“Rumah Artis, Warung Gratis?”
Di tengah keramaian demo, kabar
beredar: rumah Uya Kuya ikut jadi sasaran.
“Lho, kok bisa?” tanya seorang bapak.
“Katanya sih warga salah alamat. Demo jadi ajang belanja gratis,” jawab pemuda sambil nyengir.
Beberapa warga malah menganggap rumah itu seperti minimarket. “Masuk aja, ambil aja, toh nggak ada kasirnya,” celetuk seorang ibu sambil tertawa pahit.
Pak RT yang kebetulan lewat geleng-geleng kepala. “Lucu ya, negara katanya demokrasi, tapi cara demo malah jadi demo masak: ambil bahan dari rumah orang!”
Semua yang mendengar pun terpingkal.
Ironinya, tujuan demo untuk menuntut keadilan, malah berubah jadi ajang pamer kerakusan. Akhirnya, warga sadar: merampas hak orang lain bukan cara menyuarakan aspirasi.
Karena kalau demo bisa berubah jadi “shopping”, apa bedanya dengan maling yang pakai mikrofon?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar