Kutukan Buntung Malang
Dahulu kala, di sebuah kampung di Singkawang, hiduplah seorang pemuda baik hati namun memiliki lidah yang pedas. Warga menyebutnya Si Buntung Malang, karena nasibnya selalu dipenuhi kesialan. Ia suka menolong, memberi tumpangan, bahkan merawat orang-orang yang tersisih. Namun sayang, kebaikannya sering dibalas dengan pengkhianatan.
Pada suatu waktu, Si Buntung Malang menolong seorang pemuda malang yang terusir dari rumah tetangga kaya bernama Akim. Pemuda itu ia tampung, diberinya makan, bahkan ditemani bekerja di kebun durian dan singkong. Awalnya pemuda itu rajin dan tampak bersyukur. Namun, setelah berteman dengan anak-anak kampung bernama Acong dan Okpet, perangainya berubah. Ia jadi pemalas, dingin, dan sering membantah tuannya.
Buntung Malang sabar. Namun, hatinya sering teriris oleh sikap kasar pemuda itu. Bahkan suatu ketika, pemuda itu berkata dengan lancang:
“Kapan kau akan menerima orang baru tinggal di rumahmu?”
Bagi orang Dayak Salako, ucapan itu adalah tabu. Kalimat tersebut dianggap kutukan, pertanda buruk, dan penghinaan terhadap tuan rumah. Maka sejak itu, Buntung Malang merasa dirinya dihina dan tak lagi dihargai.
Hari berganti, bulan berjalan. Benarlah, pemuda itu pergi meninggalkan rumah Si Buntung Malang tanpa pamit. Ia hanya meninggalkan secarik kertas dengan tulisan singkat berisi ucapan maaf. Ia memilih bergabung dengan Acong dan Okpet, tergoda oleh janji motor, telepon genggam, serta kehidupan yang katanya lebih bebas.
Namun, kata orang tua dahulu:
“Siapa yang mengingkari kebaikan, ia akan ditimpa tulah.”
Tak lama setelah meninggalkan rumah, nasib buruk menimpa pemuda itu. Pada bulan Oktober, bulan yang diyakini sebagai bulan naas di kampung itu, ia tewas mengenaskan tertabrak truk di jalan raya. Orang-orang berkata, ia terkena kutukan lidah Buntung Malang, juga akibat melanggar pantangan suku Dayak Salako.
Sejak saat itu, warga kampung percaya bahwa siapapun yang melupakan budi, menghina tuannya, atau mengucap tabu kepada orang Dayak Salako, hidupnya tak akan panjang. Kutukan itu dikenal dengan nama Kutukan Buntung Malang.
Orang tua sering menasihati anak-anak mereka:
“Hargailah orang yang menolongmu. Jangan sekali-kali mengucap kata tabu. Sebab kutukan Buntung Malang akan selalu menanti mereka yang durhaka.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar