HIKAYAT "NEK RATU"
Alkisah tersebutlah sebuah kampung tua bernama Pakunam, dilingkupi hutan rimba dan sungai jernih yang mengalir dari hulu gunung. Di kampung itu tinggal Kek Nyime dan Nek Satar, sepasang suami istri yang hidup sederhana sebagai petani dan pemburu. Mereka memiliki lima orang anak yang menjadi cahaya kehidupan: Sati, Ratu, Opon, Mongko, dan Nere.
Hari-hari mereka dijalani dengan penuh adat. Kek Nyime berladang, Nek Satar mengurus rumah, dan anak-anak bermain di tepian sungai atau di ladang. Sesekali Kek Nyime berburu dengan tombak dan sumpit, menembak burung enggang atau memburu babi hutan. Dalam setiap langkah mereka, selalu ada doa kepada Sang Jubato, penguasa langit dan bumi. Mereka juga menjaga hubungan dengan hantu penjaga hutan, sahabat gaib yang melarang manusia berbuat serakah. Pesan orang tua selalu jelas: jangan mencuri, jangan merampas hasil orang lain, sebab perbuatan itu melanggar kesucian adat dan mendatangkan kesialan.
Di antara kelima anak Kek Nyime, ada seorang yang bernama Ratu. Ia bertubuh pendek, tetapi berhati teguh. Karena tubuhnya yang kecil, orang-orang kampung memanggilnya dengan sebutan Nek Baboh. Walau demikian, keberaniannya besar, ucapannya tegas, dan kesetiaannya pada adat tak tergoyahkan.
Ketika dewasa, Nek Baboh menikah dengan seorang perempuan bernama Nek Nelan, keturunan Tionghoa dari daerah Lacibuk, Sedau, bermarga Bong. Perempuan itu cantik parasnya, lembut tutur katanya, dan pandai dalam urusan dapur. Namun ia juga membawa warna baru dari garis keturunan asing, menyatu dengan darah Dayak Pakunam, membentuk silsilah yang unik.
Dari pernikahan itu lahirlah empat orang anak. Yang sulung diberi nama Nek Tarukun, seorang gadis yang kelak menjadi pengikat dua keluarga besar. Anak kedua adalah Nek Pensen, seorang lelaki yang gagah, dan sejak kecil sudah diperlihatkan tanda-tanda akan menjadi pewaris adat. Anak ketiga adalah Nek Enek, seorang perempuan yang bijak dan pandai menuturkan kisah leluhur. Sedangkan si bungsu diberi nama Dorahman Ambotn, yang kelak hidup sederhana namun penuh keikhlasan.
Nek Baboh mendidik anak-anaknya dengan tegas. Kepada Pensen ia berpesan,
“Engkaulah kelak pewaris adat kita. Jagalah pantang larang, hormatilah roh leluhur, dan jangan sekali-kali engkau mengkhianati hantu penjaga alam. Sebab jika engkau teguh pada adat, rezeki tidak akan pernah terputus, dan kampung akan hidup dalam damai.”
Pensen pun tumbuh menjadi anak yang taat, mengikuti jejak ayahnya. Ia belajar berladang, berburu, meramu obat dari hutan, serta menghafal doa dan mantra adat.
Adapun Tarukun, si sulung, tumbuh cantik jelita, kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang terurai, dan wajahnya bercahaya seperti rembulan malam purnama. Banyak pemuda kampung yang menaruh hati padanya, tetapi Tarukun justru berjodoh dengan seorang pria dari kampung jauh, bernama Loson.
Loson adalah anak tunggal dari Nek Nampo, seorang tokoh besar dari Bantang Poteng. Nek Nampo bukan hanya kaya raya, tetapi juga sakti mandraguna. Kekayaannya berupa ladang luas, ternak berlimpah, emas dan manik-manik adat yang diwarisi dari leluhur. Kesaktiannya dikenal jauh, konon ia dapat memanggil hujan, menundukkan binatang buas, bahkan berhubungan dengan hantu penjaga hutan.
Pernikahan Tarukun dan Loson menjadi peristiwa besar. Orang-orang kampung dari Pakunam hingga Bantang Poteng berkumpul, membawa babi, ayam, beras, dan tuak sebagai persembahan. Gong dipukul bertalu-talu, tarian adat pun ditarikan oleh para pemuda dan pemudi. Malam itu hutan bersinar oleh obor, sungai berkilau oleh pantulan bulan, dan roh leluhur diyakini turut hadir menyaksikan penyatuan dua keluarga besar.
Nek Nampo berkata dalam upacara itu,
“Hari ini bukan sekadar pernikahan, melainkan penyatuan adat, kekayaan, dan kesaktian. Semoga dari Tarukun dan Loson lahir keturunan yang gagah berani, bijaksana, dan tetap berpegang pada adat.”
Tarukun yang lembut menyambut kehidupan baru dengan penuh hormat, sedangkan Loson berjanji kepada ayah mertuanya, Nek Baboh, bahwa ia akan menjaga adat Dayak sekalipun darahnya bercampur dengan garis keturunan lain.
Namun hidup tidak selalu tenang. Di balik hutan, hantu penjaga sering menguji manusia. Suatu ketika, seorang lelaki dari kampung lain berani mencuri hasil ladang Tarukun. Malam itu, ia bermimpi didatangi sosok tinggi besar dengan mata merah menyala. Hantu itu berkata,
“Engkau telah melanggar adat, mengambil yang bukan milikmu. Hutan ini saksi, tanah ini saksi, leluhurmu pun menyaksikan. Kesialan akan menimpamu, sebab engkau telah mengotori kesucian.”
Benarlah, setelah itu lelaki itu jatuh sakit, ladangnya terbakar, dan keluarganya ditimpa kemalangan. Kejadian itu menjadi pelajaran bagi seluruh kampung, bahwa pantangan mencuri bukanlah omong kosong, melainkan hukum sakral yang dijaga oleh hantu dan leluhur.
Nek Baboh sering mengingatkan anak-anaknya akan peristiwa itu. Katanya,
“Hantu bukanlah musuh kita. Mereka adalah penjaga, sahabat yang melindungi, asalkan kita jujur dan taat adat. Tetapi siapa pun yang tamak, yang berani merampas, pasti celaka. Ingatlah itu, wahai anak-anakku.”
Generasi pun berganti. Tarukun hidup bersama Loson di Bantang Poteng, membawa serta ajaran adat dari Pakunam. Loson yang sakti menambah kewibawaan keluarga. Sementara itu, Pensen tumbuh menjadi pewaris adat sejati, menggantikan ayahnya Nek Baboh. Ia menjadi penghubung antara manusia dengan leluhur, pemimpin upacara, dan penegak pantang larang.
Keturunan Kek Nyime, Nek Satar, Nek Baboh, hingga Tarukun dan Loson akhirnya menyebar, membentuk silsilah panjang yang dihormati. Mereka adalah lambang persatuan antara berbagai garis keturunan, tetapi tetap teguh pada adat Dayak: berladang dengan doa, berburu dengan pantang, bersahabat dengan hantu, dan menjunjung tinggi larangan mencuri.
Hikayat ini pun turun-temurun diceritakan, bukan hanya sebagai kisah keluarga, tetapi juga sebagai teladan. Bahwa adat adalah pusaka yang lebih berharga daripada emas, dan kesetiaan kepada adat adalah jalan menuju keberkahan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar