Senin, 29 September 2025

Hikayat Puteri Bunga Emas

 

Hikayat Puteri Bunga Emas

Sebermula, maka adalah sebuah negeri di bawah angin, negeri itu terlalu besar, indah permai, lagi makmur adanya. Negeri itu bernama Negeri Seri Alam, diperintah oleh seorang raja yang gagah perkasa lagi adil saksama, bernama Sultan Iskandar Syah. Adapun baginda bersemayam di sebuah istana bertatahkan emas permata, beratapkan perak suasa, tiang-tiangnya daripada kayu cendana, dan lantainya daripada kaca yang jernih tiada bandingannya.

Syahdan, pada tiap-tiap pagi maka segala rakyat jelata pun berhimpunlah di balairung seri, menunggu titah baginda. Maka segala menteri, hulubalang, panglima, dan bentara pun duduklah bersaf-saf menghadap raja. Adapun Sultan Iskandar Syah terlalu arif dalam hukum, lagi pemurah pada rakyatnya, maka amanlah negeri Seri Alam di bawah lindungan baginda.

Adapun baginda mempunyai seorang puteri, terlalu elok parasnya tiada taranya. Puteri itu dinamai orang Puteri Bunga Emas, karena tiap langkahnya mengeluarkan cahaya keemasan, hingga segenap istana berkilau-kilauan serupa sinar mentari pagi. Hatta, barang siapa memandang wajah puteri itu, nescaya hilanglah dukacita di hatinya, seolah-olah melihat cahaya syurga.

Maka setiap malam, Puteri Bunga Emas duduklah di taman istana, dikelilingi bunga mawar dan melati, sambil ditemani dayang-dayang. Syahdan, tatkala ia berjalan di antara bunga-bungaan, keluarlah bunyi yang merdu, seakan-akan bunyi seruling dan gendang yang mengiringinya.

Hatta, tersebutlah kisah pada suatu hari, datanglah suatu alamat besar. Langit menjadi gelap, angin pun bertiup kencang, laut bergelora serupa ombak gunung. Maka kelihatanlah seekor naga dari laut dalam, terlalu besar tubuhnya, sisiknya berkilat bagaikan besi, matanya merah menyala serupa bara api. Naga itu bernama Naga Sembilan Kepala, terlalu garang lagi menakutkan.

Syahdan, naga itu pun terbanglah menuju Negeri Seri Alam, suaranya bergemuruh sehingga segenap istana pun bergetar. Maka rakyat pun lari bertempiaran, anak-anak menangis, segala binatang di rimba pun melarikan diri. Maka gemparlah seluruh negeri.

Maka baginda pun menitahkan segala hulubalang dan panglima turun ke medan, melawan naga itu. Segala hulubalang pun lengkaplah dengan persenjataan, keris panjang, tombak berkilat, dan perisai bertatahkan emas. Maka berpestalah mereka di medan, tetapi seorang pun tiada dapat mengalahkan naga itu. Barang siapa mendekati, disambar oleh sayap naga, lalu terhempas hancur luluh di bumi.

Adapun Sultan Iskandar Syah terlalu dukacita melihat hulubalangnya binasa. Maka baginda pun berkata, “Apalah ikhtiar kita hendak mengalahkan naga yang terlalu sakti ini?”

Sebermula, maka Puteri Bunga Emas pun berdiri di tengah balairung seri, sembah kepada ayahanda baginda, katanya, “Daulat tuanku, hamba pohon izin hendak turun ke medan. Mudah-mudahan dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala, naga itu dapat ditundukkan.”

Maka baginda pun terdiam, terlalu kasih akan puterinya itu. Tetapi melihat tiada jalan lain, maka diizinkanlah jua.

Syahdan, Puteri Bunga Emas pun keluarlah dari istana, berpakaian baju sutera bertabur permata, di tangannya membawa sebuah jambangan berisi bunga emas. Tatkala ia berjalan, keluarlah cahaya dari tubuhnya, sehingga seluruh rakyat berhenti dan memandang penuh takjub.

Maka tibalah ia di hadapan naga yang mengamuk itu. Syahdan, Puteri Bunga Emas pun menaburkan bunga emas dari jambangan. Ajaib sekali, bunga itu pun terbang di udara, lalu berubah menjadi burung-burung emas yang berkicau terlalu merdu. Maka naga itu pun terpesona mendengar kicauan burung emas, matanya pun terpejam, dan ia pun tertidur seribu tahun lamanya.

Hatta, maka amanlah kembali Negeri Seri Alam. Segala rakyat pun bersorak gembira, mengucap syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Maka Sultan Iskandar Syah pun menitahkan sebuah taman bunga dibangun bagi puterinya, tempat segala bunga emas dan perak ditanam, supaya menjadi tanda kenangan akan kebesaran puteri itu.

Adapun Puteri Bunga Emas tinggal di istana, tiada pernah keluar dari taman itu, hingga masyhur ceritanya ke segenap negeri. Segala raja di bawah angin pun mendengar khabar itu, maka masing-masing ingin meminang puteri tersebut. Maka datanglah utusan dari negeri-negeri besar, membawa persembahan emas, permata, dan gajah-gajah putih, hendak meminang Puteri Bunga Emas.

Tetapi Puteri Bunga Emas tiada berkehendak bersuami, hanya duduk dalam taman bunga, memandang bunga-bungaan, bercakap-cakap dengan burung emas yang diciptakannya. Maka segala pinangan itu ditolak halus oleh Sultan Iskandar Syah, karena kasih baginda terlalu besar akan anakandanya itu.

Syahdan, berlalulah masa, Puteri Bunga Emas tetaplah demikian keadaannya, tiada berubah. Tiap malam ia menaburkan bunga emas ke angkasa, hingga sinarnya menyinari seluruh negeri. Maka rakyat pun berbahagia, karena percaya bahwa negeri itu tiada akan diganggu lagi oleh segala makhluk jahat.

Adapun naga yang tertidur itu tetaplah di laut dalam, tiada bergerak, kerana sudah termeterai oleh bunga emas Puteri Bunga Emas. Maka selama seribu tahun, naga itu tiada bangun.

Maka inilah hikayat yang dikarang oleh orang dahulu kala, tiada diketahui siapa pengarangnya. Disalin daripada mulut ke mulut, menjadi cerita penglipur lara, penghibur hati segala rakyat jelata.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...