Hikayat Candra Birawa
Syahdan, adalah sebuah negeri di Pulau Kalimantan pada zaman dahulukala, ketika raja-raja masih bersemayam di istana berhias intan dan permata. Negeri itu makmur adanya, namun senantiasa diganggu oleh musuh dari seberang lautan, hendak merebut takhta dan kekayaan yang tiada taranya.
Hatta, pada suatu malam bulan purnama, raja yang bernama Seri Maharaja Indra Kusuma duduk termenung di balairung seri. Baginda memikirkan segala tipu daya musuh yang hendak menggulingkan kerajaan. Maka dipanggillah seorang Bujanga yang masyhur kesaktiannya, bernama Puyang Samudra, ahli dalam segala ilmu mantra dan aji-aji.
Maka
sembah Bujanga itu kepada baginda:
“Tuanku yang mulia, janganlah tuanku gundah gulana. Adalah pada hamba, satu
pusaka yang tiada tandingannya, yakni memanggil hantu perang yang disebut
Candra Birawa, bocah bajang sakti mandraguna. Apabila ia dilepaskan, niscaya
musuh hancur luluh bagai debu dihembus angin.”
Mendengar kata demikian, maka sukacitalah hati Maharaja. Baginda pun menitahkan agar segera diadakan upacara memanggil makhluk tersebut.
Maka pada tengah malam itu, dengan dupa dibakar dan jampi serapah dibacakan, Bujanga Puyang Samudra pun menyeru nama gaib. Tiba-tiba kelihatanlah asap bergumpal, lalu muncullah seorang anak kecil bertubuh kate, bermata merah menyala, giginya tajam bagai taring, itulah Candra Birawa.
Maka
berkata hantu itu dengan suara bagai guruh di angkasa:
“Siapa yang berani memanggil hamba dari alam gaib?”
Sembah
Bujanga:
“Adalah titah Seri Maharaja Indra Kusuma, hendak meminta pertolongan tuan
hantu, supaya menghalau musuh yang hendak merampas negeri ini.”
Maka
tertawalah Candra Birawa, suaranya menggema ke segenap hutan rimba Kalimantan.
Katanya:
“Baiklah, akan hamba tunaikan. Tetapi syaratnya, darah musuh mesti menjadi
santapan hamba.”
Baginda pun mengangguk, lalu dengan restu baginda, Candra Birawa dilepaskan ke medan perang. Maka terjadilah peperangan yang amat dahsyat. Musuh yang datang dengan ribuan bala tentara, habis porak-poranda dimakan hantu bocah bajang itu. Tentara lari tunggang-langgang, bumi bergegar oleh suara jerit tangis.
Adapun setelah perang selesai, negeri pun selamat, rakyat kembali aman. Akan tetapi, syahdan, Candra Birawa tiada mahu kembali ke alam gaibnya. Ia menuntut darah manusia tiada henti. Baginda Maharaja pun gundah gulana, takut negerinya dimakan hantu yang telah dipelihara.
Hatta, maka disembahkannya doa dan munajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan-Nya. Maka dengan izin Allah, datanglah seorang alim ulama dari tanah seberang, bernama Syekh Abdul Karim. Beliau menuliskan ayat-ayat suci pada sehelai kain putih, lalu dilemparkan kepada Candra Birawa. Seketika itu, hantu bocah bajang itu menjerit nyaring, tubuhnya mengecil, lalu lenyap hilang bagai asap tersapu angin.
Maka
selamatlah negeri Kalimantan daripada ancaman hantu perang. Seri Maharaja pun
insaf akan kesalahan dirinya yang memelihara makhluk gaib. Baginda berpesan
kepada sekalian rakyat:
“Ketahuilah, tiada ada kekuatan melainkan pertolongan Allah jua. Barangsiapa
bergantung pada jin dan syaitan, niscaya binasalah ia.”
Demikianlah hikayat ini menjadi iktibar, bahwasanya segala tipu daya dunia tiada kekal, hanya amal saleh dan doa yang menjadi benteng sejati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar