Selasa, 28 April 2026

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

 

Alamku Singkawang

Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja
Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur
Angin berbisik lembut, seolah mengerti rahasia hati
Pantai tersenyum pahit saat manusia datang merusak
Laut berkilau seperti kaca biru yang tak bertepi

Hutan hijau memeluk bumi dengan lengan tak terlihat
Daun menari bagai penari istana di bawah hujan
Sungai membawa cerita sejuta tahun yang tak habis
Singkawang jadi nama yang menggantikan seluruh keindahan
Namun, keindahan itu kadang dilukai oleh tangan sendiri

Gunung Poteng adalah raksasa tua yang menjaga kota
Kabut turun seperti selimut dingin yang memeluk pagi
Burung-burung bernyanyi hingga langit seakan pecah
Pepohonan berbisik lirih saat angin melintas
Kamera jadi saksi bisu keindahan yang sering dilupakan

Pantai Pasir Panjang membentang seperti mimpi tak berujung
Ombak berteriak memecah sunyi berkali-kali
Pasir berbicara lewat jejak kaki yang datang dan pergi
Nama pantai jadi lambang seluruh kenangan indah
Namun, sampah kadang jadi tamu yang tak diundang

Langit Singkawang adalah lukisan yang dilukis dewa
Awan berarak seperti kapal tanpa tujuan
Matahari menyapa pagi dengan senyum hangat
Cahayanya membakar dunia hingga tak terhitung panasnya
Payung jadi penyelamat dari terik yang kejam

Singkawang, engkau permata yang bersinar tanpa henti
Keindahanmu berteriak hingga menembus batas dunia
Alammu hidup, bernapas, dan menjaga setiap insan
Namamu jadi simbol surga kecil di bumi
Namun, manusia sering lupa menjagamu dengan sepenuh hati

Tidak ada komentar:

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...