Hikayat Nek Bararotn
Syahdan, tersebutlah suatu kisah pada zaman dahulu kala, di kaki Bukit Satime berdirilah sebuah kampung kecil bernama Kampung Pameok. Adapun dinamakan Pameok, karena penduduknya bersiul “meok” sebagai tanda salam bila bersua dengan siapa pun, baik kawan lama maupun orang asing yang baru singgah.
Penduduk kampung itu tidaklah banyak, tidak lebih dari sepuluh keluarga. Mereka hidup sebagai peladang, menanam padi yang dianggap suci anugerah Jubato kepada manusia, agar jangan umatnya jatuh dalam kesengsaraan.
Maka tersebutlah seorang ibu yang tinggal di kampung itu. Ia mempunyai seorang anak perempuan berusia sembilan tahun. Pada suatu hari si ibu hendak pergi ke ladang, sedang anaknya sakit-sakitan. Maka berkatalah ia kepada anaknya:
“Wahai anakku, engkau tinggal di rumah. Jangan keluar sebab badanmu lemah. Ibu pergi sebentar, kelak pulang ibu bawakan buah tepo rungkanang.”
Tetapi si anak menangis, tiada mau ditinggalkan. Namun ibunya tetap berangkat dengan hati waswas, ditemani seekor anjing setia.
Tatkala ibu tiada, menangislah si anak memanggil-manggil ibunya. Suaranya menggema di tebing batu, hingga terdengarlah oleh seorang hantu perempuan tua bernama Nek Bararotn. Ia pun berkata:
“Ahai, mungkinkah itu suara anakku yang hilang dahulu kala?”
Maka timbullah belas kasih dalam hatinya. Nek Bararotn pun memperdaya si anak. Ia membalik mata sang bocah sehingga dirinya kelihatan sebagai ibu yang dicari. Lalu mendekaplah si anak kepada jelmaan hantu itu, tiada mengetahui hakikat yang sebenarnya.
Nek Bararotn pun membawa sang anak naik ke hutan puncak Satime dengan alasan hendak mencari buah tepo rungkanang.
Adapun sang ibu yang di ladang merasa gelisah tiada tentu. Ia melihat burung membawa sehelai kain merah, mirip pakaian anaknya. Maka semakin cemaslah ia, lalu berlari pulang. Alangkah terkejutnya ia, karena anaknya sudah tiada di rumah.
Dengan anjingnya ia menelusuri jejak hingga ke gunung. Di sana ia mendengar tangisan anaknya, namun terhalang oleh wujud menyeramkan Nek Bararotn.
Berkatalah si ibu dengan ratap:
“Wahai nenek, janganlah kau rampas anakku. Ia satu-satunya permata hati. Ambillah apa saja dariku, asal jangan anakku.”
Maka jawab Nek Bararotn:
“Tidak! Anak ini kini milikku, sebab aku pun menyayanginya.”
Lalu keluarlah sulur dan akar-akar kayu dari tubuh Nek Bararotn, melilit tubuh sang anak hingga hampir lemas. Si ibu pun menadahkan tangan, memohon kepada Jubato agar menyelamatkan anaknya.
Maka dengan izin Jubato, luluhlah hati Nek Bararotn. Sulur-sulur pun terlepas, dan sang anak jatuh ke tanah. Kata Nek Bararotn:
“Ambillah batu itu, goreskanlah pada sulurku. Air yang menetes minumkanlah pada anakmu, niscaya sembuh ia.”
Benarlah demikian. Anak itu pun siuman kembali. Nek Bararotn lalu berpesan:
“Bawalah ia pulang, jangan ditinggalkan lagi. Jika kelak kalian butuh pertolongan, datanglah kepadaku. Aku akan membantu.”
Maka sang ibu pun membawa pulang anaknya dengan penuh syukur, mengucap terima kasih kepada Jubato yang telah melembutkan hati hantu tua itu.
Sejak waktu itu, tiadalah lagi si ibu meninggalkan anaknya seorang diri. Mereka hidup dengan kasih sayang, dan sesekali pergi ke puncak gunung mengambil air akar Nek Bararotn untuk obat bagi orang sakit.
Maka jadilah kisah ini tanda ingat bagi segala manusia: janganlah meninggalkan anak kecil sendirian, serta yakinlah bahwa kasih seorang ibu dan doa yang tulus dapat mengalahkan kekuatan gaib yang sekeras apa pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar