Hikayat Umbel Molor dari Pedalaman Kalimantan
Adapun tersebutlah kisah dari tanah pedalaman Kalimantan, pada zaman tatkala hutan masih lebat, sungai masih jernih, dan negeri-negeri diperintah oleh raja-raja yang bersemayam dalam istana kayu ulin. Syahdan, adalah seorang raja besar bergelar Raja Indra Bungsu, yang memerintah rakyatnya dengan adil lagi bijaksana. Negeri baginda aman sentosa, akan tetapi hutan sekitarnya terkenal dengan suatu makhluk aneh yang bernama Umbel Molor.
Adapun Umbel Molor itu bukanlah manusia, melainkan hantu malam yang ajaib lagi mustahil keadaannya. Mukanya pucat bagai bulan kabur, matanya merah menyala seperti bara, dan hidungnya panjang menjulur, menitis lendir yang tiada henti-henti. Kata orang tua-tua, hantu itu muncul tatkala bulan gelap, keluar dari celah pohon raksasa, sambil memperlihatkan segala kotoran yang keluar dari hidungnya, akan menakut-nakuti anak-anak kecil yang berani bermain di malam hari.
Hatta, tiada seorang pun berani mengganggu Umbel Molor, kerana katanya, barang siapa menertawakan hantu itu, nescaya dikejarnya sampai ke tengah kampung. Kadang-kadang Umbel Molor berlari tiada berpijak bumi, melainkan melayang di atas angin, suaranya menderu bagaikan ribut malam. Maka anak-anak kecil yang nakal pun ngeri mendengarnya, lalu mereka segera pulang ke rumah sebelum senja, kerana takut akan dikejar hantu Umbel Molor.
Maka sampailah cerita itu ke telinga Raja
Indra Bungsu. Baginda pun berasa hairan bercampur gusar, lalu bertitah kepada
segala hulubalang:
“Adapun negeri kita ini aman, janganlah kiranya diganggu oleh makhluk aneh.
Siapa di antara kamu berani menghadapi hantu itu?”
Maka bangunlah seorang hulubalang muda bernama
Panglima Seriang, gagah berani, bertubuh besar laksana pohon kelapa,
suaranya lantang bagai guntur. Katanya:
“Daulat tuanku, biarlah patik turun ke hutan, menahan segala hantu yang
mengganggu anak negeri.”
Syahdan, tatkala malam menjelang, Panglima Seriang pun masuklah ke hutan seorang diri. Maka benar jua kata orang, Umbel Molor pun muncul, mengeluarkan lendir panjang seperti benang emas, berkilauan disinari bulan. Tatkala ditiup angin malam, lendir itu melayang bagai tali, hendak mengikat Panglima Seriang. Akan tetapi, Panglima Seriang membaca mantera sakti warisan nenek moyangnya, lalu keris pusaka dihunus, mengeluarkan cahaya menyilaukan.
Maka Umbel Molor menjerit dengan suara yang
menggetarkan bumi. Katanya:
“Jangan kau ganggu daku, kerana aku hanyalah penunggu hutan, diperintah menjaga
anak-anak agar jangan berkeliaran di malam hari.”
Mendengar kata itu, Panglima Seriang pun tersentak, lalu kembali menghadap raja, menyampaikan titah hantu tersebut. Maka Raja Indra Bungsu pun maklum, bahawa Umbel Molor bukanlah musuh, melainkan penjaga alam.
Sejak itu, Umbel Molor tidak lagi dianggap hantu jahat, melainkan tanda pengingat bagi rakyat, supaya anak-anak jangan keluar di malam hari. Dan demikianlah adanya kisah dari pedalaman Kalimantan, turun-temurun dari mulut orang tua-tua, menjadi hikayat ajaib penuh teladan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar