Rabu, 24 September 2025

Legenda "Cicir, Penunggu Kebun Senja"

 Legenda Cicir, Penunggu Kebun Senja

Adalah sebuah dusun purba, terletak di tepian rimba, dilingkupi pepohonan nan teduh, serta dikelilingi kebun yang bagaikan samudra hijau. Dusun itu bernama Kampung Nyiur, tempat manusia hidup berdampingan dengan alam, bertani, berladang, dan bersenda gurau di kala fajar maupun senja. Namun, di balik kesejukan tanahnya, terselip pula kisah gaib nan termasyhur, suatu dongeng yang diwariskan dari leluhur ke cucu-cicit, tentang makhluk halus bernama Cicir.

Konon, Cicir bukanlah hantu berwajah seram ataupun berujud mengerikan. Ia tak terlihat oleh mata insani, bagaikan angin lalu yang hanya terasa hembusannya. Kehadirannya diketahui melalui suara yang samar, tiruan dari bunyi belalang yang menyanyi kala malam beranjak. Bunyi itu berbunyi lirih: cir… cir… cir…, seakan memanggil dan sekaligus menegur. Barang siapa melintas sendirian di kebun selepas matahari beradu dengan cakrawala, niscaya langkahnya akan diiringi suara itu. Semakin jauh ia melangkah, kian jelas suara Cicir menggema, bagai irama yang menggetarkan dada.

Penduduk dusun berkata, “Janganlah engkau menoleh tatkala mendengar Cicir, dan jangan pula engkau berlari. Sebab, yang menoleh akan dihantui mimpi nan gulita, dan yang berlari akan diikuti bayangan tak kasatmata hingga tubuhnya lemah dan sakit.” Demikianlah pesan orang tua kepada anak cucunya. Maka tiadalah seorang pun yang berani melanggar wasiat itu.

Meski tampak menyeramkan, masyarakat Kampung Nyiur tidaklah menaruh benci kepada Cicir. Sebagian malah percaya bahwa ia adalah roh penjaga kebun, utusan dari alam untuk melindungi pepohonan dan buah-buahan dari tangan usil manusia. Suara belalang yang ditirukannya dianggap tanda penjagaan, sebagaimana lonceng pada istana yang memberi kabar kedatangan tamu. Maka para petani pun lebih berhati-hati, menjaga tanahnya, merawat pohonnya, serta tidak sewenang-wenang mengambil hasil tanpa rasa syukur.

Pada suatu petang yang temaram, tatkala rembulan baru menampakkan wajahnya di sela awan, hiduplah seorang pemuda bernama Wira. Ia gagah lagi teguh, namun hatinya sering diliputi rasa ingin tahu yang meluap-luap. Wira mendengar banyak kisah tentang Cicir, akan tetapi ia tiada puas hanya mendengarnya dari mulut orang tua. Maka diputuskanlah oleh Wira untuk berjalan seorang diri melalui kebun tatkala senja turun, dengan maksud membuktikan kebenaran legenda itu.

Langkahnya pelan namun pasti, menapaki tanah lembab yang harum oleh bau rumput basah. Angin berdesir lirih, menggoyangkan dahan-dahan seperti tangan-tangan tua yang hendak meraih. Wira melangkah semakin jauh, hingga terdengarlah suara yang samar—cir… cir… cir…—menyusup ke dalam telinga.

Pada mulanya ia sangka hanyalah belalang biasa. Namun, makin lama suara itu makin jelas, seolah bergerak mengikuti langkah kakinya. Wira berhenti, suara pun berhenti. Ia berjalan lagi, suara itu pun mengiringi. Hatinya bergetar, namun keberaniannya menahan rasa takut yang perlahan merambat.

“Adakah engkau, Cicir, yang selama ini diperkatakan orang?” bisiknya, suaranya lirih bagai doa yang tertelan angin.

Sekejap hening, lalu suara cir… cir… itu terdengar lebih nyaring, bagaikan sahutan. Wira hampir menoleh, namun ia teringat pesan orang tua: jangan menoleh, jangan berlari. Maka ia tegakkan tubuhnya, melangkah terus ke depan, dengan dada berdebar bagai genderang perang.

Setelah sampai di ujung kebun, suara itu lenyap seketika, hilang ditelan malam. Wira berhenti, menatap langit yang bertabur bintang. Ia sadar bahwa Cicir memang nyata adanya. Bukan dongeng kosong, bukan pula khayalan belaka.

Keesokan harinya, Wira menceritakan pengalamannya kepada orang sekampung. Orang tua mengangguk penuh wibawa, sedang anak-anak mendengar dengan mata terbelalak. Dari hari itu, Wira tidak lagi meremehkan nasihat leluhur. Ia pun menjadi penjaga kebun bersama para petani lain, selalu berhati-hati agar tidak merusak alam yang mereka tempati.

Maka, masyarakat semakin yakin bahwa Cicir bukanlah setan pengganggu, melainkan penunggu yang setia menjaga kebun dari tangan-tangan tamak. Ia bagai pagar gaib, bagai nyala pelita yang tak terlihat, mengingatkan bahwa setiap pohon, setiap tanah, setiap butir buah, memiliki roh yang patut dihormati.

Demikianlah, waktu bergulir, musim berganti. Namun cerita tentang Cicir tetap hidup dalam hati penduduk Kampung Nyiur. Ibu menuturkannya kepada anak, anak menyampaikannya kepada cucu, cucu pun mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Kisah itu laksana benang emas yang mengikat masa lalu dengan masa kini, memberi ajaran bahwa alam bukanlah benda mati, melainkan sahabat yang harus dijaga.

Maka barang siapa berjalan seorang diri di kebun menjelang malam, dan terdengar olehnya suara lirih cir… cir…, ketahuilah bahwa Cicir hadir. Janganlah engkau menoleh, janganlah engkau gentar, sebab ia hanyalah penanda bahwa kebun itu terjaga, dan tanah itu dirawat oleh penjaga yang tak kasatmata.

Begitulah adanya. Cicir hidup dalam legenda, tiada tampak namun senantiasa terasa, bagaikan bayang-bayang senja yang menghuni perbatasan siang dan malam.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...