Minggu, 28 September 2025

Hantu Pemuang dari Sungai Kapuas

 

Hantu Pemuang dari Sungai Kapuas

Di tepi Sungai Kapuas, ada sebuah kampung yang kini tinggal puing-puing. Orang-orang percaya kampung itu musnah karena melanggar adat pemuang. Malam hari, jika angin bertiup dari arah hutan, terdengar suara tangis perempuan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dahulu, seorang lelaki bernama Sambang menceraikan istrinya, Jelima, tanpa menunaikan kewajiban adat. Padahal, menurut aturan leluhur, bila suami menceraikan istri, ia harus membayar adat pemuang berupa empat real promas, bahkan menambah adat hamil jika istrinya sedang mengandung. Namun, Sambang menolak. Ia rakus, serakah, dan merasa lebih berkuasa dari aturan leluhur.

Jelima yang hamil diusir ke hutan dengan tangisan. Dalam keputusasaan, ia bersumpah:

“Siapa pun lelaki yang menolak adat, aku akan menuntut darahnya. Aku akan kembali bersama anakku, bukan sebagai manusia… tapi sebagai kutukan!”

Tak lama setelah itu, terdengar jeritan panjang di tengah hutan. Sambang dan kampungnya mengira Jelima sudah mati. Namun sejak malam itu, setiap kali ada orang melanggar adat, kabut aneh turun dari sungai, membawa suara tangis yang membuat semua orang membeku ketakutan.

Warga mulai bercerita tentang penampakan perempuan berambut panjang, tubuhnya kurus, dan perutnya tetap buncit seperti orang hamil. Matanya merah menyala, dan ia sering muncul di tepi sungai sambil membawa segenggam koin perak.

“Bayarlah adatku…” bisiknya kepada siapa saja yang berani mendekat.

Orang-orang yang melihatnya tidak pernah hidup lama. Sebagian ditemukan dengan wajah membiru, mulut terbuka seperti berteriak. Sebagian lagi hilang tanpa jejak, hanya meninggalkan bekas telapak kaki basah menuju sungai.

Sampai sekarang, Hantu Pemuang dipercaya masih berkeliaran. Ia menampakkan diri terutama kepada lelaki yang suka mempermainkan perempuan atau ingkar janji. Banyak kisah nelayan yang mendengar tangisan dari balik kabut sungai. Ada pula orang yang menemukan koin tua berwarna perak di perahu mereka, lalu jatuh sakit parah keesokan harinya.

Tetua adat berpesan,

“Jika mendengar tangis di tepi sungai, jangan menoleh. Jika menemukan koin perak, jangan diambil. Itu tanda Hantu Pemuang sedang mencari korban.”

Legenda ini membuat masyarakat di tepi Kapuas selalu menghormati adat pemuang. Mereka percaya, adat bukan sekadar aturan, melainkan pagar gaib yang menjaga keseimbangan. Siapa pun yang berani melanggar, akan berhadapan dengan Jelima, sang Hantu Pemuang, yang masih menunggu pembayaran adatnya di alam baka.

Dan hingga hari ini, jika kau berdiri di tepi Kapuas saat kabut turun, berhati-hatilah. Mungkin suara tangisan itu bukan hanya angin. Mungkin, ia sedang mencarimu.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...