HIKAYAT SENGKREANG SENGKREPANG
Alkisah, pada masa yang lampau, sebelum bumi, langit, dan segala isinya terbentang, hanya ada kekosongan yang hening dan sunyi. Dari kekosongan itu, muncullah seorang Dewa sakti mandraguna, tiada banding tiada tara, bernama Sengkreang Sengkrepang. Dialah yang dipercaya oleh orang Dusun sebagai penguasa tunggal, Sang Maha Pencipta, sumber dari segala kehidupan.
Sengkreang Sengkrepang memiliki kekuatan yang melampaui segala yang pernah ada. Tiada seorang pun dapat menandingi kebijaksanaan dan kesaktiannya. Dialah yang mengetahui rahasia semesta, dan dari kehendak-Nya, kehidupan mulai digerakkan.
Pada mulanya, Dewa agung itu berpikir, bagaimana cara membentangkan bumi dan langit yang kelak akan menjadi tempat bernaung segala makhluk. Namun, beliau tidak hendak bekerja sendiri. Maka terciptalah dari kekuatan sakti-Nya satu makhluk kecil menyerupai anai-anai (rayap). Makhluk itu diberi nama Itak Tungkan Ayan Kakah Tungkan Anai.
Setelah tercipta, Itak menghadap Sang Dewa dan menundukkan diri. Berkata Sengkreang Sengkrepang, “Wahai Itak, engkau hamba ciptaan-Ku. Kuberi engkau tugas besar: bentangkanlah langit dan bumi agar kelak dunia ini dapat menjadi tempat kehidupan.” Itak pun menjawab dengan rendah hati, “Ampun Tuanku, hamba sanggup mengerjakan perintah. Namun, berilah hamba waktu tujuh hari tujuh malam untuk menyelesaikannya.”
Dewa pun berkenan, dan Itak segera melaksanakan tugasnya. Siang malam ia bekerja tanpa henti, mengumpulkan tanah, menegakkan langit, meratakan bumi, hingga pada akhirnya dunia mulai terbentuk.
Ketika Itak bekerja, Sengkreang Sengkrepang mendapat sebuah wahyu dari langit yang lebih tinggi. Wahyu itu berbunyi: “Wahai Dewa Agung, apabila bumi dan langit selesai dalam tujuh hari tujuh malam, maka pada hari kedelapan haruslah bumi dan langit itu diisi. Dan engkau, wahai Dewa, hendaknya memejamkan mata, menunggu hingga waktu itu tiba.”
Maka Sang Dewa pun menuruti perintah wahyu. Ia memejamkan matanya berhari-hari lamanya. Saat mata-Nya kembali terbuka, terbentanglah di hadapan-Nya langit biru nan luas, bumi hijau penuh harapan, gunung-gunung menjulang, sungai berliku, dan tanah yang siap menumbuhkan kehidupan.
Pada hari kedelapan, Sang Dewa memanggil Itak. Ditanyalah makhluk kecil itu: “Siapakah yang telah membuat bumi dan langit yang megah ini?” Itak menjawab dengan jujur, “Hamba, Tuanku. Dengan kekuatan dan izin-Mu hamba menyelesaikan semua ini.” Dewa lalu bertanya lagi, “Adakah sisa tanah dari pekerjaanmu itu?” Itak menjawab, “Masih ada, Tuanku.” Dewa berkata, “Ambillah segumpal tanah itu, dan buatlah sebuah patung menyerupai diriku.” Itak pun patuh. Selama satu malam suntuk ia membentuk tanah menjadi sebuah patung yang indah, menyerupai rupa Sang Dewa.
Keesokan harinya, patung itu telah berdiri megah. Namun meski rupanya serupa dengan Sang Dewa, patung itu diam kaku, tak bergerak, tiada tanda kehidupan. Sengkreang Sengkrepang pun menggoyang-goyangkan tubuh patung itu, namun tetap saja patung itu tidak hidup. Maka dipanggillah Itak kembali. Berkatalah Sang Dewa, “Wahai Itak, tahukah engkau dari apakah asal diriku, dan bagaimana wujudku sebenarnya?” Itak pun menjawab dengan penuh hormat, “Tuanku terjadi dari tiga unsur: tanah, air, dan api.” Namun Dewa bertanya kembali, “Apakah hanya tiga unsur itu? Tidakkah ada yang keempat?”Itak menunduk dan berkata, “Ya, Tuanku. Ada satu lagi, yaitu roh. Itulah yang menjadikan hidup, dan itulah yang disebut Tuhan.”
Seketika setelah mendengar kata-kata Itak, Dewa Sengkreang Sengkrepang lenyap tanpa jejak. Patung tanah yang tadinya kaku, tiba-tiba bergerak, bernapas, dan hidup. Dari patung itu lahirlah seorang Dewa baru, bernama Samarikung Mulung. Samarikung Mulung adalah jelmaan yang mewarisi kekuatan Sang Dewa terdahulu. Dialah yang kemudian melanjutkan tugas menciptakan kehidupan di bumi.
Samarikung Mulung, dengan kuasa ilahi, kemudian menciptakan seorang perempuan cantik, bernama Diang Sarunai. Ia jelita, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Keduanya dipertemukan dalam ikatan suci, lalu menikah. Dari pernikahan Samarikung Mulung dan Diang Sarunai inilah keturunan manusia pertama lahir di muka bumi. Mereka hidup, berkembang biak, dan mengisi dunia.
Segala cara hidup manusia, menurut kepercayaan Dusun, meniru perjalanan Samarikung Mulung dan Diang Sarunai. Mereka mengalami kehidupan, mencintai, bekerja, beranak pinak, hingga pada akhirnya menghadapi kematian. Namun kematian bagi manusia Dusun bukanlah akhir. Sebab Samarikung Mulung dan Diang Sarunai pun mengajarkan cara berpulang: tubuh yang terdiri dari tanah, air, api, dan roh harus dikembalikan kepada asalnya.
Maka dari itulah lahir tradisi pembakaran mayat, karena api adalah salah satu unsur suci yang membentuk Dewa. Dengan api, roh dapat dilepaskan menuju alam baka, sementara jasad kembali menyatu dengan tanah dan air.
Demikianlah kisah yang diyakini orang Dusun: bahwa segala sesuatu bermula dari kehendak Sang Maha Pencipta, melalui perantara Sengkreang Sengkrepang, kemudian diwariskan kepada Samarikung Mulung dan Diang Sarunai.
Versi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah penciptaan yang hidup dalam kepercayaan Dayak Dusun. Namun inti dari semuanya sama: bahwa ada satu Penguasa Tunggal, Sang Maha Pencipta, yang menjadi asal muasal seluruh semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar