Dari Sungkung Menuju Harapan
Di ujung perbatasan negeri, di Kampung Sungkung, Entikong yang berbatasan langsung dengan Malaysia, hiduplah seorang remaja bernama Dalmasius Asmaja. Sejak kecil ia terbiasa melihat jalan tanah becek, mendengar deru motor dari negeri seberang, dan menyaksikan banyak pemuda seusianya memilih bekerja daripada sekolah. Namun Dalmasius berbeda. Ia ingin melanjutkan sekolah ke Kota Singkawang.
Suatu pagi, sebelum berangkat, ibunya menggenggam tangannya erat.
“Dalma, Ibu cuma bisa kasih ini. Uangnya Ibu pinjam dari saudara. Jangan sia-siakan, Nak,” ucap ibunya dengan suara bergetar.
Dalmasius menunduk. “Saya janji, Bu. Saya akan sekolah sungguh-sungguh. Saya mau jadi Kepala Dusun nanti, supaya Sungkung bisa lebih maju.”
Namun perjalanan itu menjadi awal cobaan. Tukang antar yang membawa mereka justru menipu. Uang hasil pinjaman ibunya habis dibawa kabur.
“Apa maksudnya ini, Bang? Uang kami mana?” tanya Dalmasius panik.
Tukang antar itu hanya berlalu. Dalmasius terduduk lemas.
Ia dan tiga temannya—Wewen, Letus, dan Okta—akhirnya diarahkan tinggal di rumah Pak Akim, menantu Pak Chon Sian. Namun kehidupan di kota tidak mudah. Biaya hidup tinggi, tekanan besar.
“Aku pulang saja, Dal,” kata Wewen suatu malam.
“Iya, aku juga. Berat kali di sini,” sahut Letus.
Okta hanya diam, lalu berkata pelan, “Maaf ya, Dal. Aku nggak sanggup.”
Dalmasius terdiam. “Kalian yakin? Kita sudah sejauh ini…”
Tetapi mereka tetap pergi. Ia ditinggalkan seorang diri.
Malam itu ia menangis dalam diam. “Bu… uang Ibu sudah habis. Teman-teman pun pulang. Apa saya harus menyerah?”
Namun ia teringat wajah ibunya. Ia memilih bertahan.
Tak lama kemudian, ia harus pindah dan menumpang di rumah seorang pak guru, tetangga Pak Akim.
“Kalau kau memang mau sekolah, tinggal saja di sini. Tapi kau harus rajin dan jujur,” kata pak guru tegas.
“Saya mau, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak,” jawab Dalmasius mantap.
Hari-harinya berat. Ia berjalan jauh ke sekolah, kadang menahan lapar.
“Dalmasius, kenapa kau tetap bertahan?” tanya pak guru suatu sore.
Ia tersenyum kecil. “Karena kalau saya menyerah, kampung saya tetap begini-begini saja, Pak.”
Tahun demi tahun berlalu. Hingga akhirnya, ia berdiri di hari kelulusannya. Air matanya jatuh.
“Saya berhasil, Bu…” bisiknya haru.
Ia pulang ke Sungkung membawa ijazah dan mimpi yang masih menyala. Dalam hatinya hanya satu tekad: suatu hari ia akan menjadi Kepala Dusun, membangun jalan, memperjuangkan pendidikan, dan memastikan tak ada lagi anak Sungkung yang kehilangan harapan karena kemiskinan dan penipuan.
Perjuangan Dalmasius Asmaja membuktikan bahwa mimpi yang dijaga dengan keteguhan hati akan selalu menemukan jalannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar