Hikayat Menuju Tajok Rancang
Sebermula, pada zaman purbakala tersebutlah sebuah negeri besar di pedalaman hutan Kalimantan, diperintah oleh seorang raja bernama Sri Maharaja Alam Sakti Dirgantara, bersemayam di istana indah berhias manik-manik tujuh warna. Negeri itu makmur tiada tandingan, tetapi segala rakyat percaya bahawa selepas mati, jiwa manusia tiadalah lenyap, melainkan menempuh perjalanan jauh menuju alam baka.
Maka titah segala orang tua-tua:
“Barang siapa meninggal dunia, jiwanya akan berjalan menempuh bukit dan lembah, meniti jembatan gaib, bertemu naga raksasa, hingga akhirnya sampai ke Tajok Rancang, yakni surga nan abadi.”
Syahdan, pada suatu hari, wafatlah seorang hulubalang gagah bernama Laksamana Jiwangga, gugur kerana luka tombak. Tatkala nafas terakhirnya keluar dari hidung, maka roh hulubalang itu terbang bagai asap, lalu mula menempuh jalan arwah.
Mula-mula ia mendaki bukit tinggi bernama Bukit Siminamang, penuh batu tajam bagai gigi naga. Nafasnya terengah, kakinya luka, tetapi ia tiada berhenti, kerana demikianlah adat perjalanan jiwa.
Setelah mendaki, sampailah ia ke perut bukit, maka muncullah seekor naga besar bersisik hijau, bernama Naga Sinodayang, matanya menyala bagai bara, lidahnya panjang menyambar-nyambar.
Sabda naga itu: “Hai roh manusia, engkau tiadalah boleh melintas sebelum engkau sanggup menahan panas api dan sejuk kabut. Jika engkau lemah, nescaya engkau jatuh ke lembah tiada kembali.”
Maka Laksamana Jiwangga pun mengingat doa ibunya, lalu melangkah dengan tabah. Naga itu pun menepi, memberi jalan.
Syahdan, tibalah roh hulubalang itu di hadapan jembatan gaib bernama Saka Temboh Talu, panjang tiada bertepi, tipis bagai sehelai rambut, terbentang di atas jurang ngeri.
Tatkala roh melangkah, jembatan itu bergoyang, ke kiri dan ke kanan. Dari bawah terdengar suara jeritan arwah yang gagal meniti, jatuh ke jurang api. Tetapi Laksamana Jiwangga melangkah perlahan, tiada menoleh ke belakang.
Setelah menyeberang, ia bertemu dengan dua penjaga gaib bernama Maraga Dua Berima. Mereka berwajah kembar, seorang memegang pedang, seorang memegang tombak. Maka katanya:
“Hai roh manusia, engkau sudah lulus ujian pertama. Tinggal beberapa langkah lagi menuju Kariwiyang Nanco, tempat pengadilan arwah. Jika amalmu berat, engkau akan naik ke Tajok Rancang. Jika amalmu ringan, engkau jatuh ke lembah api.”
Maka roh Laksamana pun tunduk, menunggu nasibnya.
Syahdan, sampailah ia ke sebuah pintu agung bernama Tajok Rancang, pintu surga penuh cahaya. Malaikat bersayap putih menyambutnya, berkata dengan suara bagai guntur lembut:
“Hai roh hulubalang, amalmu banyak, jasamu besar, engkau berani mati mempertahankan negeri. Maka pintu Tajok Rancang terbuka bagimu. Masuklah, dan bersemayamlah bersama para leluhur.”
Maka roh Jiwangga pun masuk ke dalam, disambut oleh nenek moyang dengan gong dan tarian sakral.
Maka tersebutlah kisah, bahawa tiap jiwa yang meninggal di negeri itu akan menempuh perjalanan berat: mendaki bukit, meniti jembatan, bertemu naga, diuji amal, hingga akhirnya sampai ke Tajok Rancang.
Syahdan, inilah hikayat perjalanan jiwa menurut adat tua Kalimantan Barat, pengingat bagi segala manusia, bahawa hidup di dunia hanyalah pinjaman, dan amal baiklah yang menjadi bekal menuju akhirat.
Maka tamatlah hikayat ini, tiada diketahui siapa pengarangnya, turun-temurun dari lidah orang tua kepada anak cucu, menjadi pelita bagi hati yang mencari jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar