Jumat, 02 Oktober 2026

Cerpen: Di Atas Semen yang Masih Basah

Matahari pagi Buaran belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi kaus kerjaku. Bersama teman-teman pekerja, kami berdiri mengawasi bentangan Jalan Letjen Suprapto. Lapisan semen segar yang kami garap mati-matian sejak kemarin malam masih basah kuyup, memantulkan kilau kelabu.

Semalaman kami tidak tidur, menahan kantuk dan pegal demi memastikan pengecoran jalan jalur Watusalam–Karangdadap ini rapi dan kokoh. Pagi ini, kemacetan di luar area proyek memang mengular panjang. Tapi kami sudah memasang palang pembatas dan rambu penutup jalan dengan jelas di barisan terdepan. Semen ini butuh waktu untuk mengeras. Jika dilindas sekarang, hancurlah sudah seluruh kerja keras kami.

Tiba-tiba, suara pintu mobil berkedak keras di depan palang.

Aku menoleh. Seorang pria berseragam rapi ASN turun dari mobil putihnya. Kupikir dia hanya ingin bertanya atau melihat keadaan. Namun, tanpa mengacuhkan kami yang berdiri tak jauh di sana, tangannya dengan santai menggeser palang pembatas kayu yang kami pasang.

"Pak! Jangan digeser, Pak! Semennya masih basah!" teriak salah seorang temanku sambil melambaikan tangan.

Suara kami kalah oleh deru mesin. Pria itu sama sekali tak peduli. Dengan wajah dingin, ia kembali masuk ke mobil, menginjak gas, dan langsung menerobos melindas semen yang masih lembek itu.

Krrrrkk.

Dada ini rasanya sesak dan panas seketika. Roda-roda mobil putih itu dengan tega melindas karya yang kami jaga semalaman, meninggalkan alur lecekan dalam dan merusak tatanan semen. Lebih parahnya lagi, aksi egois pria berseragam itu memicu efek domino. Beberapa pemotor di belakangnya ikut-ikutan menerobos, memperparah kerusakan jalan yang baru kami cor.

"Aduh, Pak... kok tega banget, sih?" gumam temanku dengan nada suara lemas dan kecewa.

Kami cuma bisa berdiri terpaku memandangi jalan yang kini berlubang dan berbekas roda. Rasa lelah semalaman bertukar jadi amarah dan keputusasaan. Seragam rapi yang dikenakannya sama sekali tak mencerminkan rasa hargai pada peluh rakyat kecil seperti kami.

Siang harinya, kabar mengejutkan datang. Ternyata ada warga yang merekam aksi nekat mobil putih itu dan mengunggahnya ke media sosial hingga viral. Pria berseragam itu diketahui merupakan PNS di Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan. Pihak Pemkab Pekalongan dan BKPSDM bertindak tegas—oknum tersebut langsung dipanggil, diperiksa, dan dijatuhi Surat Peringatan (SP) serta sanksi disiplin.

Mendengar dia harus berhadapan dengan sanksi dan rasa malu di hadapan publik, ada sedikit keadilan yang kami rasakan. Alasan "terburu-buru takut terlambat kantor" yang diucapkannya saat diperiksa terasa begitu picik dibandingkan kerja keras kami di lapangan.

Meski begitu, sanksi yang diterima oknum itu tidak otomatis merapikan jalanan yang rusak. Sambil memegang cangkul dan perata semen, kami kembali turun ke jalan di bawah sengatan matahari. Kami mengaduk semen baru, menambal lubang-lubang bekas lindasan roda mobil putih itu, dan merapikannya kembali dari awal.

Sambil meratakan semen basah itu, aku membatin: Seragam dan jabatan tinggi mungkin bisa membuatmu merasa penting, tapi di atas jalanan ini, kerja keras dan rasa saling menghargailah yang membuat kita tetap menjadi manusia.

Cerpen: Karma Ngebut ke kantor

Senin pagi itu, jarum jam di dasbor mobil putihku seolah berdetak dua kali lebih cepat. Di depan, antrean kendaraan di jalur Watusalam–Karangdadap mengular tanpa ujung, merayap bak siput. Deru mesin dan desing klakson yang bersahutan di sekelilingku membuat kepalaku makin pusing.

Aku menatap jam di pergelangan tangan. Gawat. Waktu apel dan jam absen kantor makin dekat. Pikiran tentang sanksi keterlambatan dan tatapan para atasan di kantor Dinas Pertanian dan Pangan langsung menari-nari di kepala, memicu kepanikan yang membakar dada.

Lalu, mataku tertuju pada ujung barisan mobil: sebuah palang kayu pembatas proyek pengecoran jalan. Di baliknya, terhampar jalan semen yang tampak sepi dan lengang. Lapisan semennya memang terlihat masih basah, sedikit memantulkan kilau matahari pagi. Tapi dalam benakku yang dilanda panik, jalan lengang itu terasa seperti satu-satunya jalur penyelamat.

“Ah, kalau cuma mobilku yang lewat sebentar, tak bakal jadi masalah besar,” pikirku mencoba membenarkan diri.

Tanpa berpikir panjang, aku menarik rem tangan dan membuka pintu mobil. Dengan seragam dinas yang melekat di badan, aku melangkah mantap mendekati palang pembatas itu. Aku tahu puluhan pasang mata pengendara lain menatapku heran, tapi rasa takut terlambat sudah membungkam rasa maluku.

Tanganku memegang kayu pembatas itu, merasakannya sedikit kasar, lalu menggesernya ke tepi jalan.

Selesai. Jalan terbuka.

Aku kembali ke dalam mobil, memegang kemudi dengan telapak tangan yang agak berkeringat, lalu menginjak pedal gas. Mobil putihku meluncur di atas hamparan semen basah yang belum mengeras.

Krrrrkk.

Suara lecekan roda yang melindas semen basah terdengar halus dari bawah ban. Dari kaca spion, aku sempat melihat beberapa pemotor di belakangku ikut mengekor masuk ke jalur yang baru saja kubuka. Ada rasa lega sesaat karena berhasil melepaskan diri dari cengkeraman macet parah itu. Aku memacu mobil lebih cepat menuju kantor, merasa telah memenangkan pertarungan melawan waktu.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Siang harinya, ponselku tak berhenti bergetar. Sebuah video singkat mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dari sudut pengambilan gambar di pinggir jalan, terlihat jelas mobil putihku menerobos palang yang kugeser sendiri, meninggalkan jejak roda yang merusak semen basah hasil jerih payah para pekerja proyek.

Dada yang pagi tadi sesak karena takut terlambat, kini terasa jauh lebih sesak oleh rasa malu dan penyesalan yang membuncah.

Namaku tercoreng. Pihak Pemkab hingga Pemkot Pekalongan memberikan respons keras atas tindakanku. Panggilan dari tim penegak disiplin BKPSDM langsung datang bagai petir di siang bolong.

Di ruang pemeriksaan yang dingin, hilang sudah seluruh keberanianku pagi tadi. Aku duduk tertunduk lesu di hadapan para petugas. Seragam dinas yang biasanya kukenakan dengan bangga, kini terasa sangat berat dan menekan pundakku.

"Saya terpaksa menerobos karena kondisi jalanan saat itu macet parah dan saya merasa terburu-buru takut terlambat masuk ke kantor..." kataku bergetar saat memberikan klarifikasi, tak berani menatap langsung mata mereka.

Namun, rasa panik dan alasan terburu-buru yang kusampaikan tak bisa menghapus tindakan egoisku. Nasi sudah menjadi bubur. Surat Peringatan (SP) dijatuhkan ke mejaku, disusul ancaman sanksi disiplin PNS yang kini membayangi karier yang telah kubangun bertahun-tahun.

Hari itu aku pulang dengan kepala tertunduk. Aku membayangkan para pekerja proyek di Buaran yang harus mandi keringat kembali, menambal dan merapikan bekas jejak roda mobilku. Sebuah penyesalan mendalam menghantamku: seragam dan jabatan yang kupakai sama sekali tak memberi izin bagiku untuk berdiri di atas aturan publik dan mengabaikan rasa hormat pada sesama.

Cerpen: Di Antara Senter Malam dan Bayang-Bayang

Pagi itu, 1 Oktober 1965, keheningan Istana Negara mendadak retak oleh kegentingan yang membisu. Di dalam kamar, Rachmawati muda dan saudara-saudaranya diminta oleh pengawal untuk tetap diam dan tidak melangkah keluar. Namun, keheningan yang dipaksakan justru memicu gelisah. Didorong rasa penasaran yang membakar, Rachmawati menyelinap keluar menuju pantry—tempat para ajudan biasanya berkumpul.

Langkahnya terhenti. Di sana berdiri sejumlah prajurit bertubuh tegap. Meski mengenakan seragam Batalyon Cakra Bawa, ada asing yang menyengat dari gerak-gerik mereka.

“Kok ada pasukan aneh gitu, lho. Gue tahu dia pakai seragam Cakra, tapi kayaknya nggak pernah naik begini ke dalam,” bisik hatinya penuh tanya.

Di tengah kesenyapan pantry, suara prajurit-prajurit itu terdengar menuntut, membelah udara pagi:

“Presiden di mana? Putra-putrinya di mana?”

Seseorang memberi kode keras. Rachmawati buru-buru menarik diri, kembali masuk ke kamar dengan dada berdebar kencang. Tak lama kemudian, perintah tegas berbunyi: putra-putri Presiden harus segera dievakuasi.

Mereka bergegas masuk ke dalam mobil, meninggalkan istana yang mendadak terasa mencekam. Di tengah jalan, iring-iringan mereka dihentikan oleh barikade pasukan tak dikenal. Tegangan membumbung tinggi sebelum akhirnya identitas mereka dikonfirmasi dan perjalanan diperbolehkan berlanjut.

Namun, Halim—tujuan utama mereka—tidak bisa langsung dituju. Mobil berbelok dan berhenti sejenak di kawasan Sriwijaya. Bayang-bayang mata-mata mengintai di balik kaca spion.

“Karena takutnya diikutin, gitu lho. Sama intel tuh diikutin berarti,” kenang Rachmawati tentang saat-saat menegangkan itu.

Setelah memastikan jalur aman, rombongan akhirnya tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Di sanalah Rachmawati kembali bertemu dengan sang ayah, Presiden Soekarno. Di tengah pusaran krisis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Rachmawati menatap wajah ayahnya. Soekarno hanya mengusap pelan dan menatap matanya dalam-dalam, menguarkan satu kalimat pendek yang ketat:

“Ya ini namanya Politik, jadi kamu harus belajar.”

Kata “politik” itu diulangi Soekarno berkali-kali sepanjang hari, seolah menjadi satu-satunya mantra untuk menjelaskan kegilaan yang sedang melanda negeri.

Hingga petang merayap di Halim, situasi kian tak menentu. Rachmawati dan saudara-saudaranya kembali dipindahkan, kali ini membubung ke udara menggunakan helikopter menuju Bandung.

Ketika baling-baling helikopter melambat dan mendarat di Bandung, kegelapan gulita menyambut mereka. Lampu bandara sengaja dipadamkan total. Di tengah kegelapan pekat, kedipan cahaya senter dari bawah menjadi satu-satunya tanda navigasi agar mereka aman melangkah keluar.

“Udah kayak film,” gumam Rachmawati muda dalam hati, tak percaya pada rentetan adegan cepat yang menimpa hidupnya hanya dalam hitungan jam.

Dari pangkalan udara, mereka dilarikan menuju Wisma Siliwangi. Di sana, Rachmawati akhirnya berhambur ke pelukan ibunya. Sang ibu, yang juga dilingkupi kabut ketidaktahuan, mendengarkan dengan wajah pucat saat Rachmawati menuturkan rentetan peristiwa sejak pagi di Jakarta—termasuk desas-desus kelam yang mulai berembus sayup-sayup:

“Banyak jenderal diculik pagi-pagi…”

Hari-hari setelah 1 Oktober 1965 tidak pernah lagi sama. Roda sejarah berputar hebat, menumbangkan kenyamanan yang pernah mereka kenal. Sempat kembali sebentar ke Istana Jakarta, sebuah perintah dingin tiba-tiba dijatuhkan: seluruh keluarga Presiden harus mengosongkan istana dalam waktu 2 × 24 jam.

Terdepak dari rumah sendiri, mereka dievakuasi ke Istana Cipanas. Lebih dari dua bulan mereka terisolasi di sana, terpisah jarak dari Soekarno yang berada di Istana Bogor. Tak ada tatap muka, tak ada pelukan hangat ayah. Informasi mengenai nasib sang Proklamator hanya tiba dalam sepi lewat bisikan para ajudan.

Bagi Rachmawati yang masih begitu muda, gelombang sejarah yang menerjang keluarganya terasa begitu dahsyat, kolosal, sekaligus mengerikan.

“Udah pikirannya kayak Revolusi Oktober 1917.”

Malam-malam di Cipanas berlalu dalam bisikan angin pegunungan, menyisakan ingatan abadi tentang pagi di mana pasukan asing bertanya di pantry istana, dan pelajaran pertama dari sang ayah tentang arti sebenarnya dari sebuah kata: Politik.

Rabu, 30 September 2026

Cerita Rakyat: Antu Bukitn Bawokng

 

Pada zaman dahulu, ketika kerajaan-kerajaan masih berdiri megah dan raja-raja bersemayam di istana yang dihiasi emas serta permata, tersebutlah sebuah negeri bernama Bangkayokng. Negeri itu dikenal sebagai tanah yang subur dan makmur. Sawah terbentang luas, lumbung-lumbung padi selalu penuh, sungai mengalir jernih, dan hutan menyediakan berbagai hasil yang dapat menghidupi rakyat. Di negeri itu tinggallah seorang saudagar yang kekayaannya tidak ada bandingannya. Namanya Tuan Kaya Gunung.

Tidak seorang pun mengetahui dengan pasti dari mana asal mula kekayaan Tuan Kaya Gunung. Rumahnya berdiri besar di tengah permukiman, dengan tiang-tiang kayu yang kokoh dan halaman luas. Ia memiliki begitu banyak kerbau sehingga orang-orang yang melewati kandangnya harus berjalan cukup jauh untuk menghitung semuanya. Padi tersimpan di lumbung dalam jumlah yang seolah tidak pernah berkurang, sementara emas dan permata memenuhi peti-peti kayu di dalam rumahnya.

Setiap kali Tuan Kaya Gunung pergi ke pasar, orang-orang akan menundukkan kepala dengan penuh hormat.

“Itulah Tuan Kaya Gunung,” bisik mereka.

“Tidak ada orang sekaya dia di seluruh Bangkayokng.”

“Konon, emas di rumahnya lebih banyak daripada batu di sungai.”

Mendengar perkataan demikian, Tuan Kaya Gunung hanya tersenyum. Ia memang terkenal kaya, tetapi kekayaannya telah membuat namanya menjadi buah bibir di seluruh negeri.

Akan tetapi, kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari batas waktu. Pada suatu hari, Tuan Kaya Gunung jatuh sakit. Mula-mula tubuhnya hanya terasa lemah. Namun, hari demi hari keadaannya semakin memburuk. Para tabib telah dipanggil, berbagai ramuan telah diberikan, tetapi tidak ada satu pun yang mampu mengembalikan kesehatannya.

Pada malam terakhir, ketika seluruh rumah sunyi, Tuan Kaya Gunung memandangi harta benda yang selama hidupnya ia kumpulkan. Di hadapannya tersusun peti-peti berisi emas, kain-kain mahal, dan permata.

“Begitu banyak yang telah kukumpulkan,” gumamnya lirih. “Namun, tidak satu pun dapat kubawa ketika aku pergi.”

Keesokan harinya, Tuan Kaya Gunung mengembuskan napas terakhir.

Kematian orang yang sangat kaya itu membuat seluruh negeri berduka. Jenazahnya kemudian dibawa ke sebuah bukit yang tinggi dan berhawa sejuk, yang dikenal oleh masyarakat sebagai Bukitn Bawokng. Di puncak bukit itulah ia dimakamkan.

Beberapa waktu setelah pemakaman, terdengar kabar aneh dari orang-orang yang sering melewati kaki bukit. Mereka mengaku melihat cahaya berwarna kekuningan muncul di puncak Bukitn Bawokng pada malam-malam tertentu. Ada pula yang mendengar bunyi seperti dentingan benda logam dari arah makam.

“Apakah kalian juga mendengarnya?” tanya seorang warga pada suatu malam.

“Mendengar apa?”

“Seperti suara emas dijatuhkan ke tanah.”

Temannya terdiam. Mereka memandang ke arah puncak bukit yang diselimuti kabut.

Sejak saat itu, mulai beredar cerita bahwa arwah Tuan Kaya Gunung belum meninggalkan dunia. Konon, rohnya menjelma menjadi Antu Bukitn Bawokng, makhluk gaib yang bersemayam di sekitar makamnya dan dapat memberikan kekayaan kepada orang yang berani memohon kepadanya.

Cerita itu mula-mula hanya dibisikkan dari satu rumah ke rumah yang lain. Namun, semakin lama semakin banyak orang yang mempercayainya. Mereka mengatakan bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kekayaan dari Antu Bukitn Bawokng harus datang ke bukit pada malam hari. Ia harus membawa sesajen berupa bunga tujuh warna, membakar kemenyan dan dupa harum, kemudian menyebut nama Tuan Kaya Gunung dalam hati dengan penuh penghormatan.

Pada awalnya, tidak ada yang berani mencoba. Namun, kemiskinan dan keinginan untuk hidup serba berkecukupan membuat sebagian orang mulai mengabaikan rasa takut.

Salah seorang yang pertama kali mencoba adalah seorang pedagang kecil bernama Janta. Selama bertahun-tahun ia berjualan hasil kebun di pasar, tetapi penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Suatu malam, ia mendengar cerita tentang Antu Bukitn Bawokng dari seorang kawannya.

“Kalau benar, mengapa tidak kau coba?” tanya kawannya.

Janta menatapnya ragu.

“Bukankah itu berbahaya?”

“Orang-orang bilang tidak. Asalkan kau memenuhi semua syaratnya.”

Janta terdiam lama. Dalam pikirannya terbayang rumah yang lebih besar, sawah yang luas, dan kehidupan keluarganya yang tidak lagi kekurangan.

Akhirnya, pada malam berikutnya, ia pergi ke Bukitn Bawokng.

Malam itu bulan hampir tertutup awan. Janta mendaki bukit sambil membawa bunga tujuh warna, kemenyan, dan dupa. Sesampainya di dekat makam Tuan Kaya Gunung, ia menyalakan dupa. Asap putih perlahan naik ke udara dan bercampur dengan kabut.

Janta menundukkan kepala.

“Tuan Kaya Gunung,” katanya dengan suara gemetar, “jika benar engkau masih bersemayam di tempat ini, aku datang memohon pertolongan. Berilah aku rezeki agar keluargaku dapat hidup berkecukupan.”

Tidak lama kemudian, angin berembus dari arah makam.

Api dupa tiba-tiba menyala lebih tinggi.

Janta terkejut ketika mendengar suara berat dari balik kabut.

“Apakah engkau menginginkan kekayaan?”

Janta hampir melarikan diri. Namun, ia menguatkan diri.

“Ya,” jawabnya.

“Apakah engkau sanggup memenuhi kewajibanmu?”

“Apa pun itu.”

Suara tersebut kembali terdengar.

“Jangan pernah melupakanku. Setiap malam, ingatlah roh Tuan Kaya Gunung. Jika engkau lalai, apa yang telah diberikan kepadamu akan kembali menjadi petaka.”

Janta menganggukkan kepala meskipun tubuhnya gemetar.

“Aku berjanji.”

Setelah itu, suara tersebut menghilang. Ketika Janta membuka mata, ia melihat beberapa benda berkilauan di tanah di hadapannya. Ada kepingan emas dan benda-benda berharga yang belum pernah dilihatnya.

Sejak malam itu, kehidupan Janta berubah.

Dagangan yang sebelumnya sepi tiba-tiba laris. Setiap usaha yang dilakukannya menghasilkan keuntungan besar. Tidak lama kemudian, ia memiliki rumah baru, sawah yang luas, serta banyak ternak.

Orang-orang pun mulai bertanya-tanya.

“Dari mana kekayaan Janta sebanyak itu?”

Tidak seorang pun mendapat jawaban yang jelas.

Namun, rahasia itu akhirnya terbongkar ketika Janta bercerita kepada beberapa orang terdekatnya tentang Antu Bukitn Bawokng. Kabar tersebut segera menyebar. Dalam waktu singkat, semakin banyak orang mendaki bukit pada malam hari.

Ada yang datang membawa bunga tujuh warna. Ada yang membawa kemenyan dan dupa. Ada yang datang dengan pakaian terbaik karena menganggap mereka sedang menemui seorang pemberi kekayaan.

Sebagian dari mereka benar-benar menjadi kaya.

Seorang petani tiba-tiba memiliki banyak sawah. Seorang pedagang memperoleh keuntungan besar. Bahkan beberapa bangsawan yang dekat dengan istana diam-diam datang ke Bukitn Bawokng.

Kekayaan yang mereka dapatkan membuat istana pun heran. Beberapa orang yang dahulu hidup sederhana tiba-tiba mampu mempersembahkan emas dan permata dalam jumlah besar kepada raja.

Pada suatu hari, raja memandangi sebuah peti berisi emas yang baru saja dipersembahkan seorang bangsawan.

“Dari mana asal harta ini?” tanya baginda.

Bangsawan itu menundukkan kepala.

“Dari hasil perdagangan, Baginda.”

Raja menatapnya tajam.

“Benarkah?”

Bangsawan itu terdiam.

Akhirnya, setelah didesak, ia mengakui rahasia yang selama ini disembunyikan.

“Paduka, harta itu diperoleh melalui Antu Bukitn Bawokng.”

Wajah raja berubah muram.

“Apakah benar banyak rakyatku meminta kekayaan kepada roh orang yang telah meninggal?”

“Benar, Baginda.”

Raja menarik napas panjang. Ia bukan semata-mata khawatir karena rakyatnya mengejar kekayaan, tetapi karena mereka mulai menggantungkan kehidupan kepada kekuatan gaib dan meninggalkan keyakinan serta usaha yang benar.

Malam itu, baginda tidak dapat tidur dengan tenang. Setelah lama memikirkan keadaan negerinya, akhirnya ia tertidur.

Dalam tidurnya, raja bermimpi berada di sebuah tempat yang sunyi. Kabut putih memenuhi tanah, dan dari balik kabut muncul seorang tua berjubah putih. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya membuat raja merasa gentar.

“Hai, raja yang adil,” ujar orang tua itu, “jangan biarkan rakyatmu menukar keyakinan dengan kekayaan.”

Raja menundukkan kepala.

“Siapakah engkau?”

“Tidak penting siapa aku. Yang penting adalah pesan yang harus kau ingat.”

Orang tua itu menunjuk ke arah bukit yang jauh.

“Harta dunia tidak akan tinggal selamanya. Barang siapa meninggalkan ibadah dan menggantungkan hidup kepada antu demi kekayaan, sesungguhnya ia sedang menukar ketenangan dengan petaka.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya raja.

“Beritahukan kepada rakyatmu. Rezeki yang baik diperoleh melalui usaha yang halal, bukan dengan menyembah roh dan meninggalkan Tuhan.”

Setelah berkata demikian, orang tua itu menghilang bersama kabut.

Raja terbangun dengan napas tersengal. Malam masih gelap. Namun, pesan dalam mimpinya begitu jelas sehingga ia tidak dapat menganggapnya sebagai mimpi biasa.

Keesokan harinya, baginda memanggil seluruh pembesar dan alim ulama ke istana. Setelah bermusyawarah, ia memerintahkan agar kabar tentang bahaya Antu Bukitn Bawokng disampaikan ke seluruh negeri.

Beberapa hari kemudian, rakyat berkumpul di halaman istana.

Raja berdiri di hadapan mereka.

“Hai rakyat Bangkayokng,” sabdanya, “aku mendengar bahwa banyak di antara kalian mencari kekayaan melalui Antu Bukitn Bawokng.”

Rakyat saling berpandangan.

“Janganlah kalian tertipu oleh harta yang datang dengan cara demikian. Kekayaan yang diperoleh dengan meninggalkan ibadah dan menggantungkan diri kepada roh tidak membawa ketenteraman.”

Seorang warga memberanikan diri bertanya.

“Baginda, bagaimana jika kekayaan itu benar-benar membuat kami hidup berkecukupan?”

Raja menjawab dengan tenang.

“Apakah kalian rela menukar ketenteraman hidup dengan rasa takut setiap malam? Apakah kalian rela seluruh harta hilang hanya karena satu hari lupa mengingat roh itu? Kekayaan yang baik adalah kekayaan yang diperoleh melalui usaha, kejujuran, dan jalan yang diridai Tuhan.”

Suasana menjadi hening.

“Carilah rezeki dengan tangan kalian sendiri,” lanjut baginda. “Bertani, berdagang, beternak, bekerja, dan saling membantu. Jangan jadikan harta sebagai alasan untuk melupakan Tuhan.”

Sebagian rakyat mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka meninggalkan kebiasaan mendatangi Bukitn Bawokng dan kembali bekerja seperti sebelumnya.

Namun, tidak semua orang mau mendengarkan.

Janta, yang telah merasakan nikmatnya kekayaan, justru menjadi semakin takut kehilangan hartanya.

“Aku sudah berjanji kepada Tuan Kaya Gunung,” katanya kepada istrinya. “Aku tidak boleh berhenti.”

“Bukankah raja telah memperingatkan kita?” tanya istrinya.

“Aku tidak dapat mengembalikan semuanya begitu saja.”

Malam berikutnya, Janta kembali mendaki Bukitn Bawokng.

Namun, kali ini suasananya berbeda.

Kabut turun lebih tebal. Angin bertiup dingin. Tidak ada suara burung malam. Ketika Janta tiba di makam, ia menyalakan dupa dengan tangan gemetar.

“Tuan Kaya Gunung,” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia memanggil lagi.

“Tuan Kaya Gunung!”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.

“Engkau datang karena takut kehilangan hartamu?”

Janta membeku.

“Aku... aku datang untuk memenuhi janjiku.”

Suara itu terdengar semakin dekat.

“Bukankah sudah kukatakan? Jangan pernah melupakanku.”

Janta menutup mata.

“Aku tidak melupakanmu.”

“Benarkah?”

Angin tiba-tiba berembus keras. Api dupa padam. Janta mendengar suara dentingan seperti ribuan keping emas jatuh berserakan di sekelilingnya.

Ketika ia membuka mata, tidak ada siapa-siapa.

Namun, sejak malam itu, kekayaan Janta mulai lenyap satu demi satu. Ternaknya mati, sawahnya rusak, dan rumahnya terbakar. Dalam waktu singkat, harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun hilang tanpa bekas.

Orang-orang berkata bahwa kejadian serupa menimpa mereka yang tetap memohon kepada Antu Bukitn Bawokng. Ada yang jatuh sakit tanpa diketahui sebabnya. Ada yang kehilangan seluruh harta dalam satu malam. Bahkan beberapa orang dikabarkan tidak pernah kembali setelah mendaki bukit.

Sejak saat itu, masyarakat Bangkayokng semakin jarang mendatangi Bukitn Bawokng. Nama Antu Bukitn Bawokng tetap hidup dalam cerita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi bukan sebagai tempat mencari kekayaan. Ia menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh membiarkan keserakahan menguasai hati.

Konon, pada malam-malam tertentu, ketika kabut turun menutupi puncak Bukitn Bawokng, orang-orang yang melewati kaki bukit masih dapat mendengar suara aneh dari kejauhan. Kadang terdengar dentingan seperti emas yang dijatuhkan ke tanah. Kadang terdengar bisikan memanggil nama seseorang.

Karena itu, orang-orang tua selalu berpesan kepada anak cucunya, “Jangan pernah naik ke bukit hanya karena tergoda oleh harta. Kekayaan yang datang terlalu mudah belum tentu membawa kebahagiaan.”

Mereka juga mengajarkan bahwa harta benda hanyalah titipan. Manusia boleh bekerja keras untuk menjadi berkecukupan, tetapi jangan sampai kekayaan membuatnya melupakan Tuhan, keluarga, sesama, dan jalan kehidupan yang benar.

Bukitn Bawokng pun tetap berdiri dalam kesunyian. Pepohonannya tumbuh rapat, kabut sering menyelimuti puncaknya, dan makam Tuan Kaya Gunung menjadi bagian dari kisah yang terus dikenang masyarakat.

Adapun pesan yang diwariskan dari kisah Antu Bukitn Bawokng adalah bahwa kesenangan yang diperoleh melalui jalan yang salah dapat berubah menjadi penderitaan. Kekayaan yang tidak disertai ketenteraman tidak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Sebaliknya, rezeki yang diperoleh melalui kerja keras, kejujuran, dan usaha yang halal akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih tenang.

Sebab, sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, semuanya akan ditinggalkan ketika ajal tiba. Yang tinggal bukanlah emas, permata, rumah besar, atau sawah yang luas, melainkan kebaikan yang pernah dilakukan dan jalan hidup yang dipilihnya.

Demikianlah kisah Antu Bukitn Bawokng, yang turun-temurun dituturkan sebagai pengingat bagi siapa pun yang mendengarnya: jangan biarkan keserakahan menutup mata, jangan menukar keyakinan dengan harta, dan jangan mencari jalan singkat untuk memperoleh sesuatu yang seharusnya diraih dengan usaha.

Tamat.

 

CERITA RAKYAT: MANTRA JUBATA DAN ANAK MUDA SALAKO

 

Alkisah, di tanah Kalimantan Barat, di sebuah kampung Dayak Salako yang dikelilingi hutan rimba, hidup seorang pemuda bernama Ramba. Ia anak muda yang rajin, tetapi selalu merasa dirinya tak seberapa dibanding para tetua kampung. Ramba sering mendengar cerita tentang mantra-mantra lama yang diwariskan oleh para leluhur, namun ia tidak pandai menghafalkannya.

Pada suatu malam bulan purnama, kampung Ramba hendak mengadakan upacara adat kayau, yaitu penghormatan kepada roh penjaga dan arwah leluhur. Segala sesaji telah disiapkan: beras kuning, ayam putih, sirih, dan seikat daun-daunan hutan. Para penari mulai bergerak mengelilingi apar, yakni kepala kayau yang menjadi lambang pengingat kejayaan masa lalu.

Tetua adat, Apai Panggau, memanggil Ramba ke depan. “Hai anak muda, engkau yang akan menyampaikan doa malam ini,” katanya.

Ramba gemetar. “Ampun, Apai. Aku tiada pandai membaca mantra, tiada pandai bernyanyi mambang seperti orang-orang tua dahulu.”

Tetapi Apai tersenyum, lalu berkata, “Justru karena engkau generasi baru, engkau harus belajar memohon restu Jubata dengan hatimu sendiri. Bukan kata-kata indah yang penting, melainkan niat yang suci.”

Maka dengan suara lirih, Ramba mencoba mengucapkan doa yang ia dengar dari para tetua:

“Auk nyian ka Jubato, wahai Engkau Jubata. Kami bapadoh ka awo pamo tahoh aik, kami memohon ijin kepada para arwah dan leluhur tanah air.
Saparati Kito’ panunggu wap pamo rumoh tangok, seperti Engkau penguasa yang ada di dalam kehidupan rumah tangga.
Saparati cacak, kaimpawok, dangan antok dan karimebee, seperti cicak, laba-laba, dan kluing, orang-orang akan berdatangan.
Kami anok mudo’, tiada pandai membaca, tiada tahu bernyanyi mambang lama. Engkau sajalah, Jubata, yang bacakan nyanyian itu bagi kami.”

Maka seketika suasana berubah hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin malam. Ketika Ramba menaburkan beras kuning ke arah apar bersama para penari, tampak seekor cicak turun dari balai, laba-laba meniti benang di langit-langit, dan seekor kluing melintas di tanah. Para tetua terperanjat, sebab itu pertanda arwah leluhur berkenan hadir.

Apai Panggau lalu berseru, “Lihatlah, Jubata mendengar doa kita melalui suara anak muda ini! Meski ia tiada pandai seperti kita dahulu, hatinya tulus, maka roh leluhur datang memberi tanda.”

Sejak malam itu, Ramba dihormati sebagai pemuda yang membawa pesan bahwa generasi baru tiada perlu malu bila tak hafal nyanyian lama, asalkan tetap menjaga adat, hormat pada leluhur, dan memelihara alam sekitar.

Hatta, kampung itu pun makmur kembali. Ladang menjadi subur, sungai dipenuhi ikan, dan hutan memberi hasil berlimpah. Mantra itu kemudian diwariskan turun-temurun, sebagai pengingat bahwa Jubata bukan hanya milik orang tua, melainkan juga menyertai anak-anak muda yang mau tulus memohon.

Maka demikianlah cerita rakyat Dayak Salako, tentang Ramba sang anak muda, tentang doa sederhana, dan tentang restu Jubata yang kekal bagi generasi di tanah Kalimantan Barat.

Cerpen: Di Atas Semen yang Masih Basah

Matahari pagi Buaran belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi kaus kerjaku. Bersama teman-teman pekerja, kami berdiri mengawasi bent...