Minggu, 21 September 2025

Hikayat Tragedi Mandor di Tanah Kalimantan Barat

 

Hikayat Tragedi Mandor di Tanah Kalimantan Barat

Hatta, maka tersebutlah suatu kisah di tanah Kalimantan Barat, pada zaman tatkala bala tentara Dai Nippon datang menyerang pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua. Syahdan, negeri itu pun jatuh ke bawah kuasa mereka. Maka diperintahnya rakyat dengan hukum yang zalim lagi bengis, tiada memberi ampun kepada orang banyak.

Adapun segala raja Melayu, orang Tionghoa, Dayak, serta alim ulama, merasa dukacita hatinya, sebab hasil bumi dirampas, kerja paksa dituntut, dan adat istiadat tiada lagi diberi tempat. Maka bangkitlah bisikan perlawanan dalam hati rakyat, meski hanyalah dalam diam, umpama api kecil dalam sekam.

Hatta, tentara Nippon pun curiga akan adanya muslihat rakyat, maka ditangkapnyalah segala tokoh dan orang kebanyakan. Tiada dipandang apakah ia raja, guru, pedagang, atau rakyat jelata, semuanya diseret ke hutan Mandor. Maka disiksanya dengan azab yang kejam, lalu dibunuh beramai-ramai, sehingga tanah Mandor basah oleh darah para syuhada.

Maka tersebutlah bilangan orang yang menjadi korban mencapai dua puluh satu ribu jiwa, tiada terhitung banyaknya. Semua kembali ke hadirat Ilahi dalam kesyahidan, meninggalkan duka yang tiada terkira. Kuburan massal pun menjadi saksi bisu akan kezalimannya bangsa penjajah itu.

Adapun rakyat yang masih hidup, meski dalam kesempitan, tetap menolong sesama, melindungi keluarga korban, bahkan menyampaikan kabar ke luar negeri. Maka meskipun senjata tiada ada, tekad hati mereka teguh tiada tergoyahkan.

Syahdan, setelah tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, tatkala bala Nippon menyerah kalah, rakyat Kalimantan pun kembali ke Mandor, menggali kuburan massal itu. Maka ditetapkannya tanggal dua puluh delapan bulan Jun setiap tahun menjadi Hari Berkabung Daerah, tanda kasih kepada segala arwah yang telah syahid.

Hatta, kemudian dibangunkanlah Taman Makam Juang Mandor, tempat orang berziarah dan mengambil pengajaran. Adapun hikayat ini menjadi tamsil ibarat, bahwa kezalimannya penjajah tiada membawa kekekalan, melainkan menumbuhkan semangat rakyat untuk menegakkan kemerdekaan, keadilan, dan kedamaian.

Maka hendaklah segala anak cucu negeri ini mengambil iktibar, supaya jangan sekali-kali lupa akan darah yang tertumpah di bumi Mandor. Demikianlah hikayat yang empunya cerita.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...