Hikayat Seri Gigi
Sebermula, maka tersebutlah sebuah negeri yang terlalu besar lagi makmur, bernama Negeri Seri Cahaya. Adapun negeri itu diperintah oleh seorang raja gagah perkasa, adil lagi bijaksana, bergelar Sultan Jalaluddin Syah. Baginda bersemayam di istana bertiang seri gading, berlantai kaca, dan atapnya bertatahkan emas suasa.
Syahdan, baginda mempunyai seorang permaisuri yang amat dikasihi, bernama Permaisuri Ratna Intan. Akan tetapi, permaisuri itu menderita sakit gigi yang tiada tertahan, siang malam baginda menangis menanggung azabnya. Segala tabib dan bomoh dipanggil, tiada seorang pun dapat mengubati.
Hatta, maka Sultan Jalaluddin pun berdukacita, bersabda kepada segala menteri:
“Apalah ikhtiar kita hendak mengubati sakit gigi permaisuri? Sudah segala obat dicuba, tiada juga sembuhnya.”
Maka tampil seorang tua alim, berjanggut putih, berkain kasar, katanya:
“Daulat tuanku, hanya ada satu penawar bagi sakit gigi ini, iaitu seri gagang seri gigi, ikat tangga dengan besi, teguh tegap anggota gigi. Tetapi penawar itu tiada boleh didapati dengan obat, melainkan dengan doa dan keberanian Putera Seri Mahkota, anakanda baginda.”
Maka Sultan pun menitahkan Putera Seri Mahkota berangkat mencari penawar itu.
Syahdan, Putera Seri Mahkota pun berjalan merentas rimba belantara, mendaki gunung, menyeberang sungai yang deras, hingga sampailah ia ke sebuah gua yang gelap. Di dalam gua itu duduklah seekor raksasa bergigi besi, terlalu besar tubuhnya, bernama Raja Turus Rotan.
Adapun raksasa itu menjaga seri gagang seri gigi, iaitu sebatang kayu pusaka yang dapat meneguhkan gigi sesiapa yang memilikinya. Barang siapa hendak mengambilnya, hendaklah berani membaca doa penawar, karena tiada senjata duniawi yang dapat mengalahkan raksasa itu.
Hatta, maka Putera Seri Mahkota pun melangkah ke dalam gua, lalu membaca doa:
“Berkat doa Laillahaillallah, Muhammadar Rasulullah,
Teguh tegap engkau gigi,
Sama-sama kita mari,
Sama-sama kita pergi,
Lucut tangan pada jari,
Lucut gigi pada gusi.”
Syahdan, tiba-tiba raksasa Turus Rotan pun berteriak terlalu kuat, giginya yang sebesar batu itu gugur satu demi satu, tiada berdaya lagi ia berdiri. Maka dengan izin Allah, Putera Seri Mahkota pun memperoleh kayu pusaka itu, dibawanya pulang ke istana.
Hatta, maka kayu itu pun disapukan ke gigi permaisuri, serta dibacakan doa penawar. Ajaib sekali, hilanglah segala sakit gigi permaisuri, giginya kembali teguh bagaikan besi, tiada bergoyang lagi.
Maka Sultan Jalaluddin Syah pun terlalu suka cita, lalu mengadakan kenduri besar-besaran tujuh hari tujuh malam. Segala rakyat pun bergembira, memuji kebesaran Putera Seri Mahkota.
Adapun kisah ini tetaplah menjadi cerita turun-temurun, disebut orang Hikayat Seri Gigi, tanda kebesaran doa dan keberanian seorang putera yang mengubat derita permaisuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar