Pada zaman dahulu kala, ketika hutan Kalimantan masih membentang luas tanpa terputus, hiduplah seorang pemuda bernama Riya Sinir. Ia dikenal sebagai Bujang Nyangko, seorang pemuda yang gagah, tangkas, dan pandai menggunakan sumpit. Ia tinggal di wilayah Kerajaan Landak bersama keluarganya.
Pada masa itu, hutan bukan sekadar tempat untuk berburu atau mengambil hasil bumi. Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan bagian penting dari kehidupan. Di dalamnya terdapat sungai, pohon-pohon tua, berbagai jenis hewan, tumbuhan obat, serta tempat-tempat yang dipercaya memiliki penjaga gaib.
Para tetua selalu mengajarkan satu pesan kepada anak-anak mereka.
"Jika engkau memasuki hutan, jangan hanya membawa senjata. Bawalah pula adab."
Mereka dilarang berkata sombong, mencela, mengotori tempat yang dianggap keramat, mengambil sesuatu secara berlebihan, atau mengucapkan perkataan kotor dan cabul. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat, hutan memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.
Riya Sinir memahami nasihat tersebut. Namun, sebagai pemuda yang gagah dan terbiasa menjelajah hutan, terkadang keberaniannya membuatnya lupa bahwa hutan bukanlah milik manusia seorang.
Pada suatu pagi, ibunya meminta Riya Sinir pergi ke hutan untuk mencari burung enggang.
"Anakku," kata ibunya, "carilah kulit salai burung enggang. Namun, ingat pesan orang-orang tua. Jangan merusak hutan. Ambillah seperlunya dan pulanglah sebelum hari gelap."
Riya Sinir mengangguk.
"Baik, Ibu."
Ia mengambil sumpit dan berangkat menuju rimba.
Hutan pagi itu tampak indah. Kabut tipis bergantung di antara batang-batang pohon. Suara burung terdengar dari kejauhan. Sungai mengalir di antara akar-akar besar, sementara cahaya matahari menembus celah dedaunan.
Semakin jauh Riya Sinir berjalan, semakin sunyi keadaan di sekelilingnya.
Tidak ada lagi suara manusia.
Hanya suara daun yang bergesekan dan suara burung yang sesekali terdengar.
Setelah berjalan cukup lama, Riya Sinir melihat seekor burung enggang bertengger di atas pohon tua. Ia segera mengambil sumpit.
Namun, sebelum meniup sumpit, ia mendengar suara seperti bisikan.
"Jangan..."
Riya Sinir menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia menganggap suara itu hanya suara angin.
Kemudian, ia meniup sumpitnya.
Burung enggang terkena dan terbang menjauh. Riya Sinir mengejarnya sampai ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Di sana berdiri sebuah pohon besar yang batangnya begitu lebar. Akar-akarnya menjalar seperti ular raksasa. Di bawah pohon terdapat batu-batu tua yang tersusun menyerupai tempat persembahan.
Riya Sinir berhenti.
Ia teringat pesan para tetua.
Jangan mengganggu tempat yang tidak dikenal.
Namun, rasa ingin tahunya mengalahkan kehati-hatian.
"Ah, hanya batu tua," gumamnya.
Ia tertawa kecil.
"Mana mungkin ada yang menjaga tempat seperti ini?"
Tiba-tiba angin berhenti.
Hutan menjadi sunyi.
Burung-burung yang sejak tadi berkicau mendadak diam.
Riya Sinir merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia hendak pergi ketika terdengar suara perempuan dari balik pohon.
"Jangan berkata takabur di dalam hutan."
Riya Sinir membeku.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara langkah.
Satu.
Dua.
Tiga.
Langkah itu semakin dekat.
Riya Sinir menggenggam sumpitnya erat-erat.
Dari balik pohon muncullah seorang gadis.
Wajahnya sangat pucat. Rambutnya panjang dan hitam hingga menyentuh tanah. Pakaiannya menyerupai pakaian perempuan dari masa lampau.
Riya Sinir terkejut.
"Dara Hitam?"
Gadis itu memandangnya.
Benar. Gadis itu adalah Dara Hitam, perempuan yang pernah ditemuinya di Tembawang Selipat.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Wajah Dara Hitam tampak muram.
"Riya Sinir," katanya perlahan, "mengapa engkau datang ke tempat ini?"
"Aku mengejar burung enggang."
Dara Hitam memandang burung yang terluka.
"Ambillah jika memang diperlukan. Tetapi jangan lebih dari yang engkau perlukan."
Riya Sinir mengangguk.
Dara Hitam kemudian menunjuk batu-batu tua di bawah pohon.
"Tempat ini jangan diganggu. Ini adalah tempat yang dihormati oleh orang-orang terdahulu."
Riya Sinir kembali mengangguk.
Namun, di belakang Dara Hitam, ia melihat beberapa benda tua yang tampak berkilauan.
Rasa ingin tahunya muncul.
"Apa itu?"
"Jangan disentuh."
"Kenapa?"
"Karena bukan milikmu."
Riya Sinir diam.
Dara Hitam kemudian berkata,
"Dan satu lagi. Jangan berkata kotor di tempat ini. Jangan mencela, jangan menghina, dan jangan menantang apa yang tidak engkau pahami."
Riya Sinir mulai merasa tidak nyaman.
"Aku mengerti."
Dara Hitam menatapnya cukup lama.
"Benarkah?"
Sebelum Riya Sinir menjawab, tiba-tiba terdengar suara burung yang sangat keras dari atas pohon.
"KRAAAK!"
Riya Sinir terkejut dan mundur.
Ketika kembali menatap ke depan, Dara Hitam sudah menghilang.
Hanya kabut yang tersisa.
Riya Sinir bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Namun, ketika ia berjalan, ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya.
Krek...
Krek...
Suara ranting patah terdengar dari belakang.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia mempercepat langkah.
Krek...
Krek...
Suara itu kembali terdengar.
Kali ini lebih dekat.
Riya Sinir mulai berlari.
Sampai akhirnya ia keluar dari kawasan hutan tua tersebut.
Ia menarik napas panjang.
"Syukurlah..."
Namun, sejak hari itu, kehidupan Riya Sinir berubah.
Setiap malam ia mendengar suara burung enggang dari kejauhan.
"KRAAAK..."
"KRAAAK..."
Padahal, rumahnya jauh dari hutan.
Kadang-kadang ia juga mendengar suara perempuan memanggil namanya.
"Riya Sinir..."
"Riya Sinir..."
Ketika ia membuka pintu, tidak ada siapa-siapa.
Kejadian itu berlangsung selama beberapa malam.
Kemudian, Riya Sinir kembali pergi ke hutan bersama beberapa pemuda.
Ia menceritakan kejadian yang dialaminya. Namun, beberapa pemuda justru menertawakannya.
"Jangan takut kepada cerita orang tua," kata salah seorang dari mereka.
"Benar!" sahut yang lain. "Kita adalah manusia. Hutan tidak akan melakukan apa-apa."
Mereka kemudian tertawa.
Salah seorang dari mereka bahkan mengucapkan perkataan kasar dan cabul untuk mengejek kepercayaan masyarakat.
Riya Sinir merasa tidak nyaman.
"Sudahlah. Jangan bicara seperti itu."
Namun, teman-temannya tidak menghiraukannya.
Mereka terus berjalan semakin jauh.
Tanpa disadari, mereka telah memasuki kawasan hutan tua yang dahulu didatangi Riya Sinir.
Begitu memasuki tempat itu, suasana berubah.
Angin berhenti.
Daun-daun diam.
Suara binatang menghilang.
Salah seorang pemuda tertawa.
"Di mana penjaganya? Kalau memang ada, keluarlah!"
Sesaat tidak terjadi apa-apa.
Kemudian terdengar suara dari dalam hutan.
"Kembalilah..."
Semua pemuda terdiam.
Suara itu terdengar lagi.
"Kembalilah..."
Namun, salah seorang pemuda malah menantang.
Ia berkata dengan sombong bahwa dirinya tidak takut kepada apa pun.
Tiba-tiba pohon-pohon di sekeliling mereka berguncang keras.
Bukan karena angin.
Seolah-olah seluruh hutan sedang bergerak.
Mereka panik dan berusaha mencari jalan pulang.
Tetapi, jalan yang tadi mereka lalui sudah tidak terlihat.
Mereka berjalan ke kiri.
Kembali ke tempat yang sama.
Berjalan ke kanan.
Kembali ke tempat yang sama.
Hari mulai gelap.
Ketakutan semakin menjadi-jadi.
Lalu terdengar suara tangisan perempuan dari kejauhan.
"Riya Sinir..."
Riya Sinir mengenali suara itu.
"Dara Hitam!"
Ia berlari menuju sumber suara.
Di antara pepohonan, ia melihat Dara Hitam berdiri di dekat sungai.
Namun, wajahnya sangat sedih.
"Riya Sinir," katanya, "aku sudah memperingatkanmu."
"Apa yang terjadi?"
"Kalian telah memasuki tempat yang harus dihormati. Kalian membawa kesombongan ke dalam hutan. Kalian berkata kasar dan cabul. Kalian menertawakan adat yang diwariskan leluhur."
Riya Sinir menundukkan kepala.
"Apa yang harus kami lakukan?"
"Jangan melawan hutan. Jangan menantangnya. Pulanglah dengan rendah hati."
Riya Sinir mengajak teman-temannya mengikuti Dara Hitam.
Mereka berjalan dalam diam.
Tidak seorang pun berani berkata-kata.
Akhirnya, mereka menemukan jalan keluar.
Namun, tragedi telah terjadi.
Salah seorang pemuda tidak pernah berhasil keluar dari hutan.
Ia ditemukan beberapa hari kemudian di dekat sebuah pohon tua. Tidak ada luka pada tubuhnya, tetapi wajahnya menunjukkan ketakutan yang mendalam.
Sejak kejadian itu, masyarakat semakin memperhatikan nasihat para tetua.
Mereka tidak lagi memasuki kawasan hutan tua tanpa alasan.
Mereka mengajarkan kepada anak-anak bahwa hutan bukan tempat untuk berbuat sesuka hati.
Hutan harus dijaga.
Pohon tidak boleh ditebang sembarangan.
Sungai tidak boleh dikotori.
Hewan tidak boleh diburu secara berlebihan.
Tempat-tempat yang dihormati oleh leluhur harus dijaga.
Dan yang paling penting, siapa pun yang masuk ke hutan harus menjaga perkataan dan perilakunya.
Riya Sinir sendiri tidak pernah melupakan kejadian tersebut.
Ia menyadari bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan manusia tentang alam juga memiliki batas. Karena itu, manusia harus belajar menghormati sesuatu yang belum dipahaminya.
Konon, setelah kejadian itu, Riya Sinir dan Dara Hitam semakin jarang bertemu. Namun, setiap kali Riya Sinir berada di tepi hutan, ia selalu teringat kepada Dara Hitam.
Pada suatu senja, ketika kabut mulai turun, ia mendengar suara burung enggang dari dalam rimba.
"KRAAAK..."
Riya Sinir berdiri dan memandang ke arah hutan.
Di antara pepohonan, ia melihat sosok Dara Hitam untuk terakhir kalinya.
Perempuan itu tersenyum tipis.
Kemudian, tubuhnya perlahan menghilang bersama kabut.
Sejak saat itu, Riya Sinir tidak pernah lagi melihatnya.
Masyarakat kemudian mewariskan kisah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mereka percaya bahwa kisah Riya Sinir dan Dara Hitam bukan sekadar cerita tentang hantu atau kejadian gaib. Di balik kengerian dan tragedi itu terdapat peringatan agar manusia tidak merasa menjadi penguasa mutlak atas alam.
Hutan memberikan kehidupan kepada manusia, tetapi manusia juga memiliki kewajiban untuk menjaganya.
Jangan menebang pohon tanpa alasan.
Jangan membuang sampah ke sungai.
Jangan memburu satwa secara berlebihan.
Jangan merusak tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Jangan meremehkan adat dan nasihat orang-orang tua.
Dan ketika berada di hutan, jagalah ucapan.
Tidak semua tempat pantas dijadikan tempat bercanda. Tidak semua hal boleh diucapkan dengan sembarangan. Perkataan yang takabur dapat membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari alam. Perkataan cabul dan kasar juga tidak pantas dilontarkan di sembarang tempat, terlebih di kawasan yang dihormati oleh masyarakat.
Sebab, hutan memiliki kehidupan yang harus dihargai.
Generasi muda hendaknya memahami bahwa menjaga hutan bukan hanya berarti menjaga pohon. Menjaga hutan berarti menjaga sungai, tanah, satwa, tumbuhan, budaya, adat, dan pengetahuan leluhur yang hidup bersamanya.
Begitulah kisah Riya Sinir dan Dara Hitam yang diceritakan dari mulut ke mulut.
Benar atau tidaknya segala kejadian gaib dalam kisah tersebut, pesan yang diwariskannya tetap penting:
Jika memasuki hutan, datanglah dengan rendah hati. Jika mengambil sesuatu, ambillah seperlunya. Jika berbicara, jagalah kata-kata. Jika hidup bersama alam, jangan merusaknya. Dan jika adat mengajarkan penghormatan terhadap alam, janganlah menganggapnya sebagai sesuatu yang patut ditertawakan.
Sebab, ketika hutan telah rusak, bukan hanya pohon yang hilang. Sungai dapat mengering, satwa kehilangan tempat tinggal, adat perlahan terlupakan, dan generasi yang akan datang kehilangan warisan yang seharusnya mereka terima.
Dan mungkin, seperti pesan terakhir Dara Hitam kepada Riya Sinir, manusia baru akan memahami pentingnya menjaga hutan setelah sesuatu yang berharga telah pergi untuk selama-lamanya.

