PAKATAN
(Karya
Hendrasius Bahari)
Seperti peribahasa lama, karena Setitik
Nila Maka Rusaklah Susu Sebelanga. Itulah peribahasa yang tepat untuk aku
ucapkan pada keadaanku. Kebaikan seseorang akan hilang, disebabkan suatu
kesalahan. Namun itu semua berpulang dari siapa yang memberi penilaian, tentang
baik buruknya seseorang. Mungkin saja kita menganggap diri kita paling benar,
akan tetapi belum tentu itu mutlak hal yang benar. Ada kalanya kita menilai
orang lain itu salah, akan tetapi belum tentu orang tersebut salah. Semua terpulang
pada kaca mata yang memberikan sudut pandang penilaian masing-masing.
Ini terjadi kala Ia mulai sadar,
sesungguhnya mereka tidak menyayanginya lagi. Ia telah berkorban namun mereka
tidak menghargai pengorbanannya. Mereka hanya mengingat kesalahan yang dilakukan
dan menganggapnya suatu kesalahan yang fatal.
“Aku benci bapak! Aku tak mau
mengenal bapak lagi,” ujar Yoel dengan tulisan di WA bernada kebencian
yang menyayat hatinya.
Dengan perasaan kecewa, sang
bapak menuliskan balasan pesan singkat di WA, “Mengapa kau tuliskan
kata-kata itu, nak? Tahukah kamu jika itu menyakitkan hati Bapak!”
“Lho, memang bapak marah. Bapak tahu sendiri, jika hal itu
membuat aku sakit hati terhadap bapak,” balasnya dengan nada seolah-olah
memberi penghakiman jika yang salah adalah sang bapak.
“Baik nak, bapak mengakui
kesalahan itu. Namun kamu harus tahu, jika bapak mempunyai alasan untuk membela
diri terhadap tuduhan yang kamu sampaikan,” balas sang bapak.
Lanjut balasnya pada sang bapak,
“Mulai hari ini aku akan ngekos, aku tidak mau lagi pulang ke rumah bapak!”
Yoel marah
pada sang bapak, karena kejadian beberapa hari lalu. Saat itu ada seorang teman
perempuan Yoel, bernama Cia. Ia adalah teman sekolah Yoel sewaktu SMA, juga sama-sama
alumni pada sebuah panti asuhan di kota Singkawang. Mereka keluar dari panti
asuhan karena telah berbuat kasus yang hampir mencoreng nama baik panti asuhan.
Menurut informasi yang akuterima dari sahabatnya yang lain, jika diam-diam Cia
telah melakukan hubungan terlarang dengan Thomas, sahabatnya. Hal itu benar
atau tidak, pastinya aku dapatkan berita dari orang yang benar. Dan hal inilah
yang paling aku takutkan padanya, jika ia memanfaatkannya sebagai korban
berikutnya.
“Permisi
pak, selamat sore?” sapa Cia di depan pintu sambil memegang gadged miliknya.
Lalu sahut sang bapak yang sore itu sedang menyapu ruang tamu, “Sore juga. Oh Cia
yang datang. Ayo silahkan masuk! Tapi maaf ya bapak sedang nyapu neh, soalnya
sibuk tadi pagi.”
“Ya pak, tidak apa,” jawab Cia.
Tanya bapak, “Oh ya Ci, bagaimana kabarmu?”
“Baik pak. Kalau bapak bagaimana? Sehatkah?” tanya Cia. “Bapak
kurang enak badan, karena beberapa hari ini terkena hujan terus saat pulang
kerja,” sahut bapak.
Dengan basa-basi Cia bertanya, “Oh ya pak, Yoel ada pak?
Jawab bapak, “Yoel belum pulang, mungkin dia hari ini tidak
pulang. Memangnya kamu tidak tahu jika dia bekerja di hotel Swiss Bellin,
Singkawang Grand Mall di bagian juru masak.”
Jawabnya, “Ada sih pak dia beri tahu.”
Ucapku lagi, “Hari ini dia tidak pulang, karena katanya
sedang menjalani proses tryning kenaikan pangkat. Tadi subuh bapak mengantarnya
ke sana sekitar jam empat subuh.”
Sahut Cia, “Oh gitu ya pak.”
“Iya.” Jawab bapak.
“Oh ya pak, tadi saya VC Yoel, sebenarnya saya ingin
meminjam gitar Yoel. Kalau berkenan sih,” ujar Cia sambal tersenyum simpul
dengan rambut terurai.
Cia mengatakan bahwa ia hendak
meminjam gitar milik Yoel, gitar itu terpampang di dinding dalam ruang kamar
tengah bersebelahan ranjang besi kuno, milik ibu.
Mendengar hal itu spontan sang
bapak berkata, “Kok Yoel tidak menelpon bapak ya? Padahal bapak kan ada
seharian di rumah.”
Sahut Cia, “Barusan Yoel nelpon
saya pak!” Jawabnya, “Lho, kok bisa.” Tambahnya
pula, “Jujur seh, bapak tidak berani meminjamkan gitarnya, karena ada aturan di
rumah ini jika semua anggota keluarga tidak boleh meminjamkan barang secara
sembarangan meskipun kamu teman baiknya. Aturan itu dibuat oleh kakek untuk
menghindari hal-hal buruk yang telah terjadi sekitar lima puluh tahun lalu di
rumah ini.”
“Ya pak, Cia mengerti maksud
bapak.” Jawab Cia, yang nama lengkapnya Elva Enquinci. Tampaknya Cia terlihat
kesal dengan sang bapak. itu tampak dari wajahnya yang jutek dan memuliki aura
negatif.
Sang bapak bercerita secara
panjang lebar atas kejadian itu. Sang bapak sambil sesekali mendengarkan
curhatan dari cia yang selama ini telah bekerja di salah satu kantor yang
memiliki bos etnis thionghoa, dengan gaji sebesar tiga juta rupiah perbulan
dengan biaya makan dan penginapan gratis oleh boss yang menanggung semua biaya
kehidupannya selama dia bekerja di tempat itu.
Cia juga bercerita jika dia harus
menggunakan uangnya untuk hal-hal yang bermanfaat. “Saya pak sebenaarnya ingin
kuliah, tapi kadang saya masih ragu. Saya takut membebani keluarga, memang seh
gaji saya besar. Namun saya harus berbagi dengan orangtua saya. Saya ingin
menyenangkan mereka. Bibi juga mendukung saya untuk kuliah, ia menyarankan saya
untuk menuntut ilmu lebih banyak lagi. Hal itu membuat saya termotivasi untuk
mencari biaya.” Ujarnya.
Sang bapak terus mendengarkan
Curhatannya, sambil ia sesekali mengelus dada karna kepedihan yang akan terjadi
pada dirinya. Sang bapak kemudian menyuruh cia menghubunginya lagi. tetapi
katanya dia masih sedang bekerja di dapur. lalu iapun mencoba menelpon melalui
WA, memang benar hpnya tidak aktif. lalu beberapa saat kemudian kira-kira pukul
lima sore, Iapun menelpon kembali karna terlihat Cia menerima pesan singkat
dari seseorang. Ya memang benar, itu pesan singkat dari Yoel.
“Halo yoel, kamu sudah pulangkah?”
tanya sang bapak.
“Belum pak.” jawabnya.
“Oh ya ni ada temanmu Cia datang,
katanya mau pinjam gitarmu. Kok kamu gitu ya nak, nggak kasi tau bapak dulu. Kamu
langsung suruh-suruh temanmu ambil barang sesukamu. Memang seh bapak tau itu
gitarmu. Tapi kan tidak salahnya jika kamu telpon bapak dulu. Biasa kalo minta
jemput pulang, kamu terus menerus-terusan menelpon bapak, sampai berkali-kali.
ini giliran kawanmu mau pinjam barangmu kamu nggak kasih kabar sedikitpun ke
bapak. tega kamu ya.” Sang bapak berbicara dengan nada emosi kepadanya. Karna
sang bapak tahu jika selama ini Yoel selalu mengandalkan sang bapak saat ada
kesulitan. Namun saat ada hal lainnya, sang bapak seakan-akan tidak dianggap.
hal itu yang membuat sang bapak sedih.
“Bukan begitu pak, itu gitarnya
saya pesan agar diantar ke kos, karna saya butuh hiburan.” Ujarnya dalam
sambungan telepon. Lalu jawab sang bapak, “Masa begitu Wel, temanmu mau minjam
barangmu kamu pinjami sedangkan bapak yang sudah berkorban banyak untuk kamu
malah kamu cuek. Kami kan perlu juga belajar gitar itu. Ingat kita sama-sama
membelinya saat itu.”
Dia terdiam sesaat, lalu ujar
sang bapak lagi, “Kira-kira kamu mau meminjamkannya berapa lama? Seminggu,
sebulan atau berapa lama?” Lalu jawab Yoel, “Selamanya aja pak.” Ujar sang
bapak, “Tidak bisa, masa begitu. Bapak tidak mau meminjamkannya.” Lalu sahutnya
lagi dengan sombongnya, “Baik kalau begitu hancurkan saja gitar itu pak.”
Kemudian sang bapak menuju Cia, dan berkata “Bapak tidak dapat memberikannya
padamu, karna Yoel sudah keterlaluan.” Lalu jawab Cia, “Baiklah Pak, kalau
begitu saya permisi ya pak. Terima kasih.” Cia pergi dengan perasaan kesal,
terlihat dari cara bicaranya dan Bahasa tubuh yang ia tunjukkan pada sang
bapak.
Hari mulai gelap, suara azan
magrib terdengar bersama rintik hujan. Hati sang bapak mulai tergores, karna
anak asuh yang selama ini ia rawat ternyata telah berlaku curang. Dari gelagat
gaya bicara yang disampaikan lewat sambungan telepon menunjukkan jika Yoel
telah berlaku curang pada sang bapak. Mengapa dikatakan curang? Karena selama
ini sang bapak yang perduli dengannya, malah tidak dihargai. Malah teman lama
yang tidak andil dalam hidupnya yang diperhatikan. Dari situlah sang Bapak tahu
jika Cia menjalin hubungan asmara, karna sesaat Cia bercerita, jika ia hendak
memberi uang kepada Yoel jika menerima bantuan dana PIP yang diberikan oleh
pemerintah. Selain itu, saat berbincang-bincang dengan Cia, Sang bapak sempat
memotret Cia dan mengirimkan foto tersebut kepada Ibu Dewi Listi, seorang
Polisi Wanita bekas istri Dokter Musa tempat Cia pernah tinggal saat diusir
dari panti asuhan.
Ibu Dewi Listi mengatakan, jika
Cia memang teman Yoel, serta Kong Wawa, Delvi, Tomas dan beberapa rekannya.
Mereka sama-sama kabur karna telah melakukan hal buruk di Panti asuhan. Yang
jelas ibu Dewi juga trauma kepada Cia dan Kong Wawa, yang telah menyebabkan
retaknya rumah tangga mereka. Pikir sang ayah, “Jangan-jangan Antonius Wahyu
terlibat juga dalam kasus ini.” Akan tetapi, setelah dikonfirmasi ke kakak
panti ternyata Antonius Wahyu mengalami kasus biasa. Ikut-ikutan Yoel, sehingga
ia kabur ke rumah salah seorang gurunya. Memang seh menurut curhatan dari pak
guru, Yoel dan beberapa temannya pernah mencuri cincin milik Oma Panti. Saat
itu Wahyu masih tinggal dengan pak guru, dan di sana jelas jika wahyu bercerita
jika cincin itu dijual mereka melalui perantaraan asisten dapur sekolah. Yoel
mengatakan jika cincin itu didapat ditepi jalan sehingga asisten dapur dan
seorang guru lainnya tidak curiga jika barang itu ternyata hasil curian. Sang
bapak juga sempat mengonfirmasi ke kakak panti jika Yoel seorang kleptomania
alias suka mencuri. Dan hal inilah yang sempat membuat sang bapak syok, kala
itu Yoel pernah masuk ke kamar almarhum ayahnya yang dikunci dengan kunci
gembok. Lalu Yoel membuka pintu kamar dengan anak kunci lain, alasannya ingin
mengambil uang untuk membeli kuota. Untung-untung yang memberi tahu itu Bong Se
Khiu, salah seorang temannya yang juga tinggal bersamanya saat itu. Dari
sinilah kekuatiran dan ketakutan sang bapak mulai muncul, iapun berkesimpulan
jika sebenarnya Yoel itu memang anak yang bermasalah dan tidak beres. Apalagi
setelah tahu jika info yang diberikan oleh Ibu Dewi, Kakak Panti, Bong Se Khiu
dan Pak Guru memang akurat. Terbukti juga sang adik juga menderita penyakit
kleptomania sehingga ia harus diusir juga dari panti dan dibawa oleh Leri ke
rumah pak guru.
“Seandainya aku sadar dari awal,
mungkin aku tidak akan membantumu nak. Bapak benar-benar menyesal. Semoga ini
pelajaran berharga bagi bapak di lain kesempatan untuk tidak buru-buru membantu
anak-anak yang memiliki kasus terpendam seperti itu.” Pikir sang bapak dalam
hati, sembari meneteskan air mata.