Hikayat Nek Jasimin dan Antu Aik
Alkisah, pada zaman dahulu kala di bantang Sakawokng, tepatnya di sebuah kampung bernama Sombang, hiduplah seorang dukun sakti bernama Nek Jasimin. Ia dikenal oleh masyarakat karena kemampuannya menyembuhkan orang yang terkena guna-guna, serta bayi yang diganggu oleh makhluk halus. Nek Jasimin juga kerap dipercaya menjadi panyaek dalam upacara besar basam-sam atau ritual pengusiran roh jahat.
Setiap kali ritual dilaksanakan, Nek Jasimin selalu pergi ke Gunung Cikale untuk mempersembahkan sesajen berupa daging dan darah ayam. Ia mengenakan kain merah dan ikat kepala merah sebagai tanda penghormatan. Banyak orang menaruh hormat kepadanya, sebab ia dianggap sebagai penjaga keselamatan kampung.
Pada masa itu, di wilayah Sambas berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana bernama Raja Surya Kesuma. Sang Raja memiliki seorang putri rupawan bernama Putri Cahaya Bulan. Putri ini kerap sakit-sakitan, terutama setiap bulan purnama. Para tabib kerajaan tidak mampu menyembuhkan penyakitnya, sehingga Raja meminta bantuan kepada Nek Jasimin.
Dengan penuh percaya diri, Nek Jasimin mendatangi istana. Ia membacakan mantera, memberikan ramuan, dan melakukan ritual khusus. Ajaibnya, Putri Cahaya Bulan perlahan pulih dari penyakitnya. Sang Raja pun berterima kasih dan memberikan hadiah berlimpah kepada Nek Jasimin. Sejak saat itu, nama Nek Jasimin semakin terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri.
Namun, waktu berlalu, kesaktian Nek Jasimin justru membuatnya lupa diri. Ia mulai bersekutu dengan makhluk halus yang disebut Antu Aik, roh gaib penunggu sungai dan hutan. Antu Aik memberinya kekuatan luar biasa, tetapi juga merusak jiwanya. Nek Jasimin menjadi sering berbicara sendiri, bahkan bercakap-cakap dengan pohon dan bayangan. Warga pun mulai menganggapnya aneh, tetapi tetap takut karena kesaktiannya.
Suatu hari, Putri Cahaya Bulan kembali sakit keras. Raja kembali memanggil Nek Jasimin. Namun, kali ini ilmu yang dipakai Nek Jasimin tidak lagi berasal dari doa-doa suci, melainkan dari bantuan Antu Aik. Saat ia sedang melakukan ritual di istana, angin kencang bertiup, suara-suara gaib terdengar, dan Putri justru menjerit ketakutan. Sang Raja murka, menyadari bahwa Nek Jasimin telah menyalahi jalan yang benar.
“Wahai Nek Jasimin,” titah Raja Surya Kesuma dengan marah, “ilmu yang engkau pakai telah ternoda. Engkau tidak lagi menjadi penolong, melainkan sahabat makhluk gaib yang menyesatkan.”
Mendengar titah itu, Nek Jasimin berlari meninggalkan istana. Ia menuju rumahnya di bukit dengan jalan setapak yang menanjak. Namun, langkahnya goyah. Ia terjatuh, terguling hingga ke bawah bukit, dan meninggal dunia seketika. Konon, pada saat tubuhnya terbentur tanah, terdengar suara tawa Antu Aik yang menyeramkan, seakan menjemput roh Nek Jasimin.
Setelah kepergiannya, orang-orang berkata bahwa ilmu gaibnya turun kepada sang istri. Namun, masyarakat tetap waspada, sebab mereka percaya Antu Aik masih mengintai. Raja Surya Kesuma kemudian memerintahkan rakyat agar selalu berpegang pada kebenaran, tidak tergoda oleh jalan gaib yang menyesatkan. Putri Cahaya Bulan akhirnya sembuh setelah para pendeta kerajaan mendoakan dengan doa suci, bukan lagi dengan ilmu gaib.
Hikayat ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari makhluk halus, melainkan dari kesucian hati dan doa yang benar. Barang siapa tergoda oleh ilmu hitam, niscaya akan menemui kehancuran seperti Nek Jasimin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar