Selasa, 23 September 2025

Hikayat "Tali Darah di Tanah Rimba"

 

Hikayat "Tali Darah di Tanah Rimba"

Syahdan, pada zaman purbakala, tatkala rimba raya masih perawan dan sungai-sungai bagaikan urat nadi bumi, hiduplah seorang dara jelita bernama Tarukun. Ia putri kepada Nek Baboh, pewaris adat Pakunam, yang tubuhnya pendek namun teguh laksana batu karang menahan gelombang.

Tatkala masanya tiba, Tarukun dipersunting oleh Loson, putra tunggal Nek Nampo di Bantang Poteng. Maka berpindahlah sang dara dari tanah kelahirannya menuju rumah suaminya, membawa serta ajaran adat ayahandanya, disatukan dengan harta benda serta kesaktian keluarga suaminya.

Adapun Loson tiada insan sembarangan. Meski lahir dan besar di Bantang Poteng, darahnya mengalir dari dua tepi dunia: Dayak yang sakti lagi gagah, serta bangsa kulit putih yang dahulu datang melintasi samudra raya. Konon moyang Loson seorang lelaki asing, berkulit pucat dan bermata biru bagai cahaya fajar, terdampar di muara sungai besar. Ia menikah dengan dara Dayak, hingga berketurunanlah zuriat yang wajahnya tampan bercahaya, tubuhnya jangkung perkasa, dan kesaktiannya turun-temurun.

Maka berumahlah Tarukun yang lembut dengan Loson yang sakti, dalam rumah tangga yang dipagari adat serta dipayungi doa. Dari rahim pernikahan itu lahirlah enam orang anak, bagaikan bintang bertaburan di angkasa, masing-masing membawa sinar pada zamannya.

Yang sulung seorang gadis bernama Min Tjhai, dipanggil orang Mincai. Wajahnya berseri bagai bulan purnama, tutur katanya halus bagai desir angin pagi. Ia dipandang sebagai bunga kampung, pengikat silaturahmi, pembawa rahmat di mana ia berpijak.

Yang kedua seorang perwira muda bernama Ba Ha Lee, dikenal dengan panggilan Bahari. Tubuhnya tegap laksana pohon meranti, matanya tajam laksana mata elang. Darah keberanian mengalir dari ayahnya; maka ketika masanya tiba, ia masuk menjadi prajurit kerajaan Nusantara. Pedang di tangannya bukan sahaja melindungi negeri, tetapi juga menjadi lambang kemuliaan keluarga.

Yang ketiga ialah Bu Shien, orang menyebutnya Busin. Ia tiada suka akan perang, melainkan condong pada perniagaan. Sejak muda ia menukar hasil hutan dengan garam, kain, dan besi dari pedagang asing. Tatkala ayah bundanya beruban, Businlah yang tetap tinggal di rumah, merawat kedua orang tuanya dengan bakti yang tiada putus.

Yang keempat bernama Lie Shin, atau Lisin. Tubuhnya gagah sepertimana Bahari, darah prajurit mengalir deras padanya. Ia turut serta dalam pasukan kerajaan, menjaga perbatasan, menumpas perompak, serta menegakkan martabat leluhur.

Yang kelima bernama Tjauphin, disebut orang Caupin. Muda belia umurnya, tetapi hatinya sebesar singa. Ia pandai menghunus tombak dan lihai menyusun strategi, sehingga harum namanya di telinga para hulubalang.

Adapun si bungsu seorang putri jelita, Sha Wee Ye, dipanggil Sawiyah. Rambutnya hitam bagai sayap gagak, kulitnya cerah laksana bunga melati. Parasnya termasyhur hingga kampung jauh, tutur katanya menyejukkan hati. Maka bersuamilah ia dengan seorang prajurit kerajaan bernama Jalaulin dari Bantang Sango, menjadikan darah Tarukun tersebar semakin luas, menyatukan bangsa-bangsa, suku-suku, dan adat yang bersilang jalan.

Meskipun anak-anak Tarukun menempuh jalan berlainan —ada yang hulubalang, ada yang saudagar, ada yang menikah menyambung silaturahmi—namun ajaran adat Dayak tetap menjadi tunggak penyangga. Tarukun senantiasa berpesan:

“Wahai anak-anakku, siapa pun engkau dan di manapun engkau berpijak, janganlah sekali-kali meninggalkan adat. Ingatlah pantang larang, jangan mencemari kesucian rimba, jangan mengambil yang bukan hakmu. Hantu adalah sahabat manusia, tetapi murka mereka berat bagi yang melanggar adat.”

Maka pesan itu tertanam pada jiwa mereka. Bahari, Lisin, dan Caupin, meski berpakaian perang kerajaan, tetap menyelipkan sesajen kecil bagi hantu penjaga hutan, memohon pedang mereka tajam dan jiwa mereka selamat. Busin yang berdagang tiada pernah menipu, sebab yakin benar bahwa hantu melihat, roh leluhur mendengar, dan rezeki sejati hanya datang dari kejujuran.

Adapun Sawiyah yang menikah dengan Jalaulin, menguatkan hubungan antara Pakunam, Bantang Poteng, dan Bantang Sango. Perdagangan bertambah ramai, adat semakin kukuh, dan negeri berdiri teguh.

Loson yang berdarah campuran Dayak dan bangsa asing merasa bangga melihat anak-anaknya berhasil. Katanya,

“Darah asing boleh mengalir dalam tubuhku, tetapi hatiku tertambat pada bumi ini. Hutan adalah ibu, sungai adalah bapak, adat Dayaklah yang menjaga kita. Selama adat dijunjung, garis keturunan ini takkan sirna ditelan zaman.”

Maka hiduplah Tarukun, Loson, dan anak-anaknya dalam nama yang besar. Kisah mereka dituturkan di beranda rumah panjang, ditemani bunyi gong dan alunan sape’. Orang tua menceritakan kepada cucunya, bahwa keluarga ini ibarat jalinan benang dari berbagai bangsa—Dayak, Tionghoa, bangsa kulit putih, dan kerajaan Nusantara—namun dipintal menjadi seutas tali yang utuh oleh adat Dayak.

Demikianlah hikayat ini. Bukanlah ia semata kisah silsilah, melainkan cermin kehidupan: bahwa kekayaan dan kesaktian tiada bermakna tanpa ketaatan kepada adat; bahwa persatuan tiada mungkin terjalin tanpa kesucian hati; dan bahwa keberkahan sejati bukan terletak pada darah yang bercampur, melainkan pada kesetiaan manusia kepada tanah leluhur yang melahirkan dan menutup jasadnya kembali.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...