“Wakil Rakyat atau Wakil Pamer?”
Di sebuah warung kopi sederhana, warga sedang asyik berdiskusi soal anggota DPR yang sering muncul di layar kaca, Ahmad Sahroni.
“Katanya dia wakil rakyat,” celetuk Pak RT sambil menyeruput kopi, “tapi kok lebih sering kelihatan koleksi mobil mewahnya daripada membahas harga beras?”
Warga pun tertawa.
“Betul!” timpal Bu Ani. “Kalau rapat rakyat, kursinya kosong. Tapi kalau pamer harta, wah… penuh sekali beritanya!”
Semua langsung geleng-geleng kepala.
Lalu seorang pemuda nyeletuk, “Mungkin beliau lupa, DPR itu singkatan Dewan Perwakilan Rakyat, bukan Dewan Pameran Rongsokan—eh maksud saya, kendaraan mewah.”
Tawa pun pecah, sampai-sampai tukang kopi ikut terbahak.
Akhirnya mereka sepakat: wakil rakyat seharusnya fokus pada masalah rakyat, bukan sekadar jadi bintang di media. Sebab rakyat tidak butuh tontonan, tapi tindakan nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar