Kamis, 05 Maret 2026

Cap Go Meh

 

Cap Go Meh

 

Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi budaya Tionghoa yang paling meriah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Cap Go Meh dirayakan pada hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek dan menandai berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Tionghoa. Di Singkawang, perayaan ini memiliki ciri khas yang sangat kuat karena kota ini dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Tionghoa terbesar di Indonesia.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tidak hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga menjadi agenda wisata budaya berskala nasional dan internasional. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan kemeriahan festival ini. Salah satu daya tarik utama adalah atraksi para tatung, yaitu orang-orang yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual dan menjadi perantara roh leluhur atau dewa. Para tatung melakukan ritual tolak bala dengan atraksi yang menegangkan, seperti menusukkan benda tajam ke pipi atau berdiri di atas pedang, tanpa terlihat merasakan sakit. Atraksi ini dipercaya sebagai simbol pembersihan dan perlindungan bagi masyarakat.

Selain pertunjukan tatung, perayaan Cap Go Meh juga dimeriahkan dengan arak-arakan naga dan barongsai yang mengelilingi pusat kota. Musik tradisional, tabuhan genderang, serta pakaian adat berwarna merah dan emas menambah semarak suasana. Masyarakat dari berbagai etnis, seperti Tionghoa, Melayu, dan Dayak, turut berpartisipasi sehingga mencerminkan kerukunan dan toleransi antarbudaya di Singkawang.

Secara keseluruhan, Cap Go Meh di Kota Singkawang bukan sekadar perayaan tradisional, melainkan simbol identitas budaya dan persatuan masyarakat. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang memperkaya keberagaman Indonesia.

Cerpen - Dari Sungkung Menuju Harapan

 

Dari Sungkung Menuju Harapan

Di ujung perbatasan negeri, di Kampung Sungkung, Entikong yang berbatasan langsung dengan Malaysia, hiduplah seorang remaja bernama Dalmasius Asmaja. Sejak kecil ia terbiasa melihat jalan tanah becek, mendengar deru motor dari negeri seberang, dan menyaksikan banyak pemuda seusianya memilih bekerja daripada sekolah. Namun Dalmasius berbeda. Ia ingin melanjutkan sekolah ke Kota Singkawang.

Suatu pagi, sebelum berangkat, ibunya menggenggam tangannya erat.

“Dalma, Ibu cuma bisa kasih ini. Uangnya Ibu pinjam dari saudara. Jangan sia-siakan, Nak,” ucap ibunya dengan suara bergetar.

Dalmasius menunduk. “Saya janji, Bu. Saya akan sekolah sungguh-sungguh. Saya mau jadi Kepala Dusun nanti, supaya Sungkung bisa lebih maju.”

Namun perjalanan itu menjadi awal cobaan. Tukang antar yang membawa mereka justru menipu. Uang hasil pinjaman ibunya habis dibawa kabur.

“Apa maksudnya ini, Bang? Uang kami mana?” tanya Dalmasius panik.

Tukang antar itu hanya berlalu. Dalmasius terduduk lemas.

Ia dan tiga temannya—Wewen, Letus, dan Okta—akhirnya diarahkan tinggal di rumah Pak Akim, menantu Pak Chon Sian. Namun kehidupan di kota tidak mudah. Biaya hidup tinggi, tekanan besar.

“Aku pulang saja, Dal,” kata Wewen suatu malam.

“Iya, aku juga. Berat kali di sini,” sahut Letus.

Okta hanya diam, lalu berkata pelan, “Maaf ya, Dal. Aku nggak sanggup.”

Dalmasius terdiam. “Kalian yakin? Kita sudah sejauh ini…”

Tetapi mereka tetap pergi. Ia ditinggalkan seorang diri.

Malam itu ia menangis dalam diam. “Bu… uang Ibu sudah habis. Teman-teman pun pulang. Apa saya harus menyerah?”

Namun ia teringat wajah ibunya. Ia memilih bertahan.

Tak lama kemudian, ia harus pindah dan menumpang di rumah seorang pak guru, tetangga Pak Akim.

“Kalau kau memang mau sekolah, tinggal saja di sini. Tapi kau harus rajin dan jujur,” kata pak guru tegas.

“Saya mau, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak,” jawab Dalmasius mantap.

Hari-harinya berat. Ia berjalan jauh ke sekolah, kadang menahan lapar.

“Dalmasius, kenapa kau tetap bertahan?” tanya pak guru suatu sore.

Ia tersenyum kecil. “Karena kalau saya menyerah, kampung saya tetap begini-begini saja, Pak.”

Tahun demi tahun berlalu. Hingga akhirnya, ia berdiri di hari kelulusannya. Air matanya jatuh.

“Saya berhasil, Bu…” bisiknya haru.

Ia pulang ke Sungkung membawa ijazah dan mimpi yang masih menyala. Dalam hatinya hanya satu tekad: suatu hari ia akan menjadi Kepala Dusun, membangun jalan, memperjuangkan pendidikan, dan memastikan tak ada lagi anak Sungkung yang kehilangan harapan karena kemiskinan dan penipuan.

Perjuangan Dalmasius Asmaja membuktikan bahwa mimpi yang dijaga dengan keteguhan hati akan selalu menemukan jalannya.

Rabu, 04 Maret 2026

Biografi Pak Daud

 

Biografi Pak Daud

Pak Daud adalah seorang tokoh agama yang dikenal dan dihormati oleh masyarakat Desa Celongkong. Ia lahir pada tanggal 14 Mei 1980. Meskipun pendidikan formalnya hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD), Pak Daud dikenal sebagai pribadi yang cerdas, bijaksana, dan memiliki pengetahuan agama yang baik. Ia menjadi panutan bagi warga karena ketulusan dan kepeduliannya terhadap sesama.

Di lingkungan masyarakat, Pak Daud dikenal sebagai sosok yang ramah, sederhana, dan selalu bersedia membantu. Ia tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat bagi warga sekitar.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Pak Daud berperan sebagai pengurus masjid dan guru mengaji di Desa Celongkong. Ia juga dikenal pandai mengobati orang sakit secara tradisional. Kemampuannya tersebut membuat banyak warga datang kepadanya untuk meminta pertolongan.

Pak Daud sering diundang ke berbagai masjid untuk mengisi acara keagamaan, seperti peringatan Maulid Nabi dan kegiatan keislaman lainnya. Selain itu, ia juga kerap membantu masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Ia dengan senang hati berbagi ilmu, nasihat, serta solusi kepada siapa saja yang membutuhkan.

Meski hanya lulusan SD, Pak Daud membuktikan bahwa pendidikan bukan satu-satunya ukuran kecerdasan dan kebermanfaatan seseorang. Ia tetap dihormati dan dipercaya oleh masyarakat karena sikapnya yang bijaksana dan suka menolong.

Namun, Pak Daud memiliki riwayat penyakit asma yang telah lama dideritanya. Pada suatu waktu, penyakit tersebut kambuh dan kondisinya semakin memburuk. Hingga akhirnya, beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 27 Maret 2022. Ia kemudian dimakamkan di Jalan Sagatani, Desa Celongkong.

Kepergian Pak Daud meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Celongkong. Jasa dan kebaikannya tidak akan pernah dilupakan. Ia dikenang sebagai sosok yang selalu membantu, mengajarkan ilmu agama, serta menjadi tempat berbagi solusi bagi warga.

Semangatnya dalam berbagi ilmu dan membantu sesama menjadi teladan berharga bagi masyarakat. Hingga kini, nama almarhum Pak Daud tetap dikenang sebagai tokoh yang menginspirasi dan membawa banyak kebaikan bagi lingkungannya.

Cap Go Meh

  Cap Go Meh   Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi budaya Tionghoa yang paling meriah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat...