Hikayat Pamuloótn Bangas ka Taino
Alkisah pada masa purba, sebelum ada langit dan bumi, hanyalah sunyi tiada bertepi. Maka Jubato Pajaji, Sang Penguasa Segala Raya, berjalan mengitari kekosongan itu. Hatinya berbisik,
“Baiklah Aku ciptakan tanah untuk kehidupan.”
Maka dari kehendak-Nya terciptalah Binuo, tanah yang luas. Di antara sekian banyak tanah, ada yang dinamakan Binuo Sakawok, tempat sinar matahari jatuh, dikelilingi bukit berbatu, dan dialiri sungai yang menuju laut lepas.
Jubato memandangnya sambil berkata,
“Inilah tanah yang kelak akan kutaruh makhluk, supaya mereka hidup dan menjaga ciptaan ini.”
Maka diciptakanlah tumbuhan yang menghijau, binatang yang berlari dan terbang, serta manusia, sepasang saja, dengan umur sepanjang langkah menuju langit. Segala makhluk hidup damai, tiada yang saling menyakiti.
Hari-hari berlalu, binatang kian banyak jumlahnya. Melihat itu, Jubato memanggil para raja binatang berkumpul di balai agung. Dengan suara yang bergemuruh Ia bersabda,
“Hai segala binatang, dengarlah! Aku menciptakan kalian dengan kasih. Tetapi mulai hari ini tiada lagi makanan yang Kusediakan. Aku hendak memberi kalian benih. Rawatlah, tanamlah, makanlah hasil kerja tanganmu.”
Maka riuhlah sidang itu. Seekor burung kecil, Amporouk, berkicau,
“Jubato, apa maksud-Mu? Mengapa Engkau tidak lagi menyiapkan makanan bagi kami?”
Jubato pun menjawab,
“Bukan karena Aku berhenti menyayangi kalian. Aku hendak memberi amanah, supaya kalian memberi teladan rajin bekerja, bahkan bagi manusia.”
Seekor tupai, Raja Tupe, meloncat ke hadapan-Nya,
“Apakah ini karena Engkau lebih mengasihi manusia daripada kami?”
“Tidak begitu, Tupe,” sahut Jubato, “Aku sayangi kalian sama seperti manusia. Tetapi sekarang saatnya kalian membuktikan kesungguhan.”
Binatang pun terdiam, dan akhirnya menerima.
Maka satu demi satu mereka maju ke hadapan Jubato, menerima benih yang diamanahkan. Tupai melompat gembira membawa kelapa. Amporouk terbang tinggi sambil menabur benih cabai. Belalang Buntak melayang membawa sesawi. Untèk si kera bersorak kegirangan menerima pisang. Angkis si tikus berlari cepat dengan kacang tanah di genggamannya. Demikian pula yang lain, hingga semua pulang dengan hati riang.
Tinggallah manusia, yang belum menerima. Jubato menatapnya, lalu berkata,
“Hai manusia, kepadamu Aku berikan benih kuwat karang. Tumbuhkanlah jamur kayu ini di batang yang lapuk. Siramilah dengan air semalam suntuk, maka tumbuhlah ia sebagai makananmu.”
Manusia pun menerima dengan hormat.
Berhari-hari kemudian, ladang para binatang hijau lebat, penuh buah dan sayur. Manusia pun memanen jamur kayu. Namun istri manusia yang sedang mengandung merasakan hasrat lain. Ia berkata kepada suaminya,
“Suamiku, betapa nikmat jamur yang kita makan. Tetapi aku rindu buah pisang Untèk, aku ingin meminum air kelapa Tupe, aku terbayang cabai merah milik Amporouk. Tolonglah, bawakan untukku.”
Suaminya menggeleng,
“Istriku, janganlah engkau minta itu. Kita hanya diperbolehkan makan jamur. Jika kita mengambil hasil ladang binatang, murkalah mereka dan murka pula Jubato.”
Namun istrinya memohon, merayu dengan air mata,
“Kasihanilah aku, suamiku. Aku membawa anakmu dalam kandungan. Seandainya hanya sedikit, tak akan ada yang tahu.”
Hati sang suami goyah. Malam itu ia berangkat diam-diam, menyusup ke ladang-ladang binatang. Ia memetik pisang, memanjat kelapa, memungut sesawi, dan mengambil cabai. Semua ia bawa pulang dalam wadah kulit kayu, lalu berkata di depan rumah,
“Istriku, bukalah pintu. Aku bawakan buah-buahan yang engkau rindukan.”
Sang istri tersenyum lega, melahap buah-buahan itu dengan gembira.
Namun perbuatan itu tidak luput dari mata Rembulan yang bersinar, dan Angin yang berembus. Mereka berbisik,
“Lihatlah, manusia telah melanggar. Esok pasti gegerlah Binuo Sakawok.”
Benar saja, keesokan harinya binatang ribut. Untèk mengamuk mencari pisangnya, Tupe menuduh kelelawar, Buntak terbang kesana-kemari, Amporouk bersungut-sungut. Mereka saling menuduh, saling curiga, hingga tanah itu kacau balau.
Maka turunlah Jubato, memanggil mereka semua ke sidang besar. Dipanggilnya pula manusia, dihadirkan Rembulan dan Angin sebagai saksi.
“Wahai manusia,” sabda Jubato, “apakah engkau tahu mengapa mereka bertengkar?”
Manusia terdiam. Akhirnya ia bersujud dan berkata,
“Ampunilah aku, Jubato. Akulah yang mengambil hasil ladang mereka. Istriku mengandung dan sangat ingin mencicipi buah-buahan itu. Aku takut, tetapi aku terpaksa.”
Mendengar itu binatang murka. Mereka berseru,
“Hukumlah manusia! Jangan biarkan ia tanpa balasan!”
Jubato berusaha menenangkan,
“Tenanglah. Biarlah kita putuskan dengan adil.”
Namun tiba-tiba Amporouk terbang ke tengah balai dan berseru lantang,
“Jubato! Jika manusia dibiarkan berumur panjang, mereka akan memusnahkan kami. Berilah mereka umur pendek. Biarlah muda mati muda, tua mati tua!”
Jubato menghela nafas panjang, lalu bersabda,
“Maka demikianlah. Mulai hari ini manusia akan menggantikan kalian menanam semua benih. Kalian tetap akan mendapat bagian dari hasil kerja mereka, itulah Bangas yang tak akan lepas dari ladang. Dan umur manusia tidak lagi sepanjang langkah menuju langit. Ada yang mati muda, ada yang mati tua, sesuai kelakuannya.”
Sejak saat itu, manusia hidup bekerja keras di bawah terik matahari. Ladang mereka tidak pernah lepas dari Bangas, hama tanaman. Dan umur manusia pun menjadi pendek, tidak lagi panjang sebagaimana dahulu kala.
Demikianlah kisah Hikayat Pamuloótn Bangas ka Taino, sebagai asal mula manusia menanggung kerja, binatang menuntut bagian, dan umur manusia ditentukan oleh kelakuannya di dunia.
Tammat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar