Hikayat Kaki Puspaki
Syahdan, tersebutlah sebuah negeri yang termasyhur adanya, bernama Negeri Mandraguna. Negeri itu diperintah oleh seorang raja yang adil perintahnya lagi besar kuasanya, bergelar Seri Maharaja Indra Kusuma. Maka rakyat jelata sekalian hidup dalam teduh perintah baginda, tiada seorang pun yang teraniaya, melainkan segala hidup mereka sentosa adanya.
Hatta, dalam negeri itu masyhurlah khabar tentang adanya dua makhluk gaib yang tiada kelihatan oleh mata, akan tetapi kuasanya besar tiada terperi. Yang seorang bergelar Kaki Puspaki, rupanya laki-laki tua bertongkat emas; dan seorang lagi bernama Nini Puspakaki, perempuan tua berambut putih bagaikan kapas, mukanya bercahaya laksana bulan purnama. Kedua makhluk itu tiada pernah menampakkan dirinya, hanyalah roh halus yang menjaga hati manusia, mengatur kemauan serta menimbang rasa bersalah segala insan.
Adapun apabila seorang rakyat merasa bimbang, atau tatkala ia tiada mengetahui jalan yang benar, maka dipersembahkannyalah sesajen di pelataran rumah, sambil menyeru nama Mbah Kakung dan Mbah Puteri. Maka tatkala itulah roh Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki turun menyusup ke dalam hati manusia, menanamkan rasa tenteram, memberi petunjuk antara yang baik dan yang buruk.
Syahdan, pada suatu hari, datanglah seorang pangeran bernama Radin Surya Pramana, putera baginda raja. Maka hatinya gundah gulana, sebab ia dikehendaki oleh baginda untuk memilih calon permaisuri, akan tetapi ia tiada mengetahui siapa yang patut dijadikan pasangan hidupnya. Siang malam tiada ia dapat tidur, hatinya senantiasa gelisah.
Maka Radin Surya pun memanggil seorang tiang pasek, yakni pemuka adat yang tahu akan tatacara sembahyang. Berkatalah ia, “Hai tuan pasek, bawalah daku memohon pertolongan kepada Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki, supaya terbuka mataku memilih jalan benar.”
Maka tiang pasek pun mengatur sesajen, menyalakan dupa harum, lalu sembahyang dengan khidmat seraya menyeru, “Wahai Mbah Kakung, wahai Mbah Puteri, datanglah engkau memberi restu kepada junjungan hamba, Radin Surya Pramana.”
Hatta, tiada berapa lama, berhembuslah angin sepoi-sepoi, seakan-akan langit bergetar, dan Radin Surya pun tertidur seketika. Maka dalam tidurnya, ia bermimpi melihat sepasang kakek-nenek berpakaian putih berseri-seri, berdiri di hadapannya. Berkatalah Kaki Puspaki, “Hai anak raja, janganlah engkau bimbang lagi, karena jodohmu sudah tertulis sejak azali.” Maka Nini Puspakaki menyambung, “Carilah gadis yang berhati tulus, bukan karena parasnya, bukan pula karena pangkatnya, melainkan karena budi pekertinya. Dialah yang kelak menuntunmu menuju kebahagiaan.”
Maka terjagalah Radin Surya, hatinya terang benderang bagaikan tersuluh cahaya matahari. Disampaikanlah mimpi itu kepada baginda raja, dan kemudian ia memilih seorang gadis sederhana, anak seorang rakyat jelata, tetapi berhati mulia serta berbudi bahasa.
Baginda Maharaja pun ridha akan pilihan puteranya. Seluruh negeri pun bersuka cita, memuji kebesaran Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki, yang senantiasa menjaga manusia agar jangan terjerumus dalam salah langkah.
Adapun hikayat ini memberi ajaran, bahwa hati manusia hendaklah ditimbang dengan rasa bijaksana, tiada hanya menurut hawa nafsu semata. Barang siapa menghargai budi dan akhlak, maka bahagialah hidupnya di dunia dan akhirat.
Maka demikianlah adanya hikayat Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki, menjadi warisan nenek moyang, diceritakan turun-temurun, memberi pengajaran kepada segala bangsa, agar manusia tiada lupa akan petunjuk Ilahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar