Senin, 15 September 2025

Cerita Rakyat Singkawang "Mo Nyi Kung: Kisah Ambot dan Loson."

 

Mo Nyi Kung: Kisah Ambot dan Loson

Di sebuah kampung Dayak Salako yang dikelilingi hutan rimba dan aliran sungai jernih, hidup dua keluarga yang awalnya akrab: Ambot bersama istrinya Numpang, serta Loson dengan istrinya Tarukun. Mereka sering bekerja bersama, menugal padi di ladang, dan bergotong royong membangun rumah.

Namun, persaudaraan mereka pecah karena sebuah pohon durian tua yang tumbuh di batas kebun. Ambot bersikeras bahwa pohon itu ditanam oleh ayahnya, sementara Loson menganggap pohon itu tumbuh di tanah warisan keluarganya. Perselisihan kecil ini berubah menjadi bara yang lama terpendam.

Ketika musim durian tiba, perselisihan itu meledak. Suatu sore, Ambot memungut buah yang jatuh. Loson datang dengan pisau di tangannya. Kata-kata keras berbalas teriakan, lalu berujung pada perkelahian. Dalam amarah yang tak terkendali, Loson menebas telinga Ambot hingga putus. Darah mengucur deras, Ambot jatuh menahan perih, sementara orang sekampung segera berdatangan.

Sejak hari itu, Ambot dijuluki “Mo Nyi Kung”, si telinga putus. Julukan itu bukan sekadar sebutan, melainkan pengingat pahit akan akibat buruk dari kekerasan.

Melihat kekacauan itu, Pensen—abang dari Ambot sekaligus kakak Tarukun—maju menengahi. Dengan suara lantang ia berkata,
“Loson, kau telah melukai darah dagingmu sendiri. Kau merusak tubuh Ambot, juga merusak hati kampung ini. Adat kita mengajarkan damai, bukan dendam.”

Warga sepakat untuk menggelar musyawarah adat di rumah balai. Malam itu, lampu minyak dinyalakan, gong dipukul perlahan, dan para tetua duduk berderet dengan pakaian adat. Seekor babi diikat di halaman sebagai bagian dari denda adat. Beras dan kain juga disiapkan sebagai tanda ganti rugi.

Loson dibawa masuk, wajahnya tertunduk. Tarukun menangis tersedu, sementara Numpang duduk di sisi Ambot yang masih berbalut luka. Di hadapan seluruh warga, Loson dipaksa berdiri dan memohon maaf.
“Aku hilang kendali, aku telah salah. Ampunilah aku, Ambot, ampunilah aku, warga kampung,” katanya lirih.

Ambot, dengan hati besar, menjawab,
“Aku terluka, tapi aku tidak ingin dendam. Biar adat yang menimbang, biar kampung yang menjaga.”

Tetua adat lalu memimpin doa, memohon kepada Jubata (Tuhan) agar kampung dibersihkan dari amarah dan kebencian. Babi pun dipersembahkan, darahnya diteteskan ke tanah sebagai lambang penyucian. Semua warga kemudian makan bersama sebagai tanda berakhirnya permusuhan.

Sejak peristiwa itu, masyarakat kampung selalu mengingat kisah Mo Nyi Kung. Mereka menasihati anak-anak agar jangan senang membuat kerusakan terhadap orang lain. Sebab, kekerasan tidak hanya meninggalkan luka pada tubuh, tetapi juga merusak ikatan persaudaraan, adat, dan iman yang mereka junjung.

Pohon durian hanyalah buah musiman, tetapi kerukunan adalah harta sejati. Itulah warisan yang harus dijaga, agar kampung tetap damai di bawah lindungan Jubata.

Sumber: Kinoh binti Syf. Usup Nyabukng 

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...