Sabtu, 30 Agustus 2025

Hikayat Dek Bukùk dan Kucing Hitam (cerita dari Singkawang, Kalimantan Barat)

 

Hikayat Dek Bukùk dan Kucing Hitam

Tersebutlah sebuah kisah di Bantang Pakunam, daerah yang dikelilingi hutan lebat dan sungai yang jernih. Di kampung itu hiduplah seorang pemuda bernama Dek Bukùk. Ia adalah seorang yang tabah meski hidupnya penuh dengan kesedihan. Beberapa bulan sebelumnya, ibunya telah meninggal dunia, dan kini ia harus kembali menerima kabar duka. Ayahnya, Dek Sakti, sakit keras dan tak lama kemudian berpulang ke hadapan Sang Pencipta.

Dek Bukùk sangat terpukul. Ia merasa benar-benar sebatang kara. Dengan air mata yang belum kering, ia bersama para tetua kampung mempersiapkan pemakaman ayahnya. Jenazah Dek Sakti dimandikan, dikafani, dan disemayamkan di rumah sebelum diantarkan ke liang lahat. Penduduk kampung datang silih berganti, memberi doa dan penghiburan kepada Dek Bukùk yang sedang berduka.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat jenazah ayahnya diletakkan di ruang tengah, seekor kucing hitam tiba-tiba melompat melewati tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Seketika suasana menjadi mencekam. Orang-orang terdiam, wajah mereka pucat pasi. Konon, di kampung itu dipercaya, apabila kucing hitam melompati jenazah, maka jenazah akan bangkit kembali.

Dan benar saja, tak lama kemudian, tubuh Dek Sakti bergerak. Matanya terbuka, tangannya terangkat, dan ia bangun dalam keadaan yang menyeramkan. Orang-orang berteriak panik, ada yang lari keluar rumah, ada pula yang jatuh pingsan. Dek Bukùk sendiri gemetar, antara percaya dan tidak. Sosok ayahnya kini berdiri di hadapannya, namun wajahnya pucat dan matanya kosong.

Tetua kampung yang arif segera mengingatkan, “Itu bukan lagi roh manusia. Itu hanyalah tubuh yang digerakkan oleh gangguan makhluk gaib.” Mereka pun membaca doa dengan suara lantang, memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Perlahan, tubuh yang bangkit itu melemah, hingga akhirnya jatuh kembali dan tidak bergerak.

Kejadian itu meninggalkan rasa takut mendalam di hati penduduk kampung. Namun, para tetua menasihati Dek Bukùk agar tidak larut dalam kesedihan dan ketakutan. Mereka berkata, “Kematian adalah takdir. Jangan biarkan rasa duka menjadikanmu lemah. Doakanlah orang tuamu agar tenang di alam sana, dan jangan takut dengan bayang-bayang kegelapan.”

Sejak saat itu, masyarakat Bantang Pakunam selalu berhati-hati menjaga jenazah. Mereka memastikan agar tidak ada kucing, terutama kucing hitam, yang masuk ke dalam rumah duka. Sementara itu, Dek Bukùk belajar untuk ikhlas. Ia sadar bahwa yang meninggal tidak akan kembali, dan ia harus melanjutkan hidup dengan penuh keberanian.

Hikayat ini mengajarkan bahwa duka harus diterima dengan tabah, bahwa keyakinan dan doa lebih kuat daripada rasa takut, dan bahwa manusia sejati tidak boleh dikendalikan oleh takhayul, melainkan oleh iman dan akhlak yang baik.

Hikayat Nek Jasimin dan Antu Aik (Cerita dari Singkawang, Kalimantan Barat)

 

Hikayat Nek Jasimin dan Antu Aik

Alkisah, pada zaman dahulu kala di bantang Sakawokng, tepatnya di sebuah kampung bernama Sombang, hiduplah seorang dukun sakti bernama Nek Jasimin. Ia dikenal oleh masyarakat karena kemampuannya menyembuhkan orang yang terkena guna-guna, serta bayi yang diganggu oleh makhluk halus. Nek Jasimin juga kerap dipercaya menjadi panyaek dalam upacara besar basam-sam atau ritual pengusiran roh jahat.

Setiap kali ritual dilaksanakan, Nek Jasimin selalu pergi ke Gunung Cikale untuk mempersembahkan sesajen berupa daging dan darah ayam. Ia mengenakan kain merah dan ikat kepala merah sebagai tanda penghormatan. Banyak orang menaruh hormat kepadanya, sebab ia dianggap sebagai penjaga keselamatan kampung.

Pada masa itu, di wilayah Sambas berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana bernama Raja Surya Kesuma. Sang Raja memiliki seorang putri rupawan bernama Putri Cahaya Bulan. Putri ini kerap sakit-sakitan, terutama setiap bulan purnama. Para tabib kerajaan tidak mampu menyembuhkan penyakitnya, sehingga Raja meminta bantuan kepada Nek Jasimin.

Dengan penuh percaya diri, Nek Jasimin mendatangi istana. Ia membacakan mantera, memberikan ramuan, dan melakukan ritual khusus. Ajaibnya, Putri Cahaya Bulan perlahan pulih dari penyakitnya. Sang Raja pun berterima kasih dan memberikan hadiah berlimpah kepada Nek Jasimin. Sejak saat itu, nama Nek Jasimin semakin terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri.

Namun, waktu berlalu, kesaktian Nek Jasimin justru membuatnya lupa diri. Ia mulai bersekutu dengan makhluk halus yang disebut Antu Aik, roh gaib penunggu sungai dan hutan. Antu Aik memberinya kekuatan luar biasa, tetapi juga merusak jiwanya. Nek Jasimin menjadi sering berbicara sendiri, bahkan bercakap-cakap dengan pohon dan bayangan. Warga pun mulai menganggapnya aneh, tetapi tetap takut karena kesaktiannya.

Suatu hari, Putri Cahaya Bulan kembali sakit keras. Raja kembali memanggil Nek Jasimin. Namun, kali ini ilmu yang dipakai Nek Jasimin tidak lagi berasal dari doa-doa suci, melainkan dari bantuan Antu Aik. Saat ia sedang melakukan ritual di istana, angin kencang bertiup, suara-suara gaib terdengar, dan Putri justru menjerit ketakutan. Sang Raja murka, menyadari bahwa Nek Jasimin telah menyalahi jalan yang benar.

“Wahai Nek Jasimin,” titah Raja Surya Kesuma dengan marah, “ilmu yang engkau pakai telah ternoda. Engkau tidak lagi menjadi penolong, melainkan sahabat makhluk gaib yang menyesatkan.”

Mendengar titah itu, Nek Jasimin berlari meninggalkan istana. Ia menuju rumahnya di bukit dengan jalan setapak yang menanjak. Namun, langkahnya goyah. Ia terjatuh, terguling hingga ke bawah bukit, dan meninggal dunia seketika. Konon, pada saat tubuhnya terbentur tanah, terdengar suara tawa Antu Aik yang menyeramkan, seakan menjemput roh Nek Jasimin.

Setelah kepergiannya, orang-orang berkata bahwa ilmu gaibnya turun kepada sang istri. Namun, masyarakat tetap waspada, sebab mereka percaya Antu Aik masih mengintai. Raja Surya Kesuma kemudian memerintahkan rakyat agar selalu berpegang pada kebenaran, tidak tergoda oleh jalan gaib yang menyesatkan. Putri Cahaya Bulan akhirnya sembuh setelah para pendeta kerajaan mendoakan dengan doa suci, bukan lagi dengan ilmu gaib.

Hikayat ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari makhluk halus, melainkan dari kesucian hati dan doa yang benar. Barang siapa tergoda oleh ilmu hitam, niscaya akan menemui kehancuran seperti Nek Jasimin.

Hikayat Nêk Mincai Ngan Jaéje Cerita dari Singkawang (Bantang Sakawokng) kalimantan barat

 

Hikayat Nêk Mincai Ngan Jaéje

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang subur bernama Sakawokng di Pulau Kalimantan, hiduplah seorang nenek tua bernama Nêk Mincai. Negeri itu dikenal indah, penuh dengan pepohonan rimbun, sungai yang jernih, dan hutan bambu yang luas. Nêk Mincai adalah seorang janda yang telah lama ditinggal mati oleh suaminya. Ia juga pernah memiliki tiga orang anak, namun ketiganya telah dipanggil oleh Jubato, Sang Pencipta, sehingga ia hidup sebatang kara.

Walau hidup seorang diri, Nêk Mincai tidak pernah berputus asa. Sehari-harinya ia bekerja sebagai petani padi di ladang, dan pada waktu senggang ia membuat kerajinan dari rotan serta bambu. Dari tangannya yang telaten, lahirlah bakul, tikar, takin, dan keranjang sayur yang disebut jaéje. Semua dikerjakan dengan kesabaran dan ketelitian.

Suatu hari, Nêk Mincai pergi ke hutan Binuang untuk mencari bambu jenis gárè yang kuat dan baik untuk dianyam. Ia memilih batang yang lurus, lalu membelahnya menjadi bilah tipis. Sesampai di rumah, ia pun menganyamnya hingga menjadi sebuah jaéje yang indah. Keranjang itu sangat ia sayangi, sebab hasilnya lebih rapi dan berbeda dari biasanya. Ia meletakkannya di atas para-para dapur agar tetap aman.

Namun, pada suatu hari, jaéje itu hilang tanpa jejak. Nêk Mincai terkejut, sebab di rumah hanya ia seorang. Berhari-hari ia mencari, namun keranjang kesayangannya tak juga ditemukan. Karena penasaran, ia membuat jaéje yang baru, meletakkannya di tempat semula, lalu mengintip dari balik dinding dapur.

Alangkah terkejutnya Nêk Mincai ketika melihat seorang wanita cantik jelita muncul entah dari mana. Wanita itu bermahkota mustika berkilauan, laksana bidadari dari kayangan. Ia mengambil jaéje tersebut, lalu mengisinya dengan butiran emas sebesar biji padi, sebelum menghilang begitu saja. Tubuh Nêk Mincai bergetar menyaksikan keajaiban itu.

Keesokan malam, bidadari itu datang lagi. Kali ini Nêk Mincai memberanikan diri menyapanya. Sang bidadari berkata bahwa emas itu adalah hadiah bagi Nêk Mincai yang tabah, rajin, dan penuh kasih meski hidup sendiri. Ia menitipkan emas itu agar dimanfaatkan dengan baik, bukan untuk kesombongan.

Namun kabar tentang emas itu menyebar hingga terdengar oleh seorang pencuri. Suatu hari, ketika Nêk Mincai pergi, pencuri itu masuk ke rumahnya dan mengambil keranjang berisi emas. Akan tetapi, begitu hendak dibawa lari, butiran emas itu berubah menjadi laba-laba besar yang menggigit tubuhnya. Si pencuri pun lari ketakutan, menjerit-jerit di jalan hingga lenyap tak tentu rimba.

Ketika pulang, Nêk Mincai menemukan seekor laba-laba besar di dalam rumahnya. Ajaibnya, laba-laba itu bersama keranjang lalu menjelma menjadi seorang wanita, yang ternyata adalah bidadari pemberi emas itu. Kutukannya telah sirna, ia tidak lagi dapat kembali ke kayangan, dan sejak itu ia hidup bersama Nêk Mincai sebagai anak angkat. Nêk Mincai menamainya Sàmoh, yang berarti keselamatan.

Maka sejak saat itu, Nêk Mincai tidak lagi sendiri. Ia hidup bahagia bersama anak angkatnya hingga akhir hayat. Adapun kisah ini menjadi pengingat, bahwa kesabaran dan ketulusan akan mendatangkan rahmat, sedangkan keserakahan hanya membawa celaka.

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...