Hikayat Bayu Kanangga Raya
Sebermula, adalah sebuah negeri besar di tanah rimba Kalimantan Barat, bernama Negeri Kayangan Rimba, diperintah oleh seorang raja bergelar Sri Maharaja Sakti Alam Dirgantara, terlalu adil, masyhur seantero pulau. Baginda bersemayam di istana emas, dikelilingi hulubalang dan menteri bijaksana.
Syahdan, pada suatu hari, gemparlah negeri kerana seorang putri bangsawan bernama Putri Kanangga Raya jatuh sakit tenat. Putri itu terlalu molek parasnya, bagai bidadari turun dari kayangan. Namun takdir berkata lain, ia meninggal dunia sebelum sempat melahirkan anaknya. Maka dukacitalah seisi negeri, kerana putri itulah cahaya penyejuk hati baginda.
Maka menurut adat negeri, barang siapa mati tiada sempat melahirkan, jiwanya menempuh perjalanan panjang menuju alam baka. Roh putri disebut orang menempuh jalan Pan Bagongeng Bathiang Tunggal, jalan gaib yang penuh duri dan jurang.
Syahdan, roh Putri Kanangga Raya berangkat diiringi tangisan dayang dan bunyi gong kematian. Dalam perjalanan, ia sampai ke Palis Kepanca Bagongeng Bathiang, tiang raksasa yang menjulang ke langit. Barang siapa hendak melewati, harus menyerahkan adat berupa manik dan gong tembaga.
Syahdan, ketika roh putri sampai di kaki pohon durian besar yang berduri tajam, muncullah makhluk penjaga bernama Sang Nyuba Rang, wajahnya seram, matanya menyala merah. Maka katanya,
“Hai Putri Kanangga Raya, tiadalah engkau boleh melintas jika tiada membayar adat jiwa. Serahkanlah adatmu, supaya jalanmu terbuka.”
Maka roh putri menyerahkan harta gaib berupa manik raja berlapis tujuh yang dahulu diselipkan ibunya saat upacara kelahiran. Maka dibukalah jalan, lalu ia melintas dengan selamat.
Syahdan, setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah Putri Kanangga Raya di negeri arwah. Roh leluhur menyambutnya dengan tari dan tabuhan gong. Maka tenanglah ia bersemayam di alam baka, menjadi pelindung bagi negeri Kayangan Rimba.
Hingga kini, orang tua-tua di Kalimantan Barat selalu menceritakan kisah Putri Kanangga Raya sebagai pengingat, bahawa hidup hanyalah perjalanan, dan adatlah yang mengiringi jiwa menuju akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar