Hikayat "Ilu-Ilu"
Alkisah, pada masa silam, di tanah Jawa yang berhias sawah nan membentang laksana permadani hijau, hiduplah manusia dengan adat yang luhur. Mereka memuliakan alam, menghormati leluhur, serta menjunjung tinggi tata susila. Namun, sebagaimana adanya kehidupan, ada pula yang memilih jalan sebaliknya: hidup bebas tanpa aturan, menuruti hawa nafsu, bagai daun kering yang terombang-ambing angin.
Dari jiwa-jiwa yang demikianlah lahir makhluk yang dinamai Ilu-Ilu. Arwah orang meninggal yang semasa hayatnya melupakan tata karma, menolak pitutur, serta membiarkan dirinya hanyut dalam kelengahan dunia.
Konon, rupa Ilu-Ilu menyerupai manusia, akan tetapi wajahnya senantiasa basah oleh air mata. Tangisnya bukanlah tangis biasa, melainkan tangis penyesalan yang tak berkesudahan. Ia berjalan tanpa arah, tiada rumah, tiada tempat berdiam. Malam hari maupun siang terik, ia berkeliaran dari hutan ke persawahan, dari tepian kali ke jalan sunyi. Suara tangisnya mendayu-dayu, melukai hati siapa saja yang mendengarnya, bagaikan ratapan anak kecil kehilangan ibu.
Walau ia tiada berbahaya, akan tetapi penampilannya menakutkan nian. Kulitnya pucat seperti bulan purnama tertutup kabut, matanya bengkak kemerahan, dan tubuhnya kurus laksana ranting kering. Barang siapa berjumpa dengannya, sering jatuh sakit, sebab ketakutan merayap hingga ke sumsum. Bahkan orang tua berkata: air mata Ilu-Ilu mengandung penyakit, menular bagaikan racun yang menyebar melalui embusan angin. Maka penduduk desa berpesan kepada anak-cucu: janganlah engkau dekati tangisan yang asing di tengah malam, sebab bisa jadi itu ratap dari Ilu-Ilu.
Alkisah, pada suatu malam purnama, seorang pemuda bernama Jaya tengah kembali dari pasar malam. Ia berjalan seorang diri melewati jalan sawah. Angin berembus lirih, riak padi bergoyang bagai lautan kecil. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara tangisan: lirih mula-mula, lalu semakin jelas, mengguncangkan hati.
“Siapakah gerangan menangis di kala malam begini?” bisik Jaya dalam hatinya.
Ia berhenti, matanya menyapu gelap. Dan tampaklah sesosok bayangan duduk di tepi jalan, menundukkan wajah, menangis tersedu-sedu. Tubuhnya menyerupai manusia, namun auranya lain, dingin, membuat bulu kuduk Jaya berdiri.
Jaya hampir saja menghampiri, hendak menolong. Namun seketika ia teringat pesan neneknya: “Anakku, jika engkau dengar tangis di malam kelam, jangan sekali-kali mendekat. Itu bisa jadi tangis Ilu-Ilu. Ingatlah, airmatanya membawa celaka.”
Maka Jaya melangkah mundur perlahan, bergegas memutar jalan, meninggalkan sosok itu di balik kabut malam. Ketika ia menoleh dari kejauhan, bayangan itu masih duduk, masih menangis, air matanya menetes tiada henti, laksana hujan kecil yang tak berkesudahan.
Keesokan harinya, Jaya menceritakan pengalamannya. Orang tua kampung mengangguk penuh kebijaksanaan. “Itulah Ilu-Ilu,” kata mereka, “arwah yang menanggung sesal tiada akhir. Tangisnya adalah cermin dosa yang dibawanya sejak hidup, dan air matanya adalah racun yang lahir dari hati yang terpuruk. Maka janganlah sekali-kali engkau mendekatinya.”
Sejak peristiwa itu, Jaya kian sadar: kehidupan yang bebas tanpa aturan bukanlah jalan mulia. Ia pun menata langkah hidupnya, mematuhi adat dan petuah leluhur, agar kelak arwahnya tidak menjadi Ilu-Ilu yang meratap di jalanan sunyi.
Demikianlah, kisah Ilu-Ilu beredar dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Ia menjadi peringatan bagi manusia agar tidak terlena oleh dunia fana, agar tidak hidup semaunya tanpa peduli pada kebaikan.
Ilu-Ilu ibarat cermin dari jiwa yang terbuang: wajahnya menangis, tubuhnya meratap, hidupnya tanpa tujuan, tiada rumah, tiada tempat pulang. Dan siapa pun yang mendengar tangisnya, hendaklah menjauh, sebab itu bukan sekadar ratapan—melainkan pesan dari alam gaib bahwa penyesalan yang terlambat hanyalah ratap tanpa akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar