Hikayat “Titian Darah dan Adat”
Syahdan, pada masa rimba masih perawan, ketika sungai-sungai masih jernih laksana kaca, dan ketika bunyi burung enggang menjadi tanda kehidupan, hiduplah seorang dara bernama Tarukun. Ia putri kepada Nek Baboh di kampung Pakunam, seorang lelaki bertubuh pendek namun berhati teguh, bagaikan pohon ulin yang tak lapuk dimakan usia, tak lekang ditelan panas dan hujan. Dialah penjaga adat, pewaris pantang larang, serta peneguh hukum leluhur.
Tatkala umur Tarukun menjelang ranum bagai padi menguning di ladang, datanglah pinangan dari Loson, putra tunggal Nek Nampo di Bantang Poteng. Loson bukan sembarang insan, sebab darahnya bercampur antara Dayak yang tua dan bangsa asing berkulit pucat yang dahulu terdampar di tepian sungai besar. Konon nenek moyangnya seorang lelaki bermata biru laksana langit selepas hujan, menikah dengan dara Dayak, lalu beranak-pinak hingga lahirlah generasi Loson: gagah, jangkung, tampan, dan berkesaktian.
Maka berpindahlah Tarukun dari Pakunam ke Bantang Poteng, membawa serta ajaran ayahnya, menyatu dengan kekayaan dan kesaktian keluarga Loson. Adat dijunjung, pantang larang dipegang, doa nenek moyang diucap tiap pagi dan malam.
“Hai hutan, ibu yang agung,
hai sungai, bapak yang perkasa,
kami datang bukan hendak merusak,
melainkan hendak hidup di bawah lindunganmu.”
Demikianlah doa mereka setiap kali membuka ladang atau turun ke sungai.
Maka dari rahim Tarukun lahirlah enam orang anak, ibarat bintang yang menghiasi langit malam, masing-masing membawa sinarnya sendiri.
Yang sulung, Min Tjhai atau Mincai, wajahnya bening bagai bulan purnama, tutur katanya halus bagaikan desir angin pagi. Dialah bunga kampung, lambang kesuburan, pengikat persaudaraan.
Yang kedua, Ba Ha Lee atau Bahari, tubuhnya tegap bagaikan batang meranti, matanya tajam ibarat elang di angkasa. Keberanian mengalir deras dalam darahnya; ia pun menjadi prajurit kerajaan Nusantara, menghunus pedang demi negeri, membawa harum nama keluarga.
Yang ketiga, Bu Shien atau Busin, hatinya condong pada dagang. Ia tiada gemar perang, tetapi suka menukar hasil hutan dengan kain, garam, dan besi dari saudagar asing. Tatkala ayah bundanya menua, ia menjadi penopang, merawat keduanya dengan bakti tiada tara.
Yang keempat, Lie Shin atau Lisin, tubuhnya gagah dan tenaganya kuat. Ia turut bergabung dengan pasukan kerajaan, menumpas perompak di perbatasan, menjaga negeri agar damai.
Yang kelima, Tjauphin atau Caupin, muda usianya tetapi berani hatinya. Ia pandai memainkan tombak, mahir pula menyusun siasat perang. Namanya harum disebut di kalangan hulubalang.
Adapun yang bungsu, seorang dara bernama Sha Wee Ye, dipanggil Sawiyah. Wajahnya elok bagai bunga melur, rambutnya hitam bagai sayap gagak, tutur katanya menyejukkan hati yang gundah. Kelak ia menikah dengan Jalaulin, prajurit gagah dari Bantang Sango, menjadikan ikatan keluarga semakin luas, menyambung benang antara kampung dan kampung, antara suku dan suku.
Walau jalan anak-anak Tarukun berbeda—ada yang hulubalang, ada yang saudagar, ada yang menikah menjalin persatuan—namun adat Dayak tetaplah tunggak penyangga. Sebab Tarukun senantiasa menasihati:
“Ingatlah, hai anak-anakku. Jangan engkau tinggalkan adat. Jangan engkau kotori rimba, jangan engkau ambil yang bukan hakmu. Hantu adalah kawan, bukan musuh. Tetapi apabila adat dilanggar, murka mereka laksana petir membelah langit.”
Maka pesan itu dipegang teguh oleh anak-anaknya. Bahari, Lisin, dan Caupin yang menjadi prajurit, sebelum masuk ke medan perang senantiasa meletakkan sesajen kecil: beras, sirih, pinang, dan asap kemenyan. Mereka berdoa,
“Hai penjaga rimba, hai roh leluhur,
tajamkanlah tombak kami,
kuatkanlah lengan kami,
pulangkanlah kami dengan selamat.”
Busin dalam dagangnya tiada pernah menipu timbangan. Katanya, “Hantu melihat, leluhur mendengar. Sekali engkau menipu, celaka akan menimpa. Tetapi bila engkau jujur, rezeki datang dari segala penjuru.”
Sawiyah dengan pernikahannya menyatukan Bantang Poteng dengan Bantang Sango, menjadikan negeri kukuh, perdagangan ramai, dan adat bertambah teguh.
Adapun Loson, sang ayah, senantiasa berkata,
“Darah asing boleh mengalir dalam tubuhku,
tetapi hatiku tertambat di tanah ini.
Hutanlah ibu, sungailah bapak, adat Dayaklah tiang yang menegakkan hidup.”
Maka hiduplah keluarga Tarukun dalam nama besar, diwariskan dari generasi ke generasi. Hikayat mereka dituturkan di beranda rumah panjang, diiringi bunyi gong, denting canang, dan alunan sape’. Anak-anak mendengar, cucu-cucu menyimak, sambil memandang api unggun yang menyala.
Dan pada penutup hikayat ini, tersuratlah pesan yang tersirat:
Bahwa kekayaan tiada bermakna bila adat ditinggalkan, bahwa kesaktian tiada berguna bila kesucian dilanggar, bahwa darah boleh bercampur, tetapi jiwa harus setia kepada tanah leluhur.
Sebab kekuatan sejati bukan pada pedang, bukan pada emas, bukan pada rupa, melainkan pada ketaatan kepada adat, kesucian hati, dan kesetiaan pada bumi tempat lahir dan berpulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar