengikuti sayembara itu, tetapi dilarang Dayang Anta yang belum lama melahirkan seorang anak. Namun, suaminya pergi juga.

Ketika Lemambang Lenggai pulang dan berteriak-teriak kesenangan karena berhasil mengikuti sayembara, Dayang Anta mencincang plasenta anaknya dan dimasukkannya ke dalam sayur. Lemambang Lenggai, karena laparnya, langsung saja makan nasi dan sayur itu. Lama-kelamaan, tubuh Lemambang Lenggai bersisik seperti ular dan akhirnya benar-benar menjadi ular, Ular Nabau.

Ular itu pergi ke permandian Dayang Lumau. Ia melintangkan badannya sehingga tampak seperti batang kayu terapung. Ketika Dayang Lumau mandi dan berdiri di atas ular itu, perlahan-lahan Lemambang Lenggai membawanya ke Lubuk Renyuk. Di sana mereka hidup sebagai suami istri.

Walau hidup bersama, Lemambang Lenggai tak pernah menggauli Dayang Lumau. Suatu hari Ular Nabau hendak pergi. Ia berpesan agar istrinya tidak menceritakan ihwal rumah tangga mereka kepada tetangga. Akan tetapi, amanah itu dilanggar oleh Dayang Lumau. Akhirnya, Dayang Lumau sakit.

Ketika Ular Nabau kembali, Dayang Lumau menceritakan keinginannya. Ia ingin Ular Nabau memperlakukannya sebagaimana layaknya seorang istri. Ular Nabau keberatan karena ia seekor ular, sedangkan istrinya adalah manusia. Namun, Dayang Lumau bertekad hidup dalam dunia suaminya. Akhirnya, Ular Nabau itu melilit istrinya sehingga tubuh istrinya putus dan kepala Dayang Lumau dilemparkan dan jatuh di beranda rumah orang tua Dayang Lumau. Mulai saat itu, Dayang Lumau berubah menjadi ular.

Adapun Dayang Anta bersedih karena telah ditinggal suami tercinta. Ia menyesali perbuatannya. Sambil menggendong anaknya, ia menyusuri jejak sang ular. Di Nanga Merekak, ia mandi. Ketika sedang mandi, seekor belalang hinggap di payudaranya. Dipukulnya belalang itu sambil berkata, "Tak ada orang lain yang boleh menjamahnya kecuali Lemambang Lenggai, suamiku." Bersamaan dengan itu, guntur menggelegar, angin berembus kencang dan Dayang Anta berubah menjadi batu, Batu Dayang Anta. (CRDKB3).

Cerpen Jejak langkahku menuju cahaya oleh Debi Karwangi

Namaku Debi Karwangi. Aku adalah seorang anak gadis yang tumbuh di kampung yang tenang di tepian sungai, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Kampungku sederhana, dengan jalan tanah yang berpasir dan rumah-rumah kayu yang berdiri kokoh di atas tiang-tiangnya. Setiap pagi sebelum matahari benar-benar naik, suara ayam berkokok sudah menjadi alarm bagiku, udara pagi yang sejuk menyapa saat aku membuka jendela, membawa serta aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang segar. Di sinilah aku belajar mengenal kehidupan dari hal-hal yang paling sederhana namun penuh makna.

Selagi kecil, aku bukanlah anak yang paling pandai di kelas. Aku masih ingat betul saat duduk di bangku sekolah dasar, aku sering kali menjadi yang terakhir selesai mengerjakan soal. Teman-temanku sudah menutup buku mereka sementara aku masih sibuk mengerutkan dahi, mencoba memahami apa yang tertulis di papan tulis. Ada kalanya aku merasa kecil, merasa tidak secepat mereka dalam menangkap pembelajaran. Namun ibuku selalu berkata dengan lembut, "Debi tidak apa-apa berjalan pelan, asalkan tidak berhenti berjalan. Bunga pun mekar pada waktunya masing-masing, tidak ada yang sama berpersis." Kata-kata itu seperti pelita kecil di hatiku, menghapus rasa minder yang kadang datang menyapa.

Aku tumbuh menjadi gadis yang lebih suka mengamati daripada berbicara. Saat teman-teman lain bermain di luar, aku sering duduk di beranda rumah, menatap ke arah depan rumah yang damai. Aku suka membaca buku, meski butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikannya. Aku suka menulis, menuangkan apa yang ada di pikiranku ke atas kertas. Karena tulisan tidak pernah terburu-buru menuntutku untuk cepat selesai, di dalam tulis-tulisanku aku bebas menjadi diriku sendiri tanpa takut dinilai lambat atau kurang. Setiap kata yang kutulis adalah bukti bahwa aku ada, bahwa aku memiliki suara meski hanya lewat goresan tinta yang sederhana.

Aku adalah Debi Karwangi, gadis dari kampung tepian sungai yang sederhana, aku bukan orang yang luar biasa, tapi aku memiliki hati yang tidak gampang menyerah. Jejak langkahku mungkin kecil dan lambat, tapi aku yakin selama aku terus melangkah ke arah yang benar, suatu saat aku akan sampai ke tempat yang aku impikan. Perjalanan ini adalah milikku, dengan semua cerita sedih dan bahagianya. Dan aku siap menuliskan bab-bab selanjutnya dengan semangat yang baru, hari-hari baru, Sering matahari yang selalu terbit membawa cahaya baru.

Cerita Rakyat: Dayang Lumau

D ahulu kala, di sebuah kampung ada seorang gadis bernama Dayang Lumau. Oleh kedua orang tuanya, ia tidak diperbolehkan bergaul dengan masya...