Hikayat Nêk Nyaronk ngan Batu Baimik
Syahdan, di tanah Sakawokng—yang kini dikenal dengan nama Singkawang—terdapat sebuah kisah lama yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Dayak Salako. Negeri itu kaya dengan budaya dan cerita rakyat, dan salah satu kisah yang paling masyhur adalah Kisah Nêk Nyaronk ngan Batu Baimik.
Diceritakan, pada zaman dahulu kala, hiduplah dua orang Pangkalima Dayak Salako yang masyhur akan kesaktian dan keilmuannya. Mereka bernama Nêk Nyaronk dan Nêk Usun. Kedua pendekar ini telah lama menyimpan rasa ingin menguji kekuatan masing-masing, sebab mereka sama-sama mendambakan gelar sebagai penguasa dunia persilatan di kampung Sakawokng.
Pada suatu hari, mereka berjumpa di tengah hutan. Tatapan mata beradu, muka berpaling, dan hati dipenuhi dendam lama. Ketika itu, kaki Nêk Usun tersandung batu. Sakit yang ia rasakan membuat ia menuduh Nêk Nyaronk telah menendangnya dengan sengaja.
“Kaulah yang menyakiti aku! Sudah lama engkau dendam padaku. Sekarang kau menantangku?” ujar Nêk Usun.
Nêk Nyaronk menolak tuduhan itu. “Tidak, aku tidak melakukannya. Jangan sembarangan menuduh aku!” Namun Nêk Usun tetap tidak percaya. Maka pertarungan pun tak terelakkan.
Kedua pendekar sakti itu mulai melafalkan mantra. Mulut mereka bergetar, bumi berguncang, pohon-pohon bergoyang, langit mendung dan angin bertiup kencang. Sungguh pertempuran gaib yang dahsyat, hingga tidak ada yang terlihat kalah maupun mengalah.
Akhirnya mereka sepakat untuk bertaruh. Nêk Usun menantang: siapa yang mampu memindahkan batu besar dari Gunung Satime, dialah pemenangnya. Nêk Nyaronk yang percaya pada kesaktiannya segera menerima tantangan itu.
Maka ia pun memusatkan tenaga, memanggil sahabat gaibnya, dan mengarahkan tangannya ke arah batu besar di Gunung Satime. Gunung itu bergetar, batu besar terbelah dua, lalu salah satu pecahannya terangkat ke udara. Batu itu melayang-layang, menghantam gunung lain hingga puncaknya roboh, menebar serpihan ke segala penjuru. Pohon-pohon tumbang, batu hancur jadi pasir.
Namun ketika hampir berhasil, Nêk Usun yang khawatir akan kalah, berbuat curang. Ia menggulingkan sebuah batu kecil ke arah kaki Nêk Nyaronk. Batu itu menghantam jari kakinya, membuat aliran tenaga gaibnya terputus. Seketika Nêk Nyaronk terjatuh, dan batu besar yang melayang menimpa tubuhnya. Tertimbunlah Nêk Nyaronk di bawah batu besar itu. Dari dalam tanah, ia masih sempat berteriak: “Engkau curang, Usun! Suatu saat kau akan mendapat balasannya!”
Mendengar jeritan itu, bumi kembali berguncang, namun Nêk Usun justru tertawa terbahak-bahak. Ia meluapkan kegembiraannya, mengerahkan kesaktiannya ke segala arah. Namun karena terlalu sombong, ia melontarkan ajian ke sebuah gunung. Gunung itu runtuh, tanah longsor menimpa dirinya, hingga ia pun terkubur ke dalam perut bumi.
Sejak saat itu, batu besar yang menimpa jasad Nêk Nyaronk tampak angker. Batu itu sebesar kapal, dengan permukaan berkerut menyerupai buah baimik (belimbing). Penduduk Dayak Salako menamainya Batu Baimik, dan kampung tempat batu itu berada disebut Nyarongkop atau Nyarumkop, artinya Nêk Nyaronk yang mati tersungkur.
Adapun nama Nêk Usun diabadikan pula sebagai nama sebuah daerah di sekitar tempat kejadian itu. Maka demikianlah kisah tragis dua pendekar sakti, yang karena dendam dan kesombongan, akhirnya sama-sama binasa.
Hikayat ini menjadi pelajaran bagi anak negeri: bahwa kesaktian tanpa kerendahan hati hanya akan membawa petaka, dan dendam yang dipelihara akan menjerumuskan ke jurang kehancuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar