Selasa, 23 September 2025

Hikayat "Nek Kelok Sang Pamane" cerita dari Singkawang, Kalimantan Barat

 

Hikayat Nek Kelok Sang Pamane

Alkisah, pada zaman dahulu di Kampung Pasi, hiduplah seorang lelaki bernama Nek Kelok. Nama itu diberi oleh ibunya karena alisnya berkelok-kelok tatkala ia baru lahir ke dunia.

Adapun Nek Kelok ialah seorang lelaki rajin lagi giat bekerja. Segala pekerjaan halal dikerjakannya, dan ia pun masyhur sebagai seorang Pamane, yakni tabib sakti yang mampu menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang yang telah mati. Tetapi bukan emas atau beras yang dimintanya, melainkan hanya sebatang jarum atau paku, tanda penolak penyakit agar tidak kembali kepada orang yang diobatinya.

Syahdan, pada suatu pagi, Nek Kelok bersama istrinya menilik pekarangan rumahnya yang luas. Banyaklah tumbuh di sana pohon obat, antara lain karinapat, kaimabo, sakok, pudare, hingga tepok parangkok. Berkatalah istrinya:

“Wahai, apa khasiat tumbuhan karinapat ini?”

Jawab Nek Kelok:

“Akarnya untuk obat sakit kuning, daunnya bermanfaat sebagai rempah, bunganya untuk penurun panas.”

Maka mengertilah istrinya, lalu berkata hendak memasak ayam dengan daun karinapat bagi suaminya kelak.

Setelah itu, mereka duduk di serambi, menikmati kopi dan kue jaepan. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki memanggil dari kejauhan, meminta pertolongan:

“Oo Nek Kelok, anakku sakit keras di Kampung Sombang. Sudah dua pekan ia terbaring. Kumohon engkau datang.”

Dengan ramah Nek Kelok menyahut:

“Baiklah, aku akan berangkat. Namun kesembuhan hanyalah milik Tuhan, manusia hanyalah perantara.”

Maka dipersiapkanlah ramuan-ramuan oleh istrinya. Sebelum berangkat, Nek Kelok membaca puisi lama dalam bahasa Badameo, doa penolak bala, lalu berjalanlah ia bersama lelaki itu menuju Kampung Sombang, di balik Bukit Siasin.

Perjalanan itu panjang dan berat: melewati rawa-rawa, mendaki bukit berbatu, menahan haus dan lapar. Hingga sampailah mereka di kampung keramat yang sunyi. Disambutlah mereka oleh seorang wanita setengah baya, ibu dari anak yang sakit. Dengan tangis ia berkata:

“Tolonglah anakku, Nek Kelok. Ia muntah darah, matanya kuning, tubuhnya lemah, tiada mau makan dan minum.”

Maka dibawalah Nek Kelok ke kamar anak itu. Tampaklah seorang bocah dua belas tahun, pucat terbaring di atas gagadok pandan. Nek Kelok duduk di sampingnya, membakar dupa, membaca doa, lalu berkomunikasi dengan roh yang menguasai tubuh si anak.

Tiba-tiba muncullah makhluk gaib, rambut menjuntai, muka pucat, kuku panjang. Katanya:

“Aku tidak mau meninggalkan anak ini. Ia santapanku!”

Tetapi Nek Kelok menjawab lantang:

“Selama aku ada, tidak kubiarkan engkau merenggut nyawanya. Engkau bukan penguasa kehidupan. Tinggalkanlah ia!”

Maka terjadilah percakapan gaib yang panjang. Akhirnya roh itu mengaku, bahwa orangtua anak itu telah merusak tempat ia bersemayam ketika membuka lahan. Karena sakit hati, ia pun mengganggu sang anak.

Berkata Nek Kelok:

“Jika demikian, aku akan menasihati mereka. Tetapi engkau harus melepaskan anak ini.”

Jawab sang roh:

“Baik, tetapi sampaikan kepada manusia: jangan merusak pohon besar, batu keramat, hutan, sungai, tebing, jurang, gunung, karena itulah tempat kami berdiam. Jika tempat kami dihancurkan, bangsa kalian pun akan terganggu.”

Setelah itu roh pun pergi. Maka bangunlah sang anak, lalu berkata lemah:

“Bu, aku lapar.”

Menangislah ibunya karena bahagia. Segera diberinya anak itu makan, dan wajahnya kembali berseri.

Syahdan, sejak hari itu, orangtua anak itu dan segenap penduduk kampung berjanji menjaga alam, tidak merusak tempat gaib, agar jangan lagi diganggu makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia.

Maka termasyhurlah nama Nek Kelok, tabib yang sakti dan berhati ikhlas, sebagai penolong manusia dan pengingat agar manusia hidup selaras dengan alam.

 

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...