HIKAYAT JUBATO DAN ANAK SALAKO
Maka tersebutlah kisah di tanah Borneo, pada sebuah kampung di tepi sungai yang airnya jernih, hiduplah kaum Dayak Salako. Mereka memuliakan hutan, tanah, dan langit, serta tunduk kepada Sang Penguasa Alam, Jubato.
Adapun pada suatu masa, kampung itu dilanda kesusahan besar. Musim kering berkepanjangan menimpa, padi tak berisi, sungai mulai surut, dan hewan buruan tiada lagi kelihatan. Maka penduduk pun gelisah, sebab makanan makin berkurang.
Maka pada suatu malam, para tetua kampung berkumpul di balai adat. Kepala adat bernama Apai Jangga berkata, “Hai saudara-saudaraku, keadaan kita makin sulit. Tiada jalan lain kecuali kita kembali memohon kepada Jubato, seperti yang dilakukan leluhur dahulu. Marilah kita adakan buis, sesajian untuk Sang Penjaga Jagat.”
Segenap orang pun menyetujui kata-kata itu. Maka mereka menyiapkan beras kuning, seekor ayam jantan putih, daun sirih, dan tembakau, lambang kesucian dan pengorbanan.
Tatkala segala persiapan selesai, panyangohotn, yakni juru mantra, berdiri di tengah balai. Suaranya bergema penuh wibawa:
“Auk nyian Kito’k Jubato, saparati Kito’ urokng jaji Awo jaji Pamo. Ka rumoh, ka tango’, ka aik, ka tanoh, ka kampunkng, ka tumpuk, ka payo paansar. Aku bapadoh ka Kito’, maok nyanong buis padagi nyian. Kade’ ado nang saloh, kami mohon maap ka Kito’...”
Hadirin pun terdiam. Anak-anak kecil bersembunyi di balik pelukan ibunya, terpesona mendengar suara yang seakan bercampur dengan bisikan angin malam.
Tiba-tiba seorang anak kecil bernama Bungo bertanya dengan polos, “Apai, mengapa kita harus menabur beras kuning ke tanah?”
Apai Jangga menunduk lalu berkata dengan lembut, “Hai cucuku, beras kuning itu lambang kesuburan. Bila kita taburkan, itu tanda kita memohon agar tanah kembali subur, agar sungai kembali jernih, agar hidup kita tidak kekurangan.”
Maka ibu Bungo pun menambahkan, “Ketahuilah, anakku, manusia hanyalah singgah di dunia. Kelak semua akan kembali menjadi arwah dan leluhur. Oleh itu, kita wajib hormat kepada alam, sebab di sanalah mereka bersemayam.”
Hatta, ketika beras kuning ditabur, asap dupa menjulang tinggi. Ayam putih dikurbankan, darahnya menetes ke tanah, menjadi persembahan suci. Malam itu, angin bertiup lembut, dan bintang-bintang bersinar terang.
Keesokan harinya, awan kelabu berarak. Hujan turun rintik-rintik, membasahi bumi yang lama kering. Padi di ladang mulai berisi, sungai kembali penuh, ikan melompat di permukaan air. Segala orang bersorak gembira.
“Lihatlah!” seru seorang tetua, “Jubato mendengar doa kita. Persembahan kita telah diterima.”
Maka seluruh kampung bersyukur, dan mereka mengadakan pesta panen besar-besaran. Tarian, gong, dan gendang bergema, menandai kembalinya kehidupan.
Adapun kisah ini menjadi teladan: manusia hidup hanyalah titipan, kelak akan menjadi arwah dan leluhur. Barang siapa hidup di bumi, wajiblah menjaga hutan, tanah, dan sungai, sebab di sanalah letak berkah dari Jubato.
Maka demikianlah tamat hikayat ini, diwariskan dari mulut ke mulut, menjadi pengingat bagi anak cucu Dayak Salako di tanah Borneo, agar tak lupa pada leluhur, pada alam, dan pada Sang Jubato yang Maha Menjaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar