Selasa, 07 April 2026

Hikayat Nek Busin, Parais yang Berbudi (Cerita Rakyat Pakunam, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat)

 Hikayat Nek Busin, Parais yang Berbudi

Pada zaman dahulu, di sebuah kampung yang bernama Pakunam, maka tersebutlah kisah seorang tua renta yang dikenal oleh orang sekampung sebagai Nek Busin Parais Enyek. Ia seorang penjual anak babi yang hidupnya amat sederhana, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan keikhlasan.

Adapun Nek Busin tiada beristri dan tiada pula beranak. Sejak muda hingga lanjut usia, ia menjalani hidup seorang diri di sebuah rumah tua peninggalan ayahandanya yang telah lama kembali ke pangkuan Jubata. Rumah itu sudah uzur, beratapkan daun yang sering bocor apabila hujan turun, serta berdinding papan yang lapuk dimakan usia. Namun demikian, tiada sekalipun Nek Busin mengeluh akan nasibnya, karena baginya hidup adalah amanah yang harus dijalani dengan sabar.

Maka tiap-tiap pagi sebelum fajar menyingsing, bangunlah Nek Busin dari tidurnya yang sederhana. Setelah berdoa kepada Jubata, ia pun bersiap-siap mengangkat keranjang tuanya yang telah setia menemaninya bertahun-tahun. Di dalam keranjang itu, diletakkannya anak-anak babi yang akan dijualnya ke kampung-kampung sekitar.

Dengan langkah perlahan namun tetap teguh, berjalanlah ia menyusuri jalan tanah yang panjang dan berliku. Dari satu kampung ke kampung lainnya, ia menawarkan dagangannya dengan suara lembut dan penuh kesopanan. Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang jujur dan tidak pernah memaksa pembeli.

Bukan sahaja anak babi yang dijualnya, bahkan ia pun sering membantu jiran tetangganya. Ada yang menitipkan ayam kampung untuk dijual, ada pula yang meminta tolong menjualkan hasil kebun seperti durian, cempedak, langsat, tampui, serta asam kueni. Segala amanah itu diterimanya dengan hati lapang, seolah-olah itu adalah tanggung jawabnya sendiri.

Namun, wahai segala yang mendengar hikayat ini, tidaklah hidup Nek Busin sentiasa berjalan mudah. Maka tersebutlah kisah, beberapa kali ia diperlakukan dengan tidak adil oleh orang yang tidak berhati mulia. Ada yang mengambil barang dagangannya tanpa membayar, ada pula yang berjanji akan membayar kemudian hari, tetapi janji itu tidak pernah ditepati.

Setiap kali ditimpa kejadian demikian, Nek Busin hanya terdiam. Tiada ia mengangkat suara, apalagi membalas dengan kemarahan. Dalam hatinya, ia hanya berkata, “Jubata itu adil adanya. Apa yang hilang daripadaku, kelak akan diganti dengan kebaikan yang lain.” Maka dengan penuh kesabaran, ia kembali melangkah, melanjutkan usahanya tanpa rasa dendam.

Demikianlah hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun terus berlalu. Walaupun hidupnya penuh kekurangan, namun Nek Busin tidak pernah berhenti berbuat baik. Ia tetap membantu orang lain, tetap jujur dalam berdagang, dan tetap bersyukur atas apa yang dimilikinya.

Adapun tentang keluarganya, konon kabarnya ia mempunyai saudara. Akan tetapi, saudara-saudaranya itu kurang peduli terhadap dirinya. Mereka jarang datang menjenguk, apalagi membantu kehidupannya. Namun demikian, Nek Busin tidak pernah menyimpan rasa kecewa. Baginya, setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing.

Ia lebih memilih untuk mengenang ajaran ayahandanya yang dahulu selalu berkata agar hidup dengan jujur, sabar, dan tidak menyusahkan orang lain. Ajaran itulah yang dipegang teguh oleh Nek Busin hingga ke hari tuanya.

Hatta pada suatu masa, orang-orang di kampung mulai melihat ketulusan hati Nek Busin. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana ia tetap bersabar walau sering ditipu, dan tetap membantu walau hidupnya sendiri serba kekurangan. Maka sedikit demi sedikit, tumbuhlah rasa hormat di hati masyarakat terhadap dirinya.

Ada yang mulai membantu memperbaiki rumahnya, ada pula yang dengan jujur membayar lebih atas jasanya. Bahkan orang-orang yang dahulu pernah berbuat tidak adil kepadanya, perlahan-lahan merasa malu dan berusaha memperbaiki kesalahan mereka.

Syahdan, nama Nek Busin Parais Enyek pun menjadi buah tutur di kalangan masyarakat. Ia dikenang bukan karena kekayaan atau kedudukannya, melainkan karena ketabahan, kejujuran, dan kebaikan hatinya yang tiada berbelah bagi.

Maka demikianlah kisah ini dikisahkan kepada segala yang mendengar, agar menjadi teladan dalam menjalani kehidupan. Bahwasanya harta benda bukanlah ukuran utama kebahagiaan, melainkan kesabaran, keikhlasan, serta keyakinan kepada keadilan Jubata.

Barang siapa yang tetap berbuat baik dalam kesempitan, niscaya akan dimuliakan pada waktunya. Dan barang siapa yang bersabar atas ujian hidup, maka hatinya akan menjadi terang, serta hidupnya diberkahi oleh Yang Maha Kuasa.

Tamatlah hikayat Nek Busin Parais Enyek, si penjual babi yang tabah lagi berbudi, menjadi pelajaran berharga bagi segala generasi yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Hikayat Nek Mincai Ngan Jaéje (Cerita Rakyat Dayak Salako Sakawokng, Singkawang, Kalimantan Barat)

  Hikayat Nek Mincai Ngan Jaéje Sakawokng merupakan sebuah wilayah di Pulau Kalimantan yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang indah...