HIKAYAT BATU SABOH
Syahdan, inilah cerita urokng bahare’, konon turun-temurun dituturkan di
beranda rumah panjang.
Bukan dongeng penglipur lara, melainkan pesan adat, agar cucu cicit jangan
mengulang nista yang telah berlaku.
Pada suatu hari, di sebuah binuo, diadakannya pesta besar. Menurut adat, pesta itu wajib dihadiri oleh seluruh warga. Kaya miskin, tua muda, bujokng ngan andaro, semua berkumpul. Gong berbunyi, sape’ berdenting, orang menari, hidangan melimpah. Pendek kata, pesta itu bagaikan syurga turun di bumi.
Di tengah keramaian itu, tampaklah seorang anak kecil. Tubuhnya kurus, pakaian lusuh, wajahnya asing. Ia mendekat kepada seorang tamu, lalu berkata dengan lirih:
“Aku kaparotn sidi, muih gek aku mintok sapingotn nasik ka
kitok?”
(Aku lapar sekali, bolehkah aku meminta sepiring nasi?)
Maka diberilah ia sepiring nasik dengan lauk lengkap. Lahap benar ia makan, lalu pamit pulang. Tak lama ia kembali, meminta lagi sepiring nasik. Diberi pula. Ketiga kalinya datang lagi, dan tetap diberi serta dibekali untuk dibawa pulang.
Orang pun mulai heran. Salah seorang bertanya:
“Aok gek parutn ngu kanyang makotik nasik samanyak angko?”
(Tidakkah engkau kenyang dengan nasi sebanyak itu?)
Jawab si anak kecil:
“Anok, aku anok kanyang. Pamangkanan anyian nyaman sidi, baruk
kaniok aku nyacapik pamangkanan dahayo anyian. Tai aku puok karumoh, ku ngame'otn ka adik ngan umakku. Aso nyo oo makotik iyo”
(Tidak, aku belum kenyang. Makanan ini sangat enak, baru kali ini aku merasakan
makanan seenak ini. Tadi kubawa pulang untuk adik dan ibu, mereka pun
menikmatinya).
Orang itu tersenyum sinis. Tatkala anak kecil itu datang lagi, ia dipanggil:
“O, kamudok, sanapotn kau puok. Antiotn dohok i sio. Aku pane ngaepetotn kau
laok nang nyaman.”
(Hei anak kecil, tunggulah sebentar. Aku akan membekalimu daging yang enak).
Diberinya sebuah bingkisan. Anak kecil itu pulang dengan gembira, seraya berkata:
“Baek sidi urok kowo.”
(Sungguh baik hati orang itu).
Namun, sesampai di jalan ia membuka bingkisan itu. Dimakannya dengan gigih meski keras tak lumat. Ketika tiba di rumah, umak-nya bertanya:
“Makot ameo kau, nak?”
(Apa yang kau makan, nak?)
Jawab si anak:
“Anyian laok kitok.”
(Ini daging, Mak).
Sang umak mengambil benda itu. Alangkah terkejutnya! Rupanya bukan daging, melainkan getah kayu menggumpal. Murkalah sang ibu, berlinang air matanya:
“Sampe ati sidi dangan jayo ka kau! Anyian sih anok baparibaso ka urok. O
Jubato, ngameo kee urok-urok kowo tega jako ka kami nang sontok sarantok anyian!”
(Tega sekali mereka memperlakukanmu! Ini penghinaan besar. Oh Jubato, mengapa
mereka begitu kejam kepada kami yang miskin!)
Dengan hati luka, dipanggilnya kucing kesayangan. “Omeeeeng… omeng… di manakah engkau?” Seekor kucing berbulu indah datang, dielusnya penuh kasih. Lalu kucing itu menggigit sehelai kulit kayu usang, dibawanya kepada sang umak. Seolah memberi tanda.
Dipakaikanlah kulit kayu itu kepada si kucing, menyerupai pakaian manusia. Dibawanya kucing itu ke tengah pesta, disertai anaknya. Orang-orang terkejut, kemudian pecah dalam tawa:
“Hahahaha! Asu’ ngan meo’ berbaju! Hahaha!”
Gelak tawa membahana, menertawakan ibu miskin, anak kecil, dan kucing berbaju kulit kayu.
Tetapi alam murka. Guntur menggelegar, petir menyambar, angin ribut menderu. Tenda roboh, pohon tumbang, hujan turun bagaikan air terjun. Petir menyambar satu demi satu orang yang sedang tertawa. Seketika semuanya terdiam. Tiada lagi gong, tiada lagi tari, tiada lagi suara manusia.
Yang tertinggal hanyalah segumpal batu besar, kumpulan orang yang membatu. Batu itu kini disebut Batu Saboh, terletak di lereng bukit Saboh. Menjadi saksi murka alam, hingga kini dipandang keramat sebagian orang.
Maka tersebutlah Hikayat Batu Saboh, bekas pesta yang berbalik jadi
nestapa.
Barang siapa menghina si miskin, barang siapa mempermainkan anak yatim,
niscaya laknat Jubato turun bagai guntur.
Ambillah iktibar wahai cucu cicit: jangan sombong pada harta, jangan congkak
pada kuasa. Sebab yang kekal hanyalah budi, kasih, dan adat yang suci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar