Dipagi Hari, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan di belakang Rumahku ketika asap tipis mulai mengepul dari dapur Rumah - Rumah di sekitar daerahku, walau Pun Udara Pagi yang dingin di sertai kabut asap Yang ada di daerahku atau Perdesaan Selalu berhasil ditenangkan Oleh aroma seduhan kopi dan rasa nasi hangat Yang baru saja dipanen itu khas dari daerah kami. walaupun Sekarang dunia lagi disuguhi kabut asap yang tebal itu tidak membuat warga untuk Patah semangat turun ke ladang, atau Sawah untuk beraktivitas Seperti biasa, dan Selama adanya kabut asap ini Sekolah Pun di liburkan dan menjadi Sekolah Daring atau Online yaitu Di Rumah melalui teknologi Hp Selama Sekolah ini menjadi Sekolah online kegiatan di Rumah yaitu membantu ibu menjemur Padi yang habis di Panen dan berkemas Rumah Juga mengerjakan tugas yang dikirim oleh guru wali / mapel. dan Selama ini kegiatan berlang-sung Seperti itu Setiap hari, terkadang ada kangennya dengan langit biru Yang cerah dan Pemandangan Sawah yang indah di belakang Rumahku.
HENDRA BAHARI SINGKAWANG
Hendra Bahari Singkawang (Hendrasius, S.Pd) adalah seniman dan guru asal Singkawang, Kalimantan Barat. Ia merupakan keturunan Loson Van Nampo, Tarukun binti Ratu, Raden Syarief Usupm bin Nyabukng, dan Marta Kasehan. Sejak 2004, ia aktif di bidang seni dan pendidikan, serta penyiaran radio (2014–2025). Sebagai putra Dayak Salako Garantukng Sakawokng yang berbahasa Badameo, ia berkomitmen melestarikan budaya, seni, bahasa, dan sastra Salako.
Jumat, 11 September 2026
Cerpen: Pagi di Ujung Jalan Kampung Celongkong - Angga
Matahari baru saja naik sedikit menyinari jalan tanah berpasir di depan rumah di kampung celongkong. udara pagi masih terasa dingin, tercium bau tanah basah dan bunga-bunga putih yang tumbuh di pinggir jalan. Jam menunjukkan pukul enam lewat seperempat, dan di sinilah kehidupan di kampungku mulai bergerak pelan tapi terasa hangat.
Di ujung jalan, bu siti sudah membuka warung kecilnya, meja kayu panjang itu sudah penuh dengan gelas teh hangat dan wadah gorengan yang masih hangat. bapak-bapak kampung berdatangan, duduk berdesakan di bangku kayu sambil mengobrol sebelum pergi ke bekerja. "Pagi, bu siti! Satu teh manis ya!" sapa budi sambil meletakkan cangkulnya di pinggir meja. bu siti tersenyum ramah, tangannya cekatan menuangkan air panas. "Siap, pak! ini tehnya, Selamat pagi!" suara tawa mereka terdengar sampai ke jalan, membuat suasana pagi terasa akrab.
Tidak jauh dari sana, anak-anak sekolah berjalan berkelompok menuju sekolah yang ada di pinggir desa. seragam putih-merah mereka tampak cerah terkena sinar matahari. ada yang berjalan beriringan sambil bercerita, ada juga yang berlari kecil karena takut terlambat. "Tunggu aku, rina! Janga jalan sendiri!" seru seorang anak perempuan yang tertinggal di belakang. mereka saling menunggu, saling bantu, dan itulah yang selalu membuatku tersenyum di kampung Celongkong ini, tidak ada yang jalan sendiri sendirian.
Menjelang siang, suasana jadi lebih tenang, warung buk siti mulai sepi, jalanan jadi sunyi, hanya terdengar suara burung dan angin yang berhembus pelan melewati pohon-pohon kelapa. tapi setiap sore, saat matahari mulai turun, warga kembali keluar rumah. bukan sekadar beli sesuatu, tapi untuk saling menyapa, berbagi cerita, dan tahu kabar tetangga sebelah rumah.
Suatu sore, aku melihat Pak RT berjalan keliling membawa kotak obat sederhana. Ia berhenti di rumah tetangga yang sedang sakit, memberikan obat dan menanyakan kabarnya. "Kalau butuh apa-apa, panggil saja saya ya," ucapnya lembut. momen itu membuatku sadar sesuatu yang sederhana : di kampung ini, hidup bukan hanya soal tinggal di rumah masing-masing, melainkan soal saling peduli dan jadi satu keluarga besar.
Matahari kini sudah tenggelam, digantikan cahaya lampu minyak dan lampu jalan yang temaram. Dari jendela kamarku, aku melihat warung bu siti yang sudah tutup, tapi kehangatan masih terasa. Hidup di kampung Celongkong memang sederhana, tidak mewah, dan berjalan pelan. Tapi di sinilah aku belajar bahwa kebahagian tidak selalu datang dari hal yang besar, melainkan dari kebersamaan, keramahan, dan kepedulian yang tulus di antara tetangga.
Pesan moral : hidup rukun dan saling peduli dengan tetangga membuat suasana tempat tinggal menjadi damai dan bahagia.
Cerpen: Kerja sebahu - Muna Bela Jenatasia
Minggu pagi adalah waktu yang biasanya digunakan Raka untuk tidur lebih lama. Namun, pagi itu suasana di luar rumah terdengar berbeda. Suara sapu lidi, canda anak-anak, dan panggilan para warga membuat Raka terbangun.
“Raka, ayo bangun. Hari ini ada kerja bakti,” panggil Ibu dari dapur.
Raka sebenarnya masih ingin tidur. Namun, setelah mencuci muka dan sarapan, ia segera keluar rumah. Di depan gang, sudah banyak warga berkumpul. Pak RT membagi tugas kepada setiap orang. Ada yang membersihkan selokan, menyapu jalan, memotong rumput, dan mengumpulkan sampah.
Raka bersama teman-temannya mendapat tugas membersihkan taman kecil di ujung gang. Mereka membawa sapu, cangkul, dan kantong sampah. Awalnya Raka merasa pekerjaan itu melelahkan. Taman tersebut dipenuhi daun kering dan beberapa sampah plastik.
“Kalau kita kerjakan bersama-sama, pasti cepat selesai,” kata Dimas, teman Raka.
Raka mengangguk. Mereka mulai bekerja. Raka menyapu daun, Dimas mengumpulkan sampah, sedangkan teman-teman lainnya mencabut rumput liar. Sesekali mereka bercanda sehingga pekerjaan terasa lebih menyenangkan.
Tidak lama kemudian, mereka melihat sebuah selokan yang tersumbat oleh sampah. Air di dalamnya hampir tidak mengalir.
“Wah, kalau dibiarkan bisa menyebabkan banjir saat hujan,” kata Raka.
Mereka segera memanggil beberapa orang dewasa untuk membantu membersihkan selokan tersebut. Dengan menggunakan alat sederhana, warga bersama-sama mengangkat sampah yang menyumbat aliran air. Setelah beberapa saat, air kembali mengalir dengan lancar.
Menjelang siang, seluruh lingkungan terlihat jauh lebih bersih. Jalanan tidak lagi dipenuhi daun kering, selokan menjadi lancar, dan taman terlihat rapi. Warga kemudian beristirahat sambil menikmati makanan dan minuman yang telah disiapkan beberapa ibu.
Pak RT tersenyum melihat hasil kerja warga.
“Beginilah kalau kita bekerja bersama. Pekerjaan yang berat menjadi ringan,” katanya.
Raka merasa senang. Ia baru menyadari bahwa gotong royong bukan hanya tentang membersihkan lingkungan. Gotong royong juga membuat hubungan antarwarga menjadi lebih dekat. Orang-orang yang jarang berbicara pun dapat saling membantu dan bercanda.
Sebelum pulang, Raka melihat taman yang sudah bersih. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan dan ikut menjaga kebersihan lingkungan.
Sejak hari itu, Raka tidak lagi menganggap kerja bakti sebagai kegiatan yang membosankan. Baginya, gotong royong adalah kebiasaan sederhana yang dapat membuat lingkungan menjadi bersih, nyaman, dan penuh kebersamaan.
Pesan: Dengan gotong royong, pekerjaan menjadi lebih ringan dan hubungan antarwarga menjadi semakin erat.
Cerpen "Sepagi ini - Mutia Lee Meashi"
Pagi hari di SP 2 Pangmilang, khususnya di kawasan Blok B, selalu dimulai dengan harmoni yang khas. Suara kokok ayam jantan bersahutan. Di salah satu rumah batako , Mutia Lee Meashi sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Setelah itu dia melakukan sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh ibu.
Ibu memasak nasi goreng yang begitu lezat tidak lupa juga ada telur ceplok yang sudag ibu siapkan,tiba tiba pandangannya tertuju ke luar jendela. Melihat hidup rukunnya para tetangga yang saling tolong menolong yang membuat Mutia merasa aman dan bersyukur tinggal di sana.
Perjalanan menuju sekolah selalu menjadi momen yang menyenangkan bagi Mutia. Sepanjang jalan utama Blok B, ia kerap berpapasan dengan tetangga yang sedang menyapu halaman.
"mau kemana Mutia? Mau berangkat sekolah ya?" Ucap bibik nunung
"Iya bi saya mau berangkat ke sekolah, mari bi"
Mutia menatap jalanan yang mulai ramai oleh anak-anak sekolah lainnya. Ada yang berjalan kaki berkelompok sambil tertawa, ada pula yang mengayuh sepeda tua dengan peluh yang mulai menetes.
Lalu Mutia melakukan perjalanan ke sekolah sekitar 10 menit , melewati jalan yang berlubang dan berdebu akibat kemarau panjang . Entah kapan hujan akan datang jalanan yang begitu berdebu membuat mata sakit dan sesak nafas.
Setelah itu sampailah Mutia di sekolahnyaa , lalu ia menceritakan tentang perjalanan ia tadi yang melewati jalan yang berlubang dan berdebu itu temannya pun sangat merasa kasihan.
Bel pun berbunyi, guru datang untuk mengajar kelas XlB yaitu kelas Mutia , teman-teman dan Mutia pun mulai mengikuti pelajaran dengan baik hingga waktu istirahat tiba , mereka pun berjalan ke kantin bersama sama untuk membeli mie gelas dan es teh manis.
Setelah selesai istirahat mereka pun kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran yang akan di mulai kembali, waktu pulang pun tiba semua kelas masing masing pulang ke rumah masing-masing , dan Mutia pun begitu sesampainya ia di rumah ,ia mengucapkan salam dan salim ke pada ibunya dan ia pun pergi untuk beristirahat.
Cerpen: Pagi di depan Rumahku - Yesi Riana Oyon
Setiap pagi, lingkungan tempat tinggalku selalu memiliki suasana yang berbeda. Suara ayam berkokok terdengar dari belakang rumah, disusul suara motor para tetangga yang mulai berangkat bekerja. Dari dapur, aroma masakan ibu juga mulai memenuhi rumah. Bagiku, suasana sederhana seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namaku Raka. Aku tinggal di sebuah gang kecil bersama kedua orang tuaku. Di depan rumah terdapat beberapa rumah tetangga yang saling berdekatan. Meskipun sederhana, warga di lingkungan kami cukup akrab dan sering saling membantu.
Suatu pagi, ketika aku hendak berangkat sekolah, aku melihat sampah berserakan di dekat selokan. Rupanya, semalam angin cukup kencang sehingga beberapa sampah dari tempat pembuangan terbawa ke jalan. Aku merasa terganggu karena jalan menjadi kotor dan selokan hampir tertutup.
Aku kemudian mengambil sapu dan mulai membersihkan sampah tersebut. Tidak lama kemudian, tetanggaku, Dimas, datang menghampiri.
“Sendirian saja?” tanyanya.
“Iya. Kalau dibiarkan, nanti selokannya tersumbat,” jawabku.
Dimas langsung mengambil pengki dan ikut membantu. Beberapa menit kemudian, ibu-ibu yang sedang menyapu halaman juga ikut membersihkan bagian depan rumah mereka. Tanpa direncanakan, kegiatan kecil itu berubah menjadi kerja bakti.
Setelah selesai, jalan di depan rumah terlihat jauh lebih bersih. Kami kemudian membuang sampah pada tempatnya. Pak RT yang kebetulan lewat tersenyum melihat kami.
“Kalau lingkungan bersih seperti ini, semua orang pasti nyaman,” katanya.
Aku mengangguk. Saat itu aku menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau ketua RT. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga tempat tinggalnya.
Hari itu aku berangkat sekolah dengan perasaan senang. Meskipun hanya melakukan hal kecil, aku merasa telah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.
Sore harinya, aku kembali bermain bersama Dimas dan beberapa teman di lapangan dekat rumah. Kami bermain bola sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat. Setelah selesai bermain, kami memastikan tidak meninggalkan sampah di lapangan.
Hari-hari berikutnya, kebiasaan menjaga kebersihan mulai dilakukan oleh lebih banyak warga. Setiap orang menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Hubungan antarwarga pun terasa semakin dekat karena sering bekerja sama.
Aku akhirnya mengerti bahwa kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal bukan hanya tentang rumah dan keluarga. Ada tetangga, teman, dan masyarakat yang membuat tempat tinggal terasa lebih nyaman.
Sejak saat itu, aku berusaha untuk selalu menjaga kebersihan dan membantu orang-orang di sekitarku. Bagiku, lingkungan yang baik dimulai dari kepedulian kecil setiap orang.
Amanat: Kita harus menjaga kebersihan lingkungan dan saling membantu agar tercipta lingkungan yang nyaman, bersih, dan harmonis.
Cerpen Kampung setapak tepian sungai -Debi Karwangi
Pagi di jalan setapak kampung tepian sungai. Sore itu, matahari baru saja mengintip di balik bukit, menyebarkan cahaya keemasan di permukaan sungai yang tenang. Di Kampung tepian sungai tempatku tinggal, hari-hari selalu berjalan dengan irama yang sama - tenang, sederhana, namun penuh makna.
Sejak pukul lima pagi, suara ayam berkokok sudah bersahutan, menyusul bunyi pintu kayu yang terbuka satu persatu. Ibu-ibu di sepanjang jalan setapak itu sudah sibuk di dapur, asap tipis mengepul dari corong rumah-rumah panggung, beraroma kayu bakar yang khas bau yang selalu membuatku hangat di dada. Aku duduk di beranda, menyesap teh hangat sambil melihat bapak-bapak yang berjalan beringinan menuju sawah membawa cangkul di bahu dan senyum di wajah. "Pagi nak," sapa Pak Udin tetangga yang setiap hari lewat di depan rumahku. Langkahnya tetap tegap meski usia tak lagi muda. Aku membalas sapaannya dengan ramah, di sini menyapa orang yang lewat sudah menjadi kebiasaan, bukan sekadar sopan santun, melainkan bentuk keakraban yang tumbuh di antara tetangga, tidak ada yang merasa asing.
Saat matahari mulai naik lebih tinggi, jalan setapak itu menjadi lebih ramai, anak-anak berjalan kelompok menuju sekolah, tas bergoyang di punggung, tertawa lepas sambil bercerita tentang permainan kemarin. Di tepian sungai, para ibu mencuci pakaian.
Sambil-sambil bercerita ria, suara tawa mereka menyatu dengan gemericik air. Tidak ada yang terburu-buru. Semua berjalan dengan tenang seolah waktu di tempat ini berjalan lebih lambat, memberi kesempatan setiap orang untuk menikmati setiap detiknya.
Namun, ketenangan itu pun kadang diuji. Beberapa hari lalu, hujan turun sangat deras. Sepanjang malam, air sungai naik, mendekati bibir dalam setapak tanpa di suruh, para lelaki kampung berkumpul, membawa karung dan tanah bekerja lama memperkuat tanggul. Tidak ada yang memerintah, tidak ada yang dibayar. Semua sadar, keamanan satu adalah keamanan semua. Itulah aturan yang tumbuh di kampung ini - gotong royong bukan sekadar kata, melainkan cara hidup.
Siang berganti sore. Para petani pulang dengan wajah lelah namun puas. Anak-anak bermain di lapangan kecil di tengah kampung, mengelar bola di antara senda. Langit berubah jingga, memeluk kampung dalam kehangatan, aku berdiri di tepi sungai, memandang bayang-bayang orang yang pulang ke rumah masing-masing. Sederhana sekali hidup di sini. Tidak ada kemewahan gedung tinggi atau kelap-kelip lampu kota. Tapi di sini ada hal yang jauh lebih berharga - kebersamaan, ketulusan, dan rasa memiliki satu sama lain.
Malampun tiba, lampu-lampu rumah mulai menyala satu persatu. Jalan setapak yang tadi ramai kini perlahan sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan aliran sungai yang tak pernah berhenti mengalir.
Cerpen tebalan: kabut asap dan jaring digital oleh Gorgerius Steven Aliskal
Pagi itu, jendela kamarku tidak lagi menyajikan pemandangan bukit hijau yang biasa kulihat. Sesak, hala kerunding, debu diindera bulu berhamburan yang pekat. Baik studio yang menyerap kawas kelam, celah-celah ventilasi, menusuk hidung dan membuat dadaku terasa sesak. Perlahan rumahku beralih rupa dan tercatat kini dan seterusnya. Satu hari kedepan benam ini akan lewatin sahabat hari-hari untuk kebahagiaan udara segar dan juga tedi krisis di luar rumah.
Tepat pukul 07.30, aku sulmi kesibukan handphone diatas meja. Ponselku bergetar berulang kali, menghadirkan notif dari grup whatsapp kelas. Pagi ini diawali dengan presensi absen, dan lalu melihat sambutan telegram yang sudah dikepuk oleh para bapak/ibu guru setelah tes tryout ruang persekolahan virtual dibagikan oleh pak guru ataupun ketua kelas.
Belajar daring ditengah kepungan kabut asap beranda ini yang menyenangkan. Selain hati cepat penik jenuh karena kualitas video dalam jaringan yang juga kerap naik buruk, kita juga harus kesulitan mengerjakan tugas kapan pun gangguan sinyal terjadi.
Meskipun terpisah oleh jarak dan terhalang kabut asap jua tebal di luar sana, kadang berka-teman tuhan saya tetap semangat belajar dan bersama depan layar memberikan sedikit tremor kami. Semua kesunyian masker dirumah masing-masing kena tur latar depan hitem yang selebrit merah, maka tetue berusaha menyerap ilmu seolah tidak ada hal buruk yang sedang terjadi di luar rumah
Ketika kelas daring berakhir siang itu, aku menyurukan handphone dan memandang dingin luar dari lentip dibalik jendela yang basah serapan perkebun kabut.
Pembelajaran daring ini mengajarkan ku satu hal: pendidikan tidak boleh putus. Seberapa apun angin kita buka asap jauh lalu menghijau hutan kami.
Cerpen: Aroma Pagi di kampung Habang - Agustina Sari
Dipagi Hari, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan di belakang Rumahku ketika asap tipis mulai mengepul dari dapur Rumah - Ruma...
-
Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maringa. Adapun kampung itu sangatlah makmur, tanahnya ...
-
Hikayat Menuju Tajok Rancang Sebermula, pada zaman purbakala tersebutlah sebuah negeri besar di pedalaman hutan Kalimantan, diperintah...
-
Hikayat Beras Kuning Alkisah di sebuah negeri di tepian hutan Kalimantan Barat, hiduplah seorang lelaki sederhana bernama Duog. Ia bu...