Hikayat Beras Kuning
Alkisah di sebuah negeri di tepian hutan Kalimantan Barat, hiduplah seorang lelaki sederhana bernama Duog. Ia bukan orang kaya, bukan pula bangsawan. Ia hanya seorang guru yang hidup dari rezeki secukupnya. Namun, Duog memiliki hati luas bagai samudera.
Dalam kasihnya, ia menampung seorang anak muda bernama Juhok, yang dahulu berasal dari panti asuhan. Juhok diperlakukan layaknya anak kandung. Dengan segala keterbatasan, Duog rela bangun dini hari, menyiapkan santapan, mengantar, dan menjemput Juhok agar dapat bekerja di sebuah hotel di Singkawang. Bahkan isi celengan kecilnya habis demi membeli bensin.
Namun kasih yang berlebih kadang menjelma luka. Juhok mulai berubah hati. Ia enggan dinasihati, lebih suka bergaul dengan kawan barunya, Gumok, seorang sahabat dari tempat kerjanya. Kata-kata kasar pun kerap keluar dari mulutnya.
Pada suatu malam, ketika hujan rintik membasahi bumi, Juhok datang ke rumah Duog hanya untuk mengembalikan barang pinjaman. Saat dipanggil penuh rindu, ia menolak singgah. Terjadilah perselisihan: perebutan kunci motor, kata-kata pedas, dan tangisan pilu.
Dalam kepedihan itu, Duog mengambil beras kuning—lambang doa dan penolak bala dalam adat. Ia menaburkannya ke udara, ke tanah, bahkan ke atas kepala Juhok, dengan harapan roh jahat pergi dan semangat kebaikan kembali. Tetapi Juhok justru semakin murka, bahkan mengancam melempar batu.
Melihat kegaduhan itu, tetangga mereka bernama Tatamo keluar menenangkan. Juhok pun akhirnya pergi bersama Gumok menuju Singkawang, meninggalkan Duog yang hancur hatinya.
Air mata Duog bercucuran, menyesali kasih sayang yang tak dihargai. Ia
teringat pesan orang bijak:
“Tidak semua yang kau rawat akan menjadi bunga, ada pula yang berubah
menjadi duri.”
Sejak malam itu, Duog bersumpah tidak lagi mudah menampung anak yang hanya menjadikan belas kasih sebagai batu loncatan. Namun, meski luka, ia tetap berdoa agar suatu saat Juhok menemukan jalan kebaikan.
Maka kisah itu dikenang orang dengan nama “Tragedi Beras Kuning”, sebuah pelajaran dari bumi Kalimantan Barat tentang kasih, pengorbanan, dan kekecewaan. Hingga kini, siapa pun yang mendengar kisah ini diajarkan untuk menimbang kasih dengan bijak, agar cinta tidak berubah menjadi pedih, dan pengorbanan tidak menjadi sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar