Sabtu, 30 Agustus 2025

Hikayat Nêk Mincai Ngan Jaéje Cerita dari Singkawang (Bantang Sakawokng) kalimantan barat

 

Hikayat Nêk Mincai Ngan Jaéje

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang subur bernama Sakawokng di Pulau Kalimantan, hiduplah seorang nenek tua bernama Nêk Mincai. Negeri itu dikenal indah, penuh dengan pepohonan rimbun, sungai yang jernih, dan hutan bambu yang luas. Nêk Mincai adalah seorang janda yang telah lama ditinggal mati oleh suaminya. Ia juga pernah memiliki tiga orang anak, namun ketiganya telah dipanggil oleh Jubato, Sang Pencipta, sehingga ia hidup sebatang kara.

Walau hidup seorang diri, Nêk Mincai tidak pernah berputus asa. Sehari-harinya ia bekerja sebagai petani padi di ladang, dan pada waktu senggang ia membuat kerajinan dari rotan serta bambu. Dari tangannya yang telaten, lahirlah bakul, tikar, takin, dan keranjang sayur yang disebut jaéje. Semua dikerjakan dengan kesabaran dan ketelitian.

Suatu hari, Nêk Mincai pergi ke hutan Binuang untuk mencari bambu jenis gárè yang kuat dan baik untuk dianyam. Ia memilih batang yang lurus, lalu membelahnya menjadi bilah tipis. Sesampai di rumah, ia pun menganyamnya hingga menjadi sebuah jaéje yang indah. Keranjang itu sangat ia sayangi, sebab hasilnya lebih rapi dan berbeda dari biasanya. Ia meletakkannya di atas para-para dapur agar tetap aman.

Namun, pada suatu hari, jaéje itu hilang tanpa jejak. Nêk Mincai terkejut, sebab di rumah hanya ia seorang. Berhari-hari ia mencari, namun keranjang kesayangannya tak juga ditemukan. Karena penasaran, ia membuat jaéje yang baru, meletakkannya di tempat semula, lalu mengintip dari balik dinding dapur.

Alangkah terkejutnya Nêk Mincai ketika melihat seorang wanita cantik jelita muncul entah dari mana. Wanita itu bermahkota mustika berkilauan, laksana bidadari dari kayangan. Ia mengambil jaéje tersebut, lalu mengisinya dengan butiran emas sebesar biji padi, sebelum menghilang begitu saja. Tubuh Nêk Mincai bergetar menyaksikan keajaiban itu.

Keesokan malam, bidadari itu datang lagi. Kali ini Nêk Mincai memberanikan diri menyapanya. Sang bidadari berkata bahwa emas itu adalah hadiah bagi Nêk Mincai yang tabah, rajin, dan penuh kasih meski hidup sendiri. Ia menitipkan emas itu agar dimanfaatkan dengan baik, bukan untuk kesombongan.

Namun kabar tentang emas itu menyebar hingga terdengar oleh seorang pencuri. Suatu hari, ketika Nêk Mincai pergi, pencuri itu masuk ke rumahnya dan mengambil keranjang berisi emas. Akan tetapi, begitu hendak dibawa lari, butiran emas itu berubah menjadi laba-laba besar yang menggigit tubuhnya. Si pencuri pun lari ketakutan, menjerit-jerit di jalan hingga lenyap tak tentu rimba.

Ketika pulang, Nêk Mincai menemukan seekor laba-laba besar di dalam rumahnya. Ajaibnya, laba-laba itu bersama keranjang lalu menjelma menjadi seorang wanita, yang ternyata adalah bidadari pemberi emas itu. Kutukannya telah sirna, ia tidak lagi dapat kembali ke kayangan, dan sejak itu ia hidup bersama Nêk Mincai sebagai anak angkat. Nêk Mincai menamainya Sàmoh, yang berarti keselamatan.

Maka sejak saat itu, Nêk Mincai tidak lagi sendiri. Ia hidup bahagia bersama anak angkatnya hingga akhir hayat. Adapun kisah ini menjadi pengingat, bahwa kesabaran dan ketulusan akan mendatangkan rahmat, sedangkan keserakahan hanya membawa celaka.

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...