Selasa, 23 September 2025

HIKAYAT “INTE’ DAN ASU’ AKO”

 

HIKAYAT “INTE’ DAN ASU’ AKO”

Syahdan, tersebutlah sebuah bantang purba bernama Bantang Sadinik, tidak jauh dari pesisir laut. Dahulu kala, bantang itu ramai dengan suara anak-anak, bunyi gong, dan denting alu yang menumbuk padi. Namun pada suatu masa, sunyilah bantang itu. Hanya tersisa tubuh-tubuh momo, yakni jasad manusia yang telah ditinggalkan roh, terbujur kaku tanpa terurus.

Di sudut bilik yang sepi, seorang gadis kecil bernama Inte’ menangis di sisi ibunya, Inu’e. Tubuh ibunya lemah dan pucat, sedangkan ayah dan dua adiknya telah lebih dahulu berpulang ke alam subayotn, menyusul para penghuni bantang yang musnah ditelan wabah.

Dengan suara parau, Inu’e berpesan kepada anaknya,

“Inte’, pergilah engkau meninggalkan bantang ini sebelum matahari terbit. Janganlah kau menunggu ajal, sebab roh pembawa penyakit telah menebar kutuk. Ikutilah barisan bukit, dan di sana engkau akan menemukan keluarga baru. Ingatlah, Jubato melindungi anak yang tabah.”

Sesudah berkata demikian, Inu’e mengembuskan napas terakhirnya. Maka habislah semua penghuni bantang Sadinik, kecuali seorang gadis kecil itu seorang.

Dengan tangis dan air mata, Inte’ menutup jasad ayah, ibu, dan adik-adiknya dengan kain kulit kayu. Ia juga menutup tubuh-tubuh tetua dan sanak di bilik-bilik lain. Tiba-tiba terdengar suara gaib silih berganti, seperti bisikan roh leluhur:

“Ampus gi! Ampus! Ganceh ampus!”
(Pergilah! Pergi cepat!)

Maka dengan hati berat, Inte’ meninggalkan bantang yang kini menjadi timawok abó, pemukiman yang musnah ditinggal penghuninya.

Menyusuri bukit demi bukit, Inte’ berjalan seorang diri. Ia makan buah hutan, minum dari air terjun, dan memohon kekuatan kepada Jubato. Pada suatu hari, ia melihat seekor burung Rue berwarna indah, ekornya panjang bagai ukiran pusaka. Terpikat, ia berlari mengejar, namun kakinya terpeleset dan jatuh ke jurang. Untunglah tubuhnya tersangkut pada dahan pohon raksasa.

Hari berganti malam, ia terjebak di sana. Kadang monyet hutan menjatuhkan buah untuknya, kadang ular besar melintas tanpa mengganggu. Ia sadar bahwa rimba telah menjadi sahabatnya. Dalam lelapnya, ia mendengar suara roh ibu:

“Inte’, seekor anjing besar akan datang menolongmu. Sabar, anakku.”

Dan benar, datanglah seekor binatang berbulu hitam pekat, bermata garang, dengan ekor pendek sebesar jempol. Suaranya “ko…ko…ko…” menggema dari tebing. Hewan itu menjatuhkan akar kayu ke arah Inte’. Dengan berpegangan pada akar itu, ia pun naik ke atas jurang, selamat dari maut.

Sejak saat itu, binatang itu menjadi sahabatnya. Inte’ menamainya Asu’ Ako — anjing besar yang setia. Mereka berjalan bersama mengikuti anor, jalan kecil binatang hutan, hingga sampai ke sebuah bantang lain.

Tatkala anak-anak bantang melihat kedatangan gadis kecil bersama Asu’ Ako, mereka pun berteriak ketakutan. “Asu’ ako! Asu’ ako!” seru mereka. Sebab belum pernah ada manusia yang datang bersama anjing sebesar itu.

Berita cepat sampai ke telinga Timanguk, kepala bantang. Ia mengutus orang-orangnya untuk mencari gadis kecil itu. Ketika ditemukan, Inte’ bercerita tentang musibah yang menimpa Bantang Sadinik, tentang wasiat ibunya, dan tentang Asu’ Ako yang menolongnya dari jurang maut.

Mendengar kisah itu, para tetua bantang meneteskan air mata. Timanguk berkata dengan haru:

“Kasih sidi nanang kau anyian. Kau anak pilihan, dikirim Jubato ke bantang ini. Kami bangga dan bersyukur memilikimu.”

Maka diadakanlah musyawarah. Diputuskan bahwa Inte’ akan diasuh oleh sepasang suami-istri yang belum dikaruniai anak. Sejak saat itu, ia pun hidup bahagia bersama keluarga barunya, disayang oleh seluruh bantang.

Sejak kedatangan Inte’, anjing-anjing hutan mulai berdatangan ke bantang. Ada yang besar, ada yang kecil, semua dijinakkan dan dipelihara. Mereka membantu menjaga bantang, menemani berburu, serta menjadi sahabat manusia.

Maka lahirlah sebuah prinsip yang dijunjung oleh orang Dayak Salako Garantukng Sakawokng hingga kini:

“Asu’ atok i-tarimo’ ibare’ makot, kanu’ agi Taino.”
(Anjing datang pun diterima dan diberi makan, apalagi manusia.)

Demikianlah hikayat Inte’ dan Asu’ Ako, kisah seorang gadis kecil yang kehilangan keluarganya, tetapi memperoleh keluarga baru, serta sebuah sahabat yang mengajarkan kesetiaan. Hikayat ini hidup turun-temurun, dituturkan di beranda rumah panjang, sebagai tanda bahwa kasih sayang, keberanian, dan kejujuran adalah warisan yang lebih abadi dari harta dunia.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...