Hikayat Cikal Bakal di Pulau Kalimantan
Syahdan, pada zaman yang telah lalu, tatkala bumi Kalimantan masih berhias hutan rimba nan lebat serta sungai-sungai yang deras alirannya, maka tersebutlah sebuah negeri kecil di tepian sungai Mahap. Negeri itu belumlah mempunyai nama, karena tiada siapa yang menguasainya. Adapun penduduknya hanyalah sekumpulan orang dagang yang berpindah-pindah mencari tempat tinggal yang aman.
Hatta, pada suatu malam, datanglah seorang tua yang tiada dikenal asal usulnya. Rambutnya putih bagai kapas, matanya bercahaya seperti bintang kejora, dan tutur katanya halus lagi berwibawa. Maka orang tua itu berkata kepada para penduduk, “Hai segala manusia, janganlah kamu ragu lagi, karena akulah Cikal Bakal yang akan mendirikan desa ini. Barang siapa bernaung di bawah lindungan namaku, niscaya selamatlah ia daripada mara bahaya.”
Maka taksirlah segala orang akan kesaktian orang tua itu, karena tatkala ia menancapkan tongkatnya ke bumi, keluarlah mata air yang jernih, mengalir deras bagai perak yang memantulkan cahaya bulan. Maka air itu tiadalah pernah kering sekalipun musim kemarau panjang.
Adapun semenjak hari itulah desa itu pun mulai ramai. Sawah ladang menjadi subur, hutan memberi hasil, dan sungai penuh dengan ikan. Segala penduduk pun percaya, tiadalah kekuatan mereka sendiri yang menjadikan makmur, melainkan berkat penjagaan Cikal Bakal yang gaib lagi sakti.
Syahdan, Cikal Bakal itu tiada pernah kelihatan wujudnya sesudah pertemuan pertama. Akan tetapi, tiap orang yang bermimpi, niscaya bertemu dengan bayang-bayangnya memberi pesan. Jika ada bala hendak datang, seperti banjir besar atau serangan musuh, maka terdengarlah suara ghaib di telinga penduduk, memperingatkan supaya mereka berhati-hati. Dengan demikian, banyaklah bencana dapat dielakkan.
Hatta, tatkala seorang raja dari kerajaan tetangga hendak meluaskan kuasanya ke negeri kecil itu, maka ia mengirim hulubalang dan prajuritnya. Tetapi, ajaibnya, setiap kali mereka mendekati batas desa, kuda mereka tiada mahu melangkah, pedang pun menjadi tumpul, dan hujan ribut datang menenggelamkan barisan tentara. Maka kembalilah mereka dengan hati malu.
Syahdan, semenjak itulah raja-raja sekeliling mengakui bahawa desa di tepian sungai Mahap dilindungi oleh kekuatan ghaib. Maka mereka tiada lagi berani mengusiknya, bahkan menjadikan desa itu sahabat dan tempat perhentian dagang.
Hatta, pada tiap-tiap perkahwinan besar, penduduk akan mengadakan jamuan tujuh hari tujuh malam. Maka sebelum pesta dimulai, kepala kampung akan memohon restu kepada Cikal Bakal dengan menyajikan sirih pinang serta kendi berisi air dari mata air keramat. Maka dipercayai, barang siapa meminum air itu dengan hati ikhlas, niscaya rumah tangganya diberkahi, murah rezeki dan jauh daripada sengketa.
Maka tersebutlah sampai kini, walau zaman telah berubah, cerita tentang Cikal Bakal tetap hidup dalam ingatan orang Kalimantan. Tiada seorang pun mengetahui siapakah sebenarnya beliau, manusia kah atau malaikat, hanya yang pasti ialah berkat doanya, negeri itu menjadi makmur lagi damai.
Adapun moral hikayat ini, hendaklah manusia senantiasa menghargai asal usul dan roh penjaga tanahnya. Karena barang siapa lupa akan leluhur, niscaya hilanglah petunjuk hidupnya.
Maka tamatlah hikayat Cikal Bakal di Pulau Kalimantan adanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar