Senin, 21 September 2026

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah lagi subur di bumi Kalimantan. Di dalam komunitas petempatan tersebut, hiduplah insan-insan yang dikaruniai hikmat serta keterampilan jemari nan mahatinggi. Mereka tiada hanya menggenggam alatan besi atau bertarung di alam gaib, melainkan menenun jaluran serat alam menjadi alatan nan menopang seluruh napas kehidupan warga.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Mak Seniah, seorang perempuan tua yang dikenal oleh segenap penduduk bantang sebagai Tukang Barayopm—yakni seorang pandai yang khusus menciptakan pelbagai alatan menganyam, alatan pertanian, penangkap ikan, hingga kelengkapan rumah tangga dari serat-serat rimba. Dari tangan hamba yang keriput namun lincah ini, terlahir alatan pertanian seperti teneng, antoro, uko’, konse’, dan bangkat; alatan penangkap ikan di sungai seperti bubu dan antikng; serta perabot rumah panggung seperti nyiru, sapu banar, daku’, baku, jaeje (rago’), dan lubu’ nan dianyam anggun dari daun sake’ (sejenis pandan hutan).

Sebermula, alkisah pada suatu pagi tatkala embun fajar masih bergayutan di ujung daun dan kabut tipis merayap pelan di selasar bantang, datanglah seorang gadis muda bernama Lenggang menyambangi pondok hamba. Wajahnya membayangkan kecemasan nan amat sangat seraya matanya menatap bertumpuk-tumpuk helai daun sake’ yang telah dikeringkan di sudut serambi hamba.

"Ampunkan hamba, wahai Mak Barayopm nan bijaksana," kata Lenggang seraya membongkokkan badannya dengan rasa takzim nan dalam. "Musim mengetam dan menjemur padi (ngirik) kian menghampiri. Namun, tikar gagadokng di rumah panggung hamba telah hancur dimakan usia, dan alat penangkap ikan bubu milik ayah hamba jua telah patah dilanda arus sungai. Hamba mohon dengan amat sangat, ajarkan dan bimbinglah hamba menganyam serat-serat rimba ini menjadi alatan nan kukuh!"

Hamba menghentikan gerakan tangan yang sedang meraut bilah-bilah rotan, lalu menatap Lenggang dengan senyuman yang hangat.

"Wahai anakku," bersabda hamba dengan suara yang lembut lagi merdu. "Ketahuilah olehmu, bahwasanya ilmu barayopm ini bukanlah sekadar menyilangkan sehelai serat di atas serat yang lain. Di dalam setiap belahan daun sake’ selebar tiga sentimeter yang kita pilah, dan dalam setiap pilinan rotan simpe yang kita ikat, tersirat doa keselamatan dan ketahanan raga warga Salako tatkala berhadapan dengan ganasnya alam. Mari kita mulakan karya ini sebelum fajar menepi."

Maka duduklah Lenggang di sisi hamba di atas serambi rumah panggung. Hamba mengambil belahan-belahan daun sake’ keemasan yang telah dijemur halus. Jemari tua hamba mulai menyilangkan helaian demi helaian dengan ritme nan teratur lagi cepat, membentuk pola anyaman tikar gagadokng nan tebal lagi halus. Tikar ini menjadi alas agung tempat warga duduk bermusyawarah, tempat beradu tatkala malam mencekam, hingga menjadi hamparan sakral tatkala Tukang Babore menggelar ritual pengobatan baiotn.

"Tengoklah dengan cermat, Lenggang," petunjuk hamba seraya mengarahkan jemari gadis itu. "Setiap helai daun pandan sake’ ini harus saling mengunci dengan saksama. Satu anyaman yang longgar akan membuat tikar gampang terurai tatkala dipakai mengirik padi di lapangan."

Setelah tikar gagadokng selesai dianyam dengan eloknya, hamba bimbing pula Lenggang meraut bilah-bilah bambu tua untuk merangkai bubu dan antikng—alatan penangkap ikan yang tangguh. Tatkala kerangka bambu telah dibentuk, hamba memanggil seorang lelaki pandai yang mahir dalam ilmu simpe (yakni ikatan rotan) untuk mengikatkan rautan bambu itu dengan serat rotan nan amat kuat. Serat rotan diikatkan melingkari mulut kerangka dengan simpul-simpul khusus agar tiada pecah maupun renggang tatkala dihantam derasnya arus sungai.

Maka tatkala sang suria telah mencondong ke barat, siaplah tumpukan alatan nan mahaindah di atas serambi hamba: tikar gagadokng nan tebal, nyiru tempat menampi beras, buku dan rago’ wadah hasil ladang, serta bubu dan antikng nan siap diterjunkan ke dasar sungai. Lenggang menatap sekalian karya itu dengan air mata keharuan dan rasa takjub nan tak terhingga.

"Tengoklah wahai anakku," bersabda hamba seraya mengusap jemari Lenggang nan lembut. "Di bumi Bantang Salako ini, para pandai besi Tampotn menempa parang untuk merintis rimba, para pangarabanan menyambut nyawa baru, dan para pamabore menyembuhkan penyakit raga. Namun kitalah, Sang Tukang Barayopm, nan menyulap helai-helai daun pandan sake’ dan rotan hutan menjadi alatan nan menampung rezeki, melapangi tempat beradu, serta menyatukan kehidupan sehari-hari seluruh warga bantang."

Lenggang memeluk hamba dengan takzim. "Terima kasih, Mak Barayopm. Tanpa keterampilan tanganmu, tiadalah mungkin rezeki dan kehangatan di rumah panggung kami dapat tercipta dengan sempurna."

Syahdan, pada hari-hari berikutnya, sungai dan ladang di Bantang Salako dipenuhi keriangan. Ayah Lenggang mendapat tangkapan ikan nan melimpah dari bubu anyaman tersebut, dan keluarga mereka menjemur serta mengirik padi di atas tikar gagadokng dengan penuh rasa syukur.

Hamba duduk bersila di tingkap rumah panggung, menyaksikan kebahagiaan warga dari kejauhan seraya menganyam selembar daun sake’ nan baru. Selagi jemari para wanita dan lelaki Salako masih terampil meraut rotan dan menyilangkan pandan, keindahan dan kearifan karya barayopm di bumi Salako tiada akan pernah pupus ditelan zaman.

Maka tamatlah hikayat Tukang Barayopm ini dengan segala selamat, elok, dan sempurnanya.

Hikayat Sang Pamabore dan Penglihatan Cermin Keramat

Syahdan maka tersebutlah penceritaan kuno dari bumi Bantang Salako, sebuah negeri yang dilindungi rimba belantara nan pekat lagi diliputi kabut tebal pada malam hari. Di dalam komunitas petempatan tersebut, hiduplah hamba-hamba pilihan yang dikaruniai hikmat serta pandangan melintasi tirai gaib, yang digelar orang sebagai Pamabore. Adapun dalam kalangan para pamabore itu, terdapatlah sebuah keahlian magis nan amat tinggi lagi langka, yakni ilmu putiko—sebuah kemampuan sakral untuk meramal, menyingkap pekatnya tabir rahasia, serta menatap peristiwa jauh melalui ritual mandang.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Aki Pandang, seorang Pamabore yang telah mengabadikan usianya untuk menjadi mata gaib bagi warga bantang. Hamba tiada hanya mengobati sakit raga dan menawari bisa racun, melainkan dikaruniai penglihatan putiko guna menuntun jiwa-jiwa yang tersesat di dalam kegelapan.

Sebermula maka pada suatu senja tatkala sang suria mulai tenggelam di balik perbukitan dan burung-burung malam mulai memperdengarkan kepakan sayapnya, datanglah berlarat-larat seorang peladang muda dengan wajah nan pucat pasi bagaikan kain kafan. Lelaki itu bertekut di hadapan hamba seraya menggenggam jemari hamba dengan erat.

"Ampunkan hamba, wahai Aki Pamabore!" ratap peladang itu dengan suara gemetar. "Saudara kandung hamba telah lenyap di dalam rimba sejak tiga hari yang lalu tatkala berburu. Tiada jejak yang tertinggal melainkan parangnya yang berdarah. Bukan itu sahaja, harta benda berupa simpanan emas dan azimat pusaka di rumah kami jua raib digondol maling pada malam yang sama! Hamba mohon dengan amat sangat, gunakanlah ilmu putiko milik Aki untuk menyingkap rahasia kelam ini!"

Melihatkan penderitaan peladang itu, maka hamba pun menarik napas panjang. Hamba mengangguk perlahan seraya bersabda, "Ketahuilah olehmu, wahai anak muda, bahwasanya ilmu putiko dan mandang bukanlah perkara permainan atau ilusi mata fana. Ia adalah anugerah gaib yang menembus batas waktu dan ruang. Hanya mereka yang dirahmati kemampuan ini yang sanggup melihat apa yang tersembunyi di balik cermin gaib."

Maka hamba pun mulai menyiapkan peralatan ritual mandang. Hamba mengambil sebuah piring putih bersih yang diisi dengan air jernih daripada mata air pegunungan, lalu meletakkan sebuah cermin tua berbingkai kayu hitam tepat di bawah naungan cahaya pelita minyak jarak. Hamba menyalakan bara’an—mangkuk berisi bara api merah menyala—lalu menaburkan irisan kemenyan putih ke atasnya. Uap asap putih nan tebal membumbung tinggi, menyebarkan bau harum sakral nan menusuk kalbu.

Hamba mulai memanterakan asap bara’an itu, melafalkan doa-doa rahasia ilmu putiko yang diwariskan oleh leluhur. Asap kemenyan yang mengepul tebal diputar mengelilingi piring dan cermin tua tersebut. Seketika itu jua, udara di dalam ruangan terasa mendadak dingin bagaikan es, dan bayang-bayang di dinding seolah-olah bergoyang-goyang menari mengelilingi kami.

Hamba mendudukkan diri dengan tegak, lalu menundukkan pandangan, menatap lurus-lurus ke permukaan cermin gaib yang diletakkan di atas air putih tersebut. Hamba memusatkan seluruh daya kesadaran gaib (intrance). Maka pada saat itulah, hal yang mahadahsyat pun terjadi.

Permukaan cermin tua itu mendadak bergoyang bagaikan riak air, lalu berubah pekat menjadi sehitam jelaga. Bayangan fana di sekeliling hamba lenyap seketika. Di dalam pantulan cermin gaib itu, muncul uap kebiruan nan berkilau, lalu pelan-pelan membentuk sebuah gambaran peristiwa yang amat jelas—sebuah penglihatan yang hanya sanggup disaksikan oleh mata hamba selaku tukang pandang!

"Mata gaib hamba telah terbuka..." bisik hamba dengan suara bertukar menjadi berat lagi bergaung.

Di dalam cermin itu, hamba melihat kegelapan hutan rimba di hujung bantang. Hamba menatap sesosok lelaki—yakni saudara peladang yang hilang—terbaring lemas di dasar jurang akibat diterkam oleh binatang buas, namun jiwanya masih bertahan. Di sebelah gambaran itu, cermin gaib bertukar memperlihatkan rahasia kedua: hamba menatap wajah sang pencuri harta benda! Rupa wajah sang maling tampak jelas di dalam cermin—seorang lelaki asing dari luar bantang yang menyembunyikan emas dan pusaka di balik beronggok batu besar di tepi sungai bawah!

Peladang muda yang duduk di samping hamba mencoba memicingkan matanya, memandang ke arah cermin tersebut. Namun baginya, cermin itu hanyalah kepingan kaca biasa yang memantulkan kegelapan malam, kerana wujud dan wajah di dalamnya hanya diperuntukkan bagi hamba selaku tukang pandang!

"Wahai anak muda," bersabda hamba seraya mengangkat pandangan dari cermin gaib. "Dengarkanlah petunjuk daripada ilmu putiko ini. Saudaramu masih bernapas di dalam jurang dekat pohon ulin kembar di barat bantang. Segeralah bawa obor dan tali untuk menyelamatkannya! Adapun harta pusakamu yang digondol maling, ia disembunyikan di bawah celah batu sungai oleh seorang lelaki berparut di pipinya. Pergilah ke sana sebelum sang malam berganti fajar!"

Mendengarkan ramalan dan petunjuk putiko yang amat terperinci itu, peladang muda itu pun sujud menyembah dengan rasa takjub lagi gemetar. Ia segera memanggil beberapa warga bantang untuk bergerak menuju lokasi yang ditunjukkan oleh penglihatan cermin gaib hamba.

Maka tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, bersorak-sorailah warga di hujung bantang. Saudara peladang itu berhasil diselamatkan dari dasar jurang dalam keadaan bernyawa, dan seluruh harta pusaka yang raib berhasil ditemukan kembali tepat di lokasi batu sungai sebagaimana yang tampak di dalam cermin pandang hamba.

Demikianlah keagungan ilmu putiko dan kemampuan mandang milik Sang Pamabore di bumi Dayak Salako. Ia bukanlah sekadar ramalan biasa, melainkan cahaya penuntun gaib di tengah pekatnya rahasia kehidupan manusia. Selagi asap kemenyan masih membumbung di atas bara'an dan air tawar masih mengalir, mata gaib Sang Pamabore akan senantiasa menjaga kebenaran di negeri Bantang Salako.

Maka tamatlah hikayat ini dengan segala kesempurnaan dan kegaibannya.

Hikayat Bisikan Roh dan Bara Kemenyan

Syahdan, maka tersebutlah sebuah penceritaan kuno dari bumi Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi rimba raya nan kelam lagi legam. Tatkala malam menaburkan tirai hitamnya dan kabut dingin merayap dari perbukitan, alam fana dan alam gaib seolah-olah melebur menjadi satu. Di bawah naungan bayang-bayang pepohonan ulin nan menjulang tinggi, hiduplah insan-insan yang memegang kearifan kuno—mereka yang berhadapan langsung dengan intrik roh-roh halus dan penyakit gaib.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini adalah seorang Pamabore Besar—seorang Tukang Babore yang dikaruniai penglihatan melintasi batas kasat mata. Orang-orang di bantang menyapa hamba dengan gelaran Sang Pamaiotn. Hamba tidak hanya mengobati sakit raga yang biasa, melainkan bertarung nyawa mengusir pengaruh jahat, mengembalikan jiwa yang tersesat, serta memanggil keberadaan para Jubato dan roh pahiangan tatkala kegelapan malam mencekam jiwa.

Sebermula, alkisah pada suatu malam selasa yang kelam, tidak ada hembusan angin, dan lolongan anjing hutan menyayat hati dari kejauhan. Di dalam serambi rumah panggung hamba, suasana amat hening hingga detak jantung pun bergaung nyaring. Tiba-tiba, dari kegelapan lorong bantang, terdengar derap langkah kaki yang terburu-buru. Pintu rumah hamba diketuk dengan keras tiga kali.

Tatkala pintu dibuka, berdirilah seorang utusan keluarga nan pucat lesu wajahnya—seorang yang digelar pangoop (yakni utusan penjemput). Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menyerahkan mangkuk adat penjemputan (diaap).

"Ampunkan hamba, wahai Sang Pamabore Besar!" teriak pangoop itu dengan napas yang tersekat-sekat. "Anak gadis tetua kampung kami telah dirasuki oleh kekuatan hitam yang mahadahsyat! Matanya membalik putih, badannya kaku bagaikan kayu ulin, dan dari kerongkongannya keluar suara raungan binatang yang tidak kami kenali. Hamba mohon dengan amat sangat, sudilah kiranya Sang Pamabore melangkah ke rumah kami!"

Hamba menatap mata pangoop itu dengan dalam, lalu memeriksa kelengkapan adat di dalam mangkuk tersebut. Ketahuilah olehmu, bahwasanya seorang dukun atau pamaiotn tiada akan pernah menginjakkan kaki ke rumah pesakit tatkala adat penjemputannya salah atau kurang walau secelak. Setelah dipastikan segalanya benar, hamba menyandarkan azimat, lalu mengangguk pelan.

"Malam ini adalah dunianya para Jubato patokng dan Jubato maam," ujar hamba dengan suara berat bergema. "Siapkan alat musik dau, tiga buah gong, suben, serta tumo’! Kita akan menggelar upacara ritual baiotn sebelum malam mencapai puncaknya!"

Maka melangkah pulalah hamba membelah kegelapan malam. Bayang-bayang hitam berkelebat di antara pepohonan rimba, seolah-olah mata-mata gaib sedang memperhatikan setiap jejak langkah hamba. Tatkala hamba menaiki tangga rumah panggung pesakit, bau kemenyan yang pekat membumbung tinggi, membaur dengan bau amis yang menusuk hidung.

Di serambi rumah yang luas, terbaringlah gadis itu di atas tikar gagadokng. Pergelangan tangannya diikat dengan tali rotan kerana ia terus mengamuk. Matanya mendelik ke atas, tidak ada bagian hitam yang terlihat, dan urat-urat lehernya menonjol kebiruan. Tatkala hamba mendekat, gadis itu tertawa menyeringai dengan suara melengking yang sanggup membekukan darah siapa saja yang mendengarnya.

"Siapkan peralatan ritual!" perintah hamba tegas kepada para penabuh gema.

Seketika itu jua, tabuhan instrumen pengiring dimulakan. Dau diketuk berirama rapat, tiga gong dengan suara beda nada menggelegar membelah dinding malam, diikuti dentuman suben yang berat dan pukulan tumo’ yang konstan. Suara musik sakral itu bergema bagaikan guruh yang memecahkan angkasa, menggetarkan papan-papan lantai rumah panggung.

Hamba mulai menari, menggerakkan tubuh mengelilingi gadis itu sesuai irama baiotn. Hamba memegang bara’an—semangkuk bara api yang merah menyala—lalu menaburkan irisan kemenyan putih ke atasnya. Uap asap putih yang tebal memancar membumbung tinggi, menyebarkan aroma harum magis nan pekat. Hamba membaca mantera kuno bahasa-ibu Dayak Salako, memanggil kehadiran roh leluhur (pahiangan) untuk menjadi mentor dan pelindung dalam pertarungan ini.

Asap kemenyan itu hamba sau’-kan—yakni dilingkarkan mengelilingi raga gadis yang sakit itu sebanyak tiga putaran penuh. Seketika itu jua, tatkala asap tebal menyelimuti tubuhnya, jeritan gadis itu semakin melengking dahsyat! Udara di sekeliling kami terasa mendadak dingin bagaikan es, dan cahaya lampu pelita meredup menjadi kemerahan.

Dari balik asap kemenyan yang membumbung, hamba melihat penampakan sesosok bayangan hitam mahabesar dengan mata merah menyala, bergelayut di atas dada gadis itu. Itulah makhluk halus penghuni rawa kelam yang telah mengisap sumangat (jiwa) sang gadis.

"Wahai roh jahat!" teriak hamba seraya menghentakkan kaki ke lantai papan. "Engkau berhadapan dengan kekuatan Jubato dan naungan pahiangan!"

Hamba mengulurkan tangan, lalu melakukan ritual barase’ atau intrance—yakni memasukkan kesadaran hamba ke dalam batas alam gaib. Pandangan hamba berubah menjadi merah pekat. Di alam roh itu, pertarungan tak kasat mata terjadi dengan amat sengit. Hamba melafalkan doa-doa penawar racun dan mantra pengusir, mengibaskan asap kemenyan bagaikan pedang cahaya yang menebas bayangan kelam tersebut.

Jeritan dan gerungan mahluk itu menggema di dalam telinga hamba. Tubuh gadis itu terangkat sedikit dari atas lantai, lalu terhempas kembali dengan keras. Namun hamba tidak gentar walau sekelumit pun. Irama dau dan dentuman suben dipercepat, menambah kekuatan getaran magis di dalam ruangan. Hamba mengambil segelas air putih, lalu memanterakannya hingga menjadi air tawar yang sakral.

Dengan memohon bantuan Jubato, hamba memercikkan air tawar itu ke ubun-ubun sang gadis sebanyak tiga kali, lalu memasukkan beberapa titik air ke dalam mulutnya. Seketika itu jua, makhluk hitam gaib itu melengking teramat sangat, lalu terlempar keluar dari raga sang gadis dan melesat lenyap membelah kegelapan malam!

Gadis itu mendengus napas panjang, lalu matanya kembali normal. Ia terkulai lemas, memuntahkan cairan hitam pekat ke atas kain, menandakan racun dan ilmu jahat telah tawar dari tubuhnya.

Pertarungan gaib itu berlangsung berjam-jam, memakan waktu hingga tiga malam berturut-turut. Malam memang lah dunianya para roh dan Jubato. Namun tatkala waktu telah meniti menuju pukul empat pagi, suasana alam mulai berubah. Dari jauh, suara ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan di sudut-sudut bantang.

"Tataplah ke luar," bisik hamba kepada penabuh musik. "Fajar akan terbit. Para Jubato, pahiangan, dan roh-roh petang harus segera kembali ke persemayaman mereka."

Hamba segera mengakhiri ritual badukun dan baiotn tersebut. Hamba mengambil batang taman—yakni sebatang pisang Jeranang yang belum berbuah yang telah disediakan sebagai wadah menampung sisa-sisa roh yang hadir dalam upacara. Dengan dipandu oleh utusan keluarga, batang taman itu dibawa dan dibuang jauh-jauh ke dalam hutan rimba dan semak belukar di ujung kampung (bantang). Pembuangan ini menjadi penanda bahwa sekalian roh telah dikembalikan ke alamnya, dan ikatan gaib telah diputuskan.

Maka tatkala sang suria mulai memancarkan sinar pertamanya di ufuk timur, hamba memerintahkan keluarga pesakit untuk melaksanakan ritual boo’ (nyepi) keluarga selama tiga hari berturut-turut. Selama masa nyepi ini, tiada seorang pun boleh keluar atau masuk ke rumah tersebut, guna memulihkan ketenteraman raga dan jiwa yang baru sahaja lepas dari cengkeraman mahluk halus. Setelah masa tiga hari itu genap, barulah diadakan upacara ritual basaru’ sumangat—yakni kenduri selamatan untuk memanggil kembali seluruh jiwa yang sempat terbang agar melekat kukuh pada raga sang gadis.

Maka selesailah tugas hamba sebagai seorang Pamabore Besar. Hamba melangkah pulang ke rumah panggung hamba dengan tubuh yang lelah, namun jiwa yang tenang. Di sepanjang jalan, hamba melihat beberapa warga biasa—para pamabore kecil—sedang membantu tetangga mereka yang terkena penyakit ringan atau keracunan buah jengkol (kejangingan), mengobatinya dengan serbuk kunyit, coretan kapur (baconteng), atau semburan sirih (basambur). Ada pula perempuan terampil yang lahir terbalik (sunsokng) sedang berjalan ke tepi ladang padi guna mengusir hama ampango (walang sengit) dengan mengibaskan ranting pohon ansamat dan mengasapi ladang dengan serai Belanda (parabun).

Maka ketahuilah olehmu wahai pembaca, bahwasanya di dalam kehidupan suku Dayak Salako, batas antara alam nyata dan alam gaib adalah setipis benang merah. Dan hamba, Sang Pamabore, akan senantiasa berdiri sebagai penjaga gerbang di antara kedua dunia itu, memegang bara api kemenyan dan mantra leluhur demi keselamatan anak cucu Bantang Salako.

Maka tamatlah hikayat Pamabore ini dengan segala kerahasiaan dan keagungannya.

Hikayat Mak Sumi dan Parang Patahi

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan di dalam sebuah negeri nan makmur lagi subur, dinamai orang Negeri Bantang Salako. Adapun di negeri itu, terhampar belantara nan mahaluas lagi senantiasa dilitupi kabut tebal pada malam hari, tempat bermukim anak cucu manusia yang hidup beralaskan adat dan bersandarkan petunjuk para leluhur. Maka di dalam struktur kehiupan sosial komunitas tersebut, terdapatlah hamba-hamba Allah yang dikaruniai hikmat serta keahlian khusus nan tiada dimiliki oleh khalayak ramai, yang digelar orang tukang atau orang pandai.

Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Mak Sumi, seorang perempuan tua yang telah berkali-kali menyaksikan pergantian bulan dan musim. Dalam kalangan penduduk bantang, hamba digelar Tukang Pangarabanan—yakni bidan kampung yang memegang amanah memimpin persalinan (bapero’), menyambut titisan nyawa yang baru terbit dari alam gaib ke alam fana ini. Kemampuan yang ada pada dada hamba ini bukannya diperoleh dengan kemudahan, melainkan diwarisi daripada jalur keturunan dan panggilan gaib yang dipandu oleh roh pahiangan—yakni roh baik nan senantiasa mendampingi dan memberi petunjuk tatkala hamba menjalin tugas-tugas nan sarat marabahaya.

Sebermula maka pada suatu malam jumaat yang hening, angin pegunungan bertiup teramat dingin menembus celah-celah dinding buluh rumah panggung hamba. Tatkala sang suria telah lama beradu di balik perbukitan dan malam telah meniti ke puncaknya, datanglah seorang lelaki dewasa berlarat-larat dengan napas yang memburu. Ia mengetuk pintu rumah hamba dengan tergesa-gesa. Lelaki itu bernama Bada, seorang peladang dari hujung bantang.

"Ampunkan hamba, Mak Pangarabanan!" jerit Bada dengan suara yang parau lagi gemetar. "Sudilah kiranya Mak Segera melangkah ke rumah hamba. Istri hamba sedang bertarung nyawa untuk melahirkan anak kami yang pertama. Sakitnya telah merambat sejak senja tadi, namun sang bayi belum jua menampakkan tanda-tanda hendak keluar!"

Melihatkan keadaan Bada yang teramat cemas itu, maka hamba pun tidak melengahkan waktu lagi. Hamba mengambil sebuah botol kecil sebesar ibu jari yang berisi minyak sakral dan azimat-azimat rahasia—sebuah benda bertuah yang dinamai conekng, nan menjadi wadah dan sumber kekuatan superinsani hamba. Hamba sisipkan conekng itu ke dalam kemboja kain hamba, lalu melangkah membelah kegelapan malam yang pekat.

Maka tatkala sampai di halaman rumah Bada, hamba menyuruh Bada menyiapkan segala alatan kelengkapan adat untuk menangkal gangguan makhluk halus. Ketahuilah olehmu, bahwasanya tatkala seorang perempuan hendak melahirkan, bau darah amis yang merebak ke udara akan memanggil-manggil kehadiran iblis dan roh-roh jahat—terutamanya antu bantianak (hantu kuntilanak) nan amat dahaga akan darah ibu dan bayi.

Maka dengan sigap, Bada mengambil sebuah parang tua yang telah patah putingnya. Parang tua itu dipantakkannya tegak lurus ke dalam tanah tepat di sebelah pintu utama rumah panggungnya, lalu permukaannya diconteng-conteng dengan kapur sirih. Syahdan, pancangan parang patah dan garis kapur itu menjadi pagar gaib nan kukuh, sehingga roh-roh jahat tidak akan berani melintasi ambang pintu untuk mengganggu proses persalinan.

Hamba pun naik ke atas rumah. Di dalam kamar nan samar-samar dilintasi cahaya pelita minyak jarak, terbaringlah istri Bada yang bernama Kumang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan wajahnya pucat bagaikan kain kafan. Di samping pembaringan telah tersedia sebuah pantarotn—yakni piring sakral berisi beras kuning, selembar antek (sirih yang dioles kapur, pinang, dan gambir), sebatang rokok nipah, serta beberapa keping uang seadanya sebagai simbol paribaso atau etiket adat kepada roh-roh pembantu. Terletak pula di atas piring itu dua buah manik-manik batu nan dinamai samoopm.

Maka hamba pun duduk bersila di sisi Kumang. Hamba ambil conekng dari kemboja kain, lalu diletakkan dengan takzim di atas pantarotn. Setelah itu, hamba mengambil samoopm—dua manik batu bertuah—lalu mengikatkannya pada pergelangan tangan kiri hamba sebagai benteng diri. Hamba mengambil sejemput beras daripada pantarotn, lalu hamba berdiri menghadap ke arah timur, ke tempat terbitnya sang suria yang memancarkan kehidupan.

Hamba komat-kamit melafalkan mantera-doa kuno, memanggil-manggil kehadiran roh pahiangan agar sudi hadir menjadi mentor dan melapangkan jalan bagi sang bayi. Syahdan, selesai sahaja mantera dibaca, hamba pun melontarkan beras sejemput itu ke udara, melayang ke arah timur. Seketika itu jua, udara di dalam kamar terasa mendadak hangat, dan keheningan malam seolah-olah dipenuhi oleh naungan gaib nan menenteramkan jiwa.

"Dengar wahai Kumang," bisik hamba ke telinga perempuan muda itu seraya mengelus perutnya dengan minyak daripada conekng. "Pusatkan ingatanmu pada Sang Creator. Jangan engkau gentar, kerana roh pahiangan sedang berdiri melingkungi kita."

Hamba mulai memijat dan membidani (ngarabanan) perut Kumang dengan lembut namun mantap, mengarahkan posisi sang bayi agar sejajar dengan pintu kelahiran. Keriuhan kecil terjadi tatkala rasa sakit kembali menyerang Kumang. Ia menggemertakkan giginya seraya menggenggam erat tangan suaminya. Di luar rumah, berhembus angin kencang yang memukul-mukul dedaunan pisang; sayup-sayup terdengar derit kepakan sayap dari kegelapan hutan—tanda bahwasanya antu bantianak sedang memutari rumah, namun tidak sanggup menembus wibawa parang patah dan garis kapur di balik pintu.

Maka dengan petunjuk daripada roh pahiangan, hamba bimbing napas Kumang dengan sabar. "Hela napasmu, anakku... Teranlah tatkala gelombang sakit itu datang!"

Kumang mengumpul seluruh sisa tenaganya, merintih dan meneran dengan penuh kepasrahan. Maka pada saat yang maha penting itu, dengan izin Allah dan bantuan pahiangan, pecahlah tangisan nyaring seorang bayi laki-laki nan elok rupanya, membelah kesunyian malam di Bantang Salako. Tangisan itu bergema dengan nyaringnya, mengusir sekalian bayang-bayang kelam yang bergentayangan di luar rumah.

Hamba dengan sigap menyambut sang bayi, memotong tali pusatnya, menyucikannya dengan air hangat, lalu meletakkannya di atas dada sang ibu. Bada meneteskan air mata kebahagiaan seraya sujud bersyukur di sudut kamar.

Selesai sahaja tugas pembidanan itu, hamba tidak meminta upah berupa emas, perak, atau mata uang, kerana di dalam hukum adat kami, tugas seorang pangarabanan tidaklah dinilai dengan tarif atau harga. Hamba hanya mengambil isi daripada pantarotn—yakni beras, sirih, rokok nipah, dan sekeping uang seadanya—sebagai bentuk balas jasa yang sah menurut adat leluhur.

Maka beberapa bulan kemudian, tatkala sang bayi telah genap berusia tiga bulan, Bada dan keluarganya menggelar upacara ritual matuho atau batooh (basaru’ sumangat). Hamba kembali diundang dengan penuh hormat untuk menghadiri majelis kenduri tersebut. Di hadapan para tetua adat dan warga bantang, nama sang bayi diresmikan dan jiwa sang anak dipanggil (basaru’ sumangat) agar melekat kukuh pada raganya, diakui secara sah sebagai anggota keluarga dan komunitas suku Dayak Salako.

Atas jasa pembidanan itu, keluarga Bada memberikan epet—sebuah bungkusan sakral yang berisi daging ayam sebelah (barokng manok), sebungkus tumpi’, dan dua batang poe’ (pulut dalam bambu)—sebagai tanda penghormatan tertinggi kepada sang bidan kampung. Bahkan tatkala upacara ngabayotn dan sembahyang besar booh nyawo diselenggarakan oleh kampung, hamba sebagai pangarabanan senantiasa mendapat bagian babuk bersama-sama dengan para pengurus adat lainnya.

Demikianlah kisah perjalanan hidup hamba, Mak Sumi Sang Tukang Pangarabanan. Di balik rimba yang sunyi dan malam yang dingin, jemari tua hamba menjadi saksi atas benih-benih kehidupan baru yang mekar di bumi Salako. Selagi matahari masih terbit dari ufuk timur dan parang patah masih terpancang di tepi pintu, hamba akan senantiasa berdiri menuntun nyawa-nyawa baru melangkah ke alam fana ini dengan selamat.

Maka tamatlah hikayat Tukang Pangarabanan ini dengan segala selamat dan sempurnanya.

Hikayat Sang Penempa Besi dan Derap Takdir Rimba

Maka tersebutlah kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang mahaluas lagi lindap oleh pohon-pohon ulin nan menjulang ke angkasa. Adapun negeri itu bernama Bantang Salako, sebuah petempatan tempat anak cucu leluhur bermukim, berladang, dan mengagungkan adat tradisi yang diwariskan turun-temurun. Alkisah, di luar lingkaran para tetua organisasi dan pengurus adat yang duduk di balai, terdapatlah hamba-hamba yang memegang keahlian khusus yang dinamai tukang.

Hamba yang empunya cerita ini bernama Utan, seorang yang dikaruniai bakat oleh Dewara untuk menjadi Tukang Tampo—atau yang kerap pula disapa oleh warga bantang sebagai tukang pantotn, yakni seorang pandai besi. Hamba bukanlah seorang pamane atau pamaiotn yang sanggup memanggil roh pahiangan tatkala malam mencekam, bukan pula seorang pangarabanan yang mampu menyambut bayi yang baru terbit ke dunia. Hamba hanyalah seorang peladang biasa yang tangannya berteman dengan bara api, landasan besi, serta dentang tempaan kuali. Namun demikian, tanpa tempaan dari jemari hamba, tiada satu pun parang, beliung, maupun kapak yang dapat menembus keperawanan hutan untuk dijadikan ladang padi.

Maka tatkala musim berladang kian menghampiri, gubuk penempaan hamba yang terletak di hujung kampung tidak pernah sepi dari keriuhan. Asap hitam membubung tinggi ke udara, membaur dengan wangi daun-daun kering yang terbakar. Orang-orang dari segenap pelosok bantang datang berduyun-duyun membawa perkakas besi milik mereka yang telah tumpul, retak, atau patah putingnya. Mereka datang memohon bantuan hamba untuk natari’—yakni membetulkan dan merawat kembali bilah-bilah besi yang menjadi urat nadi kehidupan di rimba.

Maka pada suatu hari, tatkala matahari baru sahaja merambat setinggi pohon pinang, datanglah seorang peladang muda bernama Beli membawa sebuah parang tua yang amat tumpul dan karatnya telah memakan mata besi.

"Wahai Paman Utan, Tukang Tampo yang arif," kata Beli seraya menyerahkan parang itu dengan kedua belah tangannya. "Musim baketo sudah di ambang pintu. Hamba mohon sudilah Paman membaiki parang pusaka ini, kerana tanpa parang ini, tiadalah sanggup hamba menebas semak dan membuka ladang untuk anak bini hamba."

Hamba mengambil parang itu, menimangnya sejenak, lalu menatap mata Beli. "Wahai anak muda," ujar hamba dengan suara berat berselimut debu arang. "Ketahuilah olehmu, pekerjaan natari’ ini bukanlah sekadar menghembus ubupan dan memukul besi panas. Ada takdir yang tertulis di atas landasan besi ini. Sebelum ritual baketo diselenggarakan oleh kampung, perkakasmu ini pasti akan siap. Namun ingatlah, besi yang kutempa ini harus engkau suci dan diurapi (di-caek) kelak dalam upacara baketo, supaya ia tidak memakan tuannya sendiri sewaktu engkau bekerja di ladang."

Maka Beli pun membongkokkan badan, mengucapkan terima kasih lalu beredar dari tempat penempaan hamba. Tinggallah hamba seorang diri di hadapan tungku api yang membara. Maka hamba mulai menjepit parang tua itu dengan penyepit besi, membenamkannya ke dalam bara arang yang merah menyala. Hamba tarik dan dorong tangkai ubupan, menghembuskan angin ke jantung api hingga nyalanya menjulang berwarna kebiruan.

Tatkala besi itu telah menjadi merah membara bagaikan lidah naga, hamba mengangkatnya cepat-cepat dan meletakkannya di atas landasan ulin yang dilapisi plat tembaga. Tuk! Tak! Dentang! Dentang!

Suara pukulan palu hamba bergema membelah kesunyian Bantang Salako. Setiap kali palu berat itu menghantam besi yang membara, percikan api memercik ke udara bagaikan bintang-bintang jatuh di siang hari. Bagi hamba, setiap dentang pukulan adalah sebuah doa pendek. Hamba menempa tidak hanya dengan otot, melainkan dengan jiwa. Hamba membentuk kembali siku-siku besi yang tumpul, meratakan matanya yang sumbing, dan menyatukan kembali retak-retak kecil yang tersembunyi.

Di tengah-tengah hamba sibuk menempa, datanglah melintas seorang perempuan tua yang amat dihormati di kampung kami, yakni Mak Sumi, seorang Tukang Pangarabanan atau bidan kampung. Beliau sedang berjalan terburu-buru menuju ke rumah seorang warga yang istrinya hendak melahirkan (bapero’). Mak Sumi berhenti sejenak di hadapan pondok penempaan hamba, menatap parang tua yang sedang hamba tempa.

"Wahai Tukang Tampo," kata Mak Sumi seraya tersenyum tipis. "Bagus benar tempaanmu hari ini. Jangan lupa, jika ada parang yang patah putingnya, sisakan satu untukku. Hamba memerlukannya untuk dipantakkan ke tanah di samping pintu rumah orang yang melahirkan, lengkap dengan coretan kapur sirih, agar hantu bantianak tidak berani datang mengganggu persalinan."

Hamba tertawa pelan seraya menyapu peluh di dahi dengan belakang lengan yang berjelaga. "Tenanglah, Mak Pangarabanan. Besi patah dan tua ada beronggok di sudut pondok ini. Ambillah mana yang engkau hajati demi keselamatan ibu dan bayi di bantang kita ini."

Maka Mak Sumi pun berlalu dengan tergesa-gesa. Hamba kembali menyepuh parang milik Beli. Hamba celupkan bilah yang membara itu ke dalam gentong air dingin yang telah dicampur dengan racikan daun-daun kuno. Suara desss! bergema nyaring, diiringi kepulan uap putih yang membumbung tinggi. Besi itu kini telah keras, tajam, dan siap untuk mengabdi pada tanah.

Hari berganti hari, dan malam pun menjelang. Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara dentuman dau, tiga buah gong, suben, dan tumo’ bergema dari rumah seorang warga. Itu adalah pertanda bahwa Sang Pamaiotn sedang melangsungkan ritual baiotn untuk mengobati orang sakit, atau mungkin seorang dukun sedang mengadakan ritual badukun dengan mantra Bisimbilah yang memanggil para Jubato.

Hamba menyandarkan palu berat hamba di tepi landasan. Hamba duduk di tingkap pondok, memandangi kegelapan malam yang dibalut lolongan angin rimba. Hamba merenungi betapa indahnya susunan takdir di dalam komunitas suku Dayak Salako ini. Di belantara yang mahaluas ini, setiap jiwa memiliki peranannya masing-masing yang telah ditata oleh Jubato di kayangan.

Para pamane dan pamaiotn menjaga hubungan manusia dengan alam roh dan para Jubato. Para pangarabanan menyambut nyawa baru yang terbit ke bumi. Para pamabore menyembuhkan raga yang lemah dan sakit. Para wanita menganyam tikar gagadokng dan menyusuk atap rumbia (nu’ur). Adapun hamba, Sang Tukang Tampo, berdiri tegak di persimpangan antara besi dingin dan api membara. Hamba bertugas memastikan bahwa alatan yang digenggam oleh jemari para peladang tidak akan mengecewakan mereka tatkala berhadapan dengan ganasnya rimba.

Syahdan, tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, upacara baketo pun dilangsungkan di tengah-tengah kampung. Seluruh peladang berkumpul membawa perkakas besi milik mereka yang telah selesai hamba natari’. Parang, beliung, dan kapak dibariskan dengan rapi di atas tikar anyaman. Minyak sakral diurapkan (di-caek) pada setiap bilah besi yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Doa-doa keselamatan dipanjatkan agar iron-iron perkakas itu tidak mencelakai kaki dan tangan para peladang sewaktu mereka menoreh tanah dan menebang kayu.

Beli, peladang muda itu, menghampiri hamba dengan wajah yang berseri-seri. Ia menggenggam parang pusakanya yang kini telah berkilat tajam bagaikan cermin.

"Paman Utan," kata Beli dengan penuh takzim. "Tengoklah parang ini. Ia bukan lagi besi tua yang mati, melainkan telah bernyawa kembali di tangan Paman. Hari ini hamba siap melangkah ke ladang tanpa rasa waswas."

Hamba menepuk bahu pemuda itu seraya tersenyum bangga. "Pergilah, Beli. Kerjakan ladangmu dengan tekun. Biarlah parang itu menjadi saksi bisu atas keringat dan perjuanganmu menafkahi keluarga. Ingatlah, selama api di pondok penempaan hamba masih menyala, besi-besi di Bantang Salako tidak akan pernah tumpul oleh zaman."

Maka Beli pun melangkah pergi menuju hutan bersama para peladang lainnya, membawa perkakas yang telah disepuh oleh jiwa dan peluh hamba. Hamba kembali melangkah ke pondok penempaan, menggenggam palu kesayangan, dan menarik ubupan. Suara dentang tempaan besi hamba kembali membahana, menyatu dengan desir angin rimba dan nyanyian burung-burung hutan—sebuah hikayat abadi tentang Sang Tukang Tampo yang menjaga nafas kehidupan suku Dayak Salako di bumi Borneo.

Demikianlah hikayat ini tamat diringkaskan.

Cerpen: Janji di Tepi Sungai Mempawah

Di tengah pekatnya kabut ketakutan yang menyelimuti pedalaman Kalimantan Barat pada Oktober 1967, cinta tumbuh di tempat yang paling tidak terduga.

Gusti adalah seorang pemuda Dayak dari hilir Sungai Mempawah. Ia memiliki tegap tubuh seorang pemburu dan ketajaman mata seorang prajurit rimba. Namun, di balik seragam kain merah yang terikat di kepalanya dan mandau yang terikat di pinggangnya, hatinya tidak dipenuhi oleh dendam atau haus darah. Ketika api perlawanan membakar kampung-kampung di sekitar Bengkayang dan Menjalin, Gusti bertugas menyisir lorong-lorong hutan bersama barisan pemuda kampung untuk menjaga wilayah mereka dari penyusupan gerombolan komunis PGRS/PARAKU.

Sementara itu, Mei Ling adalah putri seorang pedagang kelontong di kawasan Toho. Wajahnya lembut seperti bulan purnama, dengan mata yang menyimpan ketenangan pedalaman. Namun, ketenangan itu hancur tatkala gelombang penyerangan menjalar hingga ke kampungnya. Dalam kepanikan eksodus massal, Mei Ling terpisah dari rombongan keluarganya yang berlari menuju jalan besar arah Singkawang.

Sore itu, hujan deras mengguyur rimba. Mei Ling bersembunyi di balik perahu kayu yang terbalik di tepi Sungai Mempawah, tubuhnya menggigil kedinginan dan ketakutan. Dari balik semak-semak, langkah kaki berat mendekat. Mei Ling memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi takdir paling buruk.

Ketika semak-semak tersingkap, bukannya bilah mandau yang menyapa lehernya, melainkan sepasang mata hangat milik Gusti.

Gusti tertegun melihat gadis Tionghoa yang gemetar di hadapannya. Di mata Gusti, Mei Ling bukanlah ancaman atau bagian dari gerombolan bersenjata yang diburu di dalam hutan; ia hanyalah seorang gadis malang yang ketakutan dan tak berdaya. Tanpa ragu, Gusti menyarungkan mandau-nya dan melepaskan kain pelindung bahunya untuk diselimutkan ke tubuh Mei Ling yang kedinginan.

"Jangan takut," bisik Gusti dengan bahasa Melayu lokal yang lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."

Sejak sore itu, di sebuah gubuk peladang tersembunyi yang tak tersentuh kecamuk perang, Gusti menyembunyikan dan merawat Mei Ling. Di tengah riuhnya desing tembakan di jauh sana dan kepulan asap dari bangunan yang terbakar, dua insan dari latar belakang yang berdeda itu saling mengenal satu sama lain.

Malam demi malam diisi dengan bisikan cerita. Mei Ling bercerita tentang impian sederhananya untuk kembali merajut benang dan membantu ibunya di dapur. Gusti bercerita tentang keindahan rimba saat musim buah tiba dan lagu-lagu burung malam yang menentramkan. Dalam kesunyian gubuk pelandangan itu, sekat-sekat prasangka runtuh. Rasa simpati perlahan berubah menjadi benih-benih asmara yang sangat dalam.

"Mengapa engkau menolongku, Gusti?" tanya Mei Ling suatu malam, menatap lekat mata pemuda itu di bawah remang api pelita. "Orang-orang di luar sana saling membenci..."

Gusti menggenggam erat tangan Mei Ling yang hangat. "Sebab matamu tidak menyimpan kebencian, Mei Ling. Hutan ini mengajarkanku bahwa semua pohon membutuhkan air yang sama untuk tumbuh. Cinta tak pernah memilih di mana ia harus bersemi."

Namun, masa-masa manis itu dibayangi oleh waktu yang terus berjalan. Gelombang pengungsian kian masif, dan aparat semakin gencar menertibkan wilayah pedalaman. Gusti tahu, ia tidak bisa selamanya menyembunyikan Mei Ling di gubuk itu. Tempat paling aman bagi Mei Ling adalah bergabung dengan puluhan ribu pengungsi lain di kota Singkawang yang dijaga oleh Palang Merah dan pemerintah.

Dua minggu kemudian, di bawah naungan kabut fajar, Gusti menuntun Mei Ling menuju pinggir jalan raya tempat truk-truk penampungan mengangkut para pengungsi. Air mata Mei Ling menetes tak terbendung. Perpisahan ini terasa lebih menyakitkan daripada dentuman perang di luar sana.

Sebelum Mei Ling menaiki truk, Gusti melepaskan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk bunga melati yang dibuatnya sendiri selama malam-malam penantian dan menyerahkannya ke telapak tangan Mei Ling.

"Bawalah ini," ujar Gusti, suaranya parau menahan gejolak di dada. "Ke mana pun angin membawa kapal pengungsianmu, ingatlah bahwa ada hati yang tertinggal di tepi Sungai Mempawah ini."

Mei Ling menggenggam ukiran kayu itu erat-erat di dadanya, lalu mengecup pipi Gusti dengan penuh kerinduan dan kepasrahan. "Aku akan menyimpan janji ini, Gusti. Jika rimba ini kembali damai, aku akan mencari jalan untuk kembali padamu."

Truk berjalan perlahan, membelah debu jalanan menuju kota Singkawang, membawa Mei Ling menjauh dari pedalaman yang bergejolak. Gusti berdiri tegap di tepi jalan, memandangi bayangan truk yang kian menghilang di balik bukit.

Perang dan konflik mungkin bisa menghancurkan rumah-rumah dan memisahkan ribuan manusia, tetapi rasa cinta yang telah bertaut di antara Gusti dan Mei Ling menjadi bukti abadi bahwa di tengah kelamnya tragedi kemanian, kemanusiaan dan kasih sayang tidak akan pernah sanggup dipadamkan.

Cerpen: Rintik Hujan di Jalan Singkawang

Nama aku Ah Kow. Keluarga kami sudah tiga generasi bermukim di sebuah kampung kecil di daerah pedalaman dekat Bengkayang. Ayahku mengelola kedai kelontong sederhana di tepi jalan kayu, sementara ibu bertanam sayur di pekarangan belakang. Selama bertahun-tahun, kehidupan kami menyatu dengan ritme pedalaman. Kami bertegur sapa hangat dengan tetangga-tetangga suku Dayak yang sering mampir membeli garam atau menukarkan hasil buruan dengan barang kebutuhan sehari-hari. Kami menganggap tanah ini sebagai rumah kami satu-satunya.

Namun, menjelang akhir tahun 1967, udara di pedalaman berubah menjadi dingin dan mencekam.

Di hutan-hutan sekitar kampung kami, berkeliaran kelompok-kelompok bersenjata yang menyebut diri mereka PGRS dan PARAKU. Mereka bersembunyi di balik lebatnya rimba, merampas pasokan makanan, dan mengklaim berjuang atas nama ideology komunis. Padahal, aku dan keluargaku hanyalah warga biasa yang sama sekali tidak paham urusan politik politik atau gerakan subversif itu. Kami hanya rakyat kecil yang ingin hidup tenang dan mencari makan dengan jujur.

Tetapi, kemalangan tak dapat ditolak. Di mata orang-orang pedalaman yang tersulut amarah, warna kulit dan bentuk mata kami menjadikan kami disamakan dengan para gerombolan bersenjata di dalam hutan.

Puncaknya terjadi pada suatu siang di pertengahan Oktober 1967.

Suara teriakan yang menggelegar dan kepulan asap hitam mendadak membumbung tinggi dari arah Kampung Taum dan lereng Gunung Merebuk. Teriakan perang bersahut-sahutan, disusul dentuman senapan lantak dan bau hangus kayu terbakar. Dari jendela rumah, aku melihat gelombang penyerangan datang bagaikan air bah yang membendung. Ratusan massa membawa mandau, tombak, dan sumpitan, mengepung rumah-rumah warga Tionghoa.

"Ah Kow! Lari! Cepat keluar dari rumah!" teriak Ayah hysteris seraya menarik lenganku dan Ibu.

Kami tidak sempat menyelamatkan harta benda sama sekali. Hanya baju yang melekat di badan dan sedikit perhiasan simpanan Ibu yang berhasil digenggam. Saat kami berlari menembus pintu belakang menuju semak-semak rimba, aku menoleh ke belakang dengan dada sesak. Kedai sederhana yang didirikan Ayah dengan keringat puluhan tahun terbakar hebat dilalap si jago merah. Dari kejauhan, jeritan histeris warga yang tak sempat melarikan diri terdengar memecah keheningan. Jeritan itu bercampur dengan kepanikan dan ratapan duka yang tak tertahankan.

Dalam sekejap, kami menjadi buronan di tanah yang kami anggap sebagai kampung halaman sendiri.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak, menghindari jalan raya karena takut berpapasan dengan aksi penyerangan yang terus menyebar ke Serimbu, Menjalin, Toho, hingga ke Mandor. Kaki Ibu melepuh dan berdarah, sementara Ayah berjalan dengan tubuh gemetar dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat. Ketakutan dan kepanikan meliputi ribuan warga Tionghoa pedalaman lainnya yang bernasib sama dengan kami.

Di sepanjang jalan menuju kota, aku menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Ribuan orang—orang tua yang renta, wanita yang menggendong bayi, hingga anak-anak kecil—berjalan berbondong-bondong dalam barisan panjang yang seolah tak ada ujungnya. Mereka membawa bungkusan kain berisi sisa-sisa harta yang sempat diselamatkan. Wajah-wajah mereka pucat pasi, matanya hampa dan kehilangan harapan.

"Ke mana kita akan pergi, Ayah?" bisikku pelan di tengah gerimis malam yang dingin.

"Ke Singkawang atau Pontianak, Nak... Asal kita bisa selamat di bawah penjagaan tentara," jawab Ayah parau, matanya menatap lurus ke kegelapan jalan.

Setibanya di jalan raya antara Singkawang dan Pontianak, tampak truk-truk ABRI lalang memuat pengungsi yang kelelahan. Kami berhasil menaiki salah satu kendaraan penampungan. Lebih dari lima puluh ribu jiwa terkumpul di tempat-tempat pengungsian darurat yang didirikan oleh Palang Merah Indonesia dan pemerintah daerah. Di dalam tenda-tenda pengungsian yang sempit dan kumuh, ratapan kehilangan terdengar di setiap sudut. Banyak keluarga yang terpisah dari kerabatnya, dan tak sedikit yang kehilangan anggota keluarga tercinta selama eksodus mengerikan itu.

Beberapa minggu kemudian, kabar sampai ke telinga kami bahwa pertempuran di pedalaman telah mereda setelah terbentuknya Laskar Pangsuma dan dilakukannya tindakan pengamanan oleh aparat. Gerombolan komunis PGRS/PARAKU yang bersembunyi di hutan telah hancur dan terputus jalur pasokannya.

Namun bagi kami, kemenangan itu dibayar dengan kehilangan yang amat dalam.

Aku berdiri di tepi pantai kota Singkawang, memandang ombak laut yang bergulung hampa. Rumah kami di pedalaman telah menjadi abu, kebun dan toko kami telah lenyap, dan kehidupan yang kami bangun dengan penuh kedamaian kini tinggal kenangan yang menyakitkan. Kami selamat dari maut, tetapi kami kehilangan akar tempat kami tumbuh. Tragedi itu meninggalkan luka yang teramat dalam di dalam dada—sebuah jejak kelam tentang bagaimana rakyat kecil selalu menjadi korban dari kecurigaan dan konflik kekuasaan yang tak pernah kami inginkan.

Cerpen: Bunga Merah di Balik Mandau

Kamu berdiri di ambang pintu rumah panggung, membetulkan ikatan kain merah di kepalamu dengan jemari yang gemetar halus. Di halaman, suara dentum genderang perang dan riuk teriakan para pemuda Dayak memecah keheningan rimba Bengkayang. Tanggal 14 Oktober 1967 itu, tanah tempatmu berpijak bergejolak hebat. Mangkok merah telah beredar hingga ke kampungmu, menandakan bahwa rimba tempat lahirmu sedang terancam oleh serbuan gerombolan komunis PGRS/PARAKU. Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan oleh napas hutan, kamu tahu betul bahwa tugas heroik memanggilmu untuk berdiri di garis depan demi melindungi negerimu.

Namun, sebelum kamu memegang gagang mandau milik ayahmu, sebuah jemari halus menyentuh lenganmu.

Kamu membalikkan badan dan menatap mata Anik, gadis bertubuh ramping yang selama ini menjadi muara bagi segala gelisahmu. Dalam matanya yang bening, kamu melihat gumpalan ketakutan dan rindu yang saling bertautan. Anik melingkarkan manik-manik merah di pergelangan tanganmu—sebuah jimat perlindungan dan janji asmara yang dianyamnya sendiri.

"Kembalilah, Jalung," bisik Anik, suaranya parau menahan tangis. "Jangan biarkan rimba ini mengambilmu dari sisiku."

Kamu tersenyum tipis, menggenggam erat jemarinya, lalu mengecup keningnya di bawah naungan atap kayu ulin. "Hutanku sedang terluka, Dinda. Aku harus pergi menumpas mereka yang merusak kedamaian kita. Tapi percayalah, selagi manik-manik ini ada di tanganku, langkahku akan selalu menemukan jalan pulang padamu."

Dengan janji romantik yang terpatri di dada, kamu melangkah mantap bergabung dalam barisan. Kamu bukan lagi pemuda pendiam yang menggembala di ladang, melainkan seorang pahlawan rimba yang siap menerjang bahaya. Bersama puluhan pemuda kampung bersenjatakan senapan lantak, mandau, dan sumpitan, kamu memimpin pergerakan menembus lebatnya hutan menuju basis-basis musuh.

Aksi heroikmu dimulai dari lereng Gunung Merebuk hingga menembus garis pertahanan musuh di pedalaman. Di tengah desing peluru dan kepulan asap dari bangunan yang terbakar, kamu bergerak lincah bak macan dahan. Ketika musuh mencoba bertahan, kamu melompat menerjang dengan keberanian luar biasa, melayangkan mandau-mu untuk melumpuhkan mereka yang bersembunyi di balik kegelapan. Keberanianmu membakar semangat kawan-kawan seperjuanganmu di sepanjang Serimbu, Menjalin, hingga ke Toho. Kamu bertarung mati-matian, memutus jalur pasokan gerombolan, dan menyempitkan ruang gerak mereka yang selama ini menyebarkan teror di pedalaman.

Satu bulan penuh dalam 15 gelombang penumpasan yang dahsyat, kamu berada di baris terdepan pertempuran. Setiap kali keletihan melanda dan aroma mesiu menusuk hidungmu, kamu menyentuh manik-manik merah di gelangmu. Bayangan senyum Anik dan ingatan akan kehangatan pelukannya menjadi perisai jiwa yang membuatmu tak tergoyahkan oleh rasa takut sedikit pun.

Hingga akhirnya, gelombang aksi penumpasan itu mulai mereda tatkala Laskar Pangsuma dibentuk untuk mengendalikan situasi dan memastikan kemenangan berada di tangan yang tepat. Gerombolan komunis telah hancur dan kian terdesak di ceruk-ceruk hutan paling dalam. Rimba pedalaman perlahan kembali menemukan ketenangannya.

Sore itu, ketika kabut tipis mulai turun membalut bukit, kamu melangkah kembali menyusuri jalan setapak menuju kampungmu. Langkahmu tegap, tubuhmu penuh dengan jelaga pertempuran, tetapi matamu bersinar terang. Di ujung jembatan kayu, sosok Anik telah berdiri menunggumu dengan air mata kebahagiaan.

Kamu membuktikan keberanianmu sebagai pahlawan yang menumpas ancaman di tanah airmu, sekaligus menjaga kesetiaanmu sebagai kekasih yang menepati janji untuk pulang. Di bawah naungan senja pedalaman, kamu merengkuh Anik dalam pelukan hangat—menyatu dalam kemenangan dan cinta yang abadi.

Cerpen: Darah, Mandau, dan Jeritan Rimba

Nama aku Jalung. Aku dilahirkan di sebuah betang tua yang teduh, jauh di pedalaman bumi Kalimantan Barat. Bagi kami, orang-orang Dayak, hutan adalah ibu yang menyusui dan rimba adalah bapa yang melindungi. Bertahun-tahun hidup kami dipenuhi ketenangan; bertanam padi di ladang, berburu di pekatnya rimba, serta mendengarkan riak air sungai yang bening. Namun, ketenangan itu mendadak sirnah ketika kabut hitam menyelimuti bumi kami.

Di pedalaman, sekonyong-konyong muncul sekelompok orang bermata sipit yang menyebut diri mereka gerombolan PGRS dan PARAKU. Mereka menyusup ke desa-desa kami, mendirikan basis-basis pasokan, serta merampas hasil ladang. Pada awalnya, kami tak tahu-menahu apa itu ajaran komunis. Yang kami paham, ketenteraman hidup kami terganggu. Lebih gawat lagi, kehadiran mereka membuat kami terjepit di antara dua mata pisau; prajurit pemerintah memburu gerombolan itu, sementara gerombolan itu bersembunyi di balik kampung-kampung warga Tionghoa yang tersebar di pedalaman.

Puncaknya terjadi pada suatu hari yang tak akan pernah kulupakan—14 Oktober 1967.

Rabu pagi itu, kabar duka melayang bersama angin dari arah Gunung Merebuk dan Kampung Taum di Kecamatan Seluas. Pertempuran hebat pecah. Namun yang membuat darah kami mendidih bukanlah sekadar desing peluru, melainkan rasa terancam yang teramat sangat. Kesabaran para tetua adat akhirnya habis. Mangkok merah—simbol panggilan perang suci—telah beredar dari satu kampung ke kampung lain. Itu adalah pertanda bahwa tanah warisan leluhur sedang dalam bahaya besar dan seluruh pria harus bangkit membela diri.

Aku mengikatkan kain merah di kepala, menggenggam erat gagang mandau kayu ulin milik mendiang ayahku, serta menyandang sumpitan dan senapan lantak. Di sampingku, ratusan pemuda Dayak dari berbagai pelosok telah berkumpul. Wajah-wajah mereka membeku, matanya memancarkan api kemarahan.

"Hari ini, kita bersihkan tanah kita dari gerombolan yang merusak kedamaian!" seru seorang pemuka adat kami dengan suara menggelegar.

Maka, meletuslah gelombang penyerangan pertama. Dari Gunung Merebuk, aksi kami menjalar seperti api menyambar semak kering. Kami bergerak serentak melintasi lembah dan sungai. Suara sumpitan berdesis di udara, disusul dentuman senapan lantak dan kilatan mandau yang terhunus. Rumah-rumah yang disinyalir menjadi basis pelindungan dan pasokan gerombolan diserbu dan dibakar. Dalam kekacauan yang maha dahsyat itu, riuh teriakan perang bersahut-sahutan dengan jeritan histeris.

Harus kuakui dengan jujur, dalam gelombang amarah yang meluap-luap itu, kami sulit membedakan mana anggota gerombolan PGRS/PARAKU yang bersenjata dan mana warga Tionghoa biasa yang tak berdosa. Kabut dendam dan amarah telah menutup mata rantai nurani. Siapa pun yang bersembunyi di dalam kampung-kampung itu tak luput dari kepungan kami. Puluhan orang roboh bersimbah darah di tanah yang mereka pijak.

Darah berceceran di dedaunan kering. Dalam kepungan aura magis dan kemarahan yang memuncak, beberapa orang di antara kami meminum darah dan memakan hati musuh—sebuah ritual purba yang mengerikan untuk menegaskan kemenangan atas lawan. Amarah itu bukan sekadar benci, melainkan luapan histeria dari suku yang merasa terdesak di tanah kelahirannya sendiri.

Dari hari ke hari, aksi kami tak membendung lagi. Dari Bengkayang, gerakan kami merembet cepat menuju Serimbu, Sungai Betung, Mempawah Hulu, hingga ke Menjalin, Toho, Mandor, dan Sanggau. Tak kurang dari lima belas gelombang penyerangan berkobar selama satu bulan penuh. Di daerah-daerah yang tidak dijaga oleh pos tentara ABRI, aksi kami berlangsung tanpa ada yang sanggup menghentikan.

Hingga suatu hari, rombongan kami tiba di kawasan Senakin.

Di sana, pasukan tentara bersama anggota Hanra melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghadang barisan kami. Suara tembakan itu sempat membuat langkah kami terhenti. Namun, takdir berkata lain. Tiga peluru nyasar mengenai tiga kawan kami. Dua orang luka parah, dan satu orang tewas seketika di tempat.

Melihat kawan kami tergeletak tak bernyawa, amarah barisan pemuda Dayak pecah tak terkendali. Tembakan tentara tak lagi kami takuti. Penyerangan di hari kedua berlipat ganda lebih dahsyat dan berdarah. Senakin bergolak dalam gelombang amuk massa yang menakutkan.

Akibat dari kecamuk perang ini, ribuan warga Tionghoa dipenuhi rasa panik dan ketakutan yang mencekam. Mereka menyadari bahwa pedalaman tak lagi aman. Laki-laki, perempuan, tua, dan muda berbondong-bondong meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Jalan darat dari Singkawang hingga Pontianak dipenuhi lautan manusia yang berjalan kaki atau naik truk tentara untuk mengungsi. Lebih dari lima puluh ribu orang terusir dari rumah mereka dalam sekejap, mencari perlindungan di kota-kota besar bawah naungan Palang Merah dan pemerintah.

Melihat skala kehancuran dan eksodus yang begitu besar, para pemuka suku Dayak kami berhimpun di Pontianak. Mereka sadar, amarah spontan rakyat tidak boleh terus-menerus memakan korban jiwa orang-orang yang tak bersalah atau ditunggangi oleh kepentingan politik lain. Maka pada akhir Oktober 1967, dibentuklah Laskar Pangsuma.

Melalui Laskar Pangsuma dan dialog intensif dengan pemerintah, aksi penyerangan bertahap mulai bisa dikendalikan dan dihentikan. Langkah kami diarahkan kembali pada tujuan utamanya: memburu gerombolan komunis yang bersembunyi di rimba, bukan membantai sesama warga pedalaman.

Suatu malam di awal November, aku berdiri di atas bukit di daerah pedalaman Bengkayang. Di bawah sana, kampung-kampung yang dulunya ramai kini sunyi seperti kota mati. Tidak ada lagi gelak tawa warga Tionghoa yang biasa berdagang di kedai-kedai kayu. Yang tersisa hanyalah puing-puing hitam bekas terbakar dan keheningan rimba yang mencekam.

Perang ini memang berhasil menumpas basis pasokan PGRS/PARAKU. Hubungan antar-gerombolan musuh terputus total, dan ruang gerak mereka terdesak hingga ke sudut-sudut hutan yang paling kelam. Namun, ketika aku menyarungkan kembali mandau-ku yang telah berkerak darah, hatiku terasa hampa.

Aku memandang telapak tanganku yang gemetar. Kami telah mempertahankan tanah kami, tetapi harga yang harus dibayar sungguh teramat mahal. Rimba Kalimantan Barat telah menyaksikan betapa tipisnya batas antara keberanian mempertahankan diri dan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka menganga bagi sejarah negeri ini.

Cerpen: Darah dan Purnama di Kota Lama

Di balik dinding-dinding kayu istana Kota Lama, cinta Raden Sulaiman dan Mas Ayu Bungsu tumbuh bagaikan bungsu cempaka yang mekar di tengah riaknya Sungai Sambas. Pernikahan mereka bukan sekadar persatuan dua putra-putri bangsawan besar, melainkan pengikat dua takdir: Raden Sulaiman, putra Raja Tengah dari Berunai, dan Mas Ayu Bungsu, putri manis kesayangan almarhum Ratu Sepudak. Dalam tatapan mata mereka, ada kehangatan ikhlas yang menenangkan jiwa, tempat keduanya saling bersandar di tengah hiruk-pikuk kekuasaan istana.

Namun, di istana yang tampak tenang itu, asmara mereka senantiasa dibayangi oleh jelaga dengki. Pangeran Aria Mangkurat, saudara dari Raja Ratu Anom Kesuma Yuda, menatap Raden Sulaiman dengan tatapan penuh kebencian. Hatinya terbakar setiap kali menyaksikan betapa rakyat jelata dan para menteri begitu mengagumi Raden Sulaiman. Bagi Aria Mangkurat, senyum Raden Sulaiman adalah ancaman, dan kebahagiaan pemuda itu bersama Mas Ayu Bungsu adalah duri di dalam dagingnya.

Tragedi mulai merayap tatkala Ratu Anom Kesuma Yuda berlayar menuju Negeri Johor untuk mengantar upeti. Sepeninggal sang raja, Aria Mangkurat menyebarkan desas-desus beracun di sudut-sudut istana. Ia menuduh Raden Sulaiman tengah merencanakan kudeta berdarah untuk merebut takhta.

"Kanda, benarkah rumor jahat itu sengaja ditiupkan oleh Pangeran Aria Mangkurat?" bisik Mas Ayu Bungsu pada suatu malam, merapatkan tubuhnya di dada Raden Sulaiman sembari menggenggam jemari suaminya.

Raden Sulaiman mengelus lembut rambut istrinya, menatap redup lilin yang bergetar ditiup angin malam. "Biarlah fitnah itu terbang bersama angin, Dinda. Hati Kanda murni, hanya ada kedamaian untuk negeri ini dan kasih sayang untukmu."

Puncaknya terjadi tatkala se pucuk surat bertorehkan meterai kerajaan tiba dari lautan. Ratu Anom mengabarkan bahwa ia akan berlabuh di Kuala Muara Sungai Sambas Besar tepat pada saat bulan purnama raya. Ia memerintahkan penyambutan agung disiapkan.

Dengan penuh keikhlasan, Raden Sulaiman bekerja siang dan malam bersama sahabat setianya, Kiyai Setia Bakti, menghias perahu dan menyiapkan pesta penyambutan. Namun, Pangeran Aria Mangkurat hanya berdiri di kejauhan dengan wajah dingin melipat tangan, enggan menyentuh persiapan itu sedikit pun.

Malam purnama raya pun tiba. Cahaya perak memantul di permukaan air tatkala ratusan layar putih milik armada Ratu Anom membentang megah di muara. Sorak-sorai gembira dan dentum genderang bergema di udara saat Raden Sulaiman memimpin penyambutan. Pesta di istana berlangsung gilang-gemilang, tetapi kegembiraan itu berumur pendek.

Melihat betapa diagungkannya Raden Sulaiman dalam pesta itu, amarah dan dengki Aria Mangkurat tak lagi tertahan. Di tengah riuhnya musik, ia mencabut kerisnya dan menghujamkannya ke dada Kiyai Setia Bakti. Orang kepercayaan Raden Sulaiman itu roboh bersimbah darah di pelataran istana.

Suasana pesta seketika berubah menjadi jeritan horor. Mas Ayu Bungsu menggenggam erat lengan suaminya, merinding menyaksikan kekejaman saudaranya sendiri. Namun, tragedi sesungguhnya membakar hati Raden Sulaiman tatkala Ratu Anom Kesuma Yuda justru enggan menghukum Aria Mangkurat. Keadilan telah mati di Kota Lama.

"Kita harus pergi, Dinda," bisik Raden Sulaiman malam itu, menatap mata Mas Ayu Bungsu yang berlinang air mata. "Istana ini bukan lagi rumah bagi cinta kita, melainkan sarang api yang siap membakar rakyatnya sendiri dalam perang saudara."

Demi menyelamatkan asmara mereka dan menghindarkan rakyat dari tumpahan darah, Raden Sulaiman dan Mas Ayu Bungsu memilih melangkah keluar dari Kota Lama. Berdua, mereka melintasi belantara pekat menuju daerah Bandir untuk membangun kehidupan baru di Kota Bangun. Di sana, di antara duka kehilangan tanah kelahiran dan luka oleh kejahatan saudara, cinta mereka tetap bertahan—menjadi pilar bagi harapan yang kelak melahirkan zaman baru.

Cerpen: Cahaya dari Utara

Nama aku Ratu Sepudak. Di dalam dadaku mengalir darah gagah prajurit Majapahit. Bersama enam perwira lainnya, aku menyeberangi lautan luas hingga akhirnya menjejakkan kaki di tanah Kota Lama ini dan mendirikan sebuah kerajaan. Selama bertahun-tahun, aku bertakhta di bawah naungan ajaran leluhurku, menghormati para dewa, serta memimpin rakyatku dengan hukum Hindu yang kami bimbing dari tanah Jawa. Bagi saya, kejayaan Sambas adalah segalanya.

Namun, takdir Kerajaan Sambas berubah pada suatu hari yang tak terlupakan.

Dari balik gelombang sungai, tampak bahtera megah berlabuh dari Kerajaan Berunai. Dari atas kapal itu, turunlah seorang raja muda bernama Raja Tengah. Ia tidak datang membawa balatentara untuk berperang, melainkan membawa kedamaian. Baginda datang bersama istrinya, Ratu Surya, serta putra mereka yang masih muda, Raden Sulaiman—putra yang lahir tatkala mereka singgah di Kerajaan Tanjung Pura.

Sebagai tuan rumah, aku menyambut Raja Tengah beserta rombongannya di istana. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sosok Raja Tengah. Ia memeluk agama Islam.

Hari demi hari berlalu, dan aku semakin sering memperhatikan gerak-geriknya. Tutur katanya sangat santun, tegur sapanya halus, dan tata cara pergaulannya begitu memikat hati. Tidak ada keangkuhan dalam dirinya. Perilaku dan pusaka budi pekerti yang ditunjukkan oleh Raja Tengah benar-benar menarik perhatianku.

"Bagaimana mungkin seorang raja memiliki kelembutan hati yang begitu menenangkan?" batinku saat memperhatikan cara baginda berinteraksi dengan para menteri dan rakyatku.

Perlahan namun pasti, keindahan akhlak yang dipancarkan oleh Raja Tengah mulai menyentuh sanubariku. Bukan hanya aku, seluruh kerabat kerajaan dan rakyat Sambas pun ikut terpesona oleh kedamaian ajaran Islam yang dibawanya. Aku melihat bagaimana rakyatku begitu mudah menerima kehadiran mereka. Hati yang dahulu keras bak batu karang, kini luluh oleh hidayah.

Tanpa ada paksaan atau pertumpahan darah, aku bersama seluruh kerabat kerajaan dan rakyat jelata mengambil keputusan besar: kami memeluk agama Islam. Sejak saat itu, Kota Lama bergetar oleh gema doa yang baru.

Tahun demi tahun berlalu, dan aku menyadari bahwa usiaku tak lagi muda. Aku memandangkan pandangan ke masa depan Kerajaan Sambas. Aku melihat dua anak kandungku: Raden Prabu Kencana dan putriku, Mas Ayu Bungsu. Aku memutuskan untuk menikahkan Mas Ayu Bungsu dengan Raden Sulaiman, putra Raja Tengah yang bijaksana. Di sisi lain, keponakanku, Pangeran Perabu Kencana, kupersiapkan untuk melanjutkan takhta.

Ketika hari-hariku di dunia ini mulai mendekati akhir, aku memanggil keponakanku itu. Aku tahu, aturan di tanah Borneo mengatur bahwa raja tidak dipilih langsung oleh pemungutan suara rakyat, melainkan ditetapkan berdasarkan garis keturunan dan kesepakatan para menteri.

"Wahai keponakanku," bisikku pelan sebelum memejamkan mata untuk selamanya. "Jagalah negeri ini dengan asas bahwa raja ada untuk rakyat, dan rakyat ada untuk raja."

Sesudah aku wafat, Pangeran Perabu Kencana pun dinobatkan menjadi Raja Sambas di Kota Lama dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Ia memimpin didampingi saudaranya, Pangeran Aria Mangkurat, sebagai patih, serta menantuku, Raden Sulaiman, sebagai wakil patih.

Dari alam yang tenang ini, aku hanya bisa berharap agar benih kedamaian dan keimanan yang ditinggalkan oleh Raja Tengah di Kota Lama dapat terus terjaga, serta Raden Sulaiman—yang begitu dicintai rakyat—selalu dilindungi dari benih-benih iri dengki yang kelak mengintai kerajaanku.

HIKAYAT RAJA TENGAH DAN RADEN SULAIMAN

Alkisah maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat elok parasnya di tanah Borneo, bernama Kota Lama. Adapun pada zaman dahulu kala, tatkala tataran tanah Jawa masih dinaungi panji-panji Majapahit yang mahamulia, berdirilah Kerajaan Sambas. Syahdan, adalah seorang hulubalang perkasa lagi arif bijaksana, Baginda Ratu Sepudak namanya. Baginda merupakan salah seorang daripada tujuh perwira agung Majapahit yang berlayar menyeberangi samudra luas hingga sampai ke tanah Sambas, lalu bertakhta di sana dengan memeluk agama Hindu.

Hatta beberapa lamanya Baginda Ratu Sepudak bertakhta dengan adil dan saksama, maka dengan takdir Allah Subhana Wa Ta’ala, tibalah sebuah bahtera megah dari Tanah Berunai. Adalah bahtera itu dipimpin oleh seorang raja muda yang amat budiman, bertatahkan budi pekerti yang luhur serta paras yang rupawan, bergelar Raja Tengah. Baginda Raja Tengah telah memeluk agama Islam yang suci dan berlayar bersama sanak keluarga serta para pengikutnya yang setia.

Maka tatkala Raja Tengah beserta rombongan menginjakkan kaki di pertiwi Kota Lama, disambutlah mereka dengan penuh karunia oleh Ratu Sepudak. Kalakian, melihat akan tingkah laku, tutur kata yang manis, serta budi bahasa Raja Tengah yang amat santun, tergeraklah hati Ratu Sepudak. Kasih dan kagum meliputi sanubari sang raja tatkala menyaksikan indahnya akhlak yang dipancarkan oleh ajaran Islam melalui gerak-gerik Raja Tengah. Maka tiada berapa lama antaranya, dengan hidayah Tuhan Yang Maha Esa, Ratu Sepudak beserta seluruh pembesar, menteri, hulubalang, dan rakyat jelata Kerajaan Sambas pun bersatu hati menguakkan kegelapan lalu memeluk agama Islam.

Syahdan, sebelum Baginda Raja Tengah sampai di Kota Lama, telah lebih dahulu baginda singgah di Negeri Tanjung Pura, Sukadana, yang tatkala itu dipertuan oleh Giri Kesuma. Di sanalah Raja Tengah mempersunting seorang putri yang cantik jelita, Ratu Surya namanya. Maka daripada perkawinan yang dipenuhi rasa cinta dan kebahagiaan itulah lahir seorang anak laki-laki yang elok parasnya, diberi nama Raden Sulaiman. Raden Sulaiman tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani, cerdas, serta amat dikasihi oleh segenap rakyat jelata.

Hatta beberapa jalan masa berlalu, maka dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, berpulanglah Ratu Sepudak ke rahmatullah. Maka mengikut adat istiadat yang terpakai di Tanah Borneo pada zaman purbakala, takhta kerajaan tiadalah dipilih oleh rakyat, melainkan turun-temurun mengikut garis keturunan dan persepakatan para menteri serta kerabat di dalam istana. Maka diangkatlah keponakan Ratu Sepudak yang bernama Pangeran Perabu Kencana naik takhta menduduki singgasana Sambas di Kota Lama, dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda.

Adapun baginda Ratu Anom Kesuma Yuda lalu melantik saudaranya, Pangeran Aria Mangkurat, menjadi Patih Kerajaan. Sedangkan Raden Sulaiman, anakanda Raja Tengah yang amat bijaksana itu, diangkat menjadi Wazir Kedua untuk membantu pemerintahan.

Alkisah, pada suatu masa, Baginda Ratu Anom Kesuma Yuda hendak berangkat berlayar melintasi lautan menuju Negeri Johor. Tujuan baginda tiada lain adalah untuk menyerahkan upeti tahunan sebagaimana lazimnya adat perhubungan antarnegeri pada zaman itu. Maka diiringi oleh berton-ton perkakas dan beberapa buah perahu pencalang yang sarat dengan alat persenjataan lengkap, berangkatlah sang raja melaut.

Sepeninggal Ratu Anom Kesuma Yuda berlayar ke tanah Johor, maka istana Kota Lama pun diliputi awan hitam pertikaian. Pangeran Aria Mangkurat rupanya menyimpan rasa dengki dan dengki yang amat sangat di dalam dadanya. Ia tidak dapat menahan rasa iri tatkala melihat betapa Raden Sulaiman amat dijunjung, dikasihi, dan dihormati oleh segenap lapisan rakyat Sambas. Maka Pangeran Aria Mangkurat pun senantiasa mencari jalan dan akal jahat untuk menjatuhkan Raden Sulaiman.

Syahdan, beberapa bulannya Ratu Anom Kesuma Yuda di perantauan, tibalah seputik surat kiriman baginda dari lautan. Maka dibacalah surat tersebut oleh Raden Sulaiman dan Pangeran Aria Mangkurat. Warta di dalam surat itu menyebutkan:

 "Bahwasanya Kami akan segera kembali ke tanah air pada saat bulan purnama raya tiba di Kuala Muara Sungai Sambas Besar. Maka hendaklah segala menteri dan rakyat bersiap sedia menyambut kedatangan Kami dengan segala upacara kebesaran diraja."

Mendengar peritah tersebut, Raden Sulaiman dengan hati yang suci penuh kebhaktian segera bergegas menemui Kiyai Setia Bakti. Bersama-sama, mereka berdua bekerja siang dan malam mengatur segala persiapan, menghias muara, serta menyiapkan perahu-perahu pengiring untuk menyambut junjungan mereka. Sebaliknya, Pangeran Aria Mangkurat dengan angkuh dan sombongnya memalingkan muka, sedikit pun tiada mau mengindahkan atau membantu persiapan tersebut.

Kalakian, tatkala malam bulan purnama raya memancarkan cahayanya yang keemasan di atas permukaan air, Raden Sulaiman bersama Kiyai Setia Bakti telah bersiap di muara Sungai Sambas Besar. Dari jauh, sayup-sayup mata memandang, tampaklah ratusan layar putih milik armada Ratu Anom Kesuma Yuda membentang megah membelah gelombang. Maka Raden Sulaiman pun segera meluncurkan perahu-perahunya, menyongsong baginda dengan sorak-sorai gembira, diiringi bunyi-bunyian gamelan dan genderang yang bergema memenuhi angkasa. Baginda Ratu Anom pun diarak masuk menuju istana dengan segala kemuliaan dan kebesaran raja.

Namun, tatkala perayaan yang megah itu berlangsung di dalam istana, Pangeran Aria Mangkurat tiada muncul memunculkan diri. Hatinya kian terbakar oleh hawa nafsu dan sifat iri dengki melihat pesta penyambutan Raden Sulaiman yang amat gilang-gemilang itu. Dalam amarah yang tiada tertahan lagi, Pangeran Aria Mangkurat lalu mencabut kerisnya dan membunuh Kiyai Setia Bakti, hamba yang setia itu, tanpa rasa kemanusiaan.

Mendengar kematian Kiyai Setia Bakti, Raden Sulaiman amat berduka cita. Ia segera menghadap Ratu Anom Kesuma Yuda untuk memohon keadilan. Namun aduhai, sang raja tiada memberikan tindakan apa pun jua terhadap Pangeran Aria Mangkurat. Maka suasana di istana Kota Lama menjadi amat keruh, tegang, dan penuh dendam, bagaikan retak menunggu belah.

Melihat perselisihan yang kian meruncing dan ancaman perang saudara yang dapat menumpahkan darah rakyat yang tiada berdosa, Raden Sulaiman pun mengambil keputusan yang bijaksana. Katanya di dalam hati, "Tiada guna berbalah sesama saudara yang hanya akan merusakkan negeri." Maka Raden Sulaiman bersama istrinya, Puteri Mas Ayu Bungsu (putri dari Ratu Sepudak), menghadap Ratu Anom Kesuma Yuda untuk memohon izin mengundurkan diri.

Dengan hati yang berat, Raden Sulaiman memboyong keluarganya keluar daripada Kota Lama. Mereka berjalan menelusuri rimba dan sungai hingga sampai ke suatu tempat bernama Bandir. Di sanalah Raden Sulaiman membuka perkampungan baru yang dikelilingi benteng, yang kemudian diberi nama Kota Bangun. Di Kota Bangun itulah lahir putra pertamanya, membawa kegembiraan di tengah masa pengasingan.

Sementara itu, ayahandanya, Baginda Raja Tengah, berlayar menuju Negeri Sarawak di sebelah utara untuk menjemput sanak saudaranya. Namun, setibanya di Sarawak, takdir Allah menentukan jalan lain. Baginda Raja Tengah jatuh sakit yang amat berat hingga akhirnya mangkat di sana. Jenazah raja yang budiman itu lalu dimakamkan dengan penuh penghormatan di tepi Sungai Bedil, yang pada masa kini dikenali sebagai kota Kuching, ibu kota Negeri Sarawak.

Syahdan, meski Raden Sulaiman telah mengalah dan berdiam diri di Kota Bangun, Pangeran Aria Mangkurat tiada berhenti menabur fitnah. Ia meniupkan desas-desus jahat kepada Ratu Anom Kesuma Yuda bahwasanya Raden Sulaiman di Kota Bangun sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan kudeta dan merebut takhta Kerajaan Sambas. Fitnah itu sengaja diembuskan lantaran rasa dengkinya yang tiada kunjung padam melihat rakyat banyak yang terus-menerus datang dan menaruh kasih sayang kepada Raden Sulaiman.

Demikianlah kisah ketabahan, kearifan, dan budi pekerti Raden Sulaiman beserta keluarga diraja, yang senantiasa mengutamakan kedamaian dan keselamatan rakyatnya di atas kepentingan takhta dan kekuasaan. Maka tamatlah hikayat ini.

Asal-usul Raja-Raja Sambas

Di Kota Lama pada abad ke-16 Masehi, telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya yang bernama Ratu Sepudak, salah seorang dari tujuh perwira dari Kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu.

1. Kedatangan Raja Tengah dari Berunai

Pada masa pemerintahan Ratu Sepudak, datanglah Raja Tengah yang beragama Islam beserta rombongannya dari Kerajaan Berunai. Karena perilaku, tata cara, tegur sapa, serta pergaulannya yang baik, Ratu Sepudak sangat tertarik dengan perilaku Raja Tengah. Demikian pula seluruh kalangan kerajaan dan rakyatnya, tidak sedikit yang terpengaruh dan akhirnya ikut menganut kepercayaan/agama yang dianut oleh Raja Tengah, yaitu agama Islam. Dengan demikian, seluruh pihak kerajaan memeluk agama Islam, yakni kira-kira pada tahun 1370 H.

Raja Tengah datang bersama istrinya, Ratu Surya, dan seorang putranya, Raden Sulaiman. Sebelum sampai di Kota Lama, Raja Tengah terlebih dahulu singgah di Kerajaan Tanjung Pura di Sukadana (sekarang wilayah di Kabupaten Ketapang).

Kerajaan Tanjung Pura pada waktu itu berada di bawah pemerintahan Giri Kesuma. Di Kerajaan Tanjung Pura inilah Raja Tengah menikah dengan Ratu Surya. Dari pernikahan yang harmonis tersebut, lahirlah putra sulung yang merupakan anak kandung Raja Tengah dan diberi nama Raden Sulaiman.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa pada zaman kerajaan-kerajaan di Borneo (Kalimantan) dahulu kala, penentuan seorang raja wajib berdasarkan garis keturunan dan tidak dipilih langsung oleh rakyat. Raja hanya dipilih oleh keluarga kerajaan serta para menteri dan pegawai istana. Pilihan tersebut harus diakui oleh seluruh rakyat tanpa mengadakan pemungutan suara seperti sekarang, melainkan berpedoman pada asas "raja untuk rakyat dan rakyat untuk raja".

2. Ratu Anom Kesuma Yuda

Setelah wafatnya Ratu Sepudak, keponakannya yang bernama Pangeran Perabu Kencana dinobatkan dan diangkat menjadi Raja Sambas di Kota Lama tanpa gelar Sultan, melainkan bergelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Sementara itu, saudaranya yang bernama Pangeran Aria Mangkurat diangkat menjadi patih sebagai wazirnya, dan Raden Sulaiman bertindak sebagai pembantu raja atau wakil patih (wazir kedua).

Selama pemerintahan Raja Perabu Kencana yang bergelar Ratu Anom Kesuma Yuda tersebut, selalu timbul perselisihan. Hal ini terutama terjadi sewaktu Baginda Ratu Anom beserta para pengiringnya dan armadanya (yang terdiri dari beberapa buah pencalang lengkap dengan alat persenjataan) berlayar ke negeri Johor (sekarang Malaysia Barat) untuk mengantar upeti, sebagaimana kewajiban Kerajaan Sambas yang harus diselesaikan setiap tahunnya.

3. Pertentangan Aria Mangkurat dengan Raden Sulaiman

Sepeninggal Baginda Ratu Anom Kesuma Yuda yang pergi berlayar, di istana timbul perselisihan paham antara Pangeran Aria Mangkurat dengan Raden Sulaiman, putra sulung Raja Tengah. Penyebab timbulnya perselisihan paham tersebut adalah rasa iri hati karena Raden Sulaiman sangat dikasihi dan disayangi oleh rakyat banyak.

Pangeran Aria Mangkurat dan Raden Sulaiman pada waktu itu menerima surat dari Ratu Anom Kesuma Yuda. Adapun isi surat tersebut menyatakan: "Bahwa Baginda akan segera pulang dan diperkirakan tiba pada saat bulan purnama raya di Kuala Muara Sungai Sambas Besar. Pada kedatangan ini, hendaklah disambut dengan upacara kebesaran raja."

Setelah selesai membaca surat tersebut, Raden Sulaiman lalu pergi menemui Kiyai Setia Bakti. Mereka bertiga mengatur penyambutan kedatangan Ratu Anom Kesuma Yuda, sedangkan Pangeran Aria Mangkurat sedikit pun tidak mengindahkan hal tersebut.

Ketika tiba saatnya, Raden Sulaiman bersama pasukannya yang dipimpin oleh Kiyai Setia Bakti telah berada di muara Sungai Sambas Besar. Dari kejauhan, tampak membentang putihnya layar ratusan perahu armada yang membawa Baginda Ratu Anom Kesuma Yuda beserta rombongan. Saat itu juga, perahu-perahu Raden Sulaiman meluncur keluar dari muara sungai untuk menemui armada Ratu. Rombongan Ratu kemudian diiringi masuk dari kuala menuju Negeri Sambas dengan segala kebesaran dan kemuliaan.

Penyambutan Baginda Ratu Anom berlangsung sangat meriah dan gegap gempita diiringi berbagai macam bunyi-bunyian. Namun, sewaktu Baginda Ratu Anom berada di istana, Pangeran Aria Mangkurat tidak hadir. Suasana yang luar biasa ramai tersebut membuat hati Pangeran Aria Mangkurat semakin panas. Akhirnya, Kiyai Setia Bakti menjadi korban perselisihan dan terbunuh oleh Pangeran Aria Mangkurat.

Peristiwa ini dilaporkan oleh Raden Sulaiman kepada Ratu Anom, tetapi tidak ada tindakan positif yang diambil. Suasana pun menjadi semakin tegang, keruh, dan meruncing sehingga mengakibatkan perang saudara.

Satu-satunya Jalan Raden Sulaiman

Satu-satunya jalan yang diambil oleh Raden Sulaiman adalah mengambil kebijaksanaan untuk mangkir dan meninggalkan pusat Kerajaan Kota Lama. Mereka menuju ke daerah Bandir dan mendirikan sebuah kota bernama Kota Bangun. Sebelum meninggalkan Kota Lama, Raden Sulaiman bersama istrinya terlebih dahulu menghadap Baginda Ratu Anom untuk memohon izin meninggalkan istana dan mencari tempat kediaman baru di Bandir.

Pada waktu itu, Raden Sulaiman dikaruniai anak pertama dari hasil perkawinannya dengan Puteri Mas Ayu Bungsu. Sementara itu, Raja Tengah (ayahnya) berlayar kembali ke Sarawak (sekarang Malaysia Timur) untuk menjemput sanak familinya yang sudah lama ditinggalkan. Setibanya di Negeri Sarawak, Raja Tengah menderita sakit keras hingga wafat. Beliau dimakamkan di tepi Sungai Bedil, yang kini dikenal sebagai Kuching, ibu kota Negeri Sarawak, Malaysia Timur.

Diceritakan bahwa Mas Ayu Bungsu, istri Raden Sulaiman, adalah putri dari Raja Ratu Sepudak. Ratu Sepudak memiliki dua orang anak, yaitu Raden Prabu Kencana dan Mas Ayu Bungsu.

Dikisahkan pula bahwa perselisihan antara Pangeran Aria Mangkurat dan Raden Sulaiman berawal sewaktu Ratu Anom berkunjung ke Johor. Pangeran Aria Mangkurat menyebarkan isu buatan yang menyebutkan bahwa Raden Sulaiman akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan Ratu Anom Kesuma Yuda. Isu tersebut diembuskan karena rasa iri terhadap Raden Sulaiman yang lebih disukai oleh rakyat. Ratu Anom Kesuma Yuda sendiri merupakan menantu dari Ratu Sepudak...

HIKAYAT TAN UNGGAL: PERI KISAH PUTRA BULUH YANG DEWIK-TERKUTUK DAN RAJA ZALIM DI NEGERI SAMBAS

Alkisah Pelayaran Ratu Muda ke Pulau Kabung

Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan kisah kelanjutan silsilah raja-raja di tanah Sambas. Adapun raja pertama yang mendirikan tapak keteguhan kerajaan ini dengan berdaulat penuh—tanpa menggunakan gelar sultan—ialah seorang raja budiman bernama Ratu Muda. Syahdan, Kerajaan Sambas pada masa itu amatlah aman dan sentosa, segala rakyat hidup berkecukupan di bawah naungan keadilan baginda.
Hatta, maka pada tahun sekitar 1296 Masehi, pada suatu hari yang amat baik ketikanya, Ratu Muda pun berencana hendak pergi berlayar guna pesiar (bersenang-senang) bersama segenap keluarga kerajaan dan para hulu balangnya. Maka bertolaklah armada perahu baginda menyusuri ombak laut, berlayar menuju ke arah sebelah timur, hingga sampailah mereka ke sebuah pulau yang indah bernama Pulau Kabung—yaitu sebuah pulau yang terletak di dalam wilayah Kecamatan Sungai Raya sekarang ini.
Maka demi mendaratlah perahu baginda di tepi pantai Pulau Kabung yang sepi itu, sekalian keluarga kerajaan pun turun beristirahat di bawah rumbunnya pohon-pohon kelapa. Kalakian, tatkala hari menjelang tengah hari, berserulah permaisuri dan keluarga raja kepada para pengawal, meminta apalah kiranya dicarikan rebung buluh muda (pucuk bambu yang masih muda) di dalam hutan pulau tersebut, untuk diolah menjadi hidangan sayur santapan raja.
Maka pergilah beberapa orang pengawal masuk ke dalam kerapatan hutan bambu. Demi mereka melihat sebatang pohon buluh yang amat subur, bersiaplah seorang pengawal seraya mengayunkan parangnya hendak menebang rebung muda tersebut. Akan tetapi, sekonyong-konyong terhentilah tangan pengawal itu demi mendengar suatu keanehan yang teramat besar. Dari dalam salah satu ruas bambu yang hendak dipotong itu, terdengarlah suara tangisan seorang anak kecil, bersambung dengan sebuah teriakan ganjil yang meminta dengan sangat agar ia segera diambil dan diselamatkan.
Maka gemparlah sekalian pengawal itu, lalu dengan perlahan-lahan dipotongnyalah ruas bambu tersebut dengan penuh rasa takjub. Maka ruas bambu yang ajaib itu pun segera dibawa menghadap ke hadapan Ratu Muda di tepi pantai. Demi Ratu Muda membelah ruas bambu itu dengan tangannya sendiri, alangkah terperanjatnya sekalian orang yang hadir di tempat itu. Maka dari dalam ruas bambu yang pecah, muncullah seorang anak bayi laki-laki yang amat mungil, bertubuh tegap, perkasa rupa parasnya, dan yang paling membingungkan akal ialah anak bayi itu uniknya telah memiliki satu buah gigi yang tumbuh di rahangnya.
Maka demi melihat keelokan dan keajaiban anak bayi tersebut, bertumpahlah rasa kasih sayang Ratu Muda. Maka anak bayi itu pun diangkatnya menjadi anak angkat kerajaan, lalu diberi nama akan dia Tan Unggal.
Syahdan, waktu pun terus berjalan laksana air Sungai Sambas yang mengalir tiada henti. Tan Unggal kian hari kian tumbuh menjadi besar, tegap badannya, lagi tiada bertanding kegagahannya di antara sekalian pemuda di kerajaan. Akan tetapi, konon menurut cerita orang tua-tua yang memegang rahasia makrifat zaman, Tan Unggal itu sesungguhnya bukanlah manusia biasa. Ia adalah sesosok dewa dari khayangan yang beroleh murka, lalu dijatuhkan hukuman berupa kutukan oleh penguasa langit, hingga menjelmalah ia menjadi setitik embun murni yang jatuh ke bumi, lalu masuk ke dalam ruas bambu hingga dilahirkan sebagai manusia fana.
Hatta, demi Tan Unggal telah meningkat dewasa, mulailah watak kedewaan yang terkutuk itu muncul di dalam jiwanya. Ia memiliki sifat yang teramat angkuh, sombong, lagi besar ambisinya untuk menguasai takhta Kerajaan Sambas. Tiada lagi ia menaruh rasa hormat kepada ayah angkatnya, Ratu Muda. Maka pada suatu hari, dengan tegar hati dan pongahnya, Tan Unggal tegak berdiri di hadapan rakyat seraya menuntut dengan paksa agar segenap isi negeri mengakui dirinya sebagai raja yang sah menggantikan Ratu Muda.
Maka demi melihat ketegaran hati anak angkatnya yang penuh ambisi itu, serta demi melihat rasa ketakutan yang mula menjalar di hati rakyat Sambas, Ratu Muda pun dirundung duka yang teramat dalam. Baginda yang bijaksana itu berpikir, jikalau ia mempertahankan takhtanya, niscaya akan pecah perang saudara yang dapat memusnahkan ketenteraman negeri. Maka demi menjaga keselamatan dan kemaslahatan segenap penduduk yang dicintainya, Ratu Muda mengambil keputusan yang amat mulia: baginda memilih untuk pergi mengasingkan diri, raib meninggalkan lingkungan istana demi menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan di lingkungan kerajaan.
Arkian, setelah perginya Ratu Muda, maka naiklah Tan Unggal ke atas singgasana, berdaulat penuh menjadi Raja Sambas yang baru. Maka sejak hari pertama ia memegang tampuk kekuasaan, berubahlah Negeri Sambas yang tadinya aman sentosa menjadi sebuah negeri yang penuh dengan ratap dan tangis kemalangan. Tan Unggal memerintah dengan tangan besi; perbuatannya teramat kejam, bengis, lagi tiada menaruh rasa belas kasihan sedikit jua pun kepada rakyat jelata.
Jauh daripada itu, Tan Unggal juga memiliki sifat yang teramat serakah lagi ditunggangi oleh hawa nafsu duniawi yang tiada berujung. Ia mengambil perempuan di sana kemari untuk dijadikan istrinya, hingga selirnya tiada terhitung lagi banyaknya. Maka akibat keserakahan dan kelakuan sang raja yang laksana serigala kelaparan itu, timbullah ketakutan yang teramat sangat di dalam hati segenap orang tua di Negeri Sambas.
Banyak anak gadis dan perawan yang ketakutan, tiada lagi berani melangkahkan kaki keluar dari ambang pintu rumah mereka. Segenap orang tua yang memiliki anak gadis yang elok parasnya segera membuat tempat-tempat rahasia di dalam kolong rumah atau di dalam kerapatan hutan untuk menyembunyikan anak-anak mereka. Mereka senantiasa diliputi rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat, kalau-kalau anak gadis mereka yang suci diambil paksa begitu saja di tengah jalan oleh para hulu balang Tan Unggal demi memuaskan nafsu sang raja yang zalim. Rakyat menjerit ke langit malam, meratapi nasib negeri yang kini dikuasai oleh putra buluh titisan dewa terkutuk itu.
Maka tamatlah Hikayat Tan Unggal.

HIKAYAT RATU MESTIKA BINTANG:

Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan kisah zaman purba kala, zaman kuno tatkala bumi Kalimantan Barat belum seramai dan semegah masa hari ini. Adapun pada masa ratusan tahun yang lampau, wilayah yang kini dinamai Kota Sambas—yang menjadi ibu kota kecamatan dan kabupaten—syahdan belumlah ada berdiri rumah-rumah yang indah atau pasar yang ramai. Maka pada zaman itu, kawasan tersebut tiada lain melainkan hanyalah sebuah hutan rimba belantara yang teramat lebat, gelap, lagi diliputi oleh pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi ke angkasa.

Hatta, maka di dalam kerapatan rimba belantara yang sunyi itu, konon menurut cerita orang tua-tua, hiduplah sesosok makhluk halus yang teramat sakti lagi gaib bernama Mestika Bintang. Adapun makhluk halus yang mendiami rimba Sambas itu tiada lain melainkan berasal daripada golongan yang disebut oleh manusia di bumi sebagai "orang kebenaran", yaitu kaum mahluk halus purba yang bersemayam di alam dimensi yang tak kasat mata, namun sesekali menampakkan diri kepada manusia yang berhati bersih.

Kalakian, maka bermula riwayat asal-usul raja-raja Sambas, yaitu pada tahun sekitar 1291 Masehi. Pada waktu itu, berdiri sebuah kerajaan besar yang berdaulat penuh atas tanah Sambas. Jauh sebelum berdirinya kerajaan yang dipimpin oleh raja-raja melayu tersebut, segenap rakyat dan penduduk yang mendiami wilayah itu masih menganut agama kuno nenek moyang mereka, yaitu animisme dan Hinduisme. Kerajaan Sambas pada masa itu tergolong amat luas wilayah kekuasaannya, membentang dari pesisir pantai hingga ke pedalaman gunung-gunung purba.

Maka pada suatu hari, tatkala sang surya sedang memancarkan sinarnya yang teramat terik di atas langit Sambas Besar, sekonyong-konyong alam yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi gempar. Udara bergetar dengan suara bergemuruh yang amat dahsyat, laksana runtuhnya tiang-tiang langit. Dari celah awan-awan hitam yang mendadak menggumpal, jatuhlah sebuah benda ganjil yang memancarkan cahaya berkilau-kilauan, membelah angkasa dengan kecepatan yang amat luar biasa. Maka benda ganjil yang bercahaya laksana bintang jatuh itu terhempas tepat di atas puncak Gunung Semujuh, sebuah gunung yang berdiri dengan megahnya di dalam kawasan Sungai Sambas Besar.

Hatta, demi mendengar kabar tentang jatuhnya benda ganjil itu, maka Raja Sambas yang berkuasa pada masa itu segera berangkat memimpin para pengawal dan hulu balangnya naik ke puncak Gunung Semujuh. Demi sampai di sana, maka terperanjatlah sang raja melihat sebuah barang yang teramat indah, berkilau memancarkan cahaya redup keemasan di tengah kegelapan batu gunung. Maka dipungutlah benda ganjil itu oleh sang raja dengan penuh rasa takjub. Karena elok rupanya dan bersinar laksana bintang di langit malam, maka Raja Sambas memberi nama bagi benda ganjil itu dengan nama Ratu Mestika Bintang.

Sejak hari itu, barang ganjil tersebut dirawat dengan sekukuh-kukuhatnya di dalam lingkungan istana kerajaan. Keberadaan Ratu Mestika Bintang membawa khasiat spiritual yang amat besar bagi kelangsungan negeri, sehingga kabarnya terdengar melintasi lautan luas hingga sampai ke telinga para penguasa di tanah Jawa.

Arkian, maka keindahan dan kesaktian Ratu Mestika Bintang itu mula melahirkan rasa dengki dan ketamakan di hati para penguasa luar. Maka tersebutlah riwayat peri keturunan Kertarajasa Jaya Wardhana yang bertakhta di tampuk kemegahan Kerajaan Majapahit. Demi didengar oleh mereka akan perihal barang ganjil yang jatuh dari langit di tanah Sambas itu, maka timbullah ambisi yang teramat besar di dalam dada keturunan Majapahit untuk merebut dan memilikinya secara paksa.

Maka dikirimkanlah armada perang dan para ksatria pilihan dari tanah Jawa menyeberangi lautan luas, menuju ke tanah Kalimantan Barat demi memperebutkan pusaka Ratu Mestika Bintang. Maka pecahlah huru-hara dan perselisihan yang hebat di antara kedua belah pihak. Istana Sambas dikepung oleh kekuatan besar yang hendak mengambil barang ganjil tersebut.

Hatta, demi melihat keserakahan manusia yang tiada berujung dan peperangan yang dapat menumpahkan darah rakyat jelata, Ratu Mestika Bintang yang memiliki jiwa spiritual yang suci itu pun merasa murka lagi berduka. Ia tiada rela jika dirinya dijadikan alat pemuas nafsu kekuasaan bagi raja-raja fana di atas bumi.

Maka pada suatu malam yang buta, tatkala peperangan sedang mencapai puncaknya, sekonyong-konyong pancaran cahaya berkilau-kilauan membubung tinggi dari dalam kotak tempat penyimpanan pusaka tersebut. Cahaya itu menerangi seluruh penjuru istana laksana fajar yang menyingsing di tengah malam. Demi didatangi oleh sang raja dan para pengawal, alangkah terkejutnya mereka karena kotak tersebut telah kosong melompong.

Ratu Mestika Bintang telah menghilang alias raib secara misterius bersama dengan benda mestikanya yang suci. Kehilangannya yang sedemikian itu terjadi dengan sekilas mata, tiada meninggalkan jejak sedikit jua pun bagi para manusia yang mengejarnya. Keturunan Majapahit yang datang memperebutkannya pun terpaksa pulang dengan tangan hampa, menelan kekecewaan yang teramat dalam karena pusaka langit itu telah menolak untuk dimiliki oleh keserakahan mereka.

Maka setelah raibnya Ratu Mestika Bintang dari dunia nyata manusia, ia tiada benar-benar musnah dari alam semesta. Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya, Ratu Mestika Bintang beralih dimensi menembus tirai alam halus, lalu melayang pergi menuju ke sebuah daerah pedalaman di ujung utara yang kini dinamai daerah Paloh.

Di tanah Paloh yang dipenuhi hutan belantara dan rawa-rawa purba itulah, Ratu Mestika Bintang menetap dan mendirikan sebuah kerajaan baru di alam dimensi gaib. Karena ia adalah titisan suci dari langit yang membawa kebijaksanaan, maka sekalian kaum makhluk halus dan "orang kebenaran" yang mendiami wilayah tersebut tunduk dan patuh kepadanya. Maka diangkatlah Ratu Mestika Bintang menjadi pendiri, raja, sekaligus kepala atau penghulu bagi sekalian orang-orang halus di daerah Paloh hingga pada masa hari ini.

Maka sejak peristiwa raibnya Ratu Mestika Bintang itu, pusat pemerintahan raja-raja Sambas kuno pun mulai berpindah-pindah demi menjaga keselamatan negeri, mulai dari Kota Lama, Kota Bandir, hingga ke Balai Pinang, sebelum akhirnya dibangun keraton Sambas yang megah. Namun bagi rakyat Sambas, kisah Ratu Mestika Bintang tetap abadi menjadi sebuah legenda suci. Tiap-tiap kali orang berjalan melewati daerah Paloh dan merasakan hembusan angin yang ganjil lagi berbau harum, mereka percaya bahwa Ratu Mestika Bintang bersama kaum orang kebenaran sedang mengawasi tanah Sambas dari balik tirai dunia gaib dengan penuh kedamaian.

Maka tamatlah Hikayat Ratu Mestika Bintang.

------------------------------

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...