Jumat, 26 September 2025

CERITA RAKYAT DAYAK SALAKO: MANTRA JUBATA DAN RAMBA ANAK MUDO’

 CERITA RAKYAT DAYAK SALAKO: MANTRA JUBATA DAN RAMBA ANAK MUDO’

Maka tersebutlah kisah di tanah Borneo, di hulu sungai yang jernih airnya, di kaki hutan yang hijau tak bertepi, hiduplah sebuah kampung Dayak Salako. Kampung itu makmur adanya, namun orang-orangnya tetap setia pada adat dan pada Jubata, penguasa segala jagat.

Pada masa itu hiduplah seorang pemuda bernama Ramba. Ia rajin bekerja, pandai menoreh karet, pandai pula membuka ladang, tetapi ia merasa dirinya kurang. Ramba tidak pandai membaca mantra, tidak pandai melagukan mambang seperti tetua adat. Sering ia mendengar suara Apai Panggau, tetua kampung, melantunkan doa panjang dengan penuh wibawa, sementara ia hanya diam, tiada tahu kata-kata sakral itu.

Hatta, pada suatu musim, kampung itu hendak mengadakan upacara besar. Upacara untuk memohon izin kepada Jubata, memohon restu kepada para arwah leluhur, agar kehidupan rumah tangga, tanah, dan sungai tetap sejahtera. Sesajian pun telah disiapkan: beras kuning, ayam putih, sirih dan pinang, tembakau, serta apar, kepala kayau, yang diletakkan di balai adat sebagai lambang pengingat masa lalu.

Ketika malam purnama tiba, gong pun dipukul, gendang berbunyi, penari-penari muda bergerak mengelilingi apar. Api pelita bergoyang tertiup angin, asap dupa menjulang, menembus atap balai menuju langit.

Apai Panggau lalu berdiri dan berkata, “Hai anak cucu Dayak Salako, malam ini kita memohon restu. Tetapi bukan aku yang akan menyampaikan doa. Hari ini, aku serahkan kepada anak muda, kepada Ramba.”

Tersebutlah Ramba gemetar. Ia menundukkan kepala, lalu berkata, “Ampun, Apai. Aku tiada tahu membaca mantra, tiada pandai melagukan mambang seperti orang tua dahulu. Aku hanyalah orang muda, orang mudo’, tiada tahu, tiada mengerti.”

Tetapi Apai Panggau menjawab, “Hai Ramba, ketahuilah, bukan kata yang indah yang dinilai Jubata, melainkan ketulusan hati. Meski engkau tiada tahu, engkau boleh mencoba. Sebab bila engkau ikhlas, Jubata dan para leluhur akan melanjutkan doa itu dengan bahasa mereka.”

Maka Ramba pun berdiri. Dengan suara lirih, ia mulai berkata:

“Auk nyian ka Jubato, wahai Engkau Jubata.
Kami bapadoh ka awo pamo tahoh aik, kami memohon ijin kepada para arwah dan leluhur tanah air.
Saparati Kito’ panunggu wap pamo rumoh tangok, seperti Engkau penguasa yang ada dalam kehidupan rumah tangga.
Saparati cacak, kaimpawok, dangan antok dan karimebee, seperti cicak, laba-laba, dan kluing, orang-orang akan berdatangan.
Kami anok mudo’, tiada pandai membaca, tiada tahu bernyanyi mambang lama. Engkau sajalah, Jubata, yang bacakan nyanyian itu bagi kami.”

Heninglah balai itu. Penari berhenti bergerak, gong berhenti berbunyi, hanya suara jangkrik menemani malam. Ketika Ramba menaburkan beras kuning ke arah apar, tiba-tiba cicak turun di dinding balai, laba-laba meniti benang dari atap, dan seekor kluing merayap di lantai.

“Lihatlah!” seru seorang tetua, “Tanda telah datang. Arwah leluhur mendengar doa anak muda ini!”

Maka para penari kembali bergerak, gong dipukul lebih keras, gendang bergema. Orang-orang menaburkan beras kuning bersama-sama, menari mengelilingi apar, dan malam itu terasa hidup oleh suara leluhur yang seolah menyatu dengan suara hutan.

Sejak malam itu, Ramba tidak lagi merasa rendah. Ia mengerti, meski tidak pandai melagukan mantra lama, tetapi dengan hati yang ikhlas ia bisa menyambung hubungan antara manusia dengan Jubata. Generasi muda pun belajar darinya, bahwa adat bukan hanya hafalan kata, melainkan kesetiaan menjaga tanah, sungai, dan hutan, tempat leluhur bersemayam.

Maka kampung itu pun makmur kembali. Ladang mereka berisi, sungai penuh ikan, hutan memberi buah dan hasil melimpah. Orang-orang berkata, “Semua ini berkat doa Ramba, berkat restu Jubata, dan berkat leluhur yang selalu menjaga.”

Hatta, cerita ini pun menjadi legenda. Dituturkan dari mulut ke mulut, dari tetua kepada cucu, bahwa generasi baru janganlah malu bila tiada tahu semua nyanyian lama. Sebab yang terutama ialah hati yang jujur, hormat kepada leluhur, dan cinta kepada alam.

Maka demikianlah tamat cerita rakyat Dayak Salako, tentang Ramba anak mudo’, tentang mantra kepada Jubata, dan tentang tanda dari cicak, laba-laba, dan kluing, saksi bahwa alam dan leluhur selalu menyertai anak cucu di tanah Kalimantan Barat.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...