Legenda Ranying Hatalla Langit
Alkisah pada zaman purba, ketika dunia belum berwujud, ketika langit belum terbentang dan bumi belum terhampar, hanya ada Sang Penguasa Tunggal yang maha besar, Ranying Hatalla Langit, Tuhan Yang Maha Esa, tiada awal mula dan tiada tandingan kuasa. Dialah yang bersemayam di alam tertinggi, di singgasana cahaya yang tak tersentuh oleh siapapun. Dari kebesaran-Nya, segala sesuatu dimulai.
Pada saat itu hanya ada kekosongan, hening dan sunyi, tanpa bentuk dan tanpa suara. Maka Ranying Hatalla berkehendak, dan dari firman-Nya tercipta bumi. Gunung pun menjulang, laut beriak, hutan hijau membentang, sungai berliku, dan langit biru berhias matahari serta bulan yang bersinar silih berganti. Bintang-bintang bertaburan, menjadi permata malam yang indah. Namun bumi dan langit itu masih sepi, kosong dari kehidupan yang dapat memuliakan Sang Pencipta.
Berfirmanlah Ranying Hatalla, “Bumi yang telah Ku-ciptakan tidak boleh sunyi. Harus ada penjaga, harus ada penghubung antara langit dan dunia. Maka Ku-ciptakanlah para utusan.” Dari cahaya kuasa-Nya, lahirlah para Sangiang, dewa-dewa perkasa yang menjaga arah mata angin, mengatur perjalanan bintang, menjaga keseimbangan siang dan malam. Bersama mereka diciptakan pula tujuh Kameluh, dewi jelita yang bercahaya seperti sinar rembulan. Mereka bertugas menjaga tanah agar subur, air agar jernih, benih agar tumbuh, dan segala kesejahteraan yang kelak akan diberikan kepada manusia.
Para Sangiang dan Kameluh senantiasa berhubungan dengan Ranying Hatalla. Mereka menjadi saksi kuasa-Nya, penghubung antara dunia fana dengan langit abadi. Namun bumi masih tetap sepi. Maka Sang Pencipta pun berfirman kembali, “Tidak cukup jika hanya ada gunung, sungai, pohon, dan hewan. Harus ada manusia, yang akan mengisi bumi, menjaga adat, dan mewariskan kehidupan. Maka Aku akan menciptakan manusia pertama.”
Untuk itu Ranying Hatalla memilih tujuh bahan suci. Tanah liat diambil sebagai lambang kehidupan, kayu-kayuan dipilih sebagai lambang keteguhan, tembaga sebagai lambang kekuatan yang tahan lama, kuningan sebagai lambang cahaya yang menyinari, perak sebagai lambang kemurnian hati, emas sebagai lambang keagungan, serta besi sebagai lambang keteguhan jiwa. Bersama itu turut diambil pula kambang garing, bunga kayu garing, sebagai lambang kesucian roh.
Dari tujuh bahan itu, dengan kuasa-Nya, Ranying Hatalla membentuk dua patung, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Patung itu tidak sembarangan ditempatkan, melainkan disimpan di bukit pertama, tempat suci yang dijadikan landasan awal kehidupan. Patung tersebut ditaruh di sana selama tujuh hari tujuh malam, dijaga para Sangiang dan Kameluh dengan doa dan nyanyian suci. Bulan bercahaya lembut, bintang berjaga di langit, angin berhembus sepoi, seakan seluruh alam menanti kelahiran yang agung.
Malam berganti siang, siang berganti malam, hingga sampailah pada malam ketujuh. Pada saat itu Ranying Hatalla turun dengan segala kebesaran-Nya. Suasana hening, hanya cahaya agung-Nya yang menyinari bukit pertama. Para Sangiang bersujud, para Kameluh menunduk hormat. Ranying Hatalla lalu mengulurkan tangan kanan-Nya, menyentuh patung laki-laki. Dengan tangan kiri-Nya, melalui bayangan kuasa-Nya yang disebut Jata, disentuh pula patung perempuan.
Maka terjadi keajaiban besar. Kedua patung itu bergetar, mulai bernapas, lalu hidup. Dari tanah, logam, dan bunga suci itu lahir manusia pertama. Laki-laki itu diberi nama Manyamey Tunggal Garing, gagah perkasa, tegap tubuhnya, bijak bicaranya. Perempuan itu dinamakan Kameluh Putak Bulaw Janjahunan Laut, cantik jelita, bercahaya wajahnya laksana bulan purnama, lembut budi dan penuh kasih sayang.
Keduanya dipersatukan, menjadi pasangan suci yang pertama di dunia. Dari merekalah lahir keturunan agung. Anak-anak mereka ialah Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, Maharaja Bunu, dan Putir Maluyang Bulaw. Putir Maluyang Bulaw kelak menjelma menjadi Gajah Bakapek Bulaw dan Unta Hajaran Tandang, lambang kekuatan, kesetiaan, dan kebesaran yang suci.
Mereka mendiami Batu Mindan, tanah pertama yang terletak di langit paling bawah. Tempat itu menjadi persinggahan antara dunia dewa dan dunia manusia. Di sana mereka hidup dalam aturan, menjaga adat, meneladani titah Ranying Hatalla. Mereka mengenal kerja, mengenal cinta, mengenal adat, dan menurunkan segala cara hidup kepada keturunannya. Tata cara perkawinan lahir dari mereka, adat kematian pun berasal dari teladan mereka.
Di antara semua keturunan, yang paling utama bagi umat manusia ialah Maharaja Bunu. Dialah yang kemudian turun ke bumi, menjadi leluhur manusia sejati. Tata cara perkawinannya diikuti oleh seluruh anak-cucu, begitu pula cara ia menjalani kehidupan. Bahkan ketika wafat, cara kematiannya menjadi pedoman bagi semua manusia. Roh Maharaja Bunu kembali kepada Ranying Hatalla, sedangkan jasadnya dipersembahkan dalam upacara besar. Dari peristiwa itu lahirlah adat Tiwah, yakni upacara pengantaran roh dalam kepercayaan orang Ngaju.
Tiwah adalah upacara yang agung dan suci. Melalui Tiwah, manusia percaya roh dapat kembali kepada asalnya, kepada Sang Maha Pencipta. Tubuh yang berasal dari tanah, logam, kayu, dan bunga kembali kepada bumi, sementara roh diantar dengan doa, persembahan, dan api suci agar dapat menyatu dengan Ranying Hatalla Langit. Karena itulah orang Ngaju percaya, kematian bukanlah akhir, melainkan jalan pulang.
Hidup manusia hanyalah persinggahan. Lahir untuk bernafas, hidup untuk bekerja, beranak pinak, menurunkan adat, lalu kembali kepada asal. Begitulah perjalanan manusia menurut hikayat tua, yang diwariskan turun-temurun. Hingga kini, dalam Kaharingan, adat Tiwah tetap dijalankan sebagai bukti keyakinan bahwa manusia berasal dari kuasa Ranying Hatalla, dan suatu saat pasti kembali kepada-Nya.
Demikianlah hikayat tua yang diceritakan orang Ngaju dari zaman ke zaman. Bahwa dunia ini ada karena kehendak Sang Maha Tunggal, bahwa manusia pertama diciptakan dari tujuh bahan suci, bahwa dari Manyamey Tunggal Garing dan Kameluh Putak Bulaw Janjahunan Laut lahirlah leluhur agung, dan bahwa hidup dan mati hanyalah perjalanan untuk kembali kepada Ranying Hatalla Langit, penguasa langit dan bumi.
Sumber : Dra. Antonia, S.PAK & Drs. Seniman Bonaparte.
(Cerita dikembangkan sedemikian rupa oleh pengarang.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar