Kisah Dindou dan Lidah
Di sebuah kampung di Singkawang yang damai, hiduplah lima sahabat: Dindou, Anak Puitin, Bong Cu Lie, Dak Olot, dan Phang Kim Lin. Mereka berasal dari latar belakang berbeda: ada yang Dayak Salako, ada yang Tionghoa perantau, ada pula yang keturunan Melayu. Meski beragam, mereka sering bermain bersama di tepian sungai dan ikut membantu orang tua di ladang maupun pasar.
Namun, ada satu kebiasaan buruk yang dimiliki Dindou. Ia senang menghina orang lain. Jika Anak Puitin membawa hasil hutan sedikit, ia mengejek, “Ah, kamu lemah, hanya itu saja?” Ketika Bong Cu Lie salah menyusun barang di pasar, ia berkata keras, “Kamu bodoh sekali!” Bahkan Dak Olot dan Phang Kim Lin tak luput dari ucapannya.
Awalnya, teman-temannya diam saja. Tetapi lama-kelamaan mereka merasa sakit hati. Bong Cu Lie bahkan tidak mau lagi ikut bermain, Anak Puitin lebih sering menyendiri di hutan, sementara Dak Olot dan Phang Kim Lin mulai menjaga jarak.
Suatu hari, kampung mereka mengadakan upacara
adat Gawai. Semua pemuda diminta membantu. Dindou, yang selalu ingin tampil
lebih, mulai menghina cara kerja orang lain. Saat itu, tetua adat yang
bijaksana mendengarnya. Ia lalu berkata,
“Dindou, lidah itu ibarat parang. Bila salah digunakan, ia melukai bukan hanya
orang lain, tapi juga dirimu sendiri. Ingatlah ajaran leluhur dan agama: jangan
suka menghina jika tidak ingin dicela. Apa yang kau lempar dengan mulutmu,
suatu saat akan kembali kepadamu.”
Dindou menertawakan nasihat itu. Tetapi tak
lama kemudian, ia sendiri melakukan kesalahan: ia menjatuhkan guci berisi
minuman tuak yang sangat penting untuk upacara. Orang-orang yang dulu ia hina
kini balik mengejeknya.
“Dindou ceroboh! Dindou tidak berguna!” kata mereka.
Saat itulah Dindou merasakan pedihnya dihina. Dadanya sesak, wajahnya merah. Ia pun menangis dan menyadari bahwa ucapannya selama ini telah melukai banyak hati.
Dengan rendah hati, ia meminta maaf kepada Anak Puitin, Bong Cu Lie, Dak Olot, dan Phang Kim Lin. Teman-temannya memaafkan, asalkan ia berjanji memperbaiki sikap. Sejak saat itu, Dindou belajar berbicara dengan lembut, memuji kerja orang lain, dan berhati-hati menjaga lidah.
Kisah ini lalu menjadi pengingat bagi masyarakat: “Jangan suka menghina kalau tidak ingin dihina. Jagalah mulut, karena kata-kata bisa menyembuhkan, tapi juga bisa melukai.”
Narasumber: Nek Kumpek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar