Hikayat Taomah di Negeri Salako
Syahdan, maka tersebutlah suatu kisah di negeri Salako, negeri yang penuh gemerlapan emas dan perak, adapun rajanya bergelar Sultan Mulia Indra Perkasa. Negeri itu tiada pernah surut akan kemegahan, segala rakyat hidup dalam naungan payung mahkota, aman damai tiada berbantah.
Maka pada suatu hari, datanglah seorang hulubalang yang bernama Panglima Ratna Jaya. Adapun panglima itu tiada setia akan titah raja, melainkan dengki kepada sahabatnya sendiri, seorang bendahara negeri yang amat masyhur kebijaksanaannya, bernama Bendahara Seri Utama.
Sebermula, oleh sebab dengki itulah, Panglima Ratna Jaya memfitnah Bendahara Seri Utama kepada Baginda Sultan. Katanya: "Ya tuanku yang maha mulia, adapun Bendahara Seri Utama itu telah menyalahi titah, tiada ia amanah, bahkan ia sembunyikan emas negeri untuk dirinya seorang jua."
Maka titah Sultan Mulia Indra Perkasa: "Benarkah demikian halnya, hai Bendahara Seri Utama?"
Maka sembah Bendahara: "Ampun tuanku beribu ampun, patik tiada berdusta, bahkan fitnah semata-mata daripada hamba tuanku, Panglima Ratna Jaya itu."
Hatta, maka segala menteri pun berundinglah. Adapun hukum adat Salako menetapkan, barang siapa menuduh orang lain dengan fitnah tanpa bukti, niscaya dikenakan hukuman tiga tahil tangah, dan disebut oleh segala orang "Taomah".
Maka baginda pun murka, lalu bersabda: "Adapun Panglima Ratna Jaya ini telah mengaibkan sahabatnya dengan fitnah. Maka hendaklah diturunkan segala pangkat dan darjatnya, dikenakan hukuman tiga tahil tangah, supaya menjadi pengajaran sekalian rakyat."
Tatkala itu, datanglah kejadian ajaib. Langit yang cerah tiba-tiba bertukar gelap, petir menyambar bumbungan istana, dan seekor naga sakti turun dari kayangan. Syahdan, naga itu bernama Naga Kertaningrat, penjaga adat Salako. Maka titah naga: "Barang siapa menyalahi hukum adat, tiada akan selamat hidupnya di dunia dan akhirat."
Maka segala rakyat pun takjub dan gentar. Sebermula, Panglima Ratna Jaya pun insaf akan dosanya, lalu sujud menangis, serta memohon ampun.
Maka akhir kisah, ia menerima hukuman sebagaimana adat, tiga tahil tangah, dan setelah itu hilanglah ia dari negeri, ghaib entah ke mana.
Maka tersebutlah, sejak zaman itu, barang siapa memfitnah, niscaya disebut orang "Taomah", dan dikenakan hukum yang setimpal, sebagaimana wasiat adat leluhur Dayak Salako.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar