Hikayat Nek Jaimah, Dukun Sakong
Pada zaman dahulu, di kaki bukit yang sejuk di kawasan Sagatani, tinggallah seorang perempuan tua yang dikenal dengan nama Nek Jaimah. Ia adalah seorang dukun sakong penyembuh tradisional yang piawai meracik ramuan dari daun, akar, dan bunga-bungaan hutan. Orang-orang datang dari kampung seberang hanya untuk meminta obat, nasihat, dan pertolongan darinya.
Nek Jaimah bukanlah dukun biasa. Ia dikenal karena kesaktiannya dalam menyembuhkan penyakit yang tak kunjung sembuh oleh tabib biasa. Tapi, di balik ilmunya, ia menyimpan prinsip hidup yang teguh: "Kesembuhan bukan hanya urusan ramuan, tapi juga hati yang bersih dan hidup yang jujur."
Suatu hari, datanglah seorang saudagar kaya dari kota. Ia membawa anaknya yang sakit keras. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan ia sering meracau tak karuan. Sudah berobat ke dokter dan orang pintar di mana-mana, tapi tak ada hasil. Dengan harapan terakhir, ia membawa anaknya ke pondok kayu milik Nek Jaimah di pinggir hutan Sagatani.
Setelah menatap anak itu dalam-dalam, Nek Jaimah berkata, “Penyakitnya bukan sekadar tubuh, tapi jiwanya luka. Ada dendam dan ketamakan yang mengikutinya.”
Sang saudagar tersinggung. Ia merasa dihina karena dituduh serakah. Tapi Nek Jaimah tidak gentar. Ia menolak memberi ramuan sebelum sang saudagar mengakui kesalahannya. Akhirnya, dengan hati berat, saudagar itu mengaku bahwa ia telah menggusur lahan petani kecil untuk mendirikan pabrik, dan itu membuat banyak keluarga kehilangan tanahnya.
Nek Jaimah meminta sang saudagar untuk kembali ke kota, meminta maaf, dan mengembalikan sebagian lahan tersebut. Jika tidak, penyakit anaknya tak akan sembuh. Sang saudagar menurut. Dalam waktu sebulan, ia mengembalikan tanah, membayar ganti rugi, dan meminta maaf secara terbuka. Ajaibnya, anaknya mulai sembuh—perlahan, makan teratur, dan bisa berjalan kembali.
Nama Nek Jaimah makin masyhur. Tapi ia tetap hidup sederhana. Setiap malam Jumat, ia mengajar anak-anak kampung membaca aksara Arab-Melayu dan bercerita tentang asal-usul hutan, danau, dan roh penjaga bukit Saboh.
“Ilmu yang paling tinggi bukanlah mantra, tapi kasih pada sesama dan alam.”
Ia dimakamkan di bawah pohon tengkawang tua, tempat ia biasa memetik bahan ramuan. Hingga kini, warga Sagatani masih menaruh sesajen bunga di batu besar dekat makamnya setiap awal bulan, sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga jiwa kampung: Nek Jaimah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar