Maka tersebutlah pula suatu riwayat pada zaman dahulu kala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diselimuti kabut purba dan hukum para karuhun dijunjung tinggi bagaikan mahkota di atas kepala. Di sebuah negeri yang makmur di tepi Sungai Sekayam, berdiri suatu Rumah Panjang yang dihuni oleh puluhan keluarga. Mereka hidup rukun dan damai di bawah naungan adat yang teguh, dipimpin oleh seorang Kepala Adat yang arif lagi bijaksana, Petinggi Jaya namanya.
Bahwasanya di negeri itu, segala tingkah laku manusia diatur oleh tata tertib yang amat ketat demi menjaga kesucian kampung dan keharmonisan alam kosmos. Di antara sekalian hukum pidana adat yang paling ditakuti dan dipantangkan oleh rakyat, tersebutlah satu aturan yang amat berat sanksinya, dinamai Ngariboa atau Kariboa.
Syahdan, menurut kitab adat para leluhur, Ngariboa itu adalah perbuatan cabul yang terlarang keras. Terbagi ia atas beberapa bagian: Ngariboa Karumah, yaitu perbuatan noda yang dilakukan di dalam rumah; dan Ngariboa Katanah, yaitu perbuatan sumbang yang dilakukan di luar rumah, seperti di kebun, di hutan, atau di atas tanah yang terbuka. Pada zaman dahulu sebelum datangnya para penjajah, barang siapa yang tertangkap basah melakukan perbuatan zina di dalam rumah (Ngariboa Karumah), niscaya dihukum pancung di hadapan khalayak ramai demi membersihkan noda kosmos yang tercemar.
Alkisah, di antara penduduk Rumah Panjang itu, hiduplah seorang pemuda bernama Badang. Ada pun Badang itu seorang lelaki yang elok parasnya, gagah perawakannya, tetapi amat rapuh iman di dadanya dan sering kali dihinggapi hawa nafsu yang menyesatkan. Alkisah, Badang telah menaruh hati kepada seorang perempuan bernama Mayang, yang tiada lain adalah isteri kepada sahabatnya sendiri, Kamang.
Syahdan, pada suatu hari tatkala musim berburu tiba, Kamang bersama beberapa lelaki kampung pergi masuk ke dalam hutan lebat untuk mencari binatang buruan. Mereka diperkirakan bakal menginap selama tiga hari tiga malam di dalam belantara. Mengetahui Kamang tiada di rumah, timbullah niat yang amat jahat dan licik di dalam dada Badang. Senyuman culas terukir di bibirnya tatkala ia melihat pelita di bilik Mayang mulai dinyalakan.
Maka tatkala malam makin larut dan sekelian penghuni Rumah Panjang telah lelap tertidur nyenyak, Badang pun menyelinap masuk ke dalam bilik Mayang secara diam-diam. Dengan kata-kata manis yang memikat lagi menyesatkan, Badang membujuk Mayang hingga perempuan itu terpedaya dan hilang akal budinya. Maka terjadilah perbuatan sumbang di dalam rumah itu, menodai kesucian tempat kediaman bersama.
Akan tetapi, tiada ada noda yang dapat disembunyikan di bawah langit. Tanpa mereka ketahui, seorang tetua kampung bernama Pak Katung, yang hendak pergi ke muara pada tengah malam itu, melihat kelibat Badang menyelinap keluar dari bilik Mayang dengan tergesa-gesa. Merasa ada hal yang tidak patut, Pak Katung bersama beberapa warga segera menerpanya. Maka terbuktalah perbuatan noda itu, dan Badang serta Mayang tertangkap basah di tempat kejadian.
Gemparlah sekelian isi Rumah Panjang pada malam yang naas itu. Suara jeritan dan cercaan bergema membelah kesunyian malam. Berita pelanggaran Ngariboa Karumah itu menyebar cepat bagaikan api menyambar semak yang kering. Sekelian warga merasa ngeri dan takut, sebab menurut kepercayaan mereka, perbuatan sumbang di dalam rumah bakal mendatangkan bencana besar—ternak bakal mati, tanaman di ladang bakal diserang hama, dan penyakit bakal melanda seluruh rakyat.
Hatta pada keesokan harinya, tatkala sang surya baru saja terbit di ufuk timur, Petinggi Jaya memerintahkan orang memukul gong adat berulang-ulang kali. Suaranya yang nyaring lagi gembira serta-merta berubah menjadi derap keprihatinan yang amat dalam. Sekelian warga berhimpun di balai adat, sementara Badang dan Mayang didudukkan di tengah-tengah balai dengan kepala menunduk menanggung malu yang tiada terperi.
Petinggi Jaya berdiri di atas mimbar kayu belian dengan wajah yang amat merah murka. Tongkat adat di tangannya dihentakkan ke lantai balai hingga bergetar sekelian tiang.
"Wahai Badang dan Mayang!" seru Petinggi Jaya dengan suara bergema seperti guntur membelah langit. "Sungguh celaka perbuatanmu! Engkau telah melakukan perbuatan cabul tertangkap basah di dalam rumah, suatu pelanggaran Ngariboa Karumah yang amat dina! Tidakkah engkau tahu bahwasanya perbuatanmu ini mengundang murka para karuhun dan merusak ketenteraman alam kosmos kita?"
Badang menggigil ketakutan seraya menyembah, "Ampun beribu ampun, Tuanku Petinggi Adat! Hamba khilaf dirasuki syaitan. Kasihanilah hamba, janganlah hamba dibunuh!"
Petinggi Jaya lalu mengelus janggutnya yang putih seraya menatap sekelian tetua adat yang hadir.
"Bahwasanya pada zaman purbakala sebelum zaman ini," tutur Petinggi Jaya memperingatkan sekelian khalayak, "menurut hukum asal para leluhur, orang yang tertangkap basah melakukan Ngariboa Karumah ini wajib dijatuhi hukuman pancung di muka umum. Keduanya disuruh menggali lubang tanah secukup badan hingga paras leher. Setelah keduanya masuk ke dalam lubang itu, mandau yang tajam diayunkan untuk menceraikan kepala daripada tubuh, dan darahnya dicurahkan ke tempat perbuatan noda itu demi membersihkan kosmos daripada bencana!"
Mendengar riwayat hukuman purba itu, sekelian warga yang hadir bergidik ngeri, sedang Mayang menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.
"Namun demikian," lanjut Petinggi Jaya dengan nada yang lebih tenang tetapi tetap tegas, "seiring berjalannya zaman, tindakan hukum pemancungan itu tiada lagi berlaku di negeri kita sebagai pengganti hukuman mati. Akan tetapi, adat tiada pernah mengampuni noda tanpa penebusan yang setimpal!"
Petinggi Jaya kemudian membacakan putusan hukum adat yang berlaku bagi pelanggaran Ngariboa Karumah tertangkap basah:
"Atas perbuatan cela ini, maka Badang dan keluarga penanggungnya diwajibkan membayar denda adat yang amat berat! Engkau diwajibkan menyerahkan dua tahil tangah, dua siam, tiga ekor babi (terdiri atas seekor babi parankn, seekor babi kanaikatan, dan seekor babi pengulur), satu siam, satu paha babi, satu lagor, serta satu rahang babi!"
Tercenganglah sekelian yang hadir mendengar denda adat yang sedemikian banyak dan beratnya. Harta benda Badang dan keluarganya habis terkeruk demi membayar denda tersebut. Tiada hanya itu, Badang dan Mayang jua ditolak oleh masyarakat dan ditimpa malu sepanjang hayat mereka.
Syahdan, beberapa tahun setelah peristiwa Ngariboa Karumah itu, tersebut pula kisah mengenai bagian kedua daripada hukum ini, yaitu Ngariboa Katanah. Bahwasanya Ngariboa Katanah adalah perbuatan sumbang atau cabul yang dilakukan di luar rumah—apakah ia di dalam hutan, di tepi sungai, atau di tengah ladang.
Alkisah, tersebutlah seorang pemuda lain bernama Derma yang bertunangan dengan seorang gadis bernama Sinta. Lantaran terburu nafsu dan tiada sabar menunggu hari perkawinan yang telah ditentukan oleh orang tua-tua, Derma sering kali membujuk Sinta untuk bertemu di tempat-tempat yang terpencil di luar kampung.
Pada suatu petang, tatkala angin berhembus sepoi-sepoi di tepi ladang ubi, Derma dan Sinta kedapatan oleh para peronda kampung sedang berdua-duaan melakukan perbuatan yang melanggar batas kesopanan di atas tanah terbuka. Meskipun perbuatan mereka tiada sampai tertangkap basah pada saat itu juga, namun rahasia itu akhirnya terkuak di kemudian hari tatkala tanda-tanda kehamilan mulai nyata pada diri Sinta.
Maka dipanggillah Derma ke hadapan balai adat oleh Petinggi Jaya. Kerana perbuatan sumbang itu dilakukan di tanah terbuka (Ngariboa Katanah), maka Petinggi Jaya pun menjatuhkan denda adat sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh para leluhur:
"Bahwasanya engkau, Derma, telah melakukan pelanggaran Ngariboa Katanah. Maka adat menuntutmu membayar denda sebanyak tiga tahil tengah, satu siam, seekor babi patapas, satu paha babi, dan satu lagor!"
Derma dengan rasa penuh penyesalan menundukkan kepala dan menerima putusan itu. Ia bekerja keras siang dan malam di ladang demi mengumpulkan sekelian denda adat tersebut dan menikahi Sinta secara sah mengikut aturan adat dan tradisi.
Maka sejak dari peristiwa-peristiwa itu, sekelian pemuda dan pemudi di negeri tepi Sungai Sekayam itu pun menjadi amat takut dan berhati-hati dalam menjaga diri. Tiada lagi lelaki maupun wanita yang berani melanggar batas-batas kesopanan, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Mereka sadar bahwasanya setiap perbuatan sumbang tiada hanya merusak nama baik diri dan keluarga, melainkan jua menodai keharmonisan alam kosmos yang dijaga oleh para karuhun.
Demikianlah hikayat kuno mengenai hukum adat NGARIBOA dan Kariboa ini diturunkan dari satu generasi ke satu generasi. Diceritakan ia oleh para orang tua di balai-balai rumah panjang tatkala malam tiba, agar menjadi iktibar, petunjuk, dan cermin kehidupan bagi sekalian anak cucu di kemudian hari, supaya sentiasa memelihara kehormatan diri, menjaga kesucian kampung, serta menjunjung tinggi hukum adat negeri.
