Sabtu, 30 Agustus 2025

Hikayat Taino ngan Bangas (Cerita Singkawang, Kalimantan Barat)


Hikayat Taino ngan Bangas

Alkisah pada zaman dahulu kala, ketika dunia masih muda dan segala makhluk hidup dapat berkomunikasi dengan bahasa yang sama, hiduplah dua golongan binatang di muka bumi. Mereka adalah binatang-binatang yang baik hati serta rajin bekerja, dan sebagian lagi adalah binatang yang kemudian berubah menjadi pengganggu kehidupan manusia.

Pada mulanya, semua binatang diciptakan sebagai sahabat bagi manusia. Burung pipit, tikus, kelelawar, belalang, dan binatang lainnya hidup damai berdampingan dengan manusia. Mereka memiliki ladang yang luas terbentang, bahkan lebih subur daripada ladang manusia. Ladang mereka penuh padi yang menguning, sayuran yang segar, serta buah-buahan yang lebat. Semua itu mereka usahakan dengan rajin, sebab mereka dipilih oleh Jubato, Sang Pencipta dalam kepercayaan leluhur Dayak Salako, sebagai makhluk pekerja yang tidak mengenal lelah.

Namun, waktu demi waktu, keserakahan manusia mulai tampak. Melihat ladang binatang yang berlimpah, manusia merasa iri dan ingin menguasainya. Mereka merusak tanaman yang telah ditanam binatang, mencuri hasil panen, bahkan memburu binatang untuk dijadikan santapan. Ladang binatang yang berada jauh di tengah hutan pun tidak luput dari ulah manusia. Perbuatan itu membuat binatang-binatang sedih dan marah.

Maka berkumpullah para binatang. Mereka sepakat menghadap Jubato untuk mengadukan nasib. Dengan hati penuh luka, mereka berkata,
“Wahai Jubato, lihatlah perlakuan manusia terhadap kami. Ladang kami mereka rusak, hasil panen kami mereka rampas, bahkan kami dibunuh tanpa belas kasihan. Manusia adalah makhluk yang tamak dan serakah. Bagaimana kami bisa hidup damai bila begini adanya?”

Mendengar pengaduan itu, Jubato terkejut. Ia tidak menyangka manusia yang diberinya akal budi justru berbuat semena-mena terhadap binatang. Namun, binatang-binatang itu tidak berhenti. Mereka mendatangkan saksi dan bukti atas kelakuan manusia. Jubato pun terdiam, menyadari kebenaran perkataan mereka.

Lalu Jubato bertanya, “Apakah yang kalian inginkan dariku, wahai makhluk ciptaan-Ku?”

Dengan suara lantang, para binatang menjawab, “Kami tidak mau lagi berladang. Kami ingin menjadi pengganggu bagi manusia. Biarlah tanaman mereka kami makan, biarlah ladang mereka kami rusak, sebagai balasan atas kezaliman yang mereka lakukan terhadap kami.”

Jubato mula-mula menolak, sebab Ia tidak ingin terjadi permusuhan antara manusia dan binatang. Namun, karena desakan itu terus bergema, akhirnya Ia mengizinkan binatang-binatang itu menjadi hama bagi ladang manusia. Meski begitu, Jubato memberikan syarat,
“Jika manusia bersyukur, memberi persembahan dari hasil ladangnya kepada-Ku dan menjaga harmoni dengan alam, maka kalian tidak boleh mengganggu mereka. Barang siapa berbuat baik, akan kulindungi dari gangguanmu. Namun, bagi yang lalai dan serakah, biarlah mereka merasakan akibatnya.”

Sejak saat itu, burung pipit, tikus, kelelawar, belalang, dan hewan lainnya berubah menjadi hama bagi manusia. Mereka tidak lagi menanam, tetapi hidup dari hasil ladang manusia. Itulah asal mula mengapa binatang-binatang itu disebut musuh petani. Namun sesungguhnya, mereka dahulu adalah makhluk rajin dan pekerja keras.

Hingga kini, sebagian orang tua berpesan kepada anak cucunya, “Janganlah berlaku tamak kepada alam. Bersyukurlah atas rezeki yang ada, sebab jika serakah, binatang-binatang akan datang sebagai pengingat, bahwa manusia bukanlah penguasa tunggal di bumi ini.”

Tidak ada komentar:

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...