Hikayat Penawar Sakit Kepala
Sebermula, maka tersebutlah sebuah negeri di bawah angin bernama Negeri Indera Kayangan. Negeri itu diperintah oleh seorang raja adil saksama, bernama Sultan Ahmad Syah. Adapun baginda terkenal dengan kebijaksanaan serta kasih akan rakyatnya.
Syahdan, baginda mempunyai seorang puteri tunggal, bernama Puteri Cahaya Bulan. Puteri itu terlalu elok parasnya, budi bahasanya halus, tutur katanya lembut, maka tiadalah seorang pun yang melihatnya tidak jatuh kasih. Akan tetapi, puteri itu sering menderita sakit kepala, siang malam baginda menanggung azabnya.
Hatta, segala tabib dan bomoh dipanggil mengubati, namun tiada juga sembuhnya. Maka Sultan pun terlalu dukacita, sabdanya kepada segala menteri:
“Apalah ikhtiar kita hendak mengubati sakit kepala anakanda kita ini?”
Maka tampil seorang tua alim, berjubah putih, berjanggut panjang, katanya:
“Daulat tuanku, penawar sakit kepala tiada pada obat dan ramuan, melainkan pada doa yang ikhlas. Adapun doa itu bergantung pada kayu medang dan kayu meranti, yang tumbuh di padang luas, serta kalimah Laillahaillallah, Muhammadarrasulullah.”
Syahdan, Putera Mahkota pun dititahkan mencari kayu medang dan kayu meranti itu. Maka berangkatlah ia ke padang luas, menempuh perjalanan jauh. Setelah tiba, kelihatanlah kayu itu tegak berdiri, bercahaya seperti emas.
Putera Mahkota pun mengambil kayu itu, lalu membaca doa:
“Bismillahirrahmanirrahim,
Kayu medang kayu meranti,
Tumbuh di padang sana menanti,
Aku menawar sakit kepala,
Kabul berkat Laillahaillallah, Muhammadarrasulullah.”
Maka bergetarlah bumi, terdengarlah suara guntur, dan tiba-tiba muncul seekor raksasa bernama Kumbang Hitam, besar tubuhnya, matanya merah menyala. Katanya, “Barang siapa mengambil kayu pusaka ini, hendaklah melawan aku dahulu.”
Putera Mahkota pun tiada gentar, lalu mengangkat tangan berdoa sekali lagi:
“Orang tua terangguk-angguk,
Anak kumbang putus tali,
Di kepala jangan mengetuk,
Jangan mendenyut,
Kabullah aku mengubati,
Sakit kepala si puteri,
Kabul berkat kalimah Laillahaillallah.”
Syahdan, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala, raksasa itu pun roboh ke bumi, lenyap hilang dari pandangan. Maka Putera Mahkota pun membawa pulang kayu pusaka itu ke istana.
Hatta, tatkala kayu itu diletakkan di bawah bantal Puteri Cahaya Bulan, serta dibacakan doa penawar, hilanglah segala sakit kepalanya, wajahnya kembali berseri, tiada lagi ia merintih kesakitan.
Maka Sultan Ahmad Syah pun terlalu gembira, mengadakan kenduri besar tujuh hari tujuh malam, memberi jamuan kepada segala rakyat. Adapun Puteri Cahaya Bulan pun hidup sihat sejahtera, dan Putera Mahkota masyhur namanya sebagai pewaris bijaksana.
Maka inilah hikayat yang dikarang oleh orang dahulu kala, tiada diketahui siapa pengarangnya, hanya disalin daripada mulut ke mulut jua, menjadi penglipur lara bagi orang yang mendengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar