Hikayat Demong Ranjuk dan Antu Gergasi
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung yang letaknya di tepi rimba belantara, hiduplah seorang pemuda gagah perkasa bernama Demong Ranjuk. Ia hidup bersama istrinya yang cantik jelita, budi pekertinya halus, dan pada waktu itu tengah mengandung anak pertama mereka.
Tatkala usia kandungan semakin besar, sang istri mulai mengidam. Aneh benar keinginannya, sebab ia tidak ingin emas, permata, atau kain sutra, melainkan ingin mencicipi hati pelanduk putih. Demong Ranjuk pun menuruti kemauan istrinya. Hari demi hari ia masuk ke dalam hutan, berburu pelanduk dengan tombak dan parang. Puluhan ekor pelanduk berhasil ia tangkap, namun tak satu pun memiliki hati putih. Walau demikian, sang istri tetap bersabar, dan Demong Ranjuk terus berusaha.
Hingga pada suatu ketika, saat berburu di dalam rimba, anjing-anjingnya menyalak riuh. Disangkanya seekor pelanduk putih tertangkap, rupanya seekor babi hutan tua yang besar tubuhnya dan bertaring panjang. Maka terjadilah perkelahian hebat antara Demong Ranjuk dan hewan buas itu. Tombak dihunus, parang terangkat tinggi. Namun malang tak dapat ditolak: parang yang ditebaskan mengenai akar pohon keras, lalu berbalik menghantam lehernya sendiri. Seketika kepala Demong Ranjuk terpisah dari tubuhnya dan jatuh ke jurang yang amat dalam.
Tubuhnya masih meraba-raba mencari kepala. Dalam panik, tangannya menggenggam kepala anjing pemburu yang paling setia. Dengan nekat dipenggalnya kepala anjing itu, lalu ditancapkannya ke lehernya. Ajaib, kepala anjing tersebut menyatu dengan tubuhnya, dan Demong Ranjuk pun menjelma menjadi manusia berkepala anjing.
Karena malu menampakkan diri kepada istrinya, ia tidak kembali ke kampung. Sejak itu ia hidup mengembara di dalam hutan, membangun pondok-pondok sederhana. Di samping setiap pondok ditanamnya sebatang pohon pinang sebagai tanda. Tahun-tahun berlalu, tubuhnya kian berubah: bulu merah tumbuh lebat, wajahnya kian menyeramkan, dan ia dikenal dengan sebutan Antu Gergasi. Sementara anjing-anjingnya satu per satu menjelma menjadi burung engkererek.
Adapun di kampung, istrinya akhirnya melahirkan seorang putra yang tampan dan gagah. Anak itu tumbuh besar tanpa pernah mengenal wajah ayahnya. Setelah dua puluh tahun, ia pun bertanya kepada ibunya tentang keberadaan sang ayah. Dengan air mata berlinang, sang ibu menceritakan segala peristiwa yang menimpa Demong Ranjuk, serta berpesan:
“Jika engkau masuk ke hutan, carilah pondok-pondok peninggalan ayahmu. Di samping setiap pondok ada pohon pinang yang ditanamnya.”
Berangkatlah sang anak menyusuri rimba. Dari satu pondok ke pondok berikutnya ia berjalan, hingga sampailah ia pada pondok ketujuh. Di sana berdiri sebatang pinang yang lebat buahnya, dan dari kejauhan tampak sosok besar berbulu merah dengan kepala anjing. Nalurinya berkata: itulah ayahnya. Mereka pun berpelukan erat, melepas rindu setelah sekian lama berpisah.
Namun Demong Ranjuk menolak pulang. Katanya, “Ayahmu kini telah berubah menjadi Antu Gergasi, tak pantas kembali ke kampung.” Ia hanya menitip pesan:
“Wahai anakku, jika engkau atau keturunanmu bermalam di hutan, lalu terdengar suara anjing atau burung engkererek pada malam hari, segeralah bakar sabut pinang. Itu pertanda bahwa engkau adalah darah dagingku, orang Mualang, sehingga aku tidak akan mengganggu.”
Sejak masa itu, orang Dayak Mualang selalu berpegang pada pesan tersebut. Setiap kali mereka bermalam di hutan dan mendengar suara ganjil di malam hari, mereka segera membakar sabut pinang agar Antu Gergasi menjauh.
Akan tetapi, zaman kini telah berubah. Suara Antu Gergasi dan kicauan burung engkererek semakin jarang terdengar. Hutan yang dahulu luas kini banyak berganti menjadi perkebunan sawit. Hikayat ini pun tinggal sebagai kenangan, sekaligus peringatan bagi generasi kemudian:
janganlah lupakan hutan, sebab dari sanalah kehidupan bermula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar