MANTRA JUBATA DAN ANAK MUDA SALAKO
Alkisah, di tanah Kalimantan Barat, di sebuah kampung Dayak Salako yang dikelilingi hutan rimba, hidup seorang pemuda bernama Ramba. Ia anak muda yang rajin, tetapi selalu merasa dirinya tak seberapa dibanding para tetua kampung. Ramba sering mendengar cerita tentang mantra-mantra lama yang diwariskan oleh para leluhur, namun ia tidak pandai menghafalkannya.
Pada suatu malam bulan purnama, kampung Ramba hendak mengadakan upacara adat kayau, yaitu penghormatan kepada roh penjaga dan arwah leluhur. Segala sesaji telah disiapkan: beras kuning, ayam putih, sirih, dan seikat daun-daunan hutan. Para penari mulai bergerak mengelilingi apar, yakni kepala kayau yang menjadi lambang pengingat kejayaan masa lalu.
Tetua adat, Apai Panggau, memanggil Ramba ke depan. “Hai anak muda, engkau yang akan menyampaikan doa malam ini,” katanya.
Ramba gemetar. “Ampun, Apai. Aku tiada pandai membaca mantra, tiada pandai bernyanyi mambang seperti orang-orang tua dahulu.”
Tetapi Apai tersenyum, lalu berkata, “Justru karena engkau generasi baru, engkau harus belajar memohon restu Jubata dengan hatimu sendiri. Bukan kata-kata indah yang penting, melainkan niat yang suci.”
Maka dengan suara lirih, Ramba mencoba mengucapkan doa yang ia dengar dari para tetua:
“Auk nyian
ka Jubato, wahai Engkau Jubata. Kami bapadoh ka awo pamo tahoh aik, kami
memohon ijin kepada para arwah dan leluhur tanah air.
Saparati Kito’ panunggu wap pamo rumoh tangok, seperti Engkau penguasa yang ada
di dalam kehidupan rumah tangga.
Saparati cacak, kaimpawok, dangan antok dan karimebee, seperti cicak,
laba-laba, dan kluing, orang-orang akan berdatangan.
Kami anok mudo’, tiada pandai membaca, tiada tahu bernyanyi mambang lama.
Engkau sajalah, Jubata, yang bacakan nyanyian itu bagi kami.”
Maka seketika suasana berubah hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin malam. Ketika Ramba menaburkan beras kuning ke arah apar bersama para penari, tampak seekor cicak turun dari balai, laba-laba meniti benang di langit-langit, dan seekor kluing melintas di tanah. Para tetua terperanjat, sebab itu pertanda arwah leluhur berkenan hadir.
Apai Panggau lalu berseru, “Lihatlah, Jubata mendengar doa kita melalui suara anak muda ini! Meski ia tiada pandai seperti kita dahulu, hatinya tulus, maka roh leluhur datang memberi tanda.”
Sejak malam itu, Ramba dihormati sebagai pemuda yang membawa pesan bahwa generasi baru tiada perlu malu bila tak hafal nyanyian lama, asalkan tetap menjaga adat, hormat pada leluhur, dan memelihara alam sekitar.
Hatta, kampung itu pun makmur kembali. Ladang menjadi subur, sungai dipenuhi ikan, dan hutan memberi hasil berlimpah. Mantra itu kemudian diwariskan turun-temurun, sebagai pengingat bahwa Jubata bukan hanya milik orang tua, melainkan juga menyertai anak-anak muda yang mau tulus memohon.
Maka demikianlah cerita rakyat Dayak Salako, tentang Ramba sang anak muda, tentang doa sederhana, dan tentang restu Jubata yang kekal bagi generasi di tanah Kalimantan Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar