Hikayat Niyayi Tawa
Alkisah, pada tanah Jawa yang subur makmur, tatkala kehidupan manusia berpadu erat dengan roh alam, terdapatlah seorang hantu perempuan yang bukan pengganggu, melainkan pelindung. Ia dinamai Niyayi Tawa, atau dikenal pula sebagai Niyayi Tawang.
Rupa Niyayi Tawa konon menyerupai perempuan sepuh, berwajah lebar, tubuhnya kurus renta, namun matanya menyiratkan kasih sayang yang tak terperi. Walau demikian, ia tiada menampakkan diri sembarangan. Hanya mereka yang beroleh restu, atau mereka yang tekun memberi sesaji, dapat merasakan keberadaannya.
Perempuan Jawa percaya, Niyayi Tawa bersemayam di dapur, tempat api menyala dan periuk beras mendidih. Barang siapa hendak memasak, acap kali memanggil namanya dengan lirih: “Niyayi Tawa, berkahilah masakan hamba, janganlah gosong, janganlah api padam.” Maka, entah mengapa, kayu bakar yang semula redup akan menyala kembali, periuk pun mendidih dengan tenang, masakan harum tanpa hangus. Demikianlah keajaiban yang diyakini lahir dari restu sang hantu penjaga dapur.
Namun, kehadirannya tiada boleh disepelekan. Pada tiap malam Jum’at, masyarakat desa wajib memberi sesaji berupa kembang wangi. Bersama itu, dilakukanlah ritual menggosok peralatan dapur dengan borch—serbuk pemutih tradisional—agar periuk dan kuali berkilau bersih. Semua itu sebagai tanda penghormatan kepada Niyayi Tawa, sebab tiada dapur yang terpelihara tanpa doa, dan tiada api yang abadi tanpa restu roh penjaga.
Sekali dalam setahun, diadakan pula upacara besar untuknya. Pada hari itu, para perempuan desa menyiapkan sesajen berupa nasi, lauk-pauk, dan kue tradisi. Di tengah dapur, dibuatlah boneka sederhana: sebatang tangkai dipancang, lalu batok kelapa ditaruh di atasnya. Batok itu digambari mata, hidung, dan telinga dengan bedak putih. Boneka itu kemudian dipanggil-panggil dengan sebutan “Niyayi Tawa… Niyayi Tawa…”, digoyang-goyangkan seolah hidup.
Setelah sesaji disuguhkan, perempuan desa makan bersama, namun diyakini bahwa Niyayi Tawa turut hadir, ikut serta mencicipi makanan lewat rasa yang makin nikmat. Bagi mereka, dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan pusat kehidupan rumah, lambang kesejahteraan, dan Niyayi Tawa adalah rohnya.
Konon, ada kisah yang sering dituturkan orang tua kepada cucu-cicit.
Pada suatu masa, hiduplah seorang istri petani bernama Ratri. Ia rajin memasak, namun selalu dirundung celaka: nasi kerap gosong, sayur sering tawar, api cepat padam. Sang suami murka, berkata bahwa Ratri tiada becus mengurus dapur. Dengan hati sedih, Ratri mengadu kepada tetua desa.
Tetua itu tersenyum arif, lalu berkata: “Engkau lupa memberi hormat kepada Niyayi Tawa. Dapur bukanlah tempat kosong, melainkan bertuan. Berilah ia sesaji, maka api akan taat kepadamu.”
Maka Ratri pun menyiapkan bunga kenanga, melati, dan mawar, diletakkan di sudut dapur. Ia menggosok periuk dan kuali dengan borch hingga berkilau, sembari berdoa: “Niyayi Tawa, terimalah persembahan hamba, jangan biarkan masakan hamba gagal.”
Ajaib, semenjak itu, nasi Ratri tak pernah gosong lagi, api selalu menyala terang, bahkan suaminya berkata, “Masakanmu kini lebih nikmat daripada sebelumnya.” Maka sejak saat itu, Ratri tiap malam Jum’at tak lupa memberi kembang, dan tiap tahun turut dalam upacara penghormatan.
Hikayat ini menjadi pelajaran bagi seluruh desa: bahwa masakan yang baik bukan hanya soal tangan yang cekatan, tetapi juga hati yang penuh hormat kepada roh penjaga.
Niyayi Tawa tiada pernah menakutkan, tiada pula menyesatkan. Ia adalah pengingat bahwa rumah tangga harus dijaga dengan kesabaran, kesucian, dan rasa syukur. Sebab dapur adalah lambang hidup: api menyala bagai semangat, periuk mendidih bagai rezeki, dan wangi masakan bagai kebahagiaan yang menyatukan keluarga.
Maka, siapa pun yang tinggal di tanah Jawa, apabila mendengar kisah Niyayi Tawa, hendaklah ia tersenyum penuh hormat. Janganlah meremehkan dapur, sebab di sanalah roh baik bersemayam, menjaga kehidupan agar tiada padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar