Pajak Naik, Dompet Menjerit
Suatu pagi, Pak RT mengumumkan kabar gembira—setidaknya menurut beliau. “Mulai bulan depan, pajak naik!” katanya dengan senyum lebar. Warga yang sedang sarapan langsung tersedak, ada yang tercecer nasi, ada yang nyaris menelan sendok.
“Pak RT, kalau pajak naik, gaji
kami juga ikut naik, kan?” tanya Bu Siti polos.
Pak RT tersenyum lagi. “Naik... doa dan kesabarannya.”
Warga pun kompak protes. Ada yang membawa poster bertuliskan, “Kami lapar, bukan kaya!”. Ada juga yang nekat berorasi, “Kalau pajak naik terus, jangan salahkan kami kalau besok bayar pakai receh seratus perak!”
Akhirnya, Pak RT kebingungan. “Ya sudah, kalau begitu kita buat jalan tengah. Pajak tetap naik... tapi kita kasih diskon 10% buat yang bayar sambil tersenyum.”
Mendengar itu, warga serentak tertawa getir. Ternyata di negeri ini, senyum juga bisa jadi alat politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar