Rabu, 04 Maret 2026

Biografi A. Y. Saiman

 

Biografi A. Y. Saiman

A. Y. Saiman lahir di Solo pada 02 Januari 1942. Ia menempuh pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota kelahirannya. Sejak masa muda, beliau dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Dorongan tersebut membawanya memilih jalan hidup sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD).

Setelah menyelesaikan pendidikan umum, beliau mengikuti pendidikan kemiliteran di Solo sebagai bekal menjalani tugas negara. Kehidupan militernya kemudian membawanya bertugas di berbagai daerah, termasuk di wilayah Kalimantan Barat yang pada masa itu sedang menghadapi situasi keamanan yang cukup genting.

Pada periode tahun 1967–1968, A. Y. Saiman ditugaskan di wilayah Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat. Saat itu, kondisi keamanan di daerah perbatasan Kalimantan Barat–Sarawak kurang stabil akibat aktivitas kelompok PGRS/Paraku yang dianggap mengganggu keamanan negara. Beliau terlibat langsung dalam operasi penumpasan kelompok tersebut bersama rekan-rekan sesama prajurit TNI.

Tahun 1967 menjadi salah satu masa penting dalam perjalanan tugasnya. Pada saat terjadi peristiwa yang dikenal dengan istilah “mangkok merah”, beliau aktif menjalankan operasi di lapangan. Dalam situasi konflik antaretnis yang menimbulkan korban jiwa dan pengungsian besar-besaran masyarakat Tionghoa di wilayah Pontianak dan Singkawang, beliau bersama pasukannya berupaya menjaga stabilitas serta mencegah meluasnya konflik. Kerja sama dengan masyarakat setempat, termasuk komunitas Dayak, menjadi bagian dari strategi menjaga keamanan wilayah.

Memasuki tahun 1968, beliau tetap melaksanakan patroli intensif di daerah perbatasan guna memastikan tidak ada lagi sisa-sisa gerilyawan yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat. Dedikasi dan loyalitasnya selama bertugas membuahkan penghargaan berupa Piagam Satyalancana Kesetiaan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya kepada negara.

Dalam perjalanan kariernya, A. Y. Saiman terakhir bertugas di Kodim 1202/Singkawang. Ia juga pernah ditempatkan di kantor PEKAS pada bagian keuangan hingga akhirnya memasuki masa purnatugas pada tahun 1992 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Dua (Pelda).

Di balik pengabdiannya sebagai prajurit, beliau adalah sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ia menikah dengan Mahana dan dikaruniai lima orang anak, yaitu Agus Hariyanto, Dwi Elia Wati, Triyono, Susiana, dan Vera.

Perjalanan hidup A. Y. Saiman mencerminkan dedikasi seorang prajurit yang mengutamakan tugas dan tanggung jawab demi menjaga keutuhan dan keamanan negara. Pengalamannya bertugas di wilayah perbatasan Kalimantan Barat pada masa penuh tantangan menjadi bagian penting dalam sejarah pengabdian TNI di daerah tersebut.

Semangat disiplin, loyalitas, dan pengorbanan yang beliau tunjukkan selama bertugas menjadi teladan bagi keluarga serta generasi penerus. Melalui pengabdiannya, A. Y. Saiman meninggalkan jejak perjuangan yang patut dikenang dan dihargai sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Biografi Petrus Japsin

 

Biografi Petrus Japsin

Petrus Japsin lahir pada 25 Maret 1957 di Mempawah Hulu. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Yohanes Asin dan adiknya bernama Corek.

Dalam bidang pendidikan, Petrus Japsin menempuh pendidikan hingga kelas VI Sekolah Dasar. Meskipun tidak memiliki latar pendidikan tinggi, ia dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan dalam masyarakat.

Pada tahun 1990-an, Petrus Japsin menikah dengan Yuliana Cuping. Setelah menikah, mereka pindah dan menetap di Kota Singkawang. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Maximus Nono, Maria Yusiana, dan Natalia Deli. Namun, salah satu anaknya telah meninggal dunia.

Dalam perjalanan kariernya, sekitar tahun 1990-an Petrus Japsin pernah menjabat sebagai Kepala Desa di Pangmilang. Setelah beberapa tahun mengabdi, ia kemudian berhenti dari jabatan tersebut dan sempat tidak memegang jabatan pemerintahan.

Pada tahun 2017, Petrus Japsin dipercaya menjabat sebagai Kepala Ketua Adat di Pangmilang, menggantikan kakaknya, Yohanes Asin. Ia mengemban amanah tersebut selama kurang lebih lima tahun, yakni dari 2017 hingga 2022. Selama masa jabatannya, ia berperan dalam menjaga adat istiadat serta nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

Pada tahun 2022, Petrus Japsin meninggal dunia. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan masyarakat Pangmilang. Ia dikenang sebagai sosok yang sederhana, bertanggung jawab, dan berdedikasi dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin adat.

Biografi Mustofa bin Jamil (1973–2023)

 

Biografi Mustofa bin Jamil (1973–2023)
Perintis Panti Asuhan Al-Ma’arif dan Pejuang Pendidikan Umat

 

Mustofa bin Jamil adalah sosok pendiri dan penggerak sosial yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan keagamaan dan kesejahteraan anak-anak di lingkungannya. Lahir pada 12 Desember 1973 di Penimbung, beliau tumbuh sebagai pribadi yang tekun, sederhana, dan memiliki semangat belajar yang tinggi, khususnya dalam bidang ilmu agama.

Sejak usia muda, Mustofa dikenal sebagai santri yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Ia menempuh pendidikan di Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa), Jawa Timur, dan menyelesaikan pendidikan tingkat Sanawiah hingga Aliyah. Bekal keilmuan serta pembinaan karakter yang ia peroleh di pesantren menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Pada tahun 2010, bersama dua sepupunya, Hj. Gusti Syamsuri Ma’arif dan Gusti Abdul Aziz, Mustofa merintis Panti Asuhan Al-Ma’arif. Latar belakang berdirinya lembaga ini berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak di Pangmilang. Saat itu, banyak anak yang belum memiliki tempat mengaji yang layak. Terdapat pula anak-anak mualaf serta anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tidak sanggup membayar guru mengaji. Melihat kenyataan tersebut, ia merasa terpanggil untuk menghadirkan wadah pembinaan yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal bagi anak yatim dan dhuafa, tetapi juga memberikan pendidikan agama yang terarah dan berkelanjutan.

Perjalanan merintis Panti Asuhan Al-Ma’arif tidaklah mudah. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, Mustofa bersama para sepupunya membangun lembaga tersebut dari nol. Berkat kerja keras, ketekunan, serta dukungan masyarakat sekitar, Panti Asuhan Al-Ma’arif akhirnya memperoleh legalitas berbadan hukum pada tahun 2014. Sejak saat itu, lembaga tersebut terus berkembang dan menjadi pusat pembinaan agama serta perlindungan bagi anak-anak yatim dan kurang mampu di wilayah tersebut.

Dalam kehidupan pribadi, Mustofa bin Jamil adalah seorang suami dan ayah yang penuh tanggung jawab. Ia menikah dengan Ibu Marta Uning, seorang mualaf yang setia mendampinginya dalam suka dan duka perjuangan. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang putri, Olivia Fitriani dan Fajarina Syafitri. Keluarga kecil ini tinggal di Jalan Sagatani, Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang. Bagi Mustofa, keluarga adalah sumber kekuatan dan motivasi dalam menjalankan berbagai aktivitas sosialnya.

Wafatnya Mustofa bin Jamil pada 27 Oktober 2023 menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan masyarakat. Namun, semangat pengabdian, ketulusan niat, dan cita-cita mulianya tetap hidup melalui Panti Asuhan Al-Ma’arif yang terus berjalan hingga kini. Dedikasinya menjadi inspirasi nyata bahwa niat yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh mampu menghadirkan perubahan berarti bagi banyak orang.

 

Narasumber: Ibu Marta Uning (istri almarhum Mustofa bin Jamil)

 

Cap Go Meh

  Cap Go Meh   Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi budaya Tionghoa yang paling meriah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat...