“Hikayat Lara Sende: Kasih yang Menjadi Tulah”
Pada masa silam, di hulu sebuah sungai besar di tanah Singkawang, hiduplah seorang gadis Dayak Salako bernama Lara Sende. Parasnya elok, tutur katanya lembut, dan ia rajin menenun kain tradisi. Semua orang di kampung menghormatinya karena kesabarannya.
Lara Sende jatuh hati pada seorang pemuda gagah bernama Jaya Bidang, anak seorang panglima kampung. Pada awalnya, cinta mereka dipuji oleh banyak orang. Mereka berjalan bersama di ladang, menimba air di sungai, bahkan sering ikut dalam gawai panen. Jaya Bidang sering bersumpah di hadapan Lara Sende, katanya:
“Selama aku bernapas, aku akan selalu di sampingmu. Seperti hutan menjaga sungai, seperti bumi menjaga langit, begitu pula aku menjaga hatimu.”
Namun, janji tinggal janji. Pada suatu malam bulan terang, saat ada tontonan sandiwara rakyat di pasar kampung, Lara Sende melihat Jaya Bidang berjalan bersama seorang gadis asing bernama Suma Ranying, yang datang dari kampung seberang. Mereka terlihat mesra, dan cara Jaya Bidang memperlakukan Suma Ranying sama persis seperti ia memperlakukan Lara Sende dahulu.
Dengan hati yang bergejolak, Lara Sende menegur Jaya Bidang. Di depan banyak orang, ia bertanya:
“Siapakah perempuan ini, Jaya? Bukankah engkau telah bersumpah setia di hadapan roh leluhur dan bumi kampung ini?”
Namun, dengan wajah menunduk, Jaya Bidang mengaku bahwa Suma Ranying kini adalah kekasihnya.
Mendengar itu, air mata Lara Sende jatuh. Dengan lantang ia berkata:
“Janji yang kau ucapkan hanyalah kata kosong. Cintamu bagaikan pelangi di langit Roban — indah sesaat lalu hilang lenyap. Kau telah melanggar pantang, mempermainkan kasih di hadapan roh leluhur. Ketahuilah, pengkhianatanmu akan berbuah malapetaka.”
Lara Sende pun berlari meninggalkan keramaian dan menuju hutan. Di bawah pohon beringin tua yang dianggap keramat, ia menaburkan manik-manik gelang tenunannya ke tanah, sambil berseru:
“Wahai roh nenek moyang, jadikan kisahku peringatan. Jangan biarkan anak cucu Dayak mudah percaya pada janji manis. Sebab cinta tak selamanya indah, hanya kesetiaan yang akan hidup kekal.”
Sejak saat itu, orang-orang kampung percaya bahwa barangsiapa mempermainkan janji cinta di hadapan leluhur Dayak, maka hidupnya akan diliputi tulah. Adapun pelangi yang muncul setelah hujan di Singkawang dipercaya sebagai lambang cinta yang singkat: indah dipandang, namun cepat sirna.
Hingga kini, para tetua Dayak masih menuturkan legenda Lara Sende dan Jaya Bidang sebagai pelajaran: bahwa cinta sejati harus dijaga dengan kesetiaan, bukan dengan kata-kata kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar