Minggu, 20 September 2026

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu, Antu Panyakit (Hantu Penyakit) hidup bebas berkeliaran di atas tanah, tidur di celah-celah pepohonan, dan bersemayam di antara embun pagi. Manusia dan hantu penyakit sering berpapasan di lorong-lorong hutan, hingga tiada batas yang memisahkan alam gaib dan alam nyata.

Namun, timbullah pergesekan tatkala manusia mulai rakus. Tatkala musim buah usai, manusia melemparkan pangkorokng—yakni sampah-sampah kulit buah durian, manggis, dan asam—ke arah celah-celah pohon tempat para hantu beristirahat. Tak hanya itu, ketika padi di ladang mulai masak dan menyebarkan aroma sumpooh (murni nan perawan), manusia memasak nasi baru tanpa mengindahkan keberadaan makhluk lain di Taino.

Terbitlah murka yang teramat sangat dari sekalian arwah dan antu panyakit. Mereka mengutuk racun demam pasak dan selesma ke dalam tumpukan pangkorokng. Barang siapa peladang yang mendekati ladangnya, akan dihantam hawa dingin hingga mamo' (mati) mengenaskan. Kematian sebelum panen itu menjadi momok terkelam, sebab jiwa yang mati mati no' nyacap sumpooh tahutn akan menjadi jiwa yang paling sial di alam semesta.

Melihat bumi Taino dipenuhi ratap tangis, bangkitlah Raja Asam Janggi, sesosok roh raksasa yang bersemayam di akar bumi. Raja Asam Janggi lalu mencabut sebatang pohon kramat dari dasar tanah, lalu menanamnya tepat di tengah lautan lepas yang berpusar dahsyat. Pohon itulah yang kelak dinamai Pohon Asam Janggi di Pauh Janggi.

Raja Asam Janggi kemudian memanggil tetua suku Salako dan Ketua Antu Panyakit untuk bersidang di bawah naungan daun-daun emasnya.

Bersabdalah Raja Asam Janggi dengan suara bagaikan guruh yang membelah lautan:

"Wahai manusia dan wahai sekalian Antu Panyakit! Taino ini diciptakan bukan hanya untuk manusia, dan bukan pula hanya untuk hantu. Segala yang ada bersama kehidupan di Taino memiliki kegunaannya masing-masing dan memiliki HAK yang sama untuk wujud di alam ini! Manusia tidak berhak mengusir atau menolak penyakit sebagai bala, dan hantu pun tidak berhak memusnahkan manusia dari tanah Pabonihan!"

Maka bertanya sang tetua Salako dengan penuh hormat: "Lantas bagaimanakah kami harus hidup berdampingan wahai Penguasa Pauh Janggi?"

Raja Asam Janggi menyerahkan sebuah tabung bambu buluh (tabokng) berisi air murni dan setangkai daun ubi. Ia lalu memeteraikan Perjanjian Taino:

 1. Tahta Pauh Janggi: Pohon Asam Janggi di tengah pusaran air lautan dijadikan istana dan kediaman abadi bagi sekalian antu panyakit. Mereka tidak boleh lagi menetap di pemukiman manusia.

 2. Ritual Bujukan (Gratifikasi): Manusia wajib memanggil para hantu penyakit kembali ke Pauh Janggi tiap-tiap akhir musim buah sebelum panen padi baru. Cara memanggilnya bukanlah dengan pedang tolak bala, melainkan dengan memberikan kurban persembahan (gratifikasi) sebagai bentuk penyeimbang rasa puas.

 3. Malam Penyucian (Boo' Pangkorokng): Selama ritual berlangsung, manusia wajib bertapa dalam rumahnya (boo'). Manusia harus mematikan api, menghentikan masakan berbau maung dan amis, serta membisu dari suara keras. Tatkala kampung menjadi hening bagaikan dasar laut, para antu panyakit akan merasa dihormati, mengambil kurban persembahan, lalu berarak-arak pulang ke Pauh Janggi tanpa menyakiti seorang pun.

Sejak mitos perjanjian itu terukir, suku Dayak Salako memegang teguh pesan Raja Asam Janggi. Tiap-tiap menjelang nurutni' (panen padi baru), seluruh warga kampung mengunci pintu dan menundukkan jiwa dalam keheningan Boo' Pangkorokng.

Tatkala malam boo' tiba, beribu-ribu antu panyakit melayang turun dari tumpukan pangkorokng. Mereka mengelilingi rumah-rumah yang sepi, menikmati persembahan di pelataran, lalu terbang membubung tinggi. Mereka terbang ka sisi langit, ka tampis tanah, ka lautan lepas, hingga sampai ka pusat ai' ka Pauh Janggi.

Di bawah rindangnya Pohon Asam Janggi di tengah laut lepas, para arwah itu tertidur lelap dengan puas, membiarkan para peladang di bumi Salako terbangun besok paginya dengan selamat untuk mengecap gurihnya sumpooh tahutn dalam kedamaian Taino.

Tamatlah mite.

Mite Asal-Usul Boo' Pangkorokng dan Perjanjian Taino

Pada zaman dahulu kala, tatkala langit dan bumi masih terhubung oleh dahan pohon Asam Janggi yang agung, belumlah dikenal oleh manusia yang dinamai penyakit dan kematian sebelum panen. Dunia yang ditempati manusia dinamai Taino. Di dalam Taino itu, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, serta roh-roh halus hidup berdampingan di bawah takdir yang sama: masing-masing memiliki hak dan kegunaannya sendiri dari Sang Pencipta.

Tersebutlah kisah pada suatu masa purba, para manusia di benua Dayak Salako hidup melimpah-ruah. Padi di ladang selalu menguning dan bermekaran. Namun, tatkala musim buah-buahan—seperti durian, langsat, manggis, dan asam—telah usai, manusia menjadi lalai. Mereka membiarkan sampah-sampah kulit buah dan sisa makanan menumpuk membusuk di sekeliling pondok, yang kelak dinamai pangkorokng. Tak hanya itu, tatkala padi di ladang mulai sarat dan berbau wangi perawan (sumpooh), manusia menjadi takabur. Mereka memetik dan menanak nasi baru tanpa mengingat roh-roh leluhur yang telah menjaga tanah Pabonihan.

Maka bersedihlah arwah-arwah leluhur dan roh-roh yang tiada ber-pesta adat. Dari busuknya lendir pangkorokng yang terabaikan, terbitlah entitas magis yang dahsyat: Antu Panyakit (Hantu Penyakit). Hantu-hantu itu mencium aroma gurih padi muda yang bersiap dipanen, lalu terbitlah murka dan rasa cemburu yang amat sangat.

Maka bersabdalah Ketua Antu Panyakit dari kegelapan hutan: "Wahai manusia! Engkau mengecap manisnya buah dan nikmatnya nasi sumpooh tahutn, sedang engkau lemparkan pangkorokng yang busuk kepada kami! Maka demi takdir Taino, kami akan meniupkan demam pasak dan hawa kematian kepada sesiapa saja yang hendak memanen padi, supaya engkau mati sebelum sempat mengecap nasi baru dari hasil kerja kerasmu!"

Maka seketika itu, berjatuhanlah para peladang. Banyak di antara mereka yang mati no' nyacap sumpooh tahutn—gugur mengenaskan tepat sebelum sabit menyentuh batang padi. Kematian sebelum panen itu dipandang sebagai kutukan roh yang paling sial di Taino.

Melihat mara bahaya yang mengancam kepunahan manusia, turunlah Ne' Kabayan—sosok dewi spiritual pelindung padi—menemui para tetua adat dalam bermimpi sakral.

Dalam mimpinya, para tetua menyembah Ne' Kabayan dan memohon: "O, Ne' Kabayan, berikanlah kami mantra atau senjata tolak bala untuk memusnahkan dan mengusir sekalian antu panyakit itu dari Taino ini!"

Namun Ne' Kabayan menggelengkan kepala seraya tersenyum bijak. Suaranya bergema bagaikan guruh di pegunungan:

"Wahai anak cucu manusia Salako, dengarlah olehmu hukum alam Taino yang sejati. Janganlah engkau menjadi manusia yang picik dengan mengadakan ritual 'tolak bala' untuk memusnahkan penyakit. Penyakit bukanlah bala atau musuh yang harus kau benci dan kau perangis. Segala yang ada di Taino ini—termasuk antu panyakit—memiliki kegunaannya masing-masing dan mempunyai hak yang sama untuk ada di alam ini. Manusia tiada berhak menolaknya!"

Para tetua adat pun heran seraya bertanya: "Jikalau kami tiada boleh memusnahkan atau mengusirnya, bagaimanakah kami dapat selamat dari cengkeraman kematian sebelum panen?"

Ne' Kabayan bersabda kembali: "Engkau tiada boleh memusuhinya, melainkan wajib merangkulnya dan membina hubungan baik dengannya. Bujukanlah hati mereka dengan rasa hormat, beri mereka gratifikasi persembahan, dan sucikanlah kampungmu lewat ritual berpantang: Boo' Pangkorokng."

Maka Ne' Kabayan pun mengajarkan syariat mite Boo' Pangkorokng yang kramat:

 1. Penyepian Alam: Sebelum panen padi baru (nurutni'), tatkala musim buah usai di akhir Februari, manusia wajib "menghilang" dari tatapan para arwah.

 2. Puasa Taino: Manusia wajib berpantang keluar rumah, berpantang menyalakan api, berpantang mandi, berpantang bersuara keras, serta berpantang memakan makanan amis, asam, dan berbau maung.

 3. Penyatuan Sunyi: Tatkala kampung menjadi sepi bagaikan kuburan—hanya bersisa suara kokok ayam jantan, anjing menyalak, dan deru burung siang—maka antu panyakit akan mengira kampung itu telah kosong dan tidak ada manusianya lagi.

4. Perjanjian Pemulangan: Dengan sesajen kurban yang disajikan dalam kesheningan boo', hati para hantu akan menjadi tenang dan puas (gratifikasi). Setelah menerima persembahan itu, mereka dengan sukarela akan berpindah dan kembali ke kediamannya di tempat asal-usul roh: ka sisi langit, ka tampis tanah, ka lautan lepas, ka pusat ai' ka Pauh Janggi (ke sisi langit, ke tanah paling dalam, ke laut lepas, dan ke tengah pusaran air pohon Asam Janggi).

Terbangunlah para tetua adat dari mimpinya, lalu disampaikanlah petuah mitologis Ne' Kabayan itu kepada segenap suku Dayak Salako. Maka ditunaikanlah ritual Boo' Pangkorokng pertama dalam sejarah.

Tatkala kesunyian boo' melingkupi benua, antu panyakit yang melayang-layang dari tumpukan pangkorokng tiada lagi melihat kehidupan yang sombong. Mereka melihat kedamaian dan rasa hormat dari manusia yang bersujud dalam kesepian rumah. Setelah memakan keharuman sesajen kurban, sekalian hantu penyakit itu pun menari-nari dengan gembira, lalu terbang membumbung tinggi melintasi langit menuju pusaran air sakral di Pauh Janggi.

Sejak hari mite itu dimeteraikan, bumi Pabonihan kembali terikat dalam keseimbangan. Padi tumbuh subur tanpa gangguan wabah, dan manusia dapat menyantap sumpooh tahutn dengan selamat dan sukacita.

Maka demikianlah asal-usul mite Boo' Pangkorokng, yang mengajarkan suku Dayak Salako hingga hari ini: bahwasanya harmoni alam tiada dicapai dengan memusnahkan apa yang dianggap buruk, melainkan dengan merangkul, menghormati, dan memberi tempat yang adil bagi segenap ciptaan di alam Taino.

Tamatlah mite.

Hikayat Tangisan Ibu di Ujung Musim Pangkorokng

Alkisah di sebuah lembah terpencil di Benua Pabonihan, hiduplah seorang janda tua bernama Dang Jelani bersama anak tunggal laki-lakinya yang amat disayanginya, Si Seta namanya. Syahdan, berbulan-bulan lamanya Dang Jelani menguras sisa tenaganya yang telah senja, membongkar tanah dan menanam benih padi di ladang demi melihat anak kandungnya mengecap kehidupan yang layak. Maka tatkala akhir bulan Februari tiba dan musim buah-buahan bersisa tumpukan pangkorokng yang membusuk, padi di ladang mereka pun mulai menguning, menjanjikan bulir-bulir nasi baru yang harum.

Maka tatkala itu, terdengarlah seruan tetua adat bahwasanya hari penjemputan Ne' Kabayan dan ritual Boo' Pangkorokng telah tiba. Segenap warga benua diwajibkan mengunci rumah dan berpuasa dari segala aktivitas demi membujuk antu panyakit agar pergi melayang menuju pusaran air di Pauh Janggi.

Namun malang tak dapat ditolak, takdir duka menyapa pondok sepi Dang Jelani. Tiga hari sebelum Boo' Pangkorokng dimulakan, Si Seta jatuh sakit parah. Tubuhnya menggigil dihantam demam tinggi, napasnya tersengal-sengal, dan bibirnya kering pecah-pecah memanggil nama ibunya. Dang Jelani merawat anaknya dengan derai air mata yang tiada henti.

Maka tatkala fajar hari Boo' Pangkorokng menyingsing, selubung kesunyian pun melingkupi segenap kampung. Pintu-pintu kayu dipasak rapat, api di dapur dipadamkan, dan tiada satu pun langkah kaki manusia kelihatan di lorong benua. Sesuai aturan adat yang kramat, seisi rumah pantang menyalakan api, pantang keluar rumah, dan pantang memasak makanan berbau amis atau bersuara keras. Manusia hanya menahan lapar dengan meminum air murni dalam tabung bambu tabokng dan memakan rebusan daun ubi yang dingin.

Syahdan, tatkala sang suria mulai tenggelam dan malam boo' jatuh kian pekat, keadaan Si Seta kian kritis. Dalam kegelapan rumah yang sunyi senyap, tubuh pemuda itu kejang-kejang. Dari kerongkongannya yang kering, terbit bisikan liris nan merintih: "Ibu... dingin sekali... dadaku sesak, Ibu... aku lapar... teringat aroma nasi baru..."

Dang Jelani merengkuh tubuh anaknya yang makin mendingin. Dipeluknya erat-erat kepala Si Seta di pangkuannya seraya membendung jerit tangisnya sendiri, sebab adat melarang keras manusia bersuara keras tatkala masa boo'.

"Bertahanlah wahai anakku, buah hatiku," bisik Dang Jelani amat halus di telinga Seta. "Sebentar lagi panen tiba. Ibu akan menanakkan sumpooh tahutn yang paling harum untukmu... Jangan biarkan dirimu mati sebelum merasakan nasi padi baru dari titik peluh kita..."

Namun rintihan Si Seta kian memilukan: "Ibu... lidahku kelu... beri aku seteguk air hangat... hangat saja, Ibu..."

Mata Dang Jelani menatap ke arah dapur yang gelap gulita. Hatinya teriris bagaikan diiris sembilu. Adat melarang keras menyalakan api tatkala malam boo' berlangsung, sebab percikan api dan percikan asap akan mengundang rombongan antu panyakit yang sedang berkeliaran di luar mencari mangsa. Namun, membiarkan anak kandungnya merintih kesakitan dalam kedinginan adalah siksaan yang tak sanggup ditanggung oleh jiwa seorang ibu.

Maka dalam kegelapan yang mencekam, kasih ibu mengalahkan rasa takutnya pada adat dan maut.

Dengan tangan gemetar dan derai air mata yang membasahi pipi, Dang Jelani merayap ke dapur. Diam-diam, ia memercikkan api kecil pada tungku untuk memanaskan sedikit air dalam tabung bambu. Percikan api merah menyala kecil di kegelapan, dan asap tipis berhembus keluar dari celah dinding bambu rumahnya.

Dang Jelani tiada tahu, percikan api kecil dari kasih sayangnya itu telah menjadi petaka yang merenggut segalanya.

Di luar rumah, rombongan antu panyakit yang melayang-layang hendak meninggalkan kampung menuju lautan lepas mendadak terhenti. Hidung-hidung busuk mereka menangkap kehangatan asap dan pancaran api dari pondok Dang Jelani.

“Ada api... Ada manusia yang melanggar pantang...” bisik suara-suara dingin nan mengerikan dari balik kegelapan malam.

Sebelum Dang Jelani sempat membawa mangkuk air hangat itu ke pembaringan anaknya, angin tebal nan dingin luar biasa menghantam dinding bambu rumahnya. Pintu kayu yang terkunci terlempar melayang. Hawa busuk pangkorokng menyeruak masuk melingkupi ruang dalam yang gelap.

Dang Jelani menjerit perlahan tatkala melihat bayangan-bayangan hitam tak berwujud mengepung pembaringan anak tunggalnya. Arwah-arwah penagih adat yang murka meraba dan meniupkan udara wabah tepat ke dada Si Seta yang lemah.

"Jangan! Ambil nyawaku! Jangan anakku!" jerit Dang Jelani seraya melompat menutupi tubuh anaknya. Namun segalanya telah terlambat.

Dalam dekapan ibunya, Si Seta menghembuskan napas terakhir dengan mata terbuka menatap atap rumah. Wajahnya pucat membiru, dan dari sudut bibirnya menetes air mata bercampur darah. Si Seta gugur di malam itu, mati sebelum sempat mencicipi sebutir pun nasi padi baru hasil panen ibunya.

Keesokan harinya, tatkala sunyi Boo' Pangkorokng berakhir dan warga membuka pintu, mereka menemukan Dang Jelani sedang duduk tertegun melamun di pelataran rumahnya. Di pangkuannya, terbaring jasad Si Seta yang telah kaku.

Dang Jelani tiada menangis lagi. Matanya hampa, menatap lurus ke arah ladang padi di kejauhan yang kuning berkilauan disiram sinar matahari pagi. Ladang yang berbuah lebat itu kini terasa sia-sia dan tak berati lagi baginya.

Tua-tua adat berdiri memandangi jasad Si Seta dengan duka dan penyesalan yang mendalam. Dang Magat menggelengkan kepala seraya berbisik dengan suara berat: "Anak ini mati dalam nasib yang paling sial... mati no' nyacap sumpooh tahutn. Kasih seorang ibu yang hendak menghangatkan anaknya telah memanggil kembali bencana yang seharusnya pergi."

Sesuai hukum adat bagi mereka yang mati ditimpa penyakit sebelum panen, jasad Si Seta tiada boleh disemayamkan dengan pesta adat di kampung. Jasad pemuda itu diusung sunyi oleh beberapa warga menuju rimba dalam untuk dimakamkan tanpa sanak saudara.

Dang Jelani berjalan mengiringi jasad anaknya dari jauh dengan langkah gontai. Tatkala angin ladang berhembus membawa wangi padi muda yang baru matang, perempuan tua itu jatuh berlutut di atas tanah Pabonihan. Dipeluknya tanah kering itu erat-erat, meratapi takdir tragis yang merenggut buah hatinya tepat di ambang pintu kemakmuran.

Maka semenjak hari itu, Dang Jelani hidup bagaikan bayang-bayang di Benua Pabonihan. Pada tiap-tiap pesta Ngabayotn dilangsungkan dan warga bersuka ria memakan nasi baru, perempuan tua itu hanya duduk sendirian di tepi ladang, menatap keranjang Ne' Kabayan seraya meneteskan air mata meratapi Si Seta—anak kandungnya yang mati membawa kerinduan akan sepinggan nasi padi baru yang tak pernah sampai ke bibirnya.

Tamatlah hikayat.

Hikayat Boo' Pangkorokng: Petaka Arwah Penagih Janji

Alkisah pada zaman purbakala di rimba belantara Dayak Salako, tersebutlah sebuah desa yang dilingkupi kabut tebal bernama Kampung Pabonihan. Pada tiap-tiap akhir musim buah—tatkala buah durian, manggis, dan asam tuntas berguguran—landasan tanah di sekeliling pondok dihuni oleh bukit-bukit sampah kulit buah yang membusuk. Pangkorokng, demikianlah orang-orang tua menyebut limbah buah yang bercampur lendir dan belatung itu. Dari bau maung pangkorokng itulah, terbit angin malam yang membawa hawa dingin menusuk tulang, menandakan hadirnya para antu panyakit—yakni arwah-arwah manusia mati penasaran yang gentayangan di alam Taino.

Adapun arwah-arwah itu adalah jasad-jasad kuno yang tatkala matinya dicampakkan begitu saja oleh keluarganya tanpa ritual adat yang patut. Mereka lapar, haus, dan menyimpan dendam kesumat yang membara. Tatkala bau padi muda di ladang mulai tercium masak, bangkitlah kegilaan arwah-arwah tersebut. Mereka tiada rela melihat manusia bernapas mengecap gurihnya sumpooh tahutn—nasi dari padi baru yang masih perawan. Maka, lewat lendir pangkorokng, arwah-arwah merayap memasuki rumah-rumah, menyebarkan wabah demam pasak dan dahak berdarah agar manusia mamo' (mati) mengenaskan sebelum sempat merasakan hasil panennya. Bagi suku Salako, mati ditimpa wabah sebelum memanen padi adalah kutukan kesialan yang paling mengerikan, yang dinamai mati no' nyacap sumpooh tahutn.

Maka demi membendung bencana itu, tetua adat memerintahkan seisi kampung untuk menggelar ritual sakral nan mencekam: Boo' Pangkorokng. Sebuah hari di mana manusia harus "menghilang" dan berakting seolah-olah kampung telah menjadi pemakaman mati.

Alkisah, di kampung itu hiduplah seorang pemuda angkuh bernama Si Keban. Ia kerap memandang remeh petuah-petuah mistis para tetua. Tatkala fajar Boo' Pangkorokng tiba, segenap warga kampung telah mengunci rapat-rapat pintu dan jendela mereka dari dalam. Pintu dipasak kayu tebal, lubang dinding disumpal kain, dan api di dapur dimatikan total. Tiada asap yang boleh membubung, tiada suara bisikan yang boleh terdengar, dan tiada makanan berbau amis atau asam—seperti daging, ikan, jengkol, dan petai—yang boleh menyengat hidung. Manusia hanya diperbolehkan merebus daun ubi di dalam tabung bambu tabokng dan meminum air murni dalam kegelapan.

Kampung Pabonihan seketika berubah menjadi kota mati yang mencekam. Gelap, sunyi, dan hening. Tiada langkah kaki manusia. Yang terdengar dari balik dinding kayu hanyalah jeritan anjing yang melengking panjang, deru napas babi yang ketakutan, dan kokok ayam jantan yang terdengar parau diselimuti kabut hitam.

Namun, Si Keban yang berada di dalam rumahnya merasa haus dan jengkel oleh rasa sepi yang mencekit leher. Dengan gegabah dan penuh kesombongan, ia melanggar pantang larang adat yang paling ditakuti. Diam-diam, Keban menyalakan pemantik api untuk menghisap daun tembakau. Ia pun membakar keratan daging babi hutan sisa perburuan yang berbau gurih amis, lalu mengunyahnya di tengah kegelapan rumah.

Ia tidak tahu, bahwasanya percikan api dan aroma daging bakar itu bagaikan darah segar bagi ribuan arwah kelaparan yang sedang melayang-layang di luar.

Malam pun jatuh, pekat bagaikan tinta. Di luar rumah, ribuan bayangan hitam bermata merah bernanah turun melayang dari tumpukan pangkorokng. Mereka menyusuri lorong kampung yang sunyi. Pada mulanya, arwah-arwah itu hendak pergi menuju Pauh Janggi—pusaran air laut paling dalam di ujung dunia—karena mengira kampung itu telah kosong tanpa manusia dan telah dipuaskan oleh sesajen kurban persembahan tua-tua adat.

Namun tiba-tiba, langkah iblis-iblis itu terhenti di depan pondok Si Keban.

Hidung-hidung busuk arwah itu mengendus udara malam. Tercium oleh mereka asap tembakau, aroma daging bakar, serta bau napas manusia yang menyala-nyala di balik kegelapan.

“Ada kehidupan... Ada darah... Ada manusia yang meremehkan kami...” bisik suara-suara parau nan serak dari luar dinding rumah Keban. Suara itu bukan berasal dari satu tenggorokan, melainkan jeritan beribu-ribu arwah yang bersatu.

Gemetarlah tubuh Si Keban. Tembakau di tangannya jatuh. Dari balik celah dinding bambu, ia melihat pemandangan yang teramat mengerikan. Wajah-wajah pucat dengan mata berdarah dan kulit terkoyak membelalak menatap tepat ke arah celah tempatnya mengintip. Dinding rumahnya mulai digaruk oleh kuku-kuku panjang yang hitam dan membusuk.

Sreeek... Sreeek... Sreeek...

"Pergi! Pergi kalian!" jerit Si Keban ketakutan setengah mati. Namun suaranya yang keras justru semakin melanggar pantang larang boo'.

Bambu rumahnya bergetar hebat. Arwah-arwah antu panyakit yang murka karena dipermainkan tidak lagi mau menerima kompensasi sesajen adat. Mereka menembus dinding-dinding kayu, menjelma menjadi hawa dingin berbau bangkai yang mencekik dada Si Keban. Tangan-tangan hitam tak berwujud memegang lehernya, meniupkan udara busuk pangkorokng tepat ke dalam mulut dan paru-parunya.

Si Keban menjerit-jerit kesakitan. Badannya mendadak panas membara, kulitnya membiru, dan dari mulut serta hidungnya keluar cairan dahak hitam berbau busuk kulit buah yang membusuk. Tubuhnya kejang-kejang di atas lantai kayu, sementara arwah-arwah itu tertawa melengking memecah kesunyian malam yang kelam.

Keesokan harinya, tatkala batas waktu Boo' Pangkorokng telah usai dan warga mulai membuka pintu rumah masing-masing, suasana kampung mendadak gempar. Dari rumah Si Keban, tercium bau busuk yang teramat menyengat.

Tatkala tua-tua adat mendobrak pintunya, mereka menemukan tubuh Si Keban telah membujur kaku dengan wajah terdistorsi dalam ketakutan yang luar biasa. Matanya melotot tajam ke atas, sementara dari mulutnya menetes lendir pangkorokng yang hitam.

Dang Magat, sang tetua adat, menarik napas panjang dengan wajah pucat seraya mengusap dadanya. "Keban telah melanggar pantang boo'. Ia menyalakan api, memakan daging, dan bersuara keras tatkala para arwah melintas. Antu panyakit tidak mau pergi ke Pauh Janggi karena mendapatkan tumbal manusia yang tidak taat."

Si Keban mati secara mengenaskan tepat beberapa hari sebelum alat ketam memotong padi di ladangnya. Ia mati sebagai manusia paling sial di benua itu: mati no' nyacap sumpooh tahutn—mati tanpa sempat mengecap semangkuk nasi baru dari hasil titik peluhnya sendiri.

Jasad Si Keban lalu diusung dan dibuang jauh ke tengah hutan tanpa diberi ritual keagamaan yang layak, menyebabkan arwahnya ikut bergabung menjadi bagian dari antu panyakit yang melayang-layang menunggu musim pangkorokng berikutnya.

Maka semenjak hari yang mengerikan itu, tiada seorang pun warga suku Salako yang berani melanggar sepatah kata pun dalam ritual Boo' Pangkorokng. Tatkala kesunyian boo' melingkupi kampung, seisi benua memilih tunduk dalam ketakutan, membisu dalam kegelapan, demi menyelamatkan nyawa mereka dari cengkeraman arwah-arwah penagih janji yang bersembunyi di balik kabut malam.

Tamatlah hikayat.

Hikayat Boo' Pangkorokng dan Tabir Keseimbangan Taino

Alkisah maka tersebutlah perkataan sebuah benua di tanah Borneo yang amat permai, bertakhta di bawah naungan adat purbakala suku Dayak Salako. Syahdan, pada tiap-tiap penghujung bulan Februari, tatkala segala pohon durian, asam, langsat, dan manggis gugur bunganya dan genaplah sudah musim buah-buahan—yang disebut orang moo'tn buah—maka bertumpuk-tumpuklah segala kulit buah dan sampah-sampah di sekeliling pondok dan pelataran kampung. Maka tumpukan segala sampah yang bercampur-baur itu dinamai oleh sekalian warga benua dengan nama pangkorokng.

Maka tersebutlah kisah, tatkala pangkorokng itu membusuk disengat panas dan disiram hujan, terbitlah bau yang maung lagi amat lekat. Alkisah di alam Taino—yakni dunia tempat tumpang tinggalnya manusia—hidup pula bermacam-macam makhluk halus dan antu panyakit (hantu penyakit). Syahdan, roh-roh jahat itu tiada lain melainkan arwah manusia yang pada masa matinya tiada disempurnakan oleh sanak keluarganya dengan upacara ritual adat yang patut. Maka arwah-arwah itu pun hidup bergentayangan di dalam Taino dengan hati yang gusar dan duka cita, lalu gemar meraba dan menyakiti manusia.

Maka tatkala angin berhembus membawa harum padi yang mulai berisi dan kuning merona di ladang, terciumlah aroma calon nasi baru itu oleh sekalian antu panyakit. Maka bertambah dengki dan irilah hati segala roh gentayangan itu. Bersabdalah ketua dari segala hantu penyakit itu di tengah rimba: "Dengarlah olehmu sekalian arwah yang merana! Lihatlah para manusia di kampung itu, sebentar lagi mereka akan memanen padi baru dan mengecap nikmatnya sumpooh tahutn—yakni nasi dari padi yang masih murni lagi perawan, yang belum pernah tersentuh oleh mulut manusia. Kita tiada rela melihat mereka bersuka ria! Maka hendaklah kita tebarkan demam pasak dan selesma melalui pangkorokng yang membusuk itu, supaya mereka jatuh sakit dan mati (mamo') sebelum sempat memakan hasil titik peluhnya sendiri!"

Maka tatkala itu, gemparlah sekeliling benua, sebab barang siapa yang mati sebelum merasakan nasi padi baru dari hasil kerja kerasnya di ladang, niscaya dianggap oleh segenap masyarakat sebagai manusia yang amat sial dan celaka nasibnya. Orang-orang menyebut kematian yang demikian itu dengan gelaran mati no' nyacap sumpooh tahutn.

Maka pada suatu hari, berkumpullah sekalian tua-tua adat di balai benua hendak membicarakan perihal ancaman antu panyakit yang mulai merayap dari tumpukan pangkorokng. Maka tampil seorang lelaki asing dari negeri seberang yang mengaku dirinya pemerhati adat, lalu berkata ia: "Wahai sekalian tetua Dayak Salako, marilah kita mengadakan upacara besar-besaran untuk mengusir dan menolak bala ini, agar segala hantu penyakit itu hancur dan tiada berani mendekati kampung kita!"

Maka tersenyumlah seorang tua adat yang amat dalam ilmunya, Dang Magat namanya. Maka menggelenglah ia seraya bersabda dengan suara yang amat tenang: "Wahai anak muda dari luar benua, ketahuilah olehmu bahwasanya kami suku Dayak Salako tiada pernah mengenal konsep tolak bala atau memusnahkan penyakit dalam ajaran leluhur kami. Segala yang diciptakan dan dihadirkan di dalam Taino ini—baik manusia, tumbuh-tumbuhan, maupun penyakit—masing-masing memiliki kegunaannya dan mempunyai hak yang sama untuk wujud di alam ini. Kami tiada berhak menolak atau memusuhi penyakit sebagai musuh atau malapetaka. Yang wajib kami lakukan tiada lain melainkan merangkulnya, membina hubungan yang harmonis dengannya, lalu merayu dan membujuknya secara baik-baik agar ia sudi berpindah kembali ke tempat kediamannya sendiri."

Maka bertanya-tanyalah sekalian orang muda di balai itu: "Gerangan bagaimanakah caranya kita membujuk penyakit itu wahai Dang Magat, sedang mereka tiada berwujud dan amat gemar menyakiti manusia?"

Maka ujar Dang Magat: "Caranya tiada lain melainkan dengan jalan menetralisir keadaan dan memberikan gratifikasi berupa kurban persembahan, serta menjalankan pantang larang yang amat ketat yang dinamai Boo' Pangkorokng. Maka sebelum panen padi baru atau nurutni' Tiba, wajiblah seisi benua menyepikan kampung."

Hatta, maka ditetapkanlah hari mulanya Boo' Pangkorokng. Maka sebelum fajar menyingsing pada hari yang telah dijanjikan, segenap warga kampung telah bersiap sedia dengan tekunnya. Karena di dalam masa boo' itu manusia dilarang keras menyalakan api, maka mereka telah menumbuk daun ubi kayu lalu memasaknya di dalam bambu buluh. Mereka telah pula membuat kueh-kueh serta mengisi tabung-tabung bambu buluh yang dinamai tabokng dengan air jernih yang murni untuk bekal minum dan masak.

Maka tatkala Boo' Pangkorokng dimulakan, berubah wajah benua itu seketika. Segenap anggota keluarga berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Terlaranglah bagi mereka untuk keluar melangkah dari ambang pintu, terlarang berjalan-jalan atau singgah bercakap-cakap ke rumah tetangga, terlarang berkata-kata dengan suara yang keras, dan terlarang pula mandi di sungai. Syahdan, segala tembakau dan rokok tiada boleh dihisap, serta dilarang sama sekali menyalakan api di dapur atau memasak apa pun. Maka terlarang pula bagi sekalian warga untuk memakan daging binatang, ikan, atau buah-buahan yang rasanya asam dan berbau maung seperti jengkol dan petai.

Maka tatkala itu, matahari pun terbit memancar, namun tiada seorang pun manusia kelihatan melintas di jalan-jalan kampung. Tiada asap membubung dari cerobong dapur, dan tiada pula bau tumisan daging atau wangi buah-buahan yang merangsang hidung. Suasana kampung menjadi amat sunyi, hening, dan senyap bagaikan negeri yang ditinggalkan penghuninya. Yang terdengar hanyalah selang-seling kokok ayam jantan di bawah pondok, salakan anjing yang jauh, dengus babi di kandang, dan nyanyian aneka burung siang yang bertengger di dahan-dahan pohon yang tinggi.

Hanya tatkala tengah hari tepat—yakni apabila sang suria tegak lurus di atas kepala dari pukul 12.00 siang hingga pukul 15.00 petang—diberikan kelonggaran oleh adat bagi manusia untuk menyalakan api kecil, memasak bekal, merokok, dan mandi bersuci. Namun tatkala jam tiga petang telah lewat, maka terikat kembalilah sekalian manusia dalam kesunyian boo' yang amat rapat hingga malam berlabuh.

Syahdan, tersebut pula kisah tatkala malam semakin pekat dan kampung sunyi senyap tanpa desah nafas manusia di luar rumah. Maka turunlah rombongan antu panyakit dan roh-roh penyebar wabah dari tumpukan pangkorokng dengan maksud hendak mencari mangsa. Namun tatkala mereka melayang-layang menyusuri lorong-lorong kampung, tiada satu pun kelibat manusia yang kelihatan berjalan. Tiada tercium oleh hidung mereka aroma daging bakar, tiada bau buah jengkol atau petai yang maung, dan tiada pula kelihatan nyala api yang menerangi kegelapan.

Maka berkatalah hantu-hantu penyakit itu sesama mereka dengan heran dan kecewa: "Wahai kawan-kawan, tampak gaya kampung ini telah kosong dan tiada lagi penghuninya! Tiada api menyala, tiada bau makanan yang gurih, dan tiada suara manusia yang dapat kita tegap. Untuk apakah kita bertahan di tempat yang sepi dan dingin ini?"

Maka pada saat yang bersamaan, para tua-tua adat di dalam ketenangan rumahnya telah meletakkan sesajen kurban persembahan sebagai bentuk kompensasi dan gratifikasi untuk menyenangkan hati para hantu itu. Maka rasa puas dan kenyang pun meresap ke dalam diri sekalian roh jahat itu. Karena manusia menjalankan boo' dengan sungguh-sungguh dan hati yang lurus, tiada lagi alasan bagi hantu penyakit untuk bertahan di kampung itu.

Maka berbisiklah ketua hantu penyakit itu: "Marilah kita mengambil persembahan ini dan pergi meninggalkan benua manusia. Kita kembalilah ke negeri asal kita yang jauh!"

Maka berbondong-bondonglah sekalian roh jahat dan antu panyakit itu terbang melayang meninggalkan kampung yang sepi itu. Mereka terbang melintas awan ka sisi langit (ke sisi langit), menembus bumi ka tampis tanah (ke bagian tanah yang paling dalam), mengarungi samudra ka lautan lepas, hingga sampai ka pusat ai' ka Pauh Janggi—yakni ke tengah pusaran air lautan yang dahsyat, di bawah rindangnya pohon Asam Janggi yang kramat di mana negeri penyakit bersemayam.

Maka tatkala masa Boo' Pangkorokng telah genap ditunaikan oleh segenap warga benua, terbukalah kembali pintu-pintu rumah. Manusia keluar dengan dada yang lapang dan tubuh yang segar fitrah, bebas dari cengkeraman demam pasak dan kematian yang sia-sia. Maka tak berapa lama kemudian, musim panen pun tibalah dengan megahnya. Sekalian peladang turun ke ladang membawa ketam dan keranjang, memetik bulir-bulir padi baru yang sarat.

Maka pada malam harinya, beras dari padi baru itu pun ditanak dalam periuk-periuk tanah. Harum wangi sumpooh tahutn membubung tinggi ke udara, dinikmati oleh segenap kaum tua dan muda dengan penuh rasa syukur dan sukacita yang tiada terperi. Tiada lagi ada warganegara yang mati no' nyacap sumpooh tahutn, sebab segala penyakit telah dibujuk pulang ke Pauh Janggi dengan jalan adab dan penghormatan adat.

Maka berkatalah Dang Magat di hadapan anak cucunya tatkala menikmati nasi baru itu: "Ingatlah olehmu sekalian wahai keturunan Salako. Kerukunan hidup di Taino ini tiada diperoleh dengan jalan memerangi atau membenci, melainkan dengan menjaga kesucian diri, mematuhi pantang larang leluhur, serta menghormati hak sekalian makhluk yang ada di bumi. Barang siapa yang teguh memelihara adat Boo' Pangkorokng, niscaya terhindarlah ia dari marabahaya dan senantiasa mengecap manisnya rezeki tanah Pabonihan."

Maka demikianlah tuntasnya hikayat kuno perihal Boo' Pangkorokng, menjadi warisan petuah yang dituturkan dari zaman berzaman, tiada lapuk dek hujan dan tiada lekang dek panas, di tanah Dayak Salako yang kramat.

Tamatlah hikayat.

Hikayat Ne' Kabayan dan Petuah Bumi Pabonihan

Alkisah maka tersebutlah perkataan suatu rimba yang amat mahaluas di tanah Borneo, bernama Benua Pabonihan. Maka di benua itu bertakhtalah sekalian kaum peladang suku Salako yang arif lagi teguh memegang adat moyangnya. Syahdan, berbulan-bulan lamanya sekalian mereka itu lelah berjerih payah, membongkar tanah dan menanam benih, hingga sampailah ketikanya padi di ladang menguning bagaikan disepuh emas murni. Maka segala bulir padi pun saratlah menunduk, matang dengan sempurnanya, lalu dimasukkan oleh orang-orang ladang ke dalam kusong, bauh, angko, dan dango padi.

Maka tatkala segala biji padi sudah kamas—yakni genap terhimpun di dalam tempat perhentiannya—terbitlah suatu adat yang amat kramat lagi ditakuti oleh segenap isi benua, yang dinamai orang adat Batayo' dan Ngarago'.

Maka pada suatu hari, bertatalah seorang perempuan peladang yang tua lagi berbudi, Dang Salini namanya. Syahdan Dang Salini itu memandangi ladangnya yang membentang dua bidang. Terkenanglah ia akan petuah purbakala: bahwasanya tatkala segala padi telah dituai dan disimpan, tiada boleh seorang pun menyentuh atau merusak sisa-sisa batang padi, tiada boleh menabang tunggul, dan tiada boleh mengambil kayu api ataupun membersihkan kebun sebelum sang ketua padi dijemput pulang. Adapun jikalau ada manusia yang berani melanggar pantang larang itu, niscaya turunlah mara bahaya, ditimpa tulat dan serapah adat yang membawa celaka atas dirinya dan segenap ahli rumahnya.

Maka tatkala matahari terbit dari celah bukit, Dang Salini pun melangkah menyusuri jalan kecil menuju ke pabonihan, yakni tempat awal mulanya benih disemai. Maka mengikutlah di belakangnya beberapa perempuan peladang yang muda-muda, hendak menyaksikan bagaimanakah adat menjemput sang ketua padi yang dinamai Ne' Kabayan.

Sampailah Dang Salini pada satu lubang tugal tempat tertanamnya tujuh butir batang padi yang sulung. Maka dengan cermat dan perlahan-lahan, seraya membaca jampi ketenangan hati, Dang Salini memotong ketujuh batang tuho podi itu. Batang itu tiada dibiarkan patah, melainkan dilipatnya menjadi dua bahagian dengan penuh hormat, lalu dimasukkannya ke dalam sebuah keranjang kecil yang bernama lubu'. Syahdan, keranjang itu dibentuk elok-elok bagaikan teneng kecil tempat persemayaman rupa seorang perempuan.

Maka Dang Salini pun memetik beberapa tangkai bunga Selasih—atau bungo ikotn—yang harum baunya dari tepi pabonihan. Dimasukkannya bunga itu ke dalam lubu', berdampingan dengan Ne' Kabayan. Maka bertanya-tanyakan seorang perawan muda yang bernama Si Umbut: "Wahai Ibu Dang Salini, apakah sebabnya bunga Selasih itu diarak bersama Ne' Kabayan?"

Maka tersenyumlah Dang Salini seraya menjawab halus: "Wahai anakku, adapun Ne' Kabayan itu adalah lambang seorang perempuan yang diagungkan. Bunga Selasih itu tiada lain melainkan hiasan aksesoris bagi Ne' Kabayan, sebab sudah menjadi suratan alam bahwasanya sekalian kaum perempuan amat menyukai keindahan dan keharuman bunga."

Setelah itu, Dang Salini mengambil pula sebongkah kecil damar yang keras lagi bening rupanya. Damar itu diletakkannya di samping bunga Selasih di dalam tempat Ne' Kabayan. Maka kembali Si Umbut bertanya dengan heran: "Apakah pula hikmatnya membawakan sebongkah damar yang kaku ini, Ibu?"

Maka ujar Dang Salini dengan penuh petuah: "Dengarlah olehmu wahai anak cucu. Adapun damar ini adalah lambang kekekalan. Maksud segala peladang meletakkan damar bersama Ne' Kabayan adalah supaya padi yang tersimpan di dalam bauh dan dango padi itu lambat habisnya, jua jikalau saban hari diambil untuk ditumbuk menjadi beras. Kita memohon kepada Sang Pencipta agar padi ini baparuopm bapajaji—yakni meluap ke atas dan melimpah-ruah secara mukjizat—hingga tumbuhlah damar padanya dan jadilah ia padi lama yang gawak. Dengan demikian, tatkala musim panen yang baru datang berbilang tahun kemudian, padi yang lama tiada pernah habis dikecap oleh keluarga kita."

Maka takjublah sekalian perempuan yang mendengar petuah itu. Setelah genap segala syaratnya, diusunglah keranjang Ne' Kabayan itu dengan cermat, lalu diletakkan di atas tumpukan padi yang bertimbun di dalam dango padi.

Syahdan, tersebut pula kisah seorang peladang lain di benua itu, seorang pemuda bernama Si Lebai yang miskin lagi bebal. Adapun Si Lebai itu berladang pula di seberang sungai, namun pada hari penjemputan Ne' Kabayan, terhalanglah ia oleh suatu kesusahan yang amat sangat hingga tiada sempat pergi ke ladangnya. Maka makin harilah makin dekat menuju upacara besar Ngabayotn. Maka gugup dan risaulah hati Si Lebai, sebab jikalau Ne' Kabayan tiada dijemput dari pabonihan, niscaya ia dan keluarganya tiada dapat menyertai upacara ritual Ngabayotn, yakni ritual narahi' padi tempat benih disirami dan diberkati dengan darah hewan kurban serta jaranang.

Maka berjalanlah Si Lebai menemui tetangganya, seorang lelaki yang jujur lagi taat bernama Si Sutan. Maka bersabdalah Si Lebai dengan iba hati: "Wahai sahabatku Si Sutan, kasihanilah kiranya hembusan nafasku ini. Aku tiada sempat pergi ke ladangku untuk menjemput Ne' Kabayan. Maukah engkau berjalan bagi pihakku untuk menjemputkan sang ketua padi di ladangku?"

Maka Si Sutan yang dermawan itu pun menjawab: "Baiklah wahai sahabatku, sebab kita hidup se-benua bertetangga." Maka pergilah Si Sutan ke ladang Si Lebai, melakukan segala adat penjemputan dengan sempurna, lalu membawa pulang Ne' Kabayan ke rumah Si Lebai.

Maka tatkala tiba hari pesta pesta upacara ritual Ngabayotn, Si Lebai tiada lupa akan janji dan aturan leluhurnya. Maka dibawanyalah kepada Si Sutan tanda terima kasih dan bentuk penghormatan adat, berupa seekor manok sabarokng (ayam jantan), beberapa keping tumpi', nasi beras pulut poe', serta sebungkus bontokng saepet.

Maka berkatalah orang tua-tua di benua itu: "Sungguhlah pemberian Si Lebai itu dinamai paribaso, yakni etiket dan adab sopan santun yang wajib dipelihara dalam pergaulan sesama manusia. Sebab begitulah adat leluhur mengajar kita, supaya hidup saling tenggang, hormat-menghormati, dan ingat akan pertolongan sesama."

Maka tatkala Ne' Kabayan sekalian peladang telah selamat dijemput dan disemayamkan di rumah masing-masing, maka terbukalah rintangan adat. Belenggu larangan pun gugur. Maka berbondong-bondonglah sekalian kaum perempuan turun kembali ke ladang-ladang mereka. Maka bermulalah pekerjaan yang dinamai nayo' umo dan ngarago'.

Syahdan, kaum perempuan pun menyingsingkan kainnya, mulai membersihkan kebun dari rumput dan gulma. Mereka merawat tanaman ubi kayu, ubi jalar, keladi, tebu, jahe, dan pisang yang tumbuh berselang-selang di antara sisa batang padi. Batang-batang padi yang kering dan tunggul-tunggul kayu yang merintangi jalan mulai ditebang dan dikumpulkan. Kayu-kayu kering diangkut untuk dijadikan kayu api di dapur rumah mereka.

Maka tempat yang tadinya dinamai umo (huma) kini telah berubah wajahnya. Tiada lagi dipanggil umo, melainkan dinamai orang toyo'bn atau babutotn, yakni kebun Dayak yang sarat dengan segala buah dan tanam-tanaman non-padi.

Hatta, maka tersebutlah pula perihal kaum lelaki di Benua Pabonihan. Adapun tatkala kaum perempuan sibuk batayo' di ladang selama satu bulan berturut-turut, maka jaranglah ada lelaki yang turut campur dalam pekerjaan batayo' itu. Kaum lelaki memikul kewajiban yang lain. Maka ada yang memanjat bubungan rumah untuk nyuat—yakni mengganti atap-atap daun yang telah bocor dan rapuh—supaya rumah mereka teduh tatkala hujan turun. Ada pula yang merambah hutan mencari hasil alam, atau berjalan jauh mencari rezeki dan biaya. Sekalian itu dilakukan oleh kaum lelaki demi memenuhi belanja dan keperluannya tatkala pesta besar upacara ritual padi Ngabayotn dilangsungkan kelak.

Maka riuh-rendahlah benua itu oleh gema bunyi gendang dan gong tatkala pesta Ngabayotn benar-benar tiba. Padi-padi lama yang tersimpan dalam dango padi tetap utuh dan melimpah, berkat barokah damar dan restu Ne' Kabayan. Sekalian penduduk makan dan minum dengan sukacita, memuji adat lama yang tiada lapuk dek hujan dan tiada lekang dek panas.

Maka demikianlah tuntasnya hikayat kuno Ne' Kabayan dan Batayo', menjadi ikhtibar bagi sekalian anak cucu peladang di benua Borneo, bahwasanya barang siapa menghormati hasil bumi, memelihara adab paribaso, dan memegang teguh larangan leluhur, niscaya rezekinya tiada akan pernah putus dan kehidupannya akan senantiasa diberkati oleh Sang Maha Pencipta.

Tamatlah hikayat.

Hikayat Janji Ne’ Baki dan Berkah Sambayang Anyokng

Alkisah pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung yang makmur di kaki Bukit Bawokng, bertempat tinggal seorang peladang bernama Ne’ Baki bersama istrinya, Nek Tipah, dan seorang anak laki-lakinya yang bernama Kamang. Ne’ Baki dikenal sebagai orang yang taat kepada adat paribaso serta sangat menghormati para Jubato dan awo pamo (roh-roh leluhur).

Syahdan, beberapa tahun sebelumnya, kehidupan Ne’ Baki dilanda kesusahan. Anaknya, Kamang, jatuh sakit parah dan panen padinya selalu gagal. Maka berdoalah Ne’ Baki di jendela rumahnya:

“Ya Jubato Ne’ Opo Panungkat Bawokng, jikalau anakku Kamang diberikan kesembuhan dan padiku kelak muih padi (melimpah), hamba berjanji akan melaksanakan sambayang anyokng pada pesta Ngabayotn nanti untuk mayar moot (membayar mulut)!”

Maka atas kehendak Jubato, Kamang pun sembuh dan panen padi di ladang Ne’ Baki melimpah ruah. Tiba saatnya pesta Ngabayotn, Ne’ Baki hendak menepati janji nazarnya.

Hatta, pada petang hari sekira jam lima sore, tatkala matahari mulai condong ke barat, Ne’ Baki memanggil Kamang untuk bersiap melakukan ritual matek—ritual pengantar sebelum sambayang anyokng pada besok pagi.

“Wahai Kamang, anakku,” kata Ne’ Baki seraya memegang sebilah kayu kecil yang ditusuki tujuh buah kue tumpi', “gantungkanlah kain sarung balunggi bersulam emas ini di atas tempat ritual besok. Bapak akan membacakan doa matek di dekat jendela (tingo'otn).”

“Baik, Bapak,” jawab Kamang. “Mengapa ritual matek ini harus kita lakukan pada petang hari, Pak?”

Ne’ Baki tersenyum lalu menjelaskan, “Kerana pada waktu sore seperti inilah para Jubato, awo pamo, dan roh-roh pelindung telah kembali ke tempatnya masing-masing. Dengan matek, kita mengundang dan memohon agar Mereka tidak pergi ke mana-mana dan sudi menghadiri upacara keluarga kita besok pagi.”

Maka Ne’ Baki pun berdoa di dekat jendela yang menghadap ke timur. Sejurus kemudian, Duaarrr! Suara meriam kecil lelo dan rantako menyalak keras mengguncang udara kampung.

“Acap kali dentuman itu berbunyi, ngubarotn—mengabarkan kepada warga kampung dan para roh bahwa besok pagi rumah kita menggelar sambayang anyokng!” ujar Ne’ Baki dengan penuh khidmat.

Malam pun berganti pagi. Hari puncak upacara Ngabayotn telah tiba. Di dalam rumah Ne’ Baki, sajian putukng bersusun tujuh telah ditata rapi bersama masakan daging santotn, sigoh, dan bamopm. Seekor babi kurban yang utuh (baboatotn) disiapkan kerana upacara tersebut adalah bentuk penemuan nazar (mayar moot).

Namun, untuk upacara Ngabayotn biasa milik warga lain, babi kurban harus dipotong (di-turih) mengikut aturan adat. Datanglah seorang pua-pua adat yang tua bernama Ne' Samik ke rumah Ne’ Baki.

“Ne’ Baki,” kata Ne’ Samik melihat babi kurban yang disiapkan, “sungguh benar persembahanmu ini. Untuk membayar nazar, babi disajikan utuh telentang. Namun ingatlah, jikalau kelak engkau menurih babi kurban untuk Ngabayotn biasa, jangan sekali-kali orang yang sembarangan yang menurihnya!”

“Mengapa demikian, Pua?” tanya Kamang penasaran.

“Kerana setiap turihan potongan babi itu ada namanya sendiri menurut adat. Jikalau tersalah turih, kurban itu akan rusak dan akan membawa sial serta malapetaka bagi kehidupan keluarga pemilik kurban!” tegas Ne’ Samik.

Setelah seluruh prosesi ritual doa nyangohotn selesai dan persembahan disampaikan hingga melampaui batas kampung ke Bukit Bawokng dan Sungai Sapero', lega luar biasa dirasakan oleh Ne’ Baki dan keluarganya. Janji nazarnya kini telah tuntas ditunaikan.

Tatkala matahari mulai tinggi, terdengar suara petikan gitar, bas jepug, pukulan gendang malaya, romba, dan tambrin merdu mengalun dari luar rumah. Anak-anak muda kampung datang membawa kegembiraan.

“Bapak, rombongan bangsin sudah tiba di depan pintu!” seru Kamang gembira.

Anak-anak muda itu bernyanyi dan menari riang di halaman rumah Ne’ Baki. Nek Tipah segera keluar membawa sepinggan beras sebanyak dua copak yang diselipi beberapa lembar uang kertas di dalamnya sebagai hadiah untuk para pemusik muda itu.

“Terima kasih, Nek! Semoga keluarga Ne’ Baki senantiasa dilimpahi berkah oleh Jubato!” seru pemuda pemimpin orkes bangsin dengan gembira seraya menerima piring beras tersebut.

Demikianlah Ne’ Baki menepati janjinya, memelihara adat sambayang anyokng, serta membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi keluarga dan seluruh warga kampungnya.

Hikayat Sambayang Anyokng dan Pemuliaan Awo Pamo

Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang dikasihi oleh Dewa Jubato, tempat bernaung keturunan Dayak Salako yang amat teguh memelihara adat paribaso dan ajaran para leluhur. Maka tersebutlah bahwasanya tiap-tiap keluarga di negeri itu menggelar upacara ritual Ngabayotn dan Ngarantuk di dalam rumah mereka masing-masing, kerana upacara sakral itu adalah hak dan kepunyaan setiap rumah tangga, tiada dilakukan di luar rumah.

Syahdan, mengikut adat purbakala, upacara ritual Ngabayotn dibedakan atas jenis hewan kurban serta persembahan yang menyertainya, yaitu upacara ritual biasa dan upacara ritual besar. Adapun upacara ritual yang sederhana dinamai sambayang enek atau sambayang biaso, yang lebih dikenal orang sebagai Ngarantuk. Upacara ini dihantar pada pagi hari dengan ritual batagokng menggunakan tiga buah kue tumpi', putukng (epet bontokng) bersusun tiga, serta tiga ekor ayam beserta penganan poe' dan bontokng. Pada ritual sambayang enek ini, segala hewan kurban dipersembahkan dalam posisi telentang. Devosi kurban nyangohotn buis bantotn ini semata-mata ditujukan kepada Jubato, awo pamo, dan roh-roh pelindung di dalam batas wilayah kampung itu saja, tiada boleh (amai') melampaui batas pemukiman.

Sebermula, ada pun upacara ritual yang agung dinamai sambayang anyokng atau sambayang ayo', yaitu upacara ritual besar. Upacara ini menggunakan kurban seekor babi yang telah dikebiri (bantut) serta seekor ayam, atau dapat jua digantikan dengan tujuh ekor ayam yang sama nilainya. Pada ritual sambayang anyokng ini, jangkauan doa nyangohotn melampaui batas kampung hingga ke tempat-tempat yang amat jauh dan sakral, seperti Bukit Bawokng yang dijaga oleh Jubato Ne' Opo Panungkat Bawokng, serta Sungai Sapero' yang dijaga oleh Jubato Ne' Rapek. Sungguh Bukit Bawokng itu dimuliakan oleh bangsa Austronesia bak dipandangnya Bukit Siguntang oleh orang-orang Sriwijaya pada zaman dahulu.

Hatta, tatkala sebuah keluarga hendak menggelar sambayang anyokng, dimulailah ritual pengantar yang dinamai matek pada petang hari sekira jam lima sore, tatkala cahaya matahari masih membayang. Seorang panyangohotn menusuk tujuh buah tumpi' dengan kayu kecil, lalu meletakkannya di dekat jendela (tingo'otn) yang menghadap ke arah terbitnya matahari seraya memanjatkan doa. Di atas tempat ritual besok harinya, digantungkan sehelai kain sarung merah yang baru atau sarung balunggi yang bersulam emas.

Seketika doa matek dibacakan, dentuman senjata lantak atau meriam kecil lelo dan rantako menyalak ke udara, ngubarotn—mengabarkan kepada sekalian Jubato, awo pamo, dan warga kampung bahwa sambayang anyokng akan dilangsungkan besok pagi. Ritual matek digelar pada petang hari kerana pada waktu itulah para Jubato dan roh leluhur telah kembali ke tempatnya, sehingga permohonan dan undangan itu pasti diterima oleh Mereka.

Maka pada hari puncak sambayang anyokng, disajikanlah putukng bersusun tujuh serta olahan daging kurban berupa santotn, sigoh, dan bamopm. Jikalau keluarga itu melaksanakan upacara kerana bernazar, maka hewan kurban babi dipersembahkan secara utuh (baboatotn) dalam posisi telentang setelah dibersihkan. Namun pada upacara biasa, babi kurban itu di-turih atau dipotong-potong mengikut aturan adat. Pekerjaan menurih ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang terampil dan berpengalaman; sebab jikalau tersalah turih, kurban akan rusak dan malapetaka serta kesialan akan menimpa keluarga tersebut.

Alkisah, ada tiga hal yang menyebabkan sebuah keluarga melaksanakan sambayang anyokng. Pertama, kerana membayar nazar (sambayang mayar moot) atas panen yang melimpah (muih padi) atau sembuhnya anggota keluarga dari penyakit. Kedua, sebagai bentuk suka cita bagi keluarga kaya yang senantiasa dilimpahi hasil bumi dan ternak yang banyak. Ketiga, iaitu ritual Booh Nyawo (belah nyawa), yaitu upacara pelepasan arwah kerabat yang telah meninggal selama tiga tahun guna menghantar dan mengesahkan arwah tersebut menjadi roh leluhur yang absolut (awo pamo) di Subayotn.

Maka tatkala ritual sakral di dalam rumah-rumah telah usai, kemeriahan pun beralih ke jalanan kampung. Anak-anak muda yang kreatif membawa alat musik orkes—gitar, bas jepug, gendang kembar malaya, romba, dan tambrin—berjalan mendatangi tiap-tiap rumah warga. Mereka membawakan lagu-lagu gembira dalam tradisi yang dinamai bangsin. Sebagai tanda terima kasih, tuan rumah menyajikan dua copak beras dalam piring yang diselipi uang kertas di dalamnya untuk diambil oleh para pemusik muda itu.

Demikianlah hikayat sambayang anyokng dan pesta Ngabayotn dipelihara dengan penuh khidmat oleh suku Dayak Salako, membawa keberkahan hidup, penghormatan kepada arwah leluhur, serta sukacita bagi seluruh warga negeri.

Hikayat Rahasia Kookng Buis dan Berkah Patahunan"

Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang subur lagi makmur, tempat bermukimnya suku Dayak Salako yang amat memelihara hukum adat, petuah leluhur, dan adat paribaso. Maka pada tiap-tiap penghujung tahun perladangan, tatkala panen telah usai dan bulir-bulir beras telah tersimpan rapi, digelarlah suatu hari agung yang dinamai Hari Ngabayotn.

Syahdan, sehari sebelum ketibaan hari ritual agung itu, dinamai oleh orang-orang tua sebagai hari duduk sambayang atau hari duduke. Hari tersebut merupakan batas penutup bagi seluruh pusingan tahun perladangan yang lalu. Sejak fajar menyingsing pada hari duduk sambayang, sekalian kaum ibu dan perempuan kampung telah sibuk mengurus ramuan persembahan. Mereka melakukan prosesi ngaranapmi', yaitu merendam beras pulut murni yang dicampur dengan sedikit beras sunguh (beras biasa) di dalam tempayan-tempayan air.

Maka adapun maksud ngaranapmi' baras selama satu hingga dua jam itu adalah demi memekarkan, memecahkan, dan melunakkan biji beras. Karena biji beras itu mulai memecah, maka hari itu dinamai pula macoh baras. Tiada berapa lama berselang, gema lesung dan kayu alu pun riuh bersahut-sahutan di sekeliling kampung. Kaum perempuan beramai-ramai melakukan nutuk—menumbuk beras rendam itu untuk dijadikan tepung halus—sehingga hari itu dikenal pula dengan sebutan batutuk.

Hatta, tatkala prosesi nutuk tepung telah selesai, kaum wanita pun bersiap membungkus sejemput beras sunguh yang dinamai prosesi ngaepet bontokng. Maka membungkus bontokng itu tiada boleh dilakukan dengan sembarangan, asal-asalan, atau secara sederhana. Bagi barangsiapa yang belum biasa, niscaya pekerjaan itu terasa amat sukar. Sebab, sesuai amanat leluhur, beras tersebut wajib di-epet di atas permukaan daun minyak atau daun layang bagian bawah—yaitu sisi daun yang selalu menghadap ke tanah.

Adapun hikmah di balik aturan itu, bahwasanya bagian bawah daun adalah bagian yang paling suci dan terhindar dari kotoran debu maupun najis hewan. Manusia diwajibkan memberikan segala sesuatu yang paling baik, paling bersih, dan paling murni kepada Jubato, awo pamo, dan roh-roh pelindung. Bungkusan itulah yang dinamai epet Jubato, suatu persembahan yang amat berbeda martabatnya dari epet manusia atau epet kapur yang hanya digunakan untuk membungkus barang biasa seperti terasi dan kapur sirih.

Tak hanya itu, kerapian bontokng itu melambangkan patahunan atau nasib perjalanan hidup manusia pada tahun yang akan datang. Tatkala bontokng itu telah masak, bekas atau cetakan tulang daun pada nasinya wajib berada tepat lurus di tengah-tengah. Jikalau cetakan tulang daun itu berada tepat di tengah, maka tandanya rejeki dan keberkahan pada tahun mendatang akan memancar dengan bagus dan melimpah. Sebaliknya, jikalau cetakannya miring, niscaya rejeki pada tahun itu akan miring, melenceng, dan diliputi kesukaran.

Maka ada pula bontokng yang di-epet secara khusus bersusun tiga atau tujuh bungkus sekaligus, yang dinamai putukng. Putukng menjadi salah satu sesajen utama dalam ritual. Setelah bungkusan bontokng dan putukng itu siap, kedua ujung sudut atasnya dipotong sedikit dengan pisau. Potongan itu menjadi celah bagi air untuk meresap masuk tatkala bontokng dan putukng dimasukkan ke dalam pokokng—yaitu ruas bambu buluh yang besar—lalu direndam selama satu jam agar nasinya lembut dan masak dengan sempurna.

Sebermula tatkala kaum wanita sibuk dengan tepung dan bontokng, kaum laki-laki pun mengambil peran di halaman dan tepi rumah. Mereka sigap menyiapkan bambu soekng untuk membuat poe'. Mengikut hukum adat yang asli, memasak poe' di dalam bambu soekng tiada boleh diberi santan kelapa, tiada diberi garam, tiada diberi bawang putih, dan tiada boleh "disarungi" dengan lapisan daun pisang. Poe' haruslah masakan murni dari ruas bambu agar menghasilkan rasa dan aroma yang wangi alami. Adat melarang keras mencampuri poe' persembahan dengan penyedap masakan. Adapun penganan pulut bersantan yang dilapisi daun pisang muda itu dinamai lemang atau lamang—ia hanyalah penganan biasa bagi rekreasi atau pesta perkawinan suku-suku keturunan Austronesia, dan bukanlah kue sakral untuk ritual adat.

Maka tatkala dini hari mulai membayang—sekira pukul tiga hingga lima pagi—kaum laki-laki menancapkan tiang-tiang kayu bulat sebesar lengan anak-anak yang baru ditebang dari semak dekat rumah. Tungku panggangan itu dinamai arohotn atau banootn. Di atas arohotn itulah ruas bambu soekng berisi poe' dan ruas bambu pokokng berisi bontokng diletakkan lalu dipanggang di atas bara api. Pada saat yang bersamaan, kaum perempuan menggoreng adonan tepung dan gula merah di dalam kuali kecil yang dinamai japon untuk membuat kue cucur atau numpi'. Ketiga penganan ini—poe', tumpi', dan bontokng—merupakan tritunggal sesajen wajib yang harus hadir dalam religi tradisional suku Dayak Salako.

Alkisah, tatkala fajar kian mendekat dan waktu menunjukkan sekira pukul empat pagi, seorang tetangga yang mahir dan dituakan melangkah ke halaman untuk menyembelih kurban babi Dayak. Babi kurban itu adalah babi jantan yang telah dikebiri, dinamai enyekng nangko' atau babi nangka karena tubuhnya yang berwarna hitam hanya berukuran sebesar buah nangka dengan berat sekitar 20 hingga 30 kilogram. Jenis babi ini amat dihormati kerana padat dagingnya dan sedikit lemaknya.

Kemudian, tatkala sang suria mulai membiaskan sinar merah di ufuk timur, kaum laki-laki pun menyembelih ayam jantan. Darah dari kedua hewan kurban itu ditampung dengan penuh takzim ke dalam mangkuk bersih dan diletakkan di tempat yang aman. Sebab, darah persembahan adalah materi sakral yang mutlak ada; tanpa adanya darah kurban, ritual Ngabayotn tiada sah dan tiada dapat dilaksanakan.

Syahdan, bagian yang paling tinggi derajat kesuciannya terletak pada hati kedua hewan tersebut. Tatkala hewan disembelih, hati binatang itu dilarang keras untuk dipotong atau dikeluarkan dari rongga dadanya. Hati itu dibiarkan tetap bersemayam di dalam dada hewan kurban, kerana hati di dalam dada itu melambangkan kookng buis—yakni inti dari seluruh persembahan ritual sekaligus pancuran sumber rejeki bagi seluruh keluarga.

Maka tatkala seluruh penganan sesajen poe', tumpi', dan bontokng telah masak, serta darah kurban dan kookng buis telah siap di altar persembahan, bersuaralah para tetua memanjatkan doa kesyukuran. Suasana negeri pun diliputi kedamaian, kesucian, dan sukacita yang tiada tara.

Demikianlah hikayat tata cara Hari Ngabayotn dipelihara dari zaman berzaman oleh suku Dayak Salako, sebagai wujud bakti manusia kepada Jubato dan cermin ikatan kasih antar sesama makhluk di bumi.

Hikayat Ngabayotn dan Pelita di Ujung Patahunan

Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri bernama Bumi Salako yang makmur dan tenteram. Maka pada masa itu, tersebutlah seorang tetua negeri nan bijaksana lagi arif budinya, dinamai Datu Pengulu. Adapan Datu Pengulu itu teramat arif dalam segala hukum adat dan rahasia leluhur, serta amat dikasihi oleh sekalian anak cucu dan penduduk negeri.

Hatta, tatkala tiba masa duduk sambayang—yaitu hari terakhir dalam pusingan tahun perladangan, sebelum terbitnya fajar Hari Ngabayotn—berkumpullah sekalian warga kampung di balai besar. Di luar balai, malam makin larut, tetapi keriuhan belum jua surut. Dari ceruk-ceruk dapur rumah warga, terdengar suara lesung dan alu bersahut-sahutan. Kaum perempuan sibuk nutuk—menumbuk beras pulut yang telah direndam selama satu dua jam dalam prosesi ngaranapmi' atau macoh baras demi melunakkan biji beras untuk dijadikan tepung.

Maka pada saat itu, seorang pemuda bernama Meno duduk menghadap Datu Pengulu. Meno memegang selembar daun minyak dengan jemari yang gemetar, hendak belajar membungkus bontokng.

Meno pun bertatap muka lalu berkata dengan santunnya, "Ya Datu yang hamba junjung, mengapakah membungkus bontokng ini teramat sukar dan sarat dengan aturan? Mengapa daunnya tidak boleh dibalik, dan mengapa nasi ini mesti diperam di dalam bambu pokokng bersama putukng? Hamba khawatir jikalau lipatan hamba miring, niscaya celakalah hamba."

Datu Pengulu tersenyum mengelus janggutnya yang putih. Maka berkatalah beliau dengan suara nan empuk lagi merdu, "Dengar olehmu, wahai Meno. Segala bekas dan helai daun dalam adat kita bukan sekadar makanan pembasuh dahaga, melainkan persembahan suci bagi Jubato dan para leluhur. Hendaklah engkau tahu bahwasanya adat ini dipelihara melalui petuah zamani. Dengarkanlah olehmu kisah berbingkai tentang asal-muasal ketelitian membungkus epet Jubato ini."

Maka Datu Pengulu pun mulailah bercerita, membuka bingkai cerita yang pertama.

[Cerita Berbingkai I: Kisah Kamang Lada dan Rahasia Epet Jubato]

"Syahdan pada zaman dahulu kala," ujar Datu Pengulu, "tersebutlah seorang pemburu gagah perkasa bernama Kamang Lada. Pada suatu ketika, tatkala musim panen telah usai, Kamang Lada hendak menggelar ritual kesyukuran. Namun, karena sifatnya yang terburu-buru dan memandang remeh perkara sepele, Kamang Lada mengambil daun minyak sembarangan untuk membungkus beras bontokng.

Ia tidak mengindahkan bagian atas atau bawah daun. Dilipatnya beras sunguh itu pada permukaan atas daun yang telah terdedah debu dan najis unggas hutan. Syahdan, ia jua membungkusnya secara asal-asalan, seolah-olah ia sedang membuat epet biasa atau epet kapur tempat kapur sirih dan terasi.

Maka tatkala bontokng itu dimasak di atas arahotn—panggangan dari kayu bulat sebesar lengan anak-anak—terjadilah suatu keajaiban yang mengerikan. Seketika asap hitam membumbung, dan tatkala bungkusan itu dibuka, tulang daun pada nasi bontokng itu tercetak miring dan melenceng jauh dari tengahnya.

Pada malam harinya, Kamang Lada bermimpi didatangi oleh utusan Jubato. Sang utusan berkata dengan nada murka, 'Wahai Kamang Lada, engkau telah memberi persembahan yang tercemar kotoran bumi kepada Pencipta! Engkau melipat epet Jubato seolah-olah persembahan suci itu tiada bernilai lebih dari epet manusia. Kerana cetakan tulang daun pada nasimu miring, maka rezeki dan nasib Patahunanmu pada tahun yang akan datang jua akan miring, melenceng, dan penuh dengan kesukaran!'

Terkejutlah Kamang Lada dari tidurnya. Sejak hari itu, berbulan-bulan lamanya hasil perladangannya merosot, buruannya menjauh, dan nasibnya diliputi kesusahan. Maka sadarlah ia akan kelalaiannya. Kamang Lada lalu bertapa dan memohon ampun, seraya bersumpah bahwasanya setiap membungkus bontokng untuk persembahan, manusia harus memakai lembaran daun bagian bawah yang menghadap ke tanah, kerana bagian itulah yang paling bersih dari kotoran debu dan hewan. Manusia wajib memberikan yang paling bersih dan paling baik kepada Jubato.

Tak hanya itu, Kamang Lada jua diajarkan untuk merangkai putukng—yaitu bontokng yang di-epet bersusun tiga atau tujuh sekaligus. Sudut atas bungkusan bontokng dan putukng mesti dipotong sedikit agar air dapat meresap masuk tatkala direndam dalam pokokng bambu buluh besar sebelum dipanggang, menjadikan nasinya lembut dan sempurna."

Tatkala Datu Pengulu menghentikan ceritanya sejenak, Meno terpaku mendengar petuah tersebut. Dipandangnya lembaran daun di tangannya dengan rasa hormat yang amat sangat. Dengan hati-hati, diusapnya bagian bawah daun yang menghadap ke tanah, lalu ditaruhnya sejemput beras sunguh tepat di tengah-tengahnya, memastikan agar tulang daun kelak tercetak lurus dan sempurna.

Meno kemudian bertanya pula, "Datu yang bijak, di halaman balai hamba melihat kaum laki-laki sedang menebang kayu bulat sebesar lengan untuk membuat arahotn. Mereka jua menyiapkan bambu soekng untuk memasak poe'. Mengapakah poe' untuk ritual ini rasanya murni sekali, tiada boleh diberi santan, garam, atau dibalut daun pisang seperti lemang biasa?"

Datu Pengulu tersenyum lagi, lalu menyulut pelita minyak di sampingnya. "Pertanyaanmu amat bagus, Meno. Ketahuilah bahwasanya kemurnian poe' adalah lambang ketulusan hati. Ada pun kisah di balik kesucian poe' ini berasal dari tuturan para nenek moyang kita."

Maka Datu Pengulu pun melanjutkan kisahnya, membuka bingkai cerita yang kedua.

[Cerita Berbingkai II: Pertapaan Putri Ratna dan Kemurnian Poe']

"Alkisah," kata Datu Pengulu, "pada zaman dahulu kala tatkala manusia pertama mulai menghuni kawasan Austronesia, timbul perselisihan di antara para peladang. Ada sebagian orang yang hendak memasak beras pulut dengan mencampurkan santan kelapa, garam, bawang putih, serta melapisinya dengan daun pisang muda. Makanan itu mereka namai lemang atau lamang, yang rasanya gurih dan lezat dipandang mata.

Maka mereka hendak membawa lemang bersantan itu ke atas altar persembahan Ngabayotn. Namun, seorang putri alim bernama Putri Ratna mendapat petunjuk dalam pertapaannya. Dalam penglihatannya, Jubato menyukai segala sesuatu yang murni dan bersahaja, tanpa rekaan atau penyedap buatan manusia.

Putri Ratna berkata kepada kaumnya, 'Lemang yang dimasak memakai santan dan bumbu penyedap itu adalah penganan biasa bagi rekreasi dan pesta perkawinan manusia Austronesia. Namun untuk persembahan sakral suci kepada alam dan Sang Pencipta, kita tidak boleh menggunakan santan, tidak boleh menggunakan garam atau bawang, dan tidak boleh disarungi daun pisang! Penganan suci itu haruslah poe', yaitu beras pulut murni yang dimasak secara alami di dalam soekng bambu. Hanya dengan begitu, aroma wangi dan rasa asli dari kayu dan bambu bumi dapat membumbung murni ke udara.'

Kaum peladang yang degil awalnya menolak petuah Putri Ratna dan tetap menyajikan lemang bersantan saat ritual. Maka seketika itu jua, tatkala api panggangan dinyalakan, bambu-bambu lemang itu pecah berderak-derak dan mengeluarkan bau hangus yang menusuk hidung. Sebaliknya, ketika Putri Ratna memanggang poe' di atas tungku arahotn dari kayu bulat pada pukul tiga hingga lima pagi, wewangian nan harum dan alami tercium memenuhi seluruh penjuru negeri.

Sejak peristiwa itu, ditetapkanlah hukum adat yang tak boleh diubah: poe' murni dalam bambu soekng, bontokng yang terbungkus rapi, dan tumpi' atau kue cucur yang digoreng oleh kaum perempuan di kuali kecil bernama japon menggunakan adonan gula merah, adalah tiga penganan wajib yang menjadi sesajen utama dalam agama tradisional suku Dayak Salako. Ketiganya dimasak serentak pada waktu fajar sebelum terbitnya matahari."

Meno mengangguk-angguk khidmat. Kini pahamlah ia bahwasanya setiap ramuan dan perlakuan pada makanan adat memiliki nilai kedalaman spiritual yang tak boleh diremehkan.

Hari makin mendekati fajar. Keheningan malam mulai terpecah oleh desir angin pagi dan sahutan unggas. Dari sudut halaman balai, terlihat beberapa lelaki mahir sedang bersiap menyembelih seekor babi enyekng nangko'—babi Dayak berwarna hitam yang telah dikebiri, yang ukurannya hanya sebesar buah nangka dengan berat sekitar dua puluh hingga tiga puluh kilogram.

Meno memandangi persiapan kurban itu lalu berbisik perlahan, "Datu, matahari sebentar lagi terbit. Pukul empat pagi ini babi nangka akan disembelih, dan tatkala fajar menyingsing, ayam jantan jua akan disembelih oleh kaum lelaki. Mengapakah darahnya mesti ditampung dalam mangkuk terpisah, dan mengapa hati dari hewan-hewan kurban itu dilarang keras untuk dikeluarkan dari dada?"

Datu Pengulu memandang ke arah halaman, tempat bara api dari arahotn masih menyala kemerahan. Matanya menatap tajam penuh kearifan.

"Sebab darah dan hati adalah inti dari kehidupan, wahai Meno," jawab Datu Pengulu dengan nada penuh takzim. "Dengarkanlah bingkai kisah terakhir ini, agar lengkaplah pengetahuanmu tentang Hari Ngabayotn."

[Cerita Berbingkai III: Rahasia Kookng Buis dan Darah Kehidupan]

"Syahdan," Datu Pengulu melanjutkan, "pada masa purbakala ketika penyakit dan kegagalan panen melanda negeri, para tetua berkumpul di bawah pohon hayat. Mereka memohon petunjuk agar malapetaka dijauhkan dari pemukiman.

Maka turunlah petunjuk bahwasanya untuk mengikat kembali hubungan antara manusia, tanah, dan Sang Pencipta, diperlukan materi persembahan yang suci, yaitu darah dan kookng buis. Darah hewan kurban—baik dari enyekng nangko' yang kaya daging dan sedikit lemak maupun dari ayam pagi—harus ditampung dengan penuh hormat dalam mangkuk yang bersih. Darah itu menjadi syarah utama dalam upacara ritual Ngabayotn. Tanpa adanya darah kurban, ritual dianggap hampa dan tidak dapat dilaksanakan sama sekali.

Namun, syarat yang paling sakral terletak pada hati hewan kurban tersebut. Para leluhur menegaskan bahwa setelah hewan disembelih, hati binatang itu tidak boleh dikeluarkan atau dipotong dari tubuhnya. Hati tersebut harus dibiarkan tetap berada di dalam rongga dada hewan kurban.

Mengapa demikian? Karena hati yang bersatu di dalam dada melambangkan kookng buis—yaitu inti paling dalam dari persembahan ritual, sekaligus simbol dan sumber rezeki bagi seluruh anggota keluarga. Menjaga hati tetap utuh di dalam dada adalah lambang dari menjaga keutuhan jiwa, ketenteraman rumah tangga, dan keberlanjutan rezeki pada tahun perladangan yang baru."

Selesailah Datu Pengulu menyampaikan ketiga bingkai ceritanya. Tepat pada saat itu, gema alu dan lesung batutuk mulai mereda. Bau wangi poe' yang dipanggang di atas arahotn serta harum kue tumpi' yang digoreng dalam kuali japon menyeruak ke udara, berpadu dengan dinginnya angin subuh.

Meno berdiri dari duduknya. Di tangannya, bungkusan bontokng telah siap dengan ikatan yang sempurna, bagian bawah daun terpelihara bersih, dan lipatan tulang daun tepat berada di tengah-tengah. Tiada lagi keraguan dalam hatinya.

Di luar balai, penyembelihan enyekng nangko' dimulai dengan tenang dan khidmat. Mangkuk-mangkuk penampung darah telah disiapkan, dan ufuk timur mulai memerah menyambut terbitnya matahari pagi—menandakan dimulainya puncak upacara Hari Ngabayotn.

Meno memandang Datu Pengulu seraya meletakkan persembahannya di atas takhta ritual. Ia tahu, selama adat paribaso, ketelitian epet Jubato, kemurnian poe', dan kesucian kookng buis terus dijaga oleh keturunannya, niscaya keharmonisan dan keberkahan akan senantiasa menaungi bumi suku Dayak Salako dari zaman berzaman.

Demikianlah hikayat Hari Ngabayotn tamat disalin dengan sempurnanya.

Hikayat Ne’ Kabayan dan Padi Berdamar

Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah benua yang hijau dan makmur, tempat bernaung suku Dayak Salako yang taat pada adat leluhur dan hukum pariba.

Alkisah, maka tersebutlah perkataan tatkala musim mengetam padi telah usai, dan segala bulir hasil panen telah dimasukkan dengan sempurnanya ke dalam dango dan bauh penyimpan padi. Maka mengikut adat teras moyang, belumlah sempurna sukacita para peladang jikalau belum dilaksanakan ritual menjemput tuho padi—yakni ketua dari segala padi yang dinamai Ne’ Kabayan.

Maka pada suatu hari yang hening, seorang perawan nan bijaksana dinamai Dayang Tari bersiap-siap menuju ke pabanihan, yaitu tanah ladang yang amat dimuliakan. Di tangannya menggenggam sebuah lubu’, yakni bakul kecil anyaman bambu nan elok. Niat hatinya hendak menjemput Ne’ Kabayan yang terdiri dari tujuh batang padi nan subur dalam satu lubang tugal.

Sesuai petuah orang tua-tua, Dayang Tari pun merebahkan tujuh batang tuho padi itu dengan lemah lembut, dilipatnya menjadi dua, lalu ditaruh ke dalam bakul. Maka diambilnya pula beberapa tangkai bungo ikotn—bunga Selasih yang harum semerbak—sebagai perhiasan penghormatan bagi Ne’ Kabayan, karena bahwasanya kaum perempuan amat menyukai akan keindahan bunga-bunga. Tak lupa pula dimasukkannya sebongkah damar kecil ke dalam lubu’ itu.

Maka adapun hikmah ditaruhnya damar itu, yaitu sebagai permohonan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar padi yang disimpan di dalam lumbung tiada cepat habisnya, jua melimpah-ruah secara mukjizat hingga menjadi padi gawak tatkala panen yang baru datang.

Syahdan, tatkala Dayang Tari hendak melangkah pulang, teringatlah ia akan seorang perempuan tua di kampung itu yang dinamai Nek Salikn. Syahdan Nek Salikn itu uzur usianya dan kabur pemandangannya, sehingga tiada sanggup ia menjemput Ne’ Kabayan di ladangnya sendiri. Padahal, jikalau Ne’ Kabayan tiada dijemput, niscaya keluarga itu tiada dapat melaksanakan ritual Ngabayotn dan narahi’ padi—yaitu mengurapi benih dengan darah kurban. Malah barangsiapa yang berani merusak ladang atau mengetam tumbuhan sebelum Ne’ Kabayan dijemput, niscaya ia melanggar adat dan mendatangkan mara bahaya atas dirinya dan keluarganya.

Maka dengan rasa belas kasihan dan paribaso (etiket kesopanan) yang mendalam, Dayang Tari pun pergi ke ladang Nek Salikn lalu menjemputkan Ne’ Kabayan milik perempuan tua itu. Maka amat sukacitalah hati Nek Salikn. Sesuai dengan hukum adat leluhur, Nek Salikn berjanji hendak memberikan manok sabarokng, tumpi’, poe’, dan bontokng saepet tatkala pesta upacara Ngabayotn berlangsung kelak, sebagai tanda terima kasih dan ikatan kasih antar sesama manusia.

Hatta, setelah Ne’ Kabayan selamat disemayamkan di atas timbunan padi di dalam lumbung rumah, maka cengkerama dan pantangan atas ladang pun diangkat. Maka ladang umo itu kini berubah namanya menjadi tayo’tn atau babutotn.

Maka bertempas-tempaslah kaum perempuan turun ke tayo’tn melakukan nayo’ umo dan ngarago’, yaitu membersihkan gulma di antara ubi kayu, keladi, tebu, dan pisang, serta mengumpul kayu api selama sebulan lamanya. Adapun kaum laki-laki tiada ikut batayo’, melainkan sibuk mereka memperbaiki (nyuat) atap rumah yang bocor serta mencari bekal uang untuk kemeriahan pesta upacara ritual Ngabayotn.

Demikianlah hikayat Ne’ Kabayan dan keagungan adat suku Dayak Salako dipelihara dari zaman berzaman, membawa keberkahan pada padi di lumbung dan kedamaian pada budi manusia.

Cerpen: Menjemput Sang Ibu Padi

Aroma tanah basah bekas hujan semalam masih terhirup jelas ketika Tari berdiri di tepi pabanihan—petak tanah khusus di ujung ladang umo milik keluarganya. Di hadapannya, rumpun batang padi yang paling tinggi dan rimbun menunduk diayun angin sepoi. Itulah tuho padi, tujuh batang padi terpilih dari satu lubang tugal yang ditanam dengan penuh doa bulan-bulan lalu. Dalam adat suku Dayak Salako, itulah wujud Ne’ Kabayan, sang ketua padi yang dipelihara bak seorang ibu.

Semua bulir padi dari panen musim ini telah selesai dikemas (kamas) dan tersimpan rapi di dalam dango padi, lumbung kayu tempat simpanan pangan keluarga. Namun, ritual belum sepenuhnya usai. Pagi ini, ibu Tari, Nek Rampai, meminta Tari untuk memimpin prosesi penjemputan Ne' Kabayan.

"Ingat, Tari," kata Nek Rampai sambil menyerahkan sebuah lubu', bakul anyaman kecil dari bambu. "Jemput Ne’ Kabayan dengan lembut. Jangan menyentuh rerumputan apalagi menebang tunggul sebelum beliau kita bawa pulang secara terhormat. Mengganggu ladang sebelum Ne' Kabayan dipindahkan adalah dosa adat, bisa membawa bahaya untuk keluarga."

Tari mengangguk paham. Ia melangkah perlahan menghampiri rumpun tuho padi. Jarinya yang cekatan merebahkan tujuh batang padi pilihan itu, melipatnya menjadi dua dengan penuh kehati-hatian, lalu memasukkannya ke dalam bakul lubu'. Di samping rumpun itu, Tari memetik beberapa tangkai bunga Selasih (bungo ikotn) yang harum. Seperti layaknya perempuan yang menyukai wewangian dan keindahan, bunga-bunga itu dimasukkan ke dalam bakul sebagai penghormatan bagi Ne’ Kabayan.

Terakhir, Tari mengambil sebongkah kecil damar hitam keras yang diambil dari getah pohon tua di hutan. Damar itu diletakkan di atas lipatan Ne' Kabayan. Harapan dari petuah tetua bergema di kepalanya: damar adalah simbol harapan agar padi di lumbung lambat habisnya. Semoga padi mereka menjadi padi gawak, berlimpah hingga meluap ke atas—baparuopm bapajaji—secara mukjizat sampai musim panen berikutnya tiba.

Namun, perhatian Tari teralih ketika mendengar suara batuk kecil dari ujung ladang tetangga. Di sana tampak Nek Salikn, seorang nenek tua yang hidup sendirian karena anaknya merantau ke kota. Nek Salikn duduk lesu di pondoknya, memandangi ladangnya yang belum disentuh penjemputan. Kesehatan matanya yang memburuk membuatnya tak sanggup berjalan menyusuri petak pabanihan untuk menjemput Ne' Kabayan-nya sendiri.

Melihat hal itu, Tari berjalan mendekat. "Nek Salikn, kenapa belum menjemput Ne' Kabayan?"

Nek Salikn tersenyum tipis, matanya yang kabur menatap Tari. "Pandanganku makin samar, Cucuku. Aku takut salah melipat batang tuho padi atau merusak batang yang lain sebelum beliau sempat dijemput. Jika tak dijemput, aku tak bisa ikut upacara Ngabayotn nanti."

Tari tersentuh. Penjemputan Ne' Kabayan adalah syarat mutlak agar sebuah keluarga dapat melaksanakan ritual Ngabayotn dan narahi' padi—ritual mengurapi benih dengan darah kurban. Tanpa ritual itu, benih untuk musim depan tidak akan diberkati.

"Biarkan Tari yang menjemputkan untuk Nenek," tawar Tari tulus.

Mata tua Nek Salikn berbinar. "Sungguh, Tari? Terima kasih, Nak. Adat kita tak pernah lupa pada pertolongan."

Tari segera menuju pabanihan milik Nek Salikn, melipat tuho padi nenek tua itu dengan perlakuan yang sama mulianya, menaruh bunga Selasih dan damar, lalu menyerahkan bakul lubu' itu kembali ke tangan Nek Salikn.

Nek Salikn memegang tangan Tari erat-erat. "Nanti saat upacara Ngabayotn, datanglah ke rumahku. Menurut paribaso—etika leluhur kita—aku harus memberimu manok sabarokng, tumpi', poe', dan bontokng saepet sebagai bentuk tanda terima kasih dan penghormatan adat."

Tari tersenyum. Bagi masyarakat mereka, aturan adat bukan sekadar dogma ritual, melainkan perekat rasa persaudaraan dan kepedulian antar sesama warga kampung.

Beberapa hari setelah Ne' Kabayan berada aman di atas timbunan padi di dalam lumbung rumah masing-masing, kehidupan di ladang memasuki babak baru. Pantangan adat kini telah diangkat. Ladang umo yang tadinya sacrosanct kini berganti nama menjadi tayo'tn atau babutotn.

Suasana di ladang kembali riuh. Kaum perempuan turun ke ladang untuk mulai bekerja kembali dalam prosesi nayo' umo dan ngarago'. Tari dan ibunya, bersama perempuan-perempuan desa lainnya, menyiangi gulma yang mulai tumbuh di sekitar tanaman ubi kayu, ubi jalar, keladi, tebu, dan tanaman pisang. Mereka memotong sisa-sisa batang padi yang mongering dan mengumpulkan kayu bakar dari tunggul-tunggul tua yang bisa ditebang. Pekerjaan membersihkan kebun ini akan berlangsung hingga sebulan penuh.

Sementara itu, kaum laki-laki mengambil peran berbeda. Ayah Tari dan para pemuda desa sibuk memanjat atap rumah untuk nyuat—mengganti atap daun sagu yang bocor demi menyambut kedatangan kerabat saat pesta nanti. Sebagian laki-laki lainnya pergi ke kota kecamatan atau memikat ikan di sungai untuk mengumpulkan rezeki demi membeli keperluan pesta upacara Ngabayotn.

Dari kejauhan, Tari memandang lanskap tayo'tn yang mulai bersih dan rapi. Di dalam lumbung rumahnya, Ne' Kabayan berselimut bunga Selasih dan damar menjaga bulir-bulir kehidupan mereka. Ada kedamaian yang dalam saat menyadari bahwa tradisi leluhur mereka tidak hanya mengajarkan cara menghargai alam dan hasil bumi, tetapi juga menjaga ikatan manusia agar saling mengasihi satu sama lain.

Cerpen : Riak di Tepian Manyuke

Suara petikan sampe’ yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan tidak mampu menenangkan hati Jubel. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu duduk bersila di sudut beranda rumah panggungnya, menatap nanar selembar kertas catatan tua peninggalan mendiang kakeknya. Catatan itu berisi tabel usang: Nilai Tahil dalam Peraga Adat.

Esok hari, hidup Jubel akan ditentukan. Ia harus berhadapan dengan Pangaraga dan Timanggong—para pengurus adat—di rumah adat Bantang. Jubel dituntut oleh keluarga besar kekasihnya, Dari, karena sebuah kesalahpahaman besar. Batas tanah ladang keluarga Jubel tak sengaja tergeser saat ia menebang pohon, memicu perselisihan antar-keluarga yang berujung pada tuntutan denda adat (singer).

"Hukum adat hidup harus ditegakkan, Jubel," suara berat paman Jubel, Pakcik Amon, memecah keheningan. "Kau dituntut peraga adat untuk memulihkan kedamaian. Satu buah Talam, satu Tawak, dan satu Kakanong untuk hukum pokoknya. Ditambah satu Tempayan Menyanyi karena ada pertengkaran mulut kemarin."

Jubel menghela napas berat. "Dari mana kita mencari benda-benda kuno itu sekarang, Pakcik? Di mana mencari tawak (gong besar) atau tempayan keramik kuno di zaman seperti ini?"

Pakcik Amon tersenyum tipis, lalu menepuk pundak Jubel. "Zaman memang berubah, tapi adat Salako tidak pernah mencekik anaknya sendiri. Kau lupa ada sistem petahilan? Sesuai perkembangan, peraga adat itu dapat ditebus."

Pakcik Amon mengambil kapur, lalu menuliskan hitungan di atas meja kayu.

"Dengarkan baik-baik. Untuk Talam, Tawak, dan Kakanong, nilainya adalah 1 Tahil. Sementara untuk Tempayan Menyanyi dalam adat hidup, nilainya 1 Tahil Tangah. Jadi, total yang harus kau penuhi adalah 2,5 Tahil."

Jubel memperhatikan coretan itu. "Lalu, bagaimana cara kita membayarnya, Pakcik?"

"Secara tradisi kuno, 1 Tahil itu setara dengan 8 singkap piring putih polos," jelas Pakcik Amon. "Jadi kalau 2,5 Tahil, kita memerlukan 20 buah piring putih. Tapi, karena pengurus adat setempat sudah menyepakati nilai tebusan rupiah untuk wilayah kita sebesar Rp100.000 per tahil, kau bisa menebusnya dengan uang tunai."

Jubel menghitung cepat di dalam kepalanya. "Dua setengah tahil dikali seratus ribu... berarti dua ratus lima puluh ribu rupiah?"

"Benar," kata Pakcik Amon. "Tetapi ingat, uang itu hanya pengganti material peraga adat yang sulit dicari. Kau tetap harus menyiapkan ayam jantan, tumpi, dan ketan sebagai syarat ritual pembersihan adat agar hubungan kedua keluarga kembali suci."

Esok paginya, suasana di rumah adat terasa magis sekaligus menegangkan. Jubel duduk berhadapan dengan ayah Dari dan para fungsionaris adat. Di tengah ruangan, terdapat piring-piring putih dan mangkok ritual yang disiapkan.

Setelah melalui musyawarah yang dipimpin oleh Timanggong dengan tutur bahasa Salako yang santun namun tegas, Jubel menyerahkan uang tebusan petahilan sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah, beserta kelengkapan ritualnya. Ayah Dari menerima tebusan tersebut dengan anggukan hormat. Perselisihan pun resmi dinyatakan selesai. Aturan petahilan terbukti mampu menjadi jembatan yang adil—menjaga kehormatan tradisi leluhur tanpa harus memberatkan generasi muda di masa modern.

------------------------------

Cerpen: Janji di Bawah Naungan Pohon Tengkawang

Matahari baru saja menggelincir di balik Pegunungan Singkawang. Udara sore di Dusun Bagak Sahwa terasa sejuk ketika hembusan angin membawa aroma dedaunan basah dan tanah gembur. Di sebuah pondok kayu tepi ladang, Tampun sedang sibuk mengasah parangnya. Bunyi gesekan batu asah dan besi beriringan ritmis dengan kepakan sayap burung sriti yang kembali ke sarang.

Tampun adalah seorang pemuda keturunan Dayak Salako. Kehidupannya bersahaja—bertani padi ladang, menoreh karet di pagi hening, dan merawat pohon-pohon durian tua warisan leluhurnya. Namun, beberapa hari belakangan, fikiran Tampun tidak tenang. Perselisihan terkait sengketa batas tanah ladang dengan tetangganya, Bahrul, kian meruncing hingga mengancam kedamaian desa.

Semua berawal minggu lalu, ketika babi hutan milik Bahrul merusak tanaman keladi dan padi muda milik Tampun. Percekcokan mulut tak terelakkan, hingga Bahrul yang tersulut emosi bertindak melampaui batas adat. Ia melontarkan tuduhan fitnah yang menodai nama baik Tampun di depan warga, bahkan sempat mengancam akan membawa parang.

Sesuai tatanan adat istiadat Suku Dayak Salako, setiap perselisihan dan pelanggaran tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan atau dendam pribadi. Hukum adat memegang peranan mutlak sebagai penengah untuk mendamaikan kedua belah pihak dan mengembalikan ketenteraman kampung.

Hari yang ditentukan pun tiba. Balai Adat Desa Bagak Sahwa dipenuhi para tetua dan pengurus adat. Di bagian depan, Tetua Adat duduk mengapit tongkat kayu ukir kebesarannya. Di samping meja utama, telah disiapkan seekor babi sebagai bagian penting dari penetapan sanksi dan ritual adat.

Dalam hukum adat Dayak, ukuran hukuman dan sanksi denda yang dibebankan atas suatu pelanggaran dilambangkan secara teliti melalui ukuran badan seekor babi. Standardisasi ini diukur berdasarkan kombinasi ukuran Rea dan Tepak.

Tetua Adat berdiri, lalu membacakan risalah pelanggaran dan tata cara penentuan hukuman adat yang berlaku di hadapan warga:

"Setiap hukuman yang dibebankan atas pelanggaran adat di tanah kita dilambangkan pada seekor babi sebagai dasar ukurannya. Panjang babi sepanjang 1 meter atau setara dengan 12 tepak pada ubun-ubunnya."

Tetua Adat melangkah mendekati babi ritual yang terikat di balai, lalu menjelaskan tingkatan tepak kepada Tampun dan Bahrul yang duduk menunduk mendengarkan:

"Tiap tingkatan tepak berbeda ukurannya. Tepak pertama diukur dari ujung kaki menggunakan jengkal, yaitu 2 jengkal ditambah 2 jari. Tepak pertama ini dinamakan tepak perut. Tegasnya, tepak perut adalah 2 jengkal 2 jari dari kaki arah ke kepala.

Dua tepak berarti tepak perut ditambah 4 jari. Tiga tepak berarti tepak perut ditambah 8 jari, dan demikian seterusnya sampai pada tepak yang ketujuh. Tepak yang ketujuh ini disebut satu rea. Selanjutnya, dari satu rea ditambah 2 jari lagi dinamakan 2 (dua) rea.

Tegasnya, 2 rea itu berarti 2 jengkal 2 jari ditambah 30 jari. Demikian seterusnya sampai ke batas ubun-ubun. Ukuran rea tertinggi adalah 12 rea yang berarti 12 tepak atau 6 rea. Ukuran ini dihitung dari bagian belakang kepala setiap rea-nya ditambah 2 jari."

Setelah perincian takaran hukum dibacakan dengan runtut, Tetua Adat memutuskan sanksi adat yang adil atas perbuatan Bahrul demi memulihkan kerukunan dan membersihkan noda perselisihan di antara mereka. Bahrul diwajibkan menyerahkan denda adat serta membiayai ritual panyanggar adat pembersih kampung.

Bahrul yang menyadari kekhilafannya berlutut dan menyerahkan denda tersebut dengan tulus. Darah babi dipercikkan secara sakral sebagai simbol pembersih pertikaian dan pengikat perdamaian yang abadi. Tampun maju dan mengulurkan tangannya, menyambut permohonan maaf Bahrul dengan dada lapang.

Malamnya, Balai Adat dihiasi dengan gelak tawa dan kehangatan. Warga makan bersama dalam suasana kekeluargaan yang pulih. Bagi masyarakat Dayak Salako, hukum adat bukanlah sarana untuk menghancurkan yang bersalah, melainkan cermin keadilan yang mengembalikan keseimbangan antara manusia, alam, dan para leluhur. Di bawah naungan pohon tengkawang yang rindang, perdamaian kembali berakar kuat di tanah Singkawang.

Cerpen: Batas Gurau di Tepi Dusun

 Di tengah sejuknya gema perbukitan, Dusun Nyarumkop dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi keharmonisan dan keadaban. Masyarakatnya terbiasa bersenda gurau untuk mencairkan suasana gawai atau kerja bakti di ladang. Namun, semua warga paham bahwa bercanda pun memiliki pagar adat yang tidak boleh dilompati.

Sayangnya, batas itu kerap diabaikan oleh Randi. Pemuda yang dikenal bertangan ringan dan berlidah celopar ini sering kali menganggap semua hal di dunia sebagai bahan lelucon. Bagi Randi, tidak ada istilah "terlalu jauh" dalam bercanda; selama orang-orang di sekitarnya terperanjat atau tersipu malu, ia merasa usahanya berhasil.

Sore itu, di tepi pancuran air warga tempat para perempuan kerap mencuci beras dan pakaian, Randi duduk berkumpul bersama dua temannya. Dari kejauhan, tampak Jelita—seorang gadis pemalu anak tetua dusun—sedang berjalan membawa bakul bambu berisi pakaian bersih.

Saat Jelita melintas di dekat deretan pohon rambutan, Randi tiba-tiba melompat keluar dari balik semak-semak. Tanpa peringatan, ia menarik selendang penutup bahu yang dikenakan Jelita hingga terlepas, lalu tertawa terbahak-bahak sambil memperagakan gerakan mengejek di depan teman-temannya.

"Lihat! Jelita mendadak panik seperti ayam kemasukan musang!" seru Randi tanpa rasa salah, mengibaskan selendang itu di udara.

Jelita terpaku seketika. Pipinya memerah padam bukan hanya karena terkejut, melainkan menahan malu yang amat sangat. Perlakuan Randi tidak lagi sekadar gurauan lepas, melainkan pergaulan yang menyolok mata dan secara terang-terangan melanggar batas-batas kesopanan di ruang publik. Pakaian dan kehormatan gadis itu dipertontonkan bagai mainan di depan pemuda-pemuda lain.

Dengan mata berkaca-kaca, Jelita merebut kembali selendangnya dan berlari pulang sambil terisak. Randi masih saja tertawa, menduga aksinya hanyalah lelucon sore yang menyegarkan. Namun, tawa itu tak bertahan lama. Dua orang pemuda kampung yang menyaksikan kejadian dari kedai seberang jalan menatap Randi dengan pandangan tajam penuh amarah.

Malam harinya, kabar tentang tindakan Randi menyebar cepat. Ayah Jelita yang merasa harkat martabat putrinya dilecehkan segera melaporkan kejadian tersebut kepada Lembaga Adat Dusun Nyarumkop.

Keesokan paginya, Randi dipanggil menghadap Balai Adat. Di hadapan para tetua yang duduk berderet dengan raut wajah dingin, keberanian Randi yang biasa ia pamerkan mendadak sirnah. Suasana ruangan terasa begitu menekan.

"Randi," buka Ketua Adat dengan suara yang dalam dan berat. "Kau dipanggil ke sini bukan karena kami benci padamu, melainkan karena tingkah lakumu yang sudah tidak tahu batas."

"Saya hanya bercanda, Paman Tetua..." cicit Randi, menyilangkan tangan di depan dada dengan gelisah.

"Bercanda ada tempat dan tatacaranya!" tegas Ketua Adat, mengetukkan tongkat kayu ke lantai balai. "Tindakanmu menyergap, menarik pakaian, dan melakukan pergaulan yang menyolok mata terhadap seorang gadis di tempat umum adalah bentuk senda gurau yang melampaui batas kesopanan. Perbuatan tercela itu dalam norma adat kita dinamakan Kalabihotn!"

Randi menunduk makin dalam. Ia baru menyadari bahwa dalam adat mereka, Kalabihotn—yakni sikap bertingkah kelewat batas dan tidak sopan dalam bergaul—bukan sekadar masalah salah paham biasa, melainkan pelanggaran tata krama sosial yang serius.

"Karena engkau telah melakukan pelanggaran Kalabihotn dan merusak ketenangan serta nilai kesopanan kampung kita," lanjut Ketua Adat membacakan keputusan sidang, "engkau diancam dan dijatuhi hukuman adat berupa satu lagor dan sepenekng unyit!"

Mendengar ketetapan itu, Randi menyapu keringat dingin di dahi. Hukuman lagor (wadah bambu/kayu) bernilai adat yang diisi dengan sepenekng unyit (satu takaran kunyit murni) adalah media penawar. Kunyit dipandang sebagai simbol pembersih dan penetralisir atas rasa malu, noda sosial, dan kekecewaan yang ditimbulkan akibat perbuatan Kalabihotn.

"Sanksi ini wajib kau serahkan langsung kepada keluarga Jelita dihadiri oleh para saksi adat," tegas Ketua Adat. "Agar menjadi pengingat bagimu dan seluruh pemuda di dusun ini, bahwa kehormatan orang lain bukanlah bahan olahan untuk gurauan murah."

Sore harinya, dengan rasa malu yang menggerogoti dadanya, Randi membawa lagor berisi kunyit itu menuju rumah Jelita. Di hadapan orang tua gadis tersebut dan tetua kampung, Randi berlutut, menyerahkan denda adat, dan menyampaikan permohonan maaf yang tulus dari lubuk hatinya.

Peristiwa hukuman Kalabihotn itu menjadi titik balik bagi Randi. Sejak hari itu, ia belajar meredam tingkah polahnya, menyadari sepenuhnya bahwa dalam hidup bermasyarakat, kesopanan adalah batas suci yang wajib dijaga oleh siapa saja.

Cerpen: Gema Takabur di Pasar Bagak

 Angin sore bertiup perlahan mengusir hawa panas di kawasan Bagak Sahwa, Singkawang. Di pinggir jalan utama yang dikelilingi rindangnya perbukitan, warung kopi Pak Alim ramai oleh warga yang melepas lelah. Di sinilah tempat berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani, pedagang, hingga para pemuda kampung.

Di antara ramainya perbincangan, suara Frans terdengar paling dominan. Frans adalah seorang pemuda kota yang baru beberapa bulan kembali ke Singkawang setelah lama merantau. Sayangnya, pengalaman di luar daerah justru memupuk sifat sombong dalam dirinya. Ia gemar bersilat lidah, melontarkan perkataan tajam tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bagi Frans, ucapan berani dan ketus adalah tanda ketegasan, bukan kejahatan.

Sore itu, Pak Anek—seorang tokoh masyarakat adat Dayak Kanayatn setempat yang bersahaja—sedang berjalan melintas sambil memikul dua keranjang kelapa hibrida. Langkah Pak Anek terhenti sejenak di dekat meja Frans untuk menyapa warga dengan ramah.

Bukannya membalas sapaan, Frans malah menyunggingkan senyum sinis. Di hadapan kerumunan warga, Frans melontarkan ejekan dengan nada suara keras yang disengaja.

"Pak Anek, sudah tua begini masih saja memikul kelapa seperti orang miskin tak berpendidikan," celoteh Frans dengan bahasa yang sangat kasar dan menodai kehormatan Pak Anek. "Uang dari mana kamu dapat untuk beli kebun itu? Jangan-jangan hasil menipu warga kampung!"

Tak berhenti di situ, Frans melanjutkan celoteh cabul dan menyebarkan desas-desus bohong yang ia karang sendiri. Ia menuduh keluarga Pak Anek menjalankan usaha haram dan kerap mengucapkan kata-kata kotor yang merendahkan martabat istri serta keluarga tokoh tua tersebut.

Seketika, suasana di warung kopi menjadi hening. Warga yang mendengar perkataan itu terperanjat. Kata-kata Frans tidak hanya kasar, tetapi juga penuh muatan fitnah yang mencemarkan nama baik seorang tokoh yang selama ini sangat dihormati di Singkawang.

Pak Anek mengepalkan tangannya, memegang erat pikulan kayu. Wajahnya memerah menahan sakit hati yang mendalam, namun ia memilih tidak membalas dengan kekerasan. "Frans," ucap Pak Anek pelan namun penuh penekanan. "Lidahmu sudah tidak berpagar. Kau belum paham artinya hidup bermasyarakat di tanah ini."

Pak Anek berlalu pergi dengan hati terluka, sementara warga yang ada di lokasi memandang Frans dengan tatapan penuh amarah dan kejijikan. Frans yang merasa menang hanya tertawa terbahak-bahak, tak menyadari bayangan hukum adat tengah mengintip dari balik perbukitan Singkawang.

Keesokan harinya, balai adat di Singkawang dipenuhi oleh Pengurus Adat, Pengurus Pasukan Merah, serta belasan tetua kampung. Frans dipanggil secara resmi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ketika sampai di ruangan balai adat yang megah namun sarat akan wibawa magis dan kebenaran, keberanian Frans melorot seketika.

Ketua Tim Panggawa Adat memukul gong kecil tiga kali. Suara dentangan itu bergema dingin di dada setiap orang.

"Frans," kata Temenggung Adat dengan tatapan mata yang tajam bagai sembilu. "Perbuatanmu kemarin di depan publik telah melakukan Ramong—mengucapkan kata-kata kasar, cabul, serta menyebarkan berita bohong yang menodai nama baik orang lain secara sembrono."

"S-saya hanya bergurau, Temenggung..." Frans mencoba membela diri dengan suara gemetar.

"Tidak ada gurauan dalam Ramong!" potong Temenggung Adat berwibawa. "Mulutmu telah menyebarkan fitnah yang merusak keharmonisan kampung dan melukai kehormatan sesama. Perbuatan tercela ini melanggar tatanan adat kita, dan nama hukumnya disebut Kacapangan molot."

Temenggung Adat lalu membacakan sanksi yang ditetapkan dalam sidang adat tersebut:

"Sesuai dengan aturan adat turun-temurun, barang siapa yang melakukan Ramong dan terkena hukum Kacapangan molot, wajib dijatuhi sanksi hukuman berupa satu lagor dengan sepenekng unyit!"

Mendengar vonis tersebut, Frans terdiam pasrah. Hukuman lagor—tempat wadah bambu atau tempayankayu—yang diisi penuh dengan sepenekng unyit (satu takaran kunyit murni) adalah lambang pembersihan marwah dan penawar racun perkataan jahat. Kunyit dianggap sebagai media adat untuk memulihkan kebersihan jiwa kampung dari noda fitnah, sekaligus simbol permohonan maaf yang tulus dari pelaku Ramong.

"Denda ini harus kau persiapkan dan serahkan langsung di hadapan Pak Anek dan seluruh warga desa," tegas Temenggung Adat. "Bukan cuma kunyit yang kau bawa, tapi juga kesadaranmu untuk memohon ampun atas racun yang keluar dari bibirmu!"

Dengan rasa malu yang teramat sangat, Frans berjanji memenuhi sanksi adat tersebut. Pada hari pembersihan adat, di hadapan warga Singkawang yang berkumpul di balai, Frans menyerahkan lagor berisi kunyit tersebut sambil berlutut meminta maaf kepada Pak Anek dan keluarganya.

Pak Anek menerima wadah tersebut dengan dada lapang, mengampuni pemuda yang telah sadar akan kesalahannya. Sejak saat itu, peristiwa hukuman Kacapangan molot menjadi pelajaran berharga bagi Frans dan seluruh pemuda Singkawang bahwa kata-kata harus dijaga selayaknya kehormatan diri.

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...