Selasa, 23 September 2025

Hikayat "Tangkok Bintuhuk dan Enam Saudaranya”

 

Hikayat "Tangkok Bintuhuk dan Enam Saudaranya"

 Alkisah, pada zaman dahulu kala, ketika rimba masih dara, sungai masih jernih bagai cermin, dan hantu masih bertandang di beranda rumah panjang, hiduplah seorang balian tua bernama Apai Sulang Bujang.

Konon, Apai Sulang adalah tabib sakti dari Suku Dayak Salako Garantukng Sakawokng, yang tinggal di tepian Sungai Salako. Ia terkenal karena mampu berunding dengan roh leluhur, bersahabat dengan hantu, dan mengobati jiwa-jiwa yang hilang akal.

Pada suatu ketika, wabah aneh menimpa kampung: banyak orang mendadak tertawa sendiri, berteriak di hutan, berlari telanjang di jalan, bahkan ada yang berbicara dengan batu dan angin. Orang-orang berkata:

“Jiwa mereka dicuri hantu gila, roh penunggu rimba yang murka!”

Maka para tetua pun memanggil Apai Sulang. Dengan parang pusaka, gong kecil, dan doa leluhur, ia masuk ke rimba untuk mencari tujuh kayu pusaka penawar kegilaan.

Apai masuk ke hutan lebat. Di sanalah tumbuh pohon kecil berdaun hijau pucat. Pohon itu berbisik lirih bagai anak kecil menangis:

“Aku Antah, pengikat jiwa yang terlepas, penuntun roh yang tersesat. Barang siapa meminum air rebusanku, akan kembali sadar dari linglung.”

Muncul Hantu Bujang Berurai Rambut, wajahnya rusak bagai belanga pecah. Ia berkata serak:

“Kayu ini kuberi, asal kau janji, jangan untuk mengikat jiwa orang yang tak salah. Gunakan hanya untuk yang gila karena roh.”

Apai bersujud, berjanji, lalu memetik batang Antah.

Di sebuah tebing curam, tumbuh pohon berkulit hitam pekat. Suaranya berat bagai gong dipalu:

“Aku Sumik, penolak bisikan setan, pemutus jerat hantu. Barang siapa kumasuki, hatinya tenang, kepalanya jernih.”

Tiba-tiba muncul Hantu Tali, tubuhnya terikat rotan, matanya liar. Ia meraung:

“Apai, kayu ini milikku. Apakah engkau berani?”

Apai membunyikan gong kecilnya, lalu berkata:

“Aku datang bukan mencuri, tetapi meminta untuk obat anak cucu.”

Hantu itu pun melepaskan rotannya, kayu Sumik bergetar lalu jatuh ke tangan Apai.

Di lereng gunung, bamban liar tumbuh menjulang. Daunnya tajam bagai parang, suaranya berdesis seperti ular:

“Aku Bamban Gunung, pembersih roh kotor, penolak mimpi buruk.”

Muncul Indok Kabut, hantu perempuan berwajah tertutup asap. Ia berkata lirih:

“Ambil aku, tetapi jangan sekali-kali menyentuhku dengan tangan kotor, sebab aku suci.”

Apai membasuh tangannya dengan air sungai, lalu memetik sehelai bamban.

Di tengah rimba, berdiri pohon tinggi berdaun tujuh lapis, bersinar bagai emas. Pohon itu bergemuruh:

“Aku Tujuh Gunung, penyeimbang jiwa. Bila akalmu runtuh, aku tegakkan; bila hatimu hancur, aku satukan.”

Muncul Puyang Panjangau, roh leluhur berpakaian perang, berkata:

“Kayu ini hanya boleh dipakai bila engkau membaca doa tujuh kali tujuh, sebab tanpa doa, ia hanya kayu mati.”

Apai mengucapkan mantra, pohon itu merunduk, menyerahkan dahannya.

Di rawa berair hitam, tumbuh kayu aneh, batangnya berlubang. Bila angin bertiup, ia berbunyi bagai seruling:

“Aku Tepok Parangkok, pengusir roh penggoda, penjaga mimpi.”

Tiba-tiba seekor burung hitam sebesar anjing hinggap di cabangnya, berkata dengan suara manusia:

“Bila engkau memetik aku, jangan lupakan pantang larang: jangan sekali-kali menertawakan orang gila, sebab mereka sedang diuji oleh roh.”

Apai mengangguk, memetik kayu itu, dan burung pun lenyap.

Di kaki bukit, tumbuh kayu kecil, daunnya berkilau bagai perak. Suaranya lembut bagai nyanyian:

“Aku Selenseng, penghapus bisikan gelap, penawar telinga yang mendengar suara hantu.”

Muncul Antu Telinga, telinganya panjang menyentuh tanah, suaranya menggema:

“Gunakan dengan bijak, jangan untuk membungkam suara adat.”

Apai menunduk hormat, lalu memetik kayu Selenseng.

Di tempat paling sunyi, di antara batu besar, tumbuh kayu kecil bercahaya merah. Ia berkata lantang:

“Aku Tangkok Bintuhuk, penutup pintu gila, pengikat kembali jiwa yang pecah. Aku adalah penjaga terakhir.”

Dari balik batu keluar Leluhur Penjaga Rimba, wajahnya samar, tubuhnya setengah manusia setengah bayang. Ia berkata:

“Apai, kayu ini bukan sekadar obat. Ia adalah titipan. Barang siapa melupakan adat, melanggar pantang larang, akan gila kembali meski sudah sembuh.”

Apai bersujud, lalu menerima kayu terakhir.

Maka lengkaplah tujuh kayu pusaka. Apai kembali ke kampung, mengobati orang-orang yang gila. Satu per satu mereka sembuh, jiwa mereka pulang, akal mereka kembali.

Sejak saat itu, orang Dayak Salako percaya bahwa orang gila bukan sekadar sakit badan, melainkan jiwa yang dirampas hantu. Maka untuk menyembuhkan, bukan hanya ramuan yang dipakai, tetapi juga doa leluhur, pantang larang, dan hormat kepada hantu penunggu.

Tamatlah hikayat ini. Pesan moralnya: jangan menghina orang yang gila, sebab boleh jadi jiwa mereka sedang berjalan di dunia gaib. Ingatlah, obat bukan hanya pada kayu dan akar, melainkan pada doa, adat, dan hati yang tulus.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...